Surat Liar Dari Tanto Mendut Menjelang PILPRES

1. imunitas penting di komunikasi sosiologi kontemporer. Masak masih menterjemahkan makna mapan tentang hasutan iklan kampanye, cairnya fitnah keji surplus isue,ndobosnya reriungan kentongan ronda dan crewetnya penyiar televisi sekenanya dan sampah personalia massif jalur on line yang semakin tak terbatasi waktu saur Romadhon selain begadangnya pengangguran peradaban, ataukah belum imun mesti memisahkan antara piala dunia Brazil dan kegalauan dua kubu pilpres…..? nomer satu terapinya ,coba ulang lagi dengan Iqra. Cukup sendirian, waktunya terserah tempatnya sembarang suka, kiainya masing-masing  pribadi pembaca Iqra….Baca ulang huruf tsb, dan imajinasimu melayang….siapa yang tahu keindahan khusukmu,urus ulang dirimu,tanpa sibuk ngukur parameter akalmu,dan tanpa standard kesehatan surga penguasa manapun…ya Iqra,sekedar ejaan,huruf,kata,kalimat,atau ……… Belum kebal ? begitu Cak Nun telpon bersama Toto Raharjo,meminta menulis di suasana bulan serba tidak sehat bulan Juli,……yang lewat di kegalauanku ,sementara ini : ulangan Iqra……ah rasanya Cak Nun dan Toto Raharjo memang mewakili jamaah galau panjang kebangsaan….kucatat puluhan tahun,bukan hanya sebulan per lima tahun  ……tapi kalau ingat Mustofa W Hasyim di maiyahan,galau itu sekaligus pahala keceriaan yang aku juga bisa baca di teman-temanku di lereng gunung yang notabene pedesaan,tentu bukan pedesaan yang dimaknai TIM sukses visi misi…..Iqra itu visi misi harian berkelanjutan dan renewable sampai di sosiologi kontemporer kapanpun……?

2. Iqra dua,Minggu 6 juli, di kebun belakang rumah pinggir sungai yg kucintai,tak jauh sekitar seratus meter lebih dari candi kecil bikinan abad tujuh ,membaca puisi Goenawan Mohamad hari ini : Marco Polo,…(duduk,ngopi dan ngrokok asap nikotin,…sambil jadi turis imajiner…jadi pengin nggunduli kepala dan iseng pindah jadi Budhis…..jadi budhis sehari ini saja , mesti tadi saur dan nonton penalti Belanda pada costa rica,dan sore nanti tetep buka puasa….(…. para tetangga sebelah lewat pematang sawah selalu uluk salam……hanya satu yg lewat tetep berasap tembakau di mulutnya….minggu mendung tapi sejuk, timbunan gunduk kecil sisa abu  Kelud memberi kesibukan imajiner yang segar di pinggir kali rumahku….plus puisi Goenawan  ,di lembar lain Bre Redana sang peminum Anggur Tari Perut seribu tahun sebelum Jesus Lahir,hari ini Bre entah sedang apa…..sms Hariadi  sedang memerankan petani Indramayu dengan revolusi lokal didukung jutaan hama koeksistensial…sms wardah kemarin dari kerumunan massa di gelora Bung Karno….di Ibukota,………tinggallah selalu Ciliwung yg mampu jadi aktor revolusioner,tanpa agitasi eksplisit…..minggu pagi yang cleguk…..tapi tentu orang lebih sibuk dengan pelajaran kosong empat wajah di debat kosong seolah berhala pemimpin bangsa…..baru ngapain kamu cak Nun, juga Toto,kiai Muzamil……Santrinya sendiri malah para Kanjeng….? Duh, kulatih imunitasku lagi….Iqra kedua…Toto,tak usah mikir titik koma dan tanda baca,apalagi editing…transkrip apa adanya, huruf besar dan kecil tak ada artinya bagi kita…imunitas kita kedua ?

Iqra ketiga,disamping Arab dan Latin, di rumahku kecampuran simbol kanji yg akrab keseharian di keluargaku 3) ”Sudah cukup sudah cukup….kucing kena banyak abu…pinggiran silit banyak tainya….!”(terjemahan anakku dari : keko keko kedarake neko haidarake….kata tora san ini dalam serial film Torajiro yg terkenal puluhan tahun) ,naif,anti hero,gagal cinta yg sepele,kejujuran awam yg bermakna,polos inspiratif, ……ya itu kenapa istriku sangat ngefans mustofa w hasyim…..dan rasanya aku dan cak nun dalam hal ngajak siapa saja naik ke panggung,bukan lagi sibuk kriteria satu disiplin,tunggal perspektif,apalagi disiplin profesional yang kabur…selain suka sama suka antar peetemuan manusia siapapun…tanpa slogan multi interaksi koeksistensi pertai tai an…..Rendra deklarator kaum urakan……Maiyahan itu kenduri mocopat mbulan urak urakan sejatinya keceriaan misuh2 mesra antar asu kirik di kebun tak aneh…..Iqra ketiga…..bacalah ulang untuk hari ini,bukan ke marin bukan esok…..kerna Iqra adalah hari ini,kata presiden Gunung, imunnya tak galau dua pasangan..

4) Iqra ke empat  ,bacalah ulang tentang promotormu,sponsormu, maecenasmu,tim suksesmu di ekonomi politik,koalisimu,representasi keadilan sosialmumu termasuk spiritual kelammu dan akal akalan tidak sehatmu terkarma kepercayaan Machiavelli :  umur ideologi teksmu harus membaca ulang tentang dimensi  reog dan wisata ,jaranan pegon dan industri mobil gengsi demografi,Kobra siswo profesor mabuk status akademis , topeng ireng akuntansi kas negara,soreng satgas tukang pukul , kuda lumping hasil tambang dan enersi tergadaikan ,rodat naik haji antre 15 th ,warok trias politika,badui nyerang toko2 ,lengger dolanan facebook ,gatoloco monopoli penerbangan ,grasak proyek bagi kuasa , cakarlele lintas pulau ,pitutur madyo gendeng ,warisan budaya krumpyung payung ,bali mendres , interior srandul, campur bawur wayang ketoprak stanislavky,kuntulan berpeci hitam nyanyi Indonesia Raya, sholawatan tv dan jamaah amplopan robot amin amin setelah Allohumma perintah kamera sponsor bedak pemutih kulit pipi ,…..lintasan apapun di Iqra……tak pasti kita tak tersesat bercampur surplus bacaan racun media sebelumnya…..tapi Iqra ke empat inipun,kuakui,hanyalah rasa kipit2 diriku sendiri…..tak ada kesetiaan makna,apalagi hanya satu kata ‘baca’…aku cuma bisa baca sendiri,dang sepi kuakui tanpa gengsi..

iqra ke lima 5)…………Ingin ”kendurian,mocopatan,padangan mbulanan urakan” di pasir segoro kidul…..dua tahun sekali ? iqra ke lima, siklus membaca ulang Insan Alam dan Zaman? Pabelan Kuno,6 juli, kebalikan,coba Iqra tertuju pilpres tiga hari lagi…..(Toto ,permintaanmu cuma bisa kukerjakan 5 Iqra imajiner tsb,kalau sensisitif,gantilah kata ‘Iqra’ dengan ‘Honocoroko’. Nuwun perhatianmu

Tulisan ini merupakan transkrip SMS dari Tanto Mendut kepada Toto Rahardjo dan sama sekali TANPA EDITING.