Reportase Tasyakuran Keluarga Besar Bakpia Djava Jogja

Dari bakpia kita belajar untuk tidak gampang tertipu oleh ilmu katon. Tidak semua yang pakai peci pasti alim, yang tidak pakai peci belum tentu jelek.

Senin malam tanggal 20 Januari 2014, Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng digelar di Sucen, Salam Magelang tepatnya di pelataran Bakpia Djava Jalan Magelang Km. 22. Menjelang pukul 20:00 WIB dimana Maiyahan akan dimulai, tampak masyarakat Sucen Salam Magelang telah memenuhi area di depan dan kiri panggung serta bersiap menyimak ilmu dan hikmah yang akan disampaikan oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng. Terlihat sebelumnya di jalanan rombongan ibu-ibu menaiki mobil bak terbuka menuju lokasi pengajian ini. Juga rombongan-rombongan lain dari kawasan Salam dan sekitarnya.

Tipikal pengajian yang selama ini dibangun oleh Maiyah adalah kebersamaan dengan semua jamaah, bekerjama menciptakan suasana yang baik, tak ada yang ditonton tak ada yang menonton, semuanya bersama-sama berkonsentrasi pada apa yang sejatinya menjadi fokus. Jauh dari konstruksi performance yang meniscayakan adanya jarak budaya antara yang duduk di atas panggung dan yang didepan panggung. Maka usai nomor Hasbunallah, para vokalis KiaiKanjeng memandu para jamaah untuk bareng-bareng melantunkan Sholawat Badar aransemen KiaiKanjeng.

Acara ini mengusung tema “Meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam Membangun Kebersamaan Umat” sekaligus diniatkan sebagai tasyakuran keluarga besar Bakpia Djava Yogyakarta. Karena itu, KiaiKanjeng merengkuh dan memperhatikan kekayaan “harta” yang mulai dilupakan manusia modern, yakni harta kekayaan budaya, di antaranya yang hidup dalam lingkup keagamaan. Kebersamaan tampaknya hanya bisa terbangun jika semua orang mau menghormati bukan saja satu sama lain antar sesama manusia, tetapi juga mampu menerima atau sekurang-kurangnya menghargai keragaman budaya. Karenanya Mbak Yuli KiaiKanjeng kini mengajak semua hadirin untuk ingat dan melantunkan salah satu pepujian yang sering dilantunkan di surau-surau: Robbana ya Robbana.

Meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam Membangun Kebersamaan Umat. Foto oleh Adin Progress.
Meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam Membangun Kebersamaan Umat. Foto oleh Adin Progress.

Cak Nun memulai pengajian yang sesungguhnya tak lain adalah bentuk berbicara dari hati ke hati secara murni dengan para jamaah dengan mengajak mereka memastikan bahwa acara berkumpul bersama seperti ini pasti dan semestinya diniatkan untuk hal-hal yang baik, untuk mencari ridho Allah, mengungkapkan cinta kepada Rasulullah, dan menciptakan kebersamaan satu sama lain, dan karena itu pihak yang paling pertama mensyukuri kebaikan ini adalah Allah dan Rasulullah. Sebab Allah memiliki sifat asy-Syakuur (maha bersyukur). Jika Allah senang, maka hidup kita akan menjadi lebih mudah, dipenuhi barokah, dan disiapkan pertolongan-pertolongan.

Sembari memperkenal-akrabkan para personil KiaiKanjeng kepada para jamaah, Cak Nun mengingatkan bahwa kalau di sini di pengajian ini putra-putri duduk lesehan khusyuk tanpa ada sekat atau pemisah itu karena di dalam hati mereka tidak ada laki-laki — perempuan, yang ada adalah sedulur kabeh. “Soalnya kalau disekat di sini iya mungkin bisa, tapi kalau di sana di luar acara ini apakah kita bisa  menyekat mereka. Maka sekatnya dibangun di dalam hati,” tutur Cak Nun.

Seperti pada Maiyahan sebelumnya, Cak Nun menyampaikan bahwa acara ini bertajuk “ngaji bareng” di mana ngaji berarti mencari aji atau ajining urip. “Aji adalah ‘sepuhing’ uripmu,” kata Cak Nun. Kemudian Cak Nun langsung mengajak para jamaah mengambil ilmu dari bakpia. “Apakah enak tidaknya bakpia itu bisa dilihat dari wujud lahirnya? (Tidak, jawab jamaah). Apakah sehat tidaknya bakpia bisa dirasakan oleh rasanya? Jamu-jamu yang terbuat dari brotowali itu menyehatkan tapi pahit rasanya. Jadi dari Bakpia kita belajar untuk tidak gampang tertipu oleh ilmu katon. Tidak semua yang pakai peci pasti alim, sebagaimana yang tidak pakai peci belum tentu jelek. Artinya, kita jangan gampang tertipu,” terang Cak Nun.

Selanjutnya Cak Nun menguraikan, dengan belajar dari alif lam miim, hidup itu perlu ada berdirinya, ada rukuknya, dan ada sujudnya. Sedikit melengkapi mengenai sujud, Cak Nun menjabarkan bahwa sujud mendidik kita untuk memiliki dua hal: rendah hati dan biso rumongso. Dengan kata lain, agar kita tidak terperosok dalam kehinaan tetapi senantiasa andhap ashor.

Sampai pada poin sujud, Cak Nun telah membingkai ilmu Maiyahan malam ini dengan sejumlah kata kunci: aji (martabat), kebenaran materiil, dan kebenaran esensial. Orang yang wudhu kemudian batal karena kentut, maka yang dibasuh lewat wudhu adalah mukanya bukan pantatnya, artinya ini bukan urusan jasad (materiil), melainkan urusan esensial hidup manusia, yaitu soal martabat.

Usai persembahan dua nomor dari mas Donny KiaiKanjeng dan Mbak Yuli KiaiKanjeng, Cak Nun meminta salah satu perwakilan masyarakat untuk membawakan lagu. Pak Khumaidi, salah satu tokoh masyarakat di sini, akhirnya mempersembahkan shalawat (Ya Rasullah Salamun ‘alaik) dengan musikalitas campursari “Kuto Solo” tetapi dengan muatan pesan-pesan mengenai menjalankan ibadah dan keberagamaan. Terlihat bahwa betapapun nuansanya campursari, tetapi di bawah naungan nilai-nilai kebajikan dan kebersamaan, persembahan tersebut tetap terasa enak dan berada dalam batas yang wajar dan bahkan mewujud sebagai keindahan yang khas.

Lebih-lebih ketika kemudian Cak Nun menyelai nomor ini dengan menyenandungkan “Laulaka ya muhammad lama kholaqtul aflaka. Jika bukan karena Engkau wahai Muhammad, niscaya tak kan kuciptakan alam semesta ini.”

Kemudian Cak Nun mengingatkan bahwa campursari adalah campuran antara Jawa dan dangdut, sedangkan dangdut adalah campuran antara Melayu dan rock. Yang berjasa dalam mempopulerkan campursari adalah Mantos dari Gunungkidul. Selanjutnya jamaah diajak untuk membaca Alfatihah buat almarhum Mantos yang telah berjasa menggembirakan banyak orang melalui campursari.

Kini Pak Camat Salam dipersilakan memberikan sambutan. Dalam sambutan ini, Pak Camat mengapresiasi penuh acara yang dipandu oleh Cak Nun yang sarat muatan taqwa, kebaikan, kebersamaan, dan pencerahan serta semangat egalitarianisme. Meskipun, aku Pak Camat, egalitarianisme Cak Nun belum mampu sepenuhnya diterapkan olehnya seperti dalam hal panggilan aku-kowe. Cak Nun dengan sangat senang hati menyimak uraian Pak Camat dalam bahasa Jawa halus ini, dan kemudian mengungkapkan, “Kalaupun harus ada kelas-kelas, maka kelas yang pertama harus kita hormati adalah orang yang paling menomorsatukan Allah (orang yang ruhaniah), kemudian baru orang-orang yang berilmu, lalu orang-orang yang dukdeng (sakti), baru kemudian orang yang kaya,” kata Cak Nun. Dan yang terpenting, Cak Nun memohon Pak Camat agar benar-benar menjaga masyarakatnya untuk tidak congkrah dan bertengkar. Terlebih karena sesungguhnya agama itu dimaksudkan agar pemeluknya dekat dengan Allah dan hidup rukun dengan sesama manusia.

Usai dua nomor dangdut, usai tertawa dalam kebahagiaan, kini Cak Nun mengajak jamaah untuk memasuki dimensi kepemikiran. Dalam hal ini Cak Nun meminta Pak Camat dan para pemuka masyarakat untuk mengkaji apa-apa yang di wilayah ini menjadi sebab perselisihan atau pertengkaran. Seorang bapak maju dan urun atur dalam bahasa Jawa halus bahwa ada beberapa hal yang membuat congkrah: khilafiah dalam memahami agama, kepemimpinan yang lemah, dan riya atau kesombongan.

Kemudian Cak Nun menerangkan bahwa ada dua jenis perbedaan yaitu ikhtilafiah (perbedaan tidak prinsipil) dan khilafiah (perbedaan mendasar/prinsipil) dan apa-apa yang dapat masuk ke dalam dua jenis itu juga mengandung di dalamnya perbedaan-perbedaan pemahaman.

Setelah mengetahui kedua jenis perbedaan itu, yang terpenting dalam hal ini adalah memahami hakikat dan tujuan agama. Dalam hal ini sangat urgen memahami pula apa sebenarnya tujuan kita hidup. Sebab, sesungguhnya urusan kita dengan Allah adalah kita dikirim ke bumi/dilahirkan untuk kemudian diharuskan gawe apik (berbuat kebajikan) dalam perjalanan pulang/kembali kepada Allah (ilaihi rojiun). Di sinilah konteks agama terletak. Sehingga pertanyaannya sekarang adalah apakah ada sesuatu yang kita lakukan di dunia ini atau selama kita hidup ini alias pada tahapan menuju kembali ke Allah yang tidak berkaitan dengan agama.

Dua hal ini: agama dan tujuan hidup — adalah komponen yang paling penting dalam menganalisis masalah-masalah terkait bid’ah, syirik, dan masalah sejenis.

Kalau ada orang bertanya, misalnya tentang tahlilan atau ziarah kubur, mana perintahnya di dalam Alquran atau hadist, langsung saja jawab, mana larangannya di dalam Alquran dan hadist. Demikian Cak Nun memberikan contoh metode merespons orang yang gampang membid’ah-bid’ahkan. Prinsip lain yang dikemukakan Cak Nun adalah tidak ada bid’ah dalam bidang mu’amalah. Yang ada adalah apakah suatu mu’amalah itu melanggar prinsip ajaran agama atau tidak.

Ora ono sesuatu sing til haram til haram. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba langsung haram. Semuanya harus terletak pada suatu pemikiran atau konteks baru kemudian ada hukumnya,” tegas Cak Nun.

Ketika ditanya mengenai ikhtilafiah doa qunut saat shalat Subuh, Cak Nun dengan bijak merespons, “Kalau anda shalat Subuh dengan qunut, doakanlah yang tidak qunut diterima Allah, begitu sebaliknya jika anda tidak berqunut, doakan yang berqunut diterima Allah.”

Acara dipuncaki dengan lagu Keluarga Cemara yang dibawakan oleh Mbak Novia Kolopaking, pesan singkat dan ucapan terima dari Pak Camat, dan kemudian ditutup dengan doa bersama. [Red Progress/Helmi Mustofa, dok foto: Adin]