Bangbang Wetan Kate Lapo?

Tulisan ini saya buat tidak dengan maksud untuk menuliskan secara rinci sejarah lahirnya BangbangWetan, karena saya sadar ada banyak hal dan dimensi yang tidak saya ketahui seputar sejarah kelahirannya. Tulisan ini ibaratnya hanya sekedar selayang pandang dari sapuan bola mata dalam melihat dan membaca suatu peristiwa.

Sore itu, di pertengahan bulan Agustus tahun 2006 saya menerima short message service dari Cak Nang (Anang Anshorulloh, adik Cak Nun) yang isinya undangan untuk menghadiri pertemuan di kantor MPM (sebuah dealer produk otomotif terkenal yang membawahi wilayah Jawa Timur dan Indonesia Timur) keesokan harinya. Segera kuputar otak, bagaimana agar besok bisa hadir di acara itu mengingat pada waktu itu saya masih terikat pekerjaan sebagai seorang Credit Analys pada sebuah perusahaan leasing yang ditugaskan di kantor cabang Tuban. Beruntung saya bertugas di bagian lapangan, sehingga mudah untuk mencari cara agar bisa menghadiri acara itu, yang penting pagi kelihatan di kantor dan sorenya ketika jam pulang kerja juga kembali kelihatan di kantor (hehehe). Maka setelah absent pagi keesokan harinya saya segera ngibrit keluar kantor, bukan untuk sarapan di warung serta ngopi seperti biasanya tetapi langsung memacu Kiai Ngulandoro (motor butut yang setia mengantarkan saya kemanapun) menuju Surabaya.

Tepat ketika acara baru dimulai saya sampai lokasi. Begitu memasuki hall kantor MPM saya sudah dipapak oleh seseorang yang agak gemuk berambut cepak yang sebelumnya saya merasa belum pernah mengenalnya yang mengarahkan saya untuk menuju ruang pertemuan di lantai dua gedung itu. Belakangan ketika sudah berada di dalam ruang pertemuan baru saya ketahui ternyata dia adalah Mas Rahmad Rudiyanto, yang dalam pertemuan hari itu didapuk sebagai Sekjen pertama BangbangWetan.

Minadh-dhulumat ila an-nuur dan Adzan

Pertemuan untuk merumuskan Forum BangbangWetan itu dihadiri tak kurang dari 25 orang dari beberapa kota di Jawa Timur dan (kalau tidak salah) satu/dua orang dari Bali. Dalam pertemuan itu Cak Nun diantaranya menguraikan arti BangbangWetan yang merupakan istilah Jawa abang-abang teko wetan atau sinar yang memancar dari timur sebagai lambang akan munculnya pencerahan setelah melewati fase gelap gulita lingsir wengi, yang dalam idiom islam beliau menyebutnya dengan minadh-dhulumat ila an-nuur.

Cak Nun menekankan bahwa format BangbangWetan nantinya harus egaliter, siapapun dari kalangan manapun bebas dan merasa nyaman untuk menghadirinya, tidak sebatas pada yang beragama islam saja, melainkan semua pemeluk agama apapun boleh hadir, bahkan penganut atheispun dipersilahkan, karena forum ini adalah forum Maiyah, forum kebersamaan bagi semua makhluk Allah.

Selain bermakna minadh-dhulumat ila an-nuur, BangbangWetan juga bisa bermakna adzan karena kata ‘bang’ adalah sebutan atau istilah untuk panggilan sholat. Kita-kita yang lahir awal tahun 70-an keatas pasti tidak asing dengan istilah itu, entah kalau generasi yang lahir pasca 70-an saya tidak tahu. Jadi BangbangWetan diharapkan juga sebagai sebuah forum pemanggil atau penyeru yang membangunkan kita untuk bersembahyang, yakni bersembahyang dalam gerak kehidupan sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam naskah drama Perahu Retak (Santri-Santri Khidlir):

Beribadah kepada Tuhan
Apa gerangan beribadah kepada Tuhan

Ialah mengamati terbitnya matahari
Dan tenggelamnya senja

Ialah memasuki kesetiaan air
Kepada daya tarik bumi

Ialah akar yang menghunjam
Dan dedaunan yang merambah angkasa

Menyembah Tuhan, katakanlah
Apa gerangan menyembah Tuhan

Ialah mencangkul sawah dengan hati ikhlas
Memelihara kesuburan tanah, menyirami tanaman

Ialah tidak menebang pohon
Jika memang tak perlu ditebang

Ialah mencari ikan di sungai
Hanya sebanyak yang diperlukan

Bersembahyang, katakanlah
Apa gerangan bersembahyang

Ialah menjunjung langit, menghormati bumi
Sebagai jalan cinta kepada Robbul ‘Izzati

Ialah santun dan tersenyum kepada rakyat
Ialah mewakili Tuhan dengan cara yang memikat

Kasih kepada alam, kepada semua manusia
Sebagaimana cinta dibentangkan oleh Sang Azza wa Jalla

Dari naskah drama Perahu Retak (Santri-Santri Khidlir) yang dipentaskan di Surabaya pada November 1991, hal 11.

Pada kesempatan itu Cak Nun berharap semoga forum BangbangWetan benar-benar akan menjadi Matahari yang dinanti-nanti akan muncul dari timur untuk menguak rahasia, bangun bersama dari tidur. Bahkan saat itu beliau mengajak kita untuk siap dan tatag karena BangbangWetan adalah beberapa langkah menuju kehancuran total atau awal kebangkitan untuk memimpin dunia.

Kilas Balik

Dalam perjalanan balik ke Tuban seusai pertemuan itu ingatan saya melayang pada pertemuan Kadipiro 16 – 17 Oktober 2005 yang merupakan kelanjutan dari Silaturahim Nasional Jamaah Maiyah di Semarang 25 September 2005 yang membahas mengenai Perubahan Metode Maiyah kearah partisipatoris yang memungkinan munculnya kader-kader sebagai penggerak (aktif, pasif, progresif). Dalam pertemuan Kadipiro itu muncul usul yang (maaf) setengah ngeyel dari Haris — JM Surabaya — agar menghidupkan kembali Haflah Shalawat di Masjid Al-Akbar Surabaya.

Bangbang Wetan Edisi September 2015
Bangbang Wetan Edisi September 2015

Sebagaimana kita tahu pada akhir 90-an s/d awal 2000-an di Surabaya ada dua pengajian yang diasuh oleh Cak Nun, yakni Haflah Shalawat yang diadakan pada hari minggu terakhir setiap bulan di komplek Masjid Al-Akbar Surabaya, dimulai pagi hari dengan diawali ‘kenduri shalawat’ oleh group-group shalawat yang ada di Surabaya  dan sekitarnya lalu dipuncaki dengan ngaji bareng Cak Nun sampai dhuhur.  Jamaah Haflah Shalawat kebanyakan kalangan menengah bawah mulai dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, tukang becak, kelompok-kelompok shalawat dan kaum urban. Pengajian kedua dilaksanakan sore/malamnya di Hotel Elmi dengan nama pengajian Tombo Ati yang jamaahnya rata-rata golongan menengah atas yang patungan menyewa sebuah ruang pertemuan di Hotel Elmi untuk acara tersebut.

Kembali ke usul menghidupkan kembali Haflah Shalawat, Cak Zakki menanggapi bahwa Cak Nun tidak mungkin mau, karena kedua forum pengajian itu segmennya terbatas:  kalangan menengah atas dan orang-orang yang tidak biasa sobo masjid tentu tak enak hati atau sungkan untuk hadir di Haflah Shalawat meski sebenarnya menginginkannya. Sementara kaum pinggiran menengah bawah tentu tidak mungkin menghadiri pengajian Tombo Ati yang diselenggarakan di Hotel Elmi. Masih menurut Cak Zakki, Cak Nun baru bersedia hadir kalau kamu (sambil menunjuk Haris) bisa mencari tempat di tengah kota yang mudah dijangkau semacam Balai Pemuda sehingga setiap orang dengan latar belakang apapun merasa nyaman dan tidak mempunyai beban apapun untuk hadir di tempat itu.

Maka keputusan pembentukan Forum BangbangWetan yang dalam rembug siang itu diputuskan akan diselenggarakan secara rutin setiap bulan di Balai Pemuda, menurut saya, adalah sebuah jawaban dari keinginan Cak Nun tersebut.

Bangbang Wetan Kate Lapo?

Bangbang Wetan dilaksanakan pertama kali pada 6 September 2006. Pada edisi perdana ini Cak Nun mengatakan bahwa konsep pengajian Bangbang Wetan itu memang diformat berbeda dengan pengajian konvensional. Karena pengajian itu merupakan milik masyarakat, maka merekalah yang menentukan materi apa yang pantas dibicarakan. Jadi pada awal-awal BangbangWetan dulu, bahkan sampai beberapa tahun kemudian,  tidak ada tema seperti sekarang. Tema mengalir sesuai keinginan forum.

Pada edisi perdana ini, Forum BangbangWetan dilaksanakan di halaman parkir sebelah timur komplek Balai Pemuda, tepatnya di depan bioskop Mitra. Jamaah yang hadir sekitar 2000–an orang. Selain Cak Nun, narasumber pada edisi perdana ini adalah Hotman Siahaan dari Unair, Mbak Via, Cak Fuad, Cak Kartolo dan Jenma (seorang peneliti dari Australia) yang  kebetulan sedang ada suatu keperluan di Surabaya, dulu dia pernah bertemu dengan Cak Nun ketika Cak Nun sedang menghadiri sebuah undangan di Australia.

Pada semester pertama BangbangWetan, kalau saya boleh menyimpulkan, Cak Nun lebih menekankan pada sebuah pertanyaan BangbangWetan kate lapo? Tentu beliau tidak sekedar hanya pada memberikan pertanyaan saja, melainkan juga memberi bekal kepada jamaah dengan menguraijelaskan mengenai posisi, orientasi, assosiasi, potensi dan seterusnya yang dimiliki oleh jamaah agar jamaah bisa menjawabnya sendiri sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing. Sebagaimana kita ketahui Cak Nun dan Maiyah selama ini tidak mau mendekte jamaah, melainkan hanya memberikan kunci-kunci atau paling banter  membukakan pintu, sedang keputusan atau kesimpulannya 100% diserahkan kepada jamaah sendiri.

Selain memancing dengan BangbangWetan kate lapo, pada semester pertama sampai dengan semester ketiga Cak Nun lebih menekankan pada dialektika Cinta Segitiga sebagai bekal bagi kita dalam menghadapi kondisi apapun agar muara dari semua yang kita lakukan akan berujung pada penyatuan kita kepada Allah, nyawiji, tauhid.

Rupanya pertanyaan dan jawaban yang diharapkan akan muncul dari jamaah itu tidak hanya berhenti pada sekedar pemahaman saja, melainkan harus langsung diaplikasikan di lapangan. Maka amanah untuk memediasi dan mengawal Masyarakat Lumpur Lapindo pada semester-semester selanjutnya menurut saja adalah implementasi dari jawaban yang merupakan suatu keniscayaan. Lalu dilanjut dengan ikut membantu penanganan kasus Stren Kali Jagir dan Pasar Turi.

Di sela-sela rutinitas penyelenggaraan forum bulanan, BangbangWetan beberapa kali diamanahi untuk menyelenggarakan beberapa reportoar: Tikungan Iblis, Presiden Balkadaba, Konser Hati Matahari, Ijazah Maiyah, Nabi Darurat Rasul ad-Hoc, dan yang terakhir Banawa Sekar.

Tak terasa sembilan tahun sudah BangbangWetan terselenggara. Ibarat kuliah formal kita sekarang sedang berada di semester delapan belas. Sudah lebih dari cukup bekal ilmu yang kita dapatkan dari para ‘dosen’, khususnya dari Sang Guru Besar kita, yang pada tahun 2011 lalu oleh Kesultanan Ternate dianugerahi gelar Ngai Ma Dodera yang berarti sebuah pohon rindang yang menjadi tempat bagi burung-burung untuk membangun sarang. Tentunya untuk saat ini sudah bukan waktunya lagi bagi jamaah untuk kembali mempertanyakan BangbangWetan kate lapo, melainkan harus sudah siap menjadi bocah angon di lingkungan/daerah/komunitasnya masing-masing seperti yang sudah di-uswatun hasanah-kan oleh Cak Nun selama ini.

Selamat ulang tahun yang ke 9, jangan lelah untuk tetap bersyukur dan terus berjuang.

Blora, 23 September 2015