Reportase Bangbang Wetan Agustus 2014

Bagaimana kita mengolah Bangbang Wetan supaya pohon Bangbang Wetan ini semakin banyak tumbuh, semakin kerasan, nanti ada orang, burung yang kesitu?

PENGGIAT Maiyah yang sekaligus ‘panitia’ acara maiyahan rutin Bangbang Wetan Surabaya, Dudung, mengawali forum malam itu dengan menyapa jama’ah sekaligus bersilaturahmi memanfaatkan momentum perayaan Hari Raya Idul Fitri. Ia mengajak jama’ah untuk kembali mulai menata diri masing-masing, mengkhususkan, memfokuskan serta memaksimalkan peta-peta ruhani. Sebab menurutnya, Indonesia terlalu kecil dan terlalu sepele untuk terlalu dipikirkan menghabiskan energi. Dudung mengkorelasikan dengan apa yang sudah dimulai di Padhang Mbulan sebelumnya seperti membaca do’a tahlukah, do’a jibril dan wirid-wirid lainnya agar juga seyogyanya diikuti dan dilaksanakan di Bangbang Wetan.

Cak Dil yang juga turut hadir di Bangbang Wetan malam itu menambahkan, bahwa maiyahan-maiyahan yang selama ini telah dilakukan, menganjurkan untuk perlu adanya perubahan-perubahan mendasar pada teknis pelaksanaannya. Sebab perubahan merupakan sesuatu yang niscaya dalam kehidupan manusia, tentunya perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Diantaranya adalah pola tadarrus Al Qur’an yang bisa menggunakan pola nderes bareng-bareng, tartil, terpimpin bukan sendiri-sendiri, yaitu membaca Al Qur’an dengan dipimpin oleh satu orang di depan, sehingga ketika membaca Al Qur’an sudah tidak ada lagi jama’ah yang jalan kesana-kemari di lokasi maiyahan, semuanya fokus membaca Al Qur’an. Cak Dil meminta teman-teman penggiat Bangbang Wetan untuk mengatur siapa-siapa saja yang terlibat secara teknis, termasuk siapa yang dipilih untuk memimpin tadarrus Al Qur’an, agar jangan asal pilih. Ditunjuk orang yang bacaannya baik. Intinya adalah pengaturan perubahan ini harus terukur, bukan asal berubah.

“Yang kemarin saya kemukakan di Padang Mbulan itu sebenarnya adalah sebuah konservasi. Konservasi itu apa? Konservasi itu seperti ada bukit gundul, ada tanah berbukit-bukit yang gundul pohon-pohonnya hilang ketika ada hujan lebat, maka dia akan menjadi air bah, maka tanahnya akan tergerus, akan erosi. Nah konservasi itu adalah ndak peduli opo, nanam terus, menanam pohon dan kita tetap tanam pohon di bukit gundul tadi. Maka kalau kita berhasil nanam pohon, bibit yang kita tanam tepat, kita meletakkan di tempat yang tepat, kita pelihara dengan tepat, dia akan tumbuh baik. Maiyahan itu pohon. Maiyahan bukan seperti ruang ber-AC yang diluar panas lalu dia masuk ke ruang AC untuk sembunyi, bukan. Ia (maiyah) adalah pohon di bukit gundul, dimana kemudian orang datang disana untuk berteduh. Itulah yang namanya maiyahan. Maiyahan itu konservasi pohon,” Cak Dil menelaah.

Menurut Cak Dil, bahwa Maiyahan yang selama ini dilakukan itu adalah sebuah bentuk konservasi. Penjelasan Cak Dil ini tak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Cak Nun beberapa waktu lalu, bahwa Maiyah hanya menanam. Jama’ah Maiyah hanya perlu menanam dan tidak perlu mengejar panen. Soal bahwa Jama’ah Maiyah ikut menikmati hasil panen itu adalah kehendak Allah. Yang dilakukan oleh Maiyah adalah menanam dan merawat apa yang ditanam.

“Bagaimana kita mengolah Bangbang Wetan supaya pohon Bangbang Wetan ini semakin banyak tumbuh, semakin kerasan, nanti ada orang, burung yang kesitu? Semua itu merasakan kenikmatan berteduh di Bangbang Wetan. Dengan adanya pohon itu, ada hujan air tertahan, air itu menjadi sumber kehidupan. Itulah makna konservasi,” Cak Dil melanjutkan.

Cak Dil kembali menekankan, bahwa apa yang disampaikan oleh Dudung diawal tadi merupakan gagasan menarik yang bersifat spiritual, namun secara teknis perlu diatur dengan baik. Tadarrus merupakan tradisi yang baik, namun akan menjadi sebuah hal yang indah jika secara teknis dipersiapkan dengan benar. Siapa yang memimpin tadarrus, bacaan yang memimpin tadarrus harus baik, lagunya diatur, jarak antara mic dengan mulut juga harus diatur sehingga harmonisasi tadarrus tadi tergabung menjadi satu sebagai sebuah keindahan.

“Saya ingin mengusulkan khususnya pada Bangbang Wetan, supaya para jamaah ini punya peran lebih besar di dalam menjawab persoalan umat yang morat-marit ini. Persoalan umat kita ini adalah mereka tidak kenal persoalannya, tidak kenal kelemahannya dan tidak kenal kekuatannya. Persoalan orang miskin adalah tidak kenal kemiskinan dan lainnya. Tidak mengenali sesuatu. Kadang kelemahan dianggap kekuatan, kekuatan dianggap kelemahan,” lanjut Cak Dil.

Cak Dil mengajak jama’ah yang hadir untuk lebih berani berbuat yang lebih realistis. Sudah saatnya Maiyah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersinggungan dengan masyarakat secara luas. Cak Dil memberikan sebuah contoh tentang pelaksanaan sholat Jum’at di Menturo, Jombang. Bahwa saat ini ketika sholat Jum’at dilaksanakan, sudah tidak ada lagi anak kecil yang membuat gaduh suasana di masjid.

Cak Dil juga mengajak jama’ah untuk melakukan survey terhadap tontonan di televisi.

“Misalnya Anda cermati acara di televisi, acara keagamaan di televisi, cermati dari subuh sampai habis acara televisi, anda survey. Dari sana anda bikin nilai, mana yang memperkuat dan mana yang melemahkan.

“Fenomena tayangan televisi yang saat ini disuguhkan kepada masyarakat justru semakin banyak yang melemahkan daripada menguatkan. Ini merupakan salah satu persoalan besar bangsa ini. Sehingga tidak jarang banyak masyarakat yang terbangun opininya dalam merespon sebuah isu berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi.”

Merespon Cak Dil, Dudung menyatakan bahwa Bangbang Wetan bulan depan akan dimulai mengatur kembali hal-hal yang mendasar seperti soal tadarrus Al Qur’an. Dudung bersama penggiat Bangbang Wetan akan meracik lagi komposisi teknis siapa yang akan memimpin tadarrus Al Qur’an di forum Bangbang Wetan bulan depan, Insya Allah.

Kolonialisasi Pikiran

FORUM kemudian diserahkan kepada Amin, ia menambahkan, “Kita di Maiyah diperkenalkan pada tiga hal: pertama, sudut pandang. Dari kecil, dari saya TK sampai SMA, saya hanya mengenal satu sudut pandang, lama-lama kenal dengan namanya jarak pandang. Disini kita diperkenalkan dengan sudut pandang, jarak pandang dan cara pandang. Kalau tiga hal ini kita gunakan, sebenarnya enak, akan nyambung dengan apa yang disampaikan Cak Dil. Kalau kita memposisikan diri pada sudut 45 derajat, dari sebuah masalah, maka angle atau yang kita ditangkap oleh otak kita ya 45 derajat saja. tetapi kalau kita sudah mengenal cara pandang, berarti kan sebuah metode. Meskipun dengan sudut 45 derajat, tapi kita punya metode.”

Amin menuturkan pengalamannya saat menjadi mahasiswa, ia mencoba menganalisa kenapa mahasiswa pada saat itu kurang berminat dalam kegiatan yang bersifat organisasi. Setelah melakukan penelitian, ditemukan hipotesa bahwa mahasiswa saat itu dikalahkan oleh satu kata, yaitu malas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan wirid tahlukah yang dipimpin oleh Zainul.

Mengawali diskusi sesi kedua, Cak Suko memaparkan bahwa Indonesia saat ini memiliki hutang luar negeri yang mencapai 3.100 triliun rupiah, sehingga setiap orang di Indonesia saat ini, termasuk bayi yang baru lahir dibebani utang sebanyak 7,2 juta rupiah. Data yang lebih mencengangkan adalah, Indonesia berhutang kepada Singapura sebanyak 571 triliun rupiah. Menjadi pertanyaan besar mengapa sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi ini memiliki hutang luar negeri yang sedemikian banyaknya.

Joko Susanto, jamaah lainnya yang juga menjadi salah satu staff pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga jurusan Hubungan Internasional, tampil merespon apa yang disampaikan oleh Cak Suko sebelumnya. Joko Susanto mengaku sudah lama tak menghadiri di Bangbang Wetan, ia menyatakan bahwa teman-teman di Bangbang Wetan ini sudah “naik kelas”. Joko Susanto flash back pada saat forum Bangbang Wetan membicarakan tentang Hitler, dimana sepertinya hanya Bangbang Wetan yang berani mengangkat tema tersebut. Bangbang Wetan berhasil mengangkat tema Hitler tanpa harus terbawa sisi-sisi negatif dari yang dilakukan oleh Hitler di masa yang lalu.

Joko Susanto mengajak jama’ah untuk bersama-sama memasuki momentum perayaan kemerdekaan Indonesia yang tahun ini menginjak angka 69. Joko Susanto berilustrasi, seandainya angka 69 adalah umur manusia maka angka tersebut sudah mendekati garis akhir dari tujuan manusia hidup di dunia. Namun, Indonesia tentunya tidak akan sama dengan siklus manusia, sehingga Joko kemudian mengajak jama’ah untuk melihat kembali sejarah Indonesia sebelum merdeka, dimana bangsa ini sudah mencapai hal-hal yang begitu tinggi namun saat memproklamirkan kemerdekaan justru yang terjadi adalah kemunduran-kemunduran yang terus menerus hingga saat ini.

Joko Susanto juga sampaikan bagaimana sejarah kerajaan Turki Utsmani hingga ke peradaban timur tengah dan perkembangannya hingga kini, bagaimana di beberapa negara timur tengah diatur sedemikian rupa agar dipimpin oleh perwakilan dari kaum minoritas, sehingga rakyat yang berasal dari masyarakat mayoritas disana melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang dipimpin oleh representasi kaum minoritas. Libanon contohnya, yang dipimpin oleh perwakilan dari Nasrani. Contoh yang lain adalah seperti yang terjadi di Syiria dimana mereka dipimpin oleh perwakilan dari Syi’ah dimana masyarakat mayoritas disana adalah Sunni. Begitu juga yang terjadi di Irak, sehingga antara pemimpin dan yang dipimpin berpotensi terjadi konflik yang berkepanjangan.

Kembali ke Indonesia, Joko melontarkan pertanyaan, “Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Apakah kita masih sudah bisa melepaskan diri dari penjajahan tadi, atau kolonialisme tadi?”

Joko menerangkan, yang terjadi saat ini bukanlah menikmati kemerdekaan justru yang terjadi saat ini adalah sisa-sisa penjajahan yang merasuki diri manusia-manusia di Indonesia. Mmental orang Indonesia saat ini benar-benar terjajah dengan menganggap bahwa yang baik itu berasal dari luar Indonesia. Contoh paling dekat adalah jenis buah, jika kita menyebutkan jambu apa yang paling bagus, maka akan dijawab dengan Jambu Bangkok. Atau jika ada yang bertanya ayam apa yang paling jago jika diadu, maka akan dijawab dengan Ayam Bangkok.

Kehancuran mental orang Indonesia ini yang digaris bawahi oleh Joko yang kemudian memaparakan tentang banyaknya jumlah TKI-TKI yang bekerja di luar negeri demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup. “Jangan salahkan mereka yang bekerja menjadi TKI, salahkan mereka yang berada di Indonesia namun tidak menciptakan lapangan pekerjaan,” sambungnya.

Menurutnya, mungkin hanya di Indonesia dimana seorang pahlawan devisa justru menjadi korban pemalakan di bandara ketika pulang dari luar negeri. Bagaimana mungkin seorang pahlawan kemudian menjadi korban? Fakta yang lebih parah lagi adalah ketika Indonesia sebagai bangsa yang memiliki wilayah lautan yang sangat luas justru menjadi salah satu negara pengimpor garam. Maka yang terjadi adalah kehidupan para petani garam yang dirusak.

Ia lagi-lagi mencontohkan bagaimana orang Indonesia saat ini menjadi budak perangkat komunikasi elektronik. Sebuah telepon genggam keluaran terbaru bisa membuat orang rela antri bahkan menginap sehari sebelumnya di tempat penjualan perdana perangkat tersebut. Yang terjadi adalah penjajahan di alam bawah sadar bahwa seseorang membutuhkan perangkat tersebut bukan karena faktor urgensi kebutuhan fungsi yang sebenarnya, namun hanya untuk menasbihkan dirinya agar dianggap sebagai orang yang keren.

Ia memberikan istilah kepada fenomena ini sebagai “kolonialisasi fikiran” yang menurut beliau tidak jauh bedanya dengan sistem tanam paksa jaman dahulu yang merupakan sebuah wujud dari “kolonialisasi tanah”, dimana pada saat itu rakyat dipaksa untuk menanan yang hasilnya harus diekspor ke negara lain, tidak dinikmati sendiri. Dan yang terjadi saat ini di Indonesia adalah terbukanya lahan bagi asing untuk menanam modal di Indonesia dimana pada siklus selanjutnya mereka menjadi juragan dan orang pribumi menjadi buruh mereka. Jika pada zaman dahulu penjajahan dengan cara invasi peperangan dan menggunakan senjata, maka saat ini Indonesia cukup dijajah fikirannya dan cara pandangnya saja dengan infiltrasi-infiltrasi yang bukan dari Indonesia.

Kuba, Korea Utara dan Uni Soviet yang dulu pernah memakai sistem tertutup sehingga akses ke negara lain sangat terbatas, menurut Joko Susanto, belum ada satupun yang sukses, negara yang besar apalagi kepulauan, kemudian mengambil kebijakan isolasionis, menutup diri, anti asing sesungguhnya.

Dokter dan Ketidakadilan

SESI selanjutnya, tampil seorang jamaah bernama Ananto, ikut menyumbangkan buah pikirnya. Ananto yang juga bergelar Dokter itu memaparkan bagaimana praktek ketidakadilan juga sangat nyata terjadi pada dunia kesehatan di Indonesia. Salah satu program Jamkesmas yang ada saat ini ternyata tidak berjalan sesuai dengan apa yang dijanjikan. Jika memang keadilan sosial yang digaungkan melalui Pancasila itu dilaksanakan, maka Jamkesmas seharusnya berlaku ke seluruh rakyat Indonesia, tanpa pandang bulu, miskin atau kaya.

Selain itu, Ananto juga memaparkan bagaimana kapitalisasi dalam dunia kesehatan juga melibatkan para dokter. Seorang dokter yang berpikiran kapitalis ketika ia menuliskan resep obat ia akan merekomendasikan obat-obat yang non generik, karena ia akan mendapatkan untung yang lebih besar daripada yang ia dapatkan ketika memberi resep obat generik.

Ananto juga menyoroti tentang banyaknya penderita HIV-AIDS di Surabaya. Kode etik dalam dunia kedokteran mewajibkan bahwa seorang dokter tidak boleh memberitahukan kepada orang lain tentang seorang pasien yang menderita penyakit tersebut. Sehingga, sangat wajar penyakit HIV-AIDS meningkat jumlah penderitanya karena tidak mungkin ada publikasi tentang siapa-siapa saja yang menderita penyakit tersebut. Seorang perempuan yang bekerja di tempat prostitusi dan dia terjangkit HIV-AIDS sangat kecil kemungkinannya mengatakan kepada kliennya bahwa ia menderita penyakit HIV-AIDS, sehingga wajar apabila kemudian banyak yang menderita penyakit ini di Surabaya.

Tentang peristiwa 19 September 1945, Ananto juga sampaikan pendapaynya. Saat terjadi insiden bendera di Hotel Yamato Surabaya saat itu, Belanda membonceng Sekutu dan kemudian merebut Surabaya dari tangan arek-arek Surabaya. Dalam kurun waktu 5 tahun antara 1945-1950 Surabaya absen dari Indonesia karena masih berada dibawah kekuasaan Belanda, namun dalam buku sejarah yang ada saat ini adalah bahwa peristiwa 10 November 1945 merupakan peristiwa kemenangan Surabaya atas Belanda. Menurut data yang didapatkan oleh Ananto tidaklah demikian, bahwa saat itu Surabaya jatuh ke tangan Belanda dan baru kembali ke tangan Indonesia pada tahun 1950.

Ananto mengingatkan jama’ah yang hadir, untuk berdoa setiap melewati Tugu Pahlawan, siapa tahu dulu yang memperjuangkan Surabaya ternyata salah satu leluhur kita sendiri. Tugu Pahlawan merupakan salah satu batu nisan Pahlawan yang tidak terdata. Ia menekankan bahwa yang harus dilakukan saat ini adalah merubah cara berfikir dan cara pandang kita masing-masing dalam merespon suatu peristiwa di Indonesia. Ia menyampaikan rencananya pada 19 September 2014 yang akan datang akan membawakan monolog Insiden Bendera di sebelah Hotel Majapahit, Surabaya.

Cak Suko kemudian menambahkan apa yang telah dipaparkan oleh Ananto. Menurut Cak Suko, saat ini hak penguasaan lahan oleh pemilik modal swasta dibatasi hingga 95 tahun. Sebelumnya, pada zaman sebelum Belanda datang pemilik modal hanya boleh menguasai lahan selama 45 tahun, kemudian ketika Belanda datang di abad ke-18 aturan diubah sehingga pemilik modal boleh menguasai lahan selama 75 tahun. Namun yang sekarang terjadi adalah, ketika negara ini sudah merdeka dan undang-undang diatur oleh orang sendiri justru penguasaan lahan oleh pemilik modal diperbolehkan hingga 95 tahun.

Kebhinekaan Miskin Kebersamaan

SEBELUM Cak Nun memulai uraiannya, salah satu jamaah Khoirul menyumbangkan sebuah lagu dari Sudjiwo Tedjo yang berjudul Titi Kala Mangsa.

“Kalau anda main bola, jangan bercita-cita ngegolin bola kalau anda tidak mengenal beberapa hal; pertama, posisi anda dan struktur tim anda. Nomer dua, kelemahan dan kekuatan anda. Jadi anda tidak boleh punya cita-cita dan keinginan apa pun, kalau anda tidak punya pemahaman, pengenalan, dan dan pendalaman terhadap peta dimana anda melakukan sesuatu. Jadi kalau ngomong Indonesia diceritakan oleh Joko Susanto, dan diperluas mengenai komprador di bidang kesehatan dan kedokteran oleh Pak Ananto, itu anda juga jangan ngawur untuk ingin memperjuangkan Indonesia, sebelum anda memahami bener apa yang sebenarnya menjadi tantangan atau musuh anda,” Cak Nun mengawali diskusi.

Menurut Cak Nun sudah tak ada gunanya lagi kita meratapi kehancuran Indonesia. Yang seharusnya kita lakukan sekarang adalah menggali sebanyak-banyaknya informasi dari orang-orang seperti Mas Joko dan Dokter Ananto untuk kemudian didiskusikan dan dirumuskan tindak lanjut setelahnya.

Cak Nun kemudian menegaskan kepada para jama’ah bahwa apa yang dipaparkan di forum Bangbang Wetan ini bukanlah sebuah keputusan yang final. Cak Nun meminta jama’ah yang hadir untuk memasuki labirin-labirin ilmu yang sudah dipaparkan oleh beberapa narasumber yang hadir.

“Kalau Cina dia punya tradisi kultur kungfu, budaya kungfu, tetapi kalau Uni Soviet dia hanya mempunyai sambo. Itu beda dengan orang Jawa yang punya keluwesan jawi, dengan suku-suku di Amerika asli yang kemudian disebut Indian oleh orang Amerika, padahal aslinya bukan Indian, ya Apache, ya Komens. Yang responnya terhadap penjajahan terlalu radikal sehingga mereka hancur,” Cak Nun melanjutkan.

Cak Nun menjelaskan bahwa sebelum berdirinya Indonesia, di nusantara ini terdapat sekitar 265 kerajaan yang kemudian dinyatakan menjadi sebuah kesatuan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari konsep Bhinneka Tunggal Ika, Cak Nun menambahkan bahwa yang terjadi saat ini dari sekitar 3.000 suku bangsa yang ada di Indonesia hanyalah sebuah bhinneka-nya saja, namun tidak ada wujud nyata dari Tunggal Ika.

“Ya.. Indonesia saya kira salah satu keajaiban dunia, termasuk ajaib-ajaib dalam hal menertawakan penderitaan itu. Tidak ada bangsa di dunia ini dengan komposisi perbedaan demikian sebanyak Indonesia, berhasil berkumpul bersama dengan konflik yang relatif, ya bisa ditolerir. Amerika macam-macam memang plural, sama diversity, tetapi ada yang tidak dimiliki oleh Amerika, yaitu history,” Joko melanjutkan. Menurut literatur yang ia baca, Amerika memang tidak memiliki sejarah, karena mereka dijajah oleh bangsa Eropa sehingga sejarah penduduk aslinya dihapus oleh mereka. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Dengan beraneka ragamnya suku bangsa, ras dan agama di Indonesia justru yang terjadi bukan perpecahan melainkan persatuan. Hal ini merupakan salah satu pencapaian yang luar biasa menurut Joko.

“Ini adalah negeri dengan berkah Bhineka dan Tunggal Kehendak untuk memajukannya. Dua bhinneka bertunggal kehendak memajukannya, ndak bisa ini pisah. Tetapi apa yang terjadi di dalam belakangan ini. Mari kita membuat perbedaan sederhana antara orde baru dan orde reformasi. Orde baru sederhananya adalah kebersamaan miskin kebhinekaan, tetapi begitu reformasi bukannya kita seimbangkan kebersamaan antara kebhinekaan yang terjadi adalah kebhinekaan miskin kebersamaan”.

“Ya, sukses seperti kata Cak Nun tergantung parameter, kalau parameternya pertumbuhan ekonomi, Korea Selatan sukses. Tapi parameternya pemerataan ekonomi, Korea Utara jagonya. Korea Utara itu tingkat kesenjangannya jauh lebih baik daripada Korea Selatan,” pungkas Joko.

Cak Nun kemudian bercerita tentang kisah Ande-ande Lumut yang ternyata juga sangat kontekstual dengan situasi di Indonesia. Seorang laki-laki yang menawan dan diperebutkan oleh 3 perempuan; Kleting Abang, Kleting Putih dan Kleting Kuning. Ketiga wanita ini diharuskan menyeberang sungai demi mendapatkan Ande-ande lumut. Muncullah Yuyu Kangkang yang bersedia menyeberangkan 3 perempuan tersebut dengan syarat-syarat tertentu. Kleting Abang dan Kleting Putih memilih tawaran Yuyu Kangkang untuk diseberangkan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Sedangkan Kleting Kuning memilih untuk berenang sendiri menyebrangi sungai tersebut. Akhir cerita Ande-ande lumut memilih Kleting Kuning yang memilih untuk berjuang dengan mandiri demi mencapai Ande-ande Lumut tanpa pamrih, dan berani mati demi mendapatkan Ande-ande lumut. Dari cerita ini Cak Nun mengajak jama’ah yang hadir untuk bisa menentukan siapa yang sukses diantara Kleting Abang, Kleting Putih dan Kleting Kuning.

Cak Nun kemudian mengajak jama’ah yang hadir memasuki labirin sebuah kisah “semut-semut ireng, anak-anak sapi” yang juga merupakan salah satu tulisan Cak Nun di Majalah Sabana edisi terakhir. Kehidupan semut merupakan kehidupan bermasyarakat dimana sangat banyak ilmu yang bisa kita pelajari. Bagaimana zuhudnya semut, moralnya, budayanya, komunitasnya. Bagaimana sebuah koloni semut ketika sudah konsekuen mengangkut bahan makanan mereka tidak akan menoleh ke bahan makanan lain yang tidak mereka sepakati sebelumnya, tidak seperti manusia sekarang kebanyakan dimana ketika sudah mendapatkan apa yang ia cari, ia masih sangat mungkin terpesona oleh sesuatu yang lain.

Berbeda dengan kehidupan sapi, jika seekor sapi perah maka susunyna akan diperah dan dijual, tidak dinikmati oleh dirinya sendiri. Jika dia bukan sapi perah, maka kemungkinan lainnya adalah membajak sawah. Kemungkinan lain dari sapi adalah disembelih dan dimanfaatkan dagingnya.

“Di Korea Selatan, negaranya sangat kaya, jalan tol beres, air minum, semua hidup beres, tidak ada orang mencuri, tidak ada orang bohong. Hukum tegak 100 %, gak iso koen melanggar hukum tanpa tidak ketahuan. Governance-nya luar biasa, goverment-nya sangat setia. Top Korea Selatan! Tapi wonge tilang-tileng, jik mending raimu”, Cak Nun menjelaskan tentang kehidupan di Korea Selatan.

Di Korea Selatan yang terjadi sesungguhnya adalah tanam paksa. Bagaimana masyarakat disana diatur sedemikian rupa menjadi seorang yang workaholic, gila kerja. Kehidupan mereka hanya dimulai saat mereka berangkat kerja dan berakhir ketika pulang dari bekerja. Mereka tidak mengenal “Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun”. Secara ekonomi mereka bisa dikatakan sukses, namun peradaban manusianya mereka sangat gagal.

Cak Nun kemudian bercerita pengalaman berlebaran di Korea Selatan beberapa waktu lalu, bagaimana suasana disana dan bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang saat ini sedang berjuang mencari nafkah disana untuk keluarga mereka di Indonesia.

“Jadi bagi orang Indonesia, nggak ada aspirasi negara yang ada aspirasi manusia, yang ada aspirasi budaya, aspirasi akhlak, jadi nggak usah bercita-cita menjadi seperti Amerika, nggak usah bercita-cita menjadi seperti Korea, Jepang, atau manapun. Indonesia akan punya bentuk sendiri, berdasarkan perundingan dengan Allah SWT,” lanjut Cak Nun.

Cak Nun lalu berkisah tentang bagaimana keterlibatannya dalam proses perdamaian kerusuhan di Sampit yang melibatkan masayarakat Dayak dan Madura. Namun variabel-variabel tersebut tidak mungkin dimuat di koran, karena koran hanya akan memuat berita-berita tentang keburukan dan kehancuran. Yang ingin dibangun oleh Cak Nun di forum Bangbang Wetan kali ini adalah agar jama’ah nantinya ketika pulang dari Bangbang Wetan memiliki cara berfikir dan cara pandang yang baru tentang parameter kesuksesan. Bukan tentang parameter sekunder yang saat ini umum difahami oleh masyarakat luas. Sukses saat ini kebanyakan hanya identik dengan kekayaan di bidang ekonomi saja, seseorang dikatakan sukses ketika memiliki uang banyak, harta banyak, rumah mewah dan sebagainya.

Cak Nun bercerita tentang seorang ulama yang berhasil menghindarkan ummatnya dari penasbihan Tuhan kepada dirinya. Ulama tersebut begitu dihormati oleh para santrinya, begitu ditakdzimi oleh santrinya. Namun lambat laun sang ulama tersebut khawatir jikalau dirinya menjadi pembatas antara santrinya dengan Allah ketika beribadah. Dengan cerdik sang ulama kemudian melakukan hal-hal yang diluar kewajaran seperti; ketika santrinya berpuasa, ia tidak berpuasa. Atau ketika santrinya melaksanakan sholat jum’at, ia tidak melaksanakannya. Yang terjadi akhirnya ia ditinggalkan oleh santrinya. Namun dalam sudut pandang yang berbeda, si ulama tersebut berhasil menggagalkan dirinya menjadi penghalang hubungan santrinya dengan Tuhannya. Bukankah ini merupakan kesuksesan?

Joko Susanto kembali menyampaikan paparannya, kali ini tentang Butan, bagaimana Butan menjadi sebuah negara yang sukses dalam kategori yang lain. Butan dianggap negara miskin hanya karena mereka tidak ingin hutang, tidak menghendaki IMF ikut masuk kedalam tatanan ekonomi mereka. Di Butan tidak akan kita temukan gelandangan disana, namun di Amerika justru akan banyak kita temukan orang-orang yang tuna wisma. Jadi apabila parameter gagal atau suksesnya sebuah negara adalah karena banyaknya gelandangan yang ada di negara tersebut, mana yang sukses? Amerika atau Butan?

Cak Nun mengingatkan kepada jama’ah bahwa pola-pola penjajahan yang berkembang terus menerus. Apabila dulu pola penjajahannya adalah face to face, langsung, militer, perang. Kemudian penjajahan dengan cara berfikir. Saat ini yang sedang akan berlangsung dan sedang disempurnakan adalah penajajahan dimana korupsi tidak lagi dilakukan dengan hanya mengambil uang negara, namun dengan cara merubah aturan atas uang itu sendiri sehingga korupsi yang dilakukan nantinya berdasarkan aturan yang akan dirubah secara legal.

Di seluruh dunia saat ini yang belum bisa dihancurkan hanya ada dua; Islam dan Indonesia. Uni Soviet sudah hancur, Balkan sudah beres, Arab Spring sudah beres. Negara-negara Arab sudah dikooptasi semua oleh mereka. Hanya Islam dan Indonesia yang belum berhasil ditaklukan oleh sekutu Dajjal saat ini. Maka dengan cara apapun masyarakat Islam dan Indonesia akan direkayasa untuk terus bertengkar, seperti ISIS yang akhir-akhir ini sedang digaungkan isunya.

Maka yang dilakukan Maiyah adalah menanam. Kita tidak usah memikirkan kapan akan panen, karena panen atau tidak itu tanggung jawab Allah. Kewajiban Maiyah adalah menanam dan menjaga tanaman itu, menyiraminya memberinya pupuk dan sebagainya. Tetapi urusan panen, itu adalah mutlak keputusan Allah.

Cak Nun mengingatkan jama’ah agar tidak menjadi budak informasi dari media massa. Karena sebanyak apapun informasi yang diakses, kita bukan menjadi sumber informasi melainkan menjadi konsumen informasi. Sedangkan yang dilakukan Maiyah adalah sebagai sumber informasi.

Ananto kemudian diminta Cak Nun untuk menjelaskan bagaimana pola penjajahan yang terjadi di dunia kedokteran. Ia lalu menjelaskan bahwa apabila kita sakit, cara berfikir kita adalah berobat kepada dokter yang terkenal dan berkualitas, kita sendiri lupa bahwa yang sesungguhnya menyembuhkan bukanlah dokter. Contoh lain yang sedang berlaku saat ini adalah dalam penanganan penderita AIDS, dimana sedang dilakukan pendataan oleh beberapa lembaga terhadap para penderita AIDS, untuk kemudian daftar tersebut diberikan kepada negara dan untuk selanjutnya proses pengobatan AIDS ditanggung oleh negara. Di satu sisi proses ini merupakan implementasi dari sila ke-5 dalam Pancasila dimana seluruh rakyat Indonesia menerima keadilan. Namun akan menjadi problem baru apabila kemudian obat yang digunakan adalah obat dari luar negeri yang harganya lebih mahal dari obat dalam negeri, ini yang harus difikirkan selanjutnya.

Cak Nun menambahkan bahwa profesi dokter merupakan profesi yang sangat sulit. Tugas seorang dokter merupakan tugas yang sangat rohaniah dan kemanusiaan, namun dalam waktu yang bersamaan dia harus terlibat di dalam transaksi ekonomi dan itu harus melewati proses pemilihan yang sangat tepat pada dokter, karena kalau salah prosesnya justru menjadi hina padahal dokter itu sangat mulia. Jangan sampai ada stigma yang mengatakan bahwa dokter itu mencari uang dari orang yang sakit, harus ada nilai yang mengeliminasi hal ini. Dokter itu menolong orang yang sakit, disinilah nilai akhlaknya yang kemudian dirahmati oleh Allah dengan imbalan pasien membayar jasa dokter.

Menelusuri Labirin-Labirin Ilmu

MENJELANG jam tiga dini hari, Cak Nun mengajak Weldo naik ke atas panggung. Weldo yang merupakan salah satu sahabat Cak Nun yang tinggal di Bali. Yang dilakukan oleh Weldo setiap hari adalah menjalani hidup apa adanya, melukis, menari, mengajar meditasi dan memberikan pencerahan.

Weldo ini merupakan jama’ah Al Falah, selama 10 tahun bersama Al Falah Weldo hanya ingin mengenal Islam dimana sebelumnya belajar Islam secara mandiri, tanpa guru. Weldo juga pernah bersama jama’ah tabligh selama 10 tahun hanya untuk mencari tahu bagaimana pola pikir mereka sebenarnya, apa yang ingin mereka cari di kehidupan ini sebenarnya. Itu saja motivasi Weldo bergabung dengan jama’ah-jama’ah tadi.

Weldo mengibaratkan dirinya seperti alat musik, apabila ia dipetik untuk nada “Do” maka ia akan berbunyi “Do” bukan “Re”. Begitu juga jika tidak ada yang membunyikan, maka ia tidak akan berbunyi. Dalam kehidupan sehari-hari Weldo sangat simpel, dia suka maka dia pakai, dia lakukan.

Weldo menjelaskan mengapa penampilannya berbeda dari orang kebanyakan. Dalam pencariannya ia bertanya, “Apakah berdosa apabila saya tampil berbeda?” Weldo hanya ingin berpakaian apa yang ia senangi, ingin berbuat sesuai apa yang ia kehendaki dalam hatinya. Pilihannya sangat jelas. Waktu kecil weldo mengakui tidak pernah mengenakan seragam ketika bersekolah. Ia hanya ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa menjadi orang yang merdeka itu sangat enak sekali. Menjadi diri sendiri itu sangat enak sekali, tidak perlu modal, tidak perlu latihan, hanya mengalir saja.

Cak Nun kemudian menambahkan bahwa apa yang diomongkan Weldo adalah menajdi dirinya sendiri dan tidak ingin seragam dengan orang lain karena common mindset, jadi pola berfikir umum itu adalah orang cenderung menolak orang lain yang tidak seragam dengan dirinya. Nah, Weldo ini tidak seperti siapapun kecuali dirinya sendiri.

Ketika ditanya Cak Nun di Bali beberapa waktu yang lalu tentang kenapa ia berpakaian dengan cara yang berbeda, Weldo menjawab, supaya orang menyangka dirinya buruk, supaya mereka berfikiran bahwa dirinya itu orang yang tidak berakhlak, orang gila dan seterusnya. weldo tidak ingin dikenal sebagai orang Islam.

“Saya tidak ingin dikenal sebagai orang Islam. Karena, saya malu jadi orang Islam, karena banyak umat Islam yang betul-betul tidak ngerti Islam, mereka banyak yang berpakaian, berkata tentang Islam, padahal sesungguhnya belum. Jadi saya malu, makanya saya lebih baik menyembunyikan diri, biar hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Bahkan kalo perlu yang sampeyan tahu, guru saya malah iblis. Saya punya guru yang hebat, iblis. Dan iblis itu ternyata cerdas sekali, lebih cerdas dari Jibril,” tegas Weldo.

Cak Nun kemudian meminta Weldo untuk menutup forum Bangbang Wetan dengan sebuah pernyataan singkat.

“Oke, saudaraku-saudaraku sekalian. Perjalanan hidup itu, panjang atau pendek itu hanya masalah nilai. Perjalanan kita hanya akan mengalami dua langkah tapi kadang-kadang orang-orang hanya merasa perjalanan hanya satu langkah. Orang hanya merasa perjalanan hanya satu langkah menuju langit, seolah-olah langit adalah tujuan akhir. Itu yang hampir semua agama mengajarkan kita untuk mencapai langit, bagi saya itu baru setengah langkah atau baru satu langkah. Perjalanan kita dua langkah, pertama memang kita harus mencapai langit, mencapai puncak. Di sana kita harus mencapai yang namanya percaya kepada Tuhan. Setelah di atas, maka perjalanan selanjutnya adalah, turun mencapai bumi kembali. Maka ketika turun kita harus punya keyakinan yang lebih tinggi, yang disebut percaya diri. Ke langit kita percaya Tuhan, ke bumi kita percaya diri. Percaya diri berarti Tuhan ada di dalam diri kita. Itu saja, sebagai kata penutup bagi saya, bukan terakhir,” pungkas Weldo.

Cak Nun mengingatkan jama’ah agar jangan terlalu dini mengungkapkan kesimpulan sebelum melakukan analisa yang mendalam. Jangan menghakimi sebelum mengenali lebih dalam. Alam ini begitu luasnya dan Allah menciptakan makhluk yang bermacam-macam.

Yang dibahas di Bangbang Wetan ini bukan soal benar atau salah, yang penting adalah kita mencari dan memahami begitu bermacam-macamnya manusia sehingga kita berkenalan, memahami dan belajar satu sama lain.

Bangbang Wetan kemudian ditutup dengan do’a bersama yang diawali dengan pembacaan Sholawat oleh Zainul. [Verbatim oleh: Arbangi Kadarusman, Disunting oleh: Red KC/Fahmi Agustian]