Bulan Purnama Rendra

Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jum’at, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: “gagah dalam kemiskinan”. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan “ia sangat bahagia”, meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam “derita manusiawi” yang membungkusnya.

Ini adalah puncak dari tangis mengguguk-guguk seorang pecinta yang airmatanya tumpah di ufuk kesadaran tentang “nyawiji”. Selama sakit di pembaringan Rendra selalu spontan menyebut “Ya Lathif”, wahai Yang Maha Lembut. Di saat-saat paling menderita oleh sakitnya ia meneguhkan hatinya dengan “Qul huwal-Lahu Ahad, Allahus-Shamad….”. Setengah sadar sambil saya genggam tangan kirinya saya minta ia menambahi, “Mas, ucapkan juga Qul Huwal-Lahu Wahid…”

Ia berbisik, “apa bedanya Ahad dengan Wahid, Nun”, saya jawab “Mas, Ahad itu Allah yang Tunggal, Yang Satu, yang gagah perkasa dengan maha eksistensi-Nya. Wahid itu Allah yang Manunggal, yang Menyatu, yang integral, yang merendahkan diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya, nyawiji…”. Meledak tangis Rendra dalam rasa dan kesadaran bahwa ia tak berjarak dengan-Nya dan Ia tak berjarak dengan dirinya. Tatkala mereda gejolak hatinya, Rendra menorehkan puisi yang diakhiri dengan kalimat “Tuhan, aku cinta pada-Mu”.

Maka Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik “nyawiji” yang Rendra sudah lama menikmatinya.

***

Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: “Kita sangat kehilangan”, “Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya”, atau “Tidak. Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati”.

Bisa jadi pekikan-pekikan hati itu sebenarnya tidak terutama tentang Rendra, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin kita sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan, mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego kita sendiri.

Sahabat karib, WS. Rendra dan Cak Nun
Sahabat karib, WS. Rendra dan Cak Nun

Terutama bagi orang yang semakin berangkat tua seperti saya: mengibarkan kehidupan Rendra pada momentum kematiannya, sesungguhnya diam-diam sangat tajam mencerminkan kengerian terhadap kehidupan dan kematian saya sendiri. Kita berduyun-duyun menghadiri pemakamannya, mungkin untuk menyatakan kepada Tuhan betapa cintanya kita kepada kehidupan kita, dan betapa kawatirnya kita akan datangnya maut sewaktu-waktu atas kita.

Mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa setiap pentakziyah pemakaman Rendra. Raungan panjang seperti puisi “Rick dari Corona” atau “Khotbah”. Tetapi mungkin berakhir sublim dan mengkristal menjadi Drama Mini Kata Rendra: “Bip Bop”, “Rambate Rate Rata”….

Sementara bagi para pentakziyah yang muda-muda, yang menyangka bahwa maut ada kaitannya dengan muda dan tua, di komplek Bengkel Teater meneriakkan puisi-puisi perjuangan, mengibarkan kepercayaan di dalam diri mereka bahwa kepergian Rendra bukanlah sirnanya perjuangan sosial, progressivisme ideologi nasional dan martabat kemanusiaan. Mereka seolah menghadirkan kembali panggung “Mastodon dan Burung Kondor”, “Sekda”, bahkan “Kasidah Barzanji”, hingga ke puisi “Orang Miskin di Jalan”, “Bersatulah Pelacur-pelacur Ibukota”, “Seonggok Jagung di Kamar”.

***

Wahai maut, siapakah engkau? ”Bukan kematian benar menusuk kalbu”, kata Chairil Anwar, penyair terbesar Indonesia di samping Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. ”Keridaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu. Dan duka Maha Tuan bertahta”….

Tuhan tak sudi dipergoki. Takdir-Nya tak bisa dicegat. Kehendak-Nya tak mungkin dibatasi. Hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikitpun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman. Kehidupan sangat mengkaitkan sakit dengan kematian, tetapi maut tidak bersedia diperkaitkan dengan sakit.

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian. Rendra dipanggil Allah tidak berdasar akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras, ginjal menanggung akibatnya, kemudian tiba-tiba Demam Berdarah menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya.

Keadaannya justru membaik sehingga diperkenankan keluar dari Rumah Sakit, kemudian menempuh jalan yang ia menyebutnya — “Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimia. Aku ingin kembali kepada jalan alam. Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah. Tuhan aku cinta pada-Mu” (31 Juli 2009).

Rasulullah Muhammad saw menderita panas badan yang sangat luar biasa melebihi kebanyakan orang, beliau menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang panas yang ekstra itu: bahwa beliau dibebani Allah tanggung jawab sangat besar melampaui semua yang lain, sehingga Tuhan menganugerahkan juga kemuliaan yang sangat tinggi melebihi siapapun, tetapi harus juga harus beliau tanggung panas yang amat tinggi dan dahsyat yang orang lain tak menanggungnya.

Demikianlah juga kadar derita sakit yang dialami Rendra, takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, yang khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Rendra bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam rahasia. Bahkan lautan kebahagiaan dan kemuliaan Rendra tidak perlu “digarami” oleh pernyataan pers Presiden Republik Indonesia sebagaimana mBah Surip dianggap memerlukannya.

Pada hari wafatnya Rendra, di samping menikmati pemandangan indahnya kemuliaan rahasia Rendra itu saya mendapat cipratan anugerah yang lain: menyaksikan seseorang menginfakkan 6,1 Trilyun Rupiah, dengan Allah merebut seluruh kemuliaan hamba-Nya itu — dengan cara membiarkan sesama manusia justru memperhinakannya. Alangkah anehnya metoda cinta Tuhan.

Di hadapan akal sehat, Presiden berpidato untuk wafatnya Mbah Surip tapi tidak untuk wafatnya Rendra adalah kehancuran logika dan kebangkrutan parameter nilai budaya. Tetapi di hadapan karamah Allah, itu justru keindahan yang spesifik. SBY bikin stempel tegas atas dirinya sendiri.

Ini sama sekali bukan polarisasi antara Rendra dengan Mbah Surip. Tiga tahun lebih saya ikut mengawal dan menjunjung Mbah Surip dan “Tiga Gorilla” nya — bersama Bertha dan almarhum Ndang: melalui forum rakyat rutin bulanan di Jakarta, Jombang, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta. Sehingga “Tak Gendong” dan “Tidur Lagi” sudah sangat dihapal oleh komunitas lima kota itu dan terus menerus diulang-ulang karena sangat dicintai sebagai “lagu kebangsaan” komunitas kami. Kami “I love you full” kepada Mbah Surip, meskipun dua bulan terakhir menjelang beliau wafat kami kehilangan diri kami di penggalan akhir sejarah Mbah Surip, tanpa Mbah Surip pernah hilang dari hati kami.

***

Rendra dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesembuhannya. Candle light phenomenon, kata orang, fenomena lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Tetapi Tuhan berhak juga bikin lilin membenderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang dan lantas padam.

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis ‘perilaku’ Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apapun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapapun, karena Ia tidak terikat atau tergantung pada pola hubungan apapun dengan siapapun yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.

Namun Ia selalu sangat adil kepada siapapun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.

Termasuk bagaimana cara maut ditimpakan kepada seseorang, Tuhan menolak untuk kita rumuskan. Ada bandit mati ketika bersujud. Ada orang sangat alim soleh pergi ke Masjid di tengah malam diserempet oleh motor kemudian ia dipukuli oleh pengendara motor itu sampai meninggal. Ada pendosa besar mati ketika berthawaf, ada ‘true beleiver’ pengkhusyu ibadah mati kecelakaan secara sangat mengenaskan. Semua fenomena itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali kemutlakan kuasa Tuhan. Posisi manusia hanya pada dinamika doa: selalu cemas dan memohon kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina di hadapan sesama manusia.

Pun tak usah merumuskan sebab akibat antara baik buruknya manusia dengan jumlah pelayat, volume pemberitaan media, tayangan langsung atau tunda, tatkala meninggal. Ada Ratu lalim diantarkan ke pemakaman oleh puluhan ribu orang, ada Nabi dikuburkan hanya oleh enam orang. Jadi, Rendra, tidak bisa kita ukur kwalitas mautnya, tak juga bisa kita takar mutu hidupnya. Tidak ada jenis dan wilayah ilmu manusia apapun yang bisa dipakai untuk merumuskan hidup dan matinya Rendra. Sirrul-asror. Itu misteri seserpih rahasia di antara jagat raya tak terhingga rahasia iradah-Nya.

Yang mungkin, dan harus, kita lakukan adalah meneliti dan menghitung ulang karya-karya Rendra, menghormatinya dengan ilmu, merayakannya terus menerus dengan cinta, menunjungnya dengan semangat tanpa henti untuk memelihara keindahan hidup, serta menghidupkan kembali kandungan karya-karyanya itu di dalam berbagai modus kreatif kebudayaan kita.

Rendra telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian. Kelabakanlah kita, sebab yang kita punyai saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap sejarah, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kwalitas hidup. “Kami cuma tulang-tulang berserakan”, kata Chairil, ”Tapi adalah kepunyaanmu. Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan….”