Saya vs Anjing

Pagi kemarin saya bermain bola dengan seekor anjing besar berwarna hitam putih, di halaman belakang rumah seorang teman, di pelosok, sekitar 40 km dari kota Melbourne, Australia. Hampir tiga jam, melebihi running time pertandingan Piala Dunia. Satu lawan satu, berbeda dengan 11 lawan 11. Tentu saja saya ngosngosan, tetapi gejala flu meler saya menjadi sembuh – maklumlah dibanding Sydney kemarin, cuaca dan suhu udara di Melbourne relatif lebih dingin. Tidak sedingin Canberra – kota yang berpretasi membuat saya tidak mandi 4 hari – tetapi Melbourne tidak stabil, sehingga terkadang lebih menyegat dibanding ibukota Australia.

Bagaimana saya bisa tersandera di sini, sendirian di rumah, bermain sama anjing yang lincah bukan main – mengingatkan ketika saya masih muda bermain bola dengan tujuan adu gares atau slongketan kaki. Pengalaman kesunyian saya kali ini sungguh berbeda dengan tradisi sunyi hidup saya selama ini.

Oh, anjing! I love you anjing! Tentu saja saya bermain bola dengan pakai sepatu di kaki, berusaha tidak menyentuhkan kulit saya dengan bola yang digigit dikulum anjing terus menerus.

Saya tidak akan menyebut anjing makhluk yang rendah. Ia adalah makhluk Tuhan yang sekedar berbeda dengan saya. Sebagaimana kalau bikin kopi jangan dicampur dengan garam atau apalagi sambal. Bukan karena sambal lebih rendah derajatnya dari kopi, tetapi estetika tidak menghendaki mereka berdua diaduk jadi satu. Sayapun tidak menyambal dan nguleg diri saya dengan air liur anjing. Saya bermain, bekerjasama, bermesraan dari suatu jarak yang menjaga kehalalan.

Oh, anjing! Pendawa mengalami ribuan nasib dengan seratus saudaranya Kurawa: saling cemburu, mempertarungkan rasa hak milik, kalah judi, menjadi gelandangan di hutan, kemudian memasuki sampyuh Bharata Yudha – perdebatan moral dan kebimbangan teologis yang panjang, memasuki pemikiran-pemikiran sangat mendalam terutama dalam dialog Kresna dan Arjuna. Di puncak riwayatnya, mereka berlima menang. Tetapi ketika lorolopo menuju sorga, satu persatu dari lima bersaudara Pandawa ini tak kuat tak tahan uji. Sampai akhirnya hanya Puntadewa alias Prabu Darmakusumah yang menapaki tanah di depan pintu nirwana. Namun ia yang berdarah putih ini pun gugur, dan tinggal anjingnya… memasuki sorga.

Tak berani aku meremehkan anjing. Puncak keberanianku hanyalah meremehkan diriku sendiri. Bukankah orang di jalanan yang menjumpai seekor anjing kehausan dan memberinya minum – dijauhkan ia dari api neraka? Bukankah tidak menolong tidak memberi makan kepada anak anjing yang kelaparan saja kita diancam dijilat api neraka?

Siapa tahu aku ini anjing. Jadi kalau ada orang memakiku “Anjing!” aku tidak boleh marah. Atau mungkin malah berterima kasih karena dengan disebut anjing sesungguhnya aku dijunjung kehormatanku – padahal aslinya aku tidak akan pernah mampu sesetia dan sejujur anjing.

Saya bermain oper-operan bola dengan Penny si betina yang besar, sambil Wolly yang cowok menyaksikan di sisi pagar. Tak pernah saya punya pengalaman apapun dengan anjing. Tak punya habitat pergaulan dengan anjing. Tapi Penny sepertinya jatuh cinta kepada saya. Ia terus menerus mendatangi saya dengan menyodorkan bola yang ia kulum-kulum dan ia sodorkan ke tangan saya.

Saya coba berbicara kepadanya dan memintanya untuk meletakkan bola di depan kaki saya. Ternyata ia mau. Maka kami bermain-main – bermesraan sesama makhluk Allah. Aku yang menendang bola, ia menjadi kiper. Babak pertama saya kalah, capek duluan dan terduduk menggeh-menggeh. Ronde berikutnya saya balas Penny yang ngos-ngosan, bersimpuh sambil menjulur-julurkan lidahnya.

Jalaludin Rumi memberi makan kepada tiga ekor anjing yang kelaparan. Orang yang lewat bertanya kepadanya: “Siapa anjing yang kau beri makan itu?” Rumi menjawab: “Itu adalah aku….”