Opera Sabung: Sabung Capres – Karapan Capres

Dari semua Capres yang ada, ada berapa fakta yang anda ketahui? Dari sekian fakta ini, ada berapa yang anda ketahui?

Kenduri Cinta edisi Maret 2014 diawali dengan tadarus Alqur’an oleh beberapa jama’ah yang sudah hadir. Mas Sholeh, Mas Ibrahim, Mas Irfan dan Mas Adi kemudian membuka Kenduri Cinta kali ini yang mengangkat tema “Opera Sabung; Sabung Capres – Karapan Capres”. Seperti biasanya, Kenduri Cinta mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan apa yang sedang ramai dibicarkan oleh masyarakat luas.

Setiap kali kita mendengar kata Sabung, maka yang kemudian kita tangkap dalam fikiran kita adalah judi. Kita sering mendengar istilah Sabung Ayam, yaitu sebuah perlombaan adu tarung 2 ayam jantan dalam satu arena, menang atau kalah ditentukan apabila salah satu dari ayam tersebut kabur bahkan sampai mati. Para penonton yang hadir biasanya memasang taruhan uang untuk menjagokan kemenangan salah satu dari ayam yang sedang bertarung tersebut. Sabung sendiri ternyata tidak hanya dalam urusan adu 2 ayam jantan, Mas Ibrahim menceritakan di daerah tempat tinggalnya bahkan ada sabung yang aturan mainnya hanyalah menebak plat nomor kendaraan yang lewat. Kenyataannya dalam sepakbola saat ini pun yang namanya taruhan sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan bukan hanya soal menang atau kalah saja yang menjadi ajang taruhan, mulai dari pencetak gol pertama, kartu kuning pertama, kartu merah pertama, sampai sepak pojok pertama bisa menjadi ajang taruhan. Pada skala yang lebih luas, dalam dunia politik pun tradisi sabung ini sudah lumrah terjadi, misalnya dalam sebuah pemilihan kepala desa, tidak jarang bandar judi ikut andil bagian dalam terpilihnya salah satu kandidat calon kepala desa dalam PILKADES. Bisa anda bayangkan, sekelas PILKADES saja perputaran uangnya bisa mencapai milyaran hanya untuk sabung dalam rangka taruhan siapa yang terpilih menjadi kepala desa. Bukan hal yang mustahil pada skala yang lebih luas lagi, yaitu PILPRES bandar judi yang bermain lebih berani menggelontorkkan dana sampai triliunan rupiah untuk meramaikan pesta demokrasi tersebut. Karena kepentingan yang dipertaruhkan pun nilainya bisa jauh lebih besar dari uang yang dipertaruhkan oleh bandar judi tersebut.

Komunitas Jazz Kemayoran kemudian hadir diatas panggung membawakan beberapa nomer Jazz menghibur jama’ah yang sudah hadir di pelataran Taman Ismail Marzuki. Yang kemudian dilanjutkan oleh Mas Wahyu membawakan Puisi “Gerbang Anallah” karya Cak Nun yang khusus dibuat untuk Mas Andi Nurrahim sekaligus mengenang beberapa saudara Maiyah yang telah mendahului kita. Mas Andi Nurrahim. Sendiri merupakan salah satu pegiat KC yang sangat setia melayani Cak Nun sejak akhir 90-an. Usai Mas Wahyu membacakan puisi, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat Yaasiin oleh Ustadz Nurshofa. Setelah itu, jamaah makan bersama dari ambengan yang sudah disediakan untuk KC malam itu.

Setelah makan ambengan bersama, Mas Irfan memandu diskusi sesi pertama dengan menghadirkan pembicara: Mas Bintar Lulus Pradipta dari GMNI dan Ibu Siti Masrifah yang merupakan Sekjen PB Fatayat NU. Ibu Siti Masrifah mencoba mengulik model pemimpin sesuai dengan yang terdapat di Al Qur’an. Salah satu yang dicontohkan sosok pemimpin perempuan dalam Al Qur’an adalah Ratu Bilqis. Kemudian, ada Nabi Sulaiman yang juga menjadi sosok pemimpin yang dikisahkan dalam Al Qur’an yang hidup satu zaman dengan Ratu Bilqis. Kemudian, dalam Al Qur’an juga diceritakan salah satu pemimpin yang diktator, yaitu Raja Fir’aun. Dari kesekian model pemimpin yang diabadikan dalam Al Qur’an, kita dapat menyimpulkan bahwa ada sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin. Bahwa beberapa sifat yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpi adalah : Jujur dan Amanah. Dua sifat ini saja sudah sangat jarang kita lihat dari pemimpin-pemimpin yang ada.

Mas Bintar kemudian memaparkan tentang perjudian dalam realitas yang ada hari ini. Nasib rakyat yang selalu menjadi taruhan oleh para pemimpin saat ini. Akhir-akhir ini hampir semua komponen masyarakat kita diarahkan kepada sebuah momentum, yaitu PEMILU. Mas Bintar sendiri berpendapat, kalau memang kita ingin berubah maka jalan yang terbaik adalah sejauh mana keberanian kita untuk memilih calon yang memang kita percaya untuk memangku nasib bangsa 5 tahun kedepan. Perjudian itu adalah sebuah hal yang lumrah saat ini, PEMILU sendiri saja merupakan sebuah perjudian yang selalu kita lakukan dalam periode 5 tahun sekali. Kita mempertaruhkan persoalan bangsa dan negara kepada orang yang tidak kita kenal betul, yang kemudian kita pilih menjadi salah satu dari sekian anggota parlemen di DPR, atau bahkan yang menjadi Presiden. Kita mempertaruhkan tanggung jawab lima tahun kedepan nasib bangsa dan negara kepada mereka.

Ustadz Nurshofa mencoba menarik garis merah dari semua uraian yang sudah disampaikan oleh narasumer sebelumnya. Merujuk kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa ketika beliau menjadi Nabi selama 23 tahun kurang lebih, hampir separuh jazirah arab itu sudah di islamkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian kita juga bisa melihat kepada kesuksesan walisongo dalam mengislamkan nusantara saat itu. Walisongo bisa dikatakan secara radikal mampu mengislamkan nusantara. Salah satu sifat yang patut diteladani dari Rasulullah dalam memimpin adalah perhatian beliau kepada ummat. Salah satu perhatian beliau yang diberikan kepada ummatnya adalah ketika berjabat tangan dengan ummatnya, tidak hanya sekedar berjabat tangan. Suatu ketika Saad berjabat tangan dengan Rasulullah, tangan Sa’ad ini kapalan. Rasulullah bertanya kepada Sa’ad, kenapa tangannya begitu keras? Sa’ad menjawab bahwa tangannya digunakan untuk bekerja setiap hari memecah batu untuk menghidupi anak dan istrinya, seketika Rasulullah mecium tangan Sa’ad dan berkata “tangan ini tidak akan masuk neraka”.

Kenduri Cinta Maret 2014
Kenduri Cinta Maret 2014

Suatu ketika, Sawat, salah satu sahabat Rasulullah yang kulitnya hitam bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah nanti di surga ada manusia seperti saya yang kulitnya hitam?”. Rasulullah menjawab “Ada ya Sawat”. Suatu ketika Sawat ingin menikahi seorang perempuan Quraisy, Zainab. Zainab sendiri adalah salah seorang kembang dari orang Quraisy. Kemudian Rasulullah diminta oleh Sawat untuk melamar Zainab. Karena Rasulullah pada saat itu sedang ada acara ditempat lain, maka Rasulullah memerintahkan Sawat untuk melamar saja sendiri kepada orang tua Zainab. Rasulullah berpesan, “sampaikan kepada keluarga Zainab, bahwa ini (lamaran) adalah perintah saya”. Ketika Sawat datang kepada orang tua Zainab, orang tua Zainab tidak memperhatikan pesan Rasulullah yang disampaikan oleh Sawat. Ternyata Zainab dari kamarnya mendengar bahwa ada pesan Rasulullah yang disampaikan oleh Sawat. Kamudian orang tua Zainab mencoba klarifikasi pesan tersebut kepada Rasulullah terkait pesan tersebut dan kemudian orang tua Zainab menerima lamaran Sawat dengan syarat mas kawin 900 Dirham. Kemudian Rasulullah memerintah Sawat untuk meminta sumbangan kepada para sahabat Rasulullah dan terkumpul uang sebanyak 1300 Dirham. Ketika Sawat sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Zainab, ternyata pada saat bersamaan ada salah seorang muslim yang berteriak lantang untuk mengumpulkan para pejuang Islam untuk berperang, dan Sawat tanpa berfikir ulang langsung memenuhi panggilan jihad tersebut. Ternyata Sawat gugur dimedan perang.

Ketika jenazah Sawat diantarkan kehadapan Rasulullah, Rasulullah menangis, tersenyum dan melengos (menampikkan wajah). Seorang sahabat Rasulullah bertanya kepada beliau kenapa Rasulullah menampakkan 3 ekspresi tadi. Rasulullah kemudian menjawab “Aku menangisi Sawat karena ia memiliki niat untuk berkeluarga dengan menikahi Zainab, namun ketika ada panggilan berjihad ia tidak berfikir ulang untuk memenuhi panggilan jihad tersebut, aku tersenyum karena aku melihat 1000 bidadari menyambut Sawat di langit, dan aku melengos karena melihat salah satu bidadari yang menyambut Sawat tersingkap kainnya”.

Menjelas diskusi sesi kedua, Mas Wahyu kembali membacakan 2 puisi karya Cak Nun, yaitu “Wajah” dan “Penawaran” yang diambil dari antologi puisi “Jangan Cintai Ibu Pertiwi” yang pernah digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 2009.

Cak Nun membuka diskusi sesi kedua dengan meminta beberapa jama’ah untuk naik keatas panggung, serta melemparkan beberapa pertanyaan terkait tentang siapa calon presiden yang sudah muncul di masyarakat saat ini, meskipun belum secara resmi dideklarasikan dan didaftarkan di KPU. Beberapa nama yang muncul adalah Jokowi, Akbar Tandjung, Abu Rizal Bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Anies Baswedan dan lain-lain.

Cak Nun kemudian bertanya lagi “Dari semua Capres yang ada, ada berapa fakta yang anda ketahui? Misalnya Jokowi, nama aslinya siapa, nama orang tuanya siapa, keturunan siapa, prestasinya apa, botoh (bandar) nya siapa saja, sponsornya siapa saja, duit sponsornya berapa. Dari sekian fakta ini ada berapa yang anda ketahui?” Cak Nun melanjutkan, “Kalau anda tahu bahwa ini bukan kacang, apakah anda akan memakan kacang ini?”

Dari sekian fakta yang anda ketahui tentang salah seorang capres, darimana anda dapatkan sumber informasinya. Misalkan anda mendapatkan informasi tersebut berasal dari media, anda pribadi kepada media tingkat kepercayaannya itu berapa persen.

Misalnya ada rumor, si A siap 5 triliun asalkan wakilnya Jokowi adalah Jusuf Kalla. Kemudian Si B siap juga 5 triliun asalkan wakilnya Jokowi adalah Akbar Tanjung. Kemudian si C siap 5 Triliun juga dengan syarat wakil Jokowi adalah Gita Wirjawan atau Pramono Edhie Wibowo. Ini hanya rumor. Tetapi mungkin si Ibu kemudian mempersyaratkan yang jadi wakil Jokowi adalah Puan Maharani atau Prananda. Kemudian si Ibu berfikir  bahwa Jokowi masih harus diback-up oleh Militer, kemudian muncul opsi Luhut Panjaitan, Hendro Priyono atau Ryamrizad Racudu. Ini hanya rumor. Sayangnya masyarakat kita sekarang menelan rumor tersebut. Padahal orang yang menelan rumor adalah orang yang akan celaka. Karena ini rumor, maka bagi kita kabar ini tidak legitimated, sehingga kita singkirkan rumor ini.

Ada 4 idiom dalam Islam dalam mengambil keputusan; Ilmu Yaqin, Haqqul Yaqin, Ainul Yaqin dan Udzunul Yaqin. Ilmu Yaqin itu adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Haqqul Yaqin adalah metode yang diambil setelah melakukan pertimbangan yang masak, entah berasal dari intuisi, firasat dan sebagainya. Ainul Yaqin adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan apa yang dilihat dengan mata. Dan Udzunul yaqin adalah metode pengambilan keputusan yang diambil hanya dengan pertimbangan apa yang didengar. Dan metode keempat inilah yang sedang kita lakukan sekarang dimana metode ini merupakan metode terlemah dari keempat metode yang ada.

Jika diibaratkan sebuah rel, maka PEMILU di Indonesia ini sudah berjalan diatas rel yang sudah dibangun, karena secara konstitusi, undang-undang dan aturannya sudah berlaku sesuai dengan yang diputuskan. Namun, tidak ada yang mempertanyakan akhir tujuan dari rel tersebut. Yang kita lakukan sekarang hanya berjalan diatas rel yang tidak kita ketahui dimanakah stasiun pemberhentian akhir rel tersebut.

Dari 4 metode pengambilan keputusan tadi, kita saat ini sedang berada didalam tahun dimana kita akan mengambil keputusan dengan metode “udzunul yaqin”, berdasarkan apa yang kita dengar. Wahyu pertama diawali dengan kata Iqra’. Kata Iqra’ ini merupakan sebuah kata yang paling keramat dari Allah untuk supaya manusia itu belajar. Untuk memahami ayat ini kita harus meneruskan sampai selesai, tidak hanya berhenti di Iqra’ saja. Iqra’ bismirabbika-l-ladzi kholaq. Kata Iqra’ di ayat ini tidak dapat berdiri sendiri karena harus dengan didampingi dengan “bismirobbika”, dan “bismirobbika” ini ada argumentasinya yaitu “alladzi kholaq”. Dan “alaldzi kholaq” ini ada uraian dan pejelasannya pada ayat selanjutnya yaitu “kholaqo-l-insaana min ‘alaq”, dan seterusnya sampai ayat terakhir dari surat Al Alaq ini karena ada konstelasinya sampai ayat terakhir. Cak Nun meminta jama’ah agar mempelajari kembali surat Al Alaq ini untuk bekal menghadapi PEMILU yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Pemilihan Legislatif masih mungkin terjadi, namun pemilihan presiden belum tentu terjadi. Karena mungkin terjadi sesuatu yang tidak kita sangka-sangka, bukan hanya deadlock tapi juga tetesan darah. Dan belum tentu kita akan menemui bulan Juni yang kita idam-idamkan sebelumnya. Jadi Iqra’ ini cakupannya sangat luas. Karena begitu banyak orang yang dicelakakan oleh apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dibaca.

“Kira-kira poin apa yang membedakan antara membaca tanpa berlandaskan Allah dengan membaca yang menggunakan landasan Allah?” Cak Nun kembali melempar pertanyaan kepada jama’ah. Ada kemungkinan lain bahwa manusia saat ini membaca berdasarkan selain Allah, bisa saja berdasarkan kepentingan atau nafsu.

Allah ketika berbicara kuantitatif menggunakan kalimat “yaa ayyuha-n-naas”, sedangkan jika Allah ingin berbicara secara kualitatif maka Allah menggunakan kalimat “yaa ayyuha-l-ladziina aamanuu”. Nah kata Iqra’ di dalam wahyu pertama tadi dapat kita simpulkan bahwa kalimat itu ditujukan kepada seluruh manusia meskipun Allah tidak menyebutkan kalimat “yaa ayyuha-n-naas”. Di Kenduri Cinta ini sudah lama kita tidak mengenal terminologi laki-laki dan perempuan, karena kita disini semua manusia. Laki-laki dan perempuan itu ketika anda berada di kamar bersama suami atau istri anda.

Alasan Allah supaya engkau mempelajari sesuatu dengan Nama Allah karena Allah merupakan pencipta alam semesta. Kemudian ada ayat selanjutnya disebutkan bahwa Allah menghadirkan dirinya tidak berada pada posisi baikNya, benarNya, dahsyatNya, hebatNya melainkan muliaNya. “Iqra’ warabbuka-lakrom”. Jadi ternyata Allah memiliki anjuran permanen, yaitu anda mau kaya, mau jadi petani, mau jadi apa saja itu silahkan hal ini tidak menjadi ukuran bahwa seseorang menjadi tinggi atau derajatnya atau tidak, melainkan output kehidupanmu itu kemuliaan atau bukan adalah yang menjadi ukuran permanen yang sudah disampaikan oleh Allah. Dalam ayat lain disebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqookum”, jadi perlombaannya manusia bukan urusan kaya, terkenal, hebat melainkan perlombaan kemuliaan. Kebaikan itu satu sisi, tetapi ia harus bekerja sama dengan kebenaran dan keindahan agar menjadi kemuliaan.

Ada orang kuat, orang pintar, orang berkuasa, orang kaya dan orang baik (mulia). Kita harus bisa menentukan urutan-urutan strata ini sesuai dengan derajat yang tertinggi, apabila kita berhasil mengurutkannya maka kita akan sangat jelas melihat apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Di Indonesia saat ini Orang Kaya adalah posisi yang paling atas dan yang paling diidam-idamkan oleh semua orang. Orang pintar menggunakan kepintarannya agar dia menjadi kaya. Orang Kuasa menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya dirinya. Orang kuat menggunakan kekuatannya untuk memperkaya diri. Bahkan orang baik (mulia) pun menggunakan apa yang dimilikiknya untuk menjadi orang kaya. Maka kita melihat fenomena ustadz-ustadz yang muncul di televisi saat ini adalah produk dari kegagalan manusia Indonesia dalam menempatkan dirinya. Dalam sejarah berkembangnya Islam di Indonesia. Pada abad ke 7 Islam sudah masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, namun tidak dipercaya oleh masyarakat di Nusantara karena mereka tidak percaya kepada orang kaya, namun ketika Walisongo yang memperkenalka Islam kepada masyarakat Nusantara, Islam dapat diterima dan menyebar luas karena masayarakat sangat percaya kepada orang mulia. Namun yang terjadi sekarang justru terbalik, kita lebih menginginkan menjadi orang kaya, bukan menjadi orang baik. Karena orang kaya menjadi tujuan utama, maka yang terjadi adalah orang kuat, orang pinter, orang kuasa semua berlomba-lomba menjadi orang kaya.

Bahkan orang-orang baik: kyai, nyai, aktivis organisasi keagamaan yang seharusnya berada di posisi tertinggi pun ingin menjadi orang kaya. Maka kita dapat melihat sekarang para calon bupati, calon legislatif mendekati kyai-kyai agar mendapat tambahan suara agar ia dapat terpilih dalam pemilihan umum.

Cak Nun bercerita tentang Kiai Muzammil yang ingin mengajak Cak Nun untuk bertemu Gus Mus untuk memberi masukkan kepada kyai-kyai NU karena di Jogja baru saja ada tema diskusi berjudul “Kyai-kyai dan Ulama mengawal Demokrasi”. Kesimpulan Kyai Muzammil adalah tidak mungkin seorang kyai mengawal demokrasi karena para kyai saat ini mayoritas dari mereka justru menjadi pemain didalam demokrasi, mereka memproposalkan pondok pesantrennya kepada pemerintahan yang berkuasa untuk dijadikan kekuatan agar Kyiai-nya tersebut menjadi kaya. Media massa yang saat ini berhasil memposisikan dirinya berada di luar demokrasi, namun sayangnya mereka tidak melakukan pengawalan melainkan mengambil keuntungan dari apa yang terjadi dalam dunia politik di Indonesia, apabila mereka salah mereka tidak ditangkap Polisi karena mereka memiliki Dewan Pers.

Kalau anda hanya Iqra’ tidak menggunakan “bismirabbika-l-ladzi kholaq”, anda akan tertipu, terjebak, dan terperosok terus ke dalam lubang yang sama. Lebih baik anda mendapat pertanyaan-pertanyaan daripada jawaban-jawaban, karena dengan pertanyaan-pertanyaan anda dapat mencari lebih banyak dan dapat melatih diri anda sehingga mencerdaskan fikiran anda.

Cak Nun melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sedianya akan disampaikan oleh Mas Agung. “Bagaimana proses terjadinya hujan?” Secara ilmu fisika air yang dimasak akan menguap pada suhu 100 derajat celcius, sekarang air laut itu suhu panasnya apakah cukup untuk menguapkan air untuk menjadi awan kemudian turunlah air hujan?

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang jalan yang dibangun oleh Deandles. Jalan sepanjang 1000 km hanya dibangun oleh Deandles dalam jangka waktu 3 tahun. Apakah hal ini logis? Salah seorang jama’ah yang kebetulan merupakan sarjana teknik sipil mengatakan bahwa hal tersebut sangat mustahil dilakukan dalam jangka waktu 3 tahun berdasarkan keadaan geografis yang ada saat itu. Karena dibutuhkan alat berat yang lebih modern dan sumber daya manusia yang sangat banyak untuk menyelesaikan pembangunan jalan tersebut. Apakah Deandles benar-benar membangun jalan tersebut?

“Kalau kepada Allah, anda harus laa roiba fiihi, tetapi kepada selain Allah anda harus roiba fiihi”, Cak Nun mengingatkan jama’ah agar selalu mempertanyakan apa saja di dunia ini, salah satunya tentang fakta sejarah yang ada di Indonesia karena sejarah yang ada di Indonesia ini merupakan buatan Belanda.

“Anda tidak usah meyakini sesuatu yang tidak benar-benar tahu, itulah gunanya kita ngomong tentang Opera Sabung, supaya anda tidak mengunyah sesuatu yang benar-benar anda tidak tahu”, lanjut Cak Nun. Anda pernah ke pabrik gula, di pabrik gula di Jawa Timur itu ada satu alat besar berupa gilingan besar yang beratnya mencapai 200 ton, itu tiba-tiba ada di sebuah pabrik gula di Jember dan beberapa pabrik gula di Jawa Timur, pertanyaannya adalah itu bikinnya gilingan sebesar 200 ton itu bagaimana? Kalau dibikin di tempat itu, kenapa setelahnya di tempat itu tidak dibikin lagi oleh orang-orang disana? Atau dibikin ditempat lain, misalnya di Jakarta (Sunda Kelapa), bagaimana ngangkut alat tersebut, seberat 200 ton, padahal jembatan sekarang saja maksimal 50 Ton. Dan kita tidak pernah mencari tahu tentang hal ini? Apakah ketika Belanda datang kesini kita itu hanya petani yang punya cangkul saja? Kembali ke pabrik gula, Belanda itu kan datang kesini untuk mengangkut hasil-hasil bumi, salah satunya gula, tetapi kenapa Belanda membikin pabrik gula justru jauh dari pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama saat itu? Nah ternyata konsumen utama dari gula itu sendiri adalah penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur yang suka meminum teh manis, sedangkan Jawa Barat penduduknya lebih menyukai teh pahit yang tidak menggunakan gula sebagai pemanis. Jadi dapat disimpulkan bahwa pabrik gula itu konsumen utamanya adalah penduduk Jawa sendiri, apakah pabrik gula itu benar-benar buatan Belanda?

Cak Nun memancing jamaah dengan mempertanyakan terkait dengan kereta api. “Itu rel kereta api yang katanya dibangun oleh Belanda itu jika dikumpulkan di Negeri Belanda apakah mampu menampung?” Siapakah yang membikin rel tersebut? Dimana dibuatnya? Apabila dibikin di Belanda berarti harus ada sekian ribu ton besi yang harus diangkut kesana, kemudian diangkut kesini? Bukankah itu sama saja pedagang gila? Dimana sekarang pabrik gerbong lokomotif yang skalanya lebih bagus dari bikinan Jepang? Yaitu di Madiun, INKA yang dulu disebut Balai Yasa. Cuma kok kenapa bikinnya di Madiun? Kalau memang Belanda yang inisiatif membikin Kereta Api di Indonesia, sangat tidak logis untuk membangun pabrik kereta api di Madiun.

“Saya cuma ingin mengatakan kepada anda, anda itu ndak goblok, anda itu tidak rendah, anda itu tidak tertinggal, Cuma anda itu diapusi oleh sejarah yang dibikin oleh Belanda”. Lanjut Cak Nun. “Mas, anda punya hadphone Samsung? Itu made in mana? Korea? Dikamplengi kon karo arek-arek TKI ndik Korea. Anda punya mobil Hyundai dan sebagainya, kamu pikir siapa yang mbikin barang-barang itu. Kalau memang ndak mau diakui bahwa itu buatan Indonesia, maka Made in Wong Indonesia. Mas, kalau pengusaha-pengusaha kita percaya kepada rakyatnya, kita mau bikin apa saja anak-anak kita bisa”.

Cak Nun melanjutkan tentang banyaknya jumlah kios servis handphone di Indonesia. “Adakah diantara mereka yang sekolah handphone?” Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja ditujukan kepada jama’ah oleh Cak Nun untuk membangkitkan kepercayaan diri, sehingga untuk mencari pemimpin salah satu syaratnya adalah dia yang percaya kepada rakyatnya sendiri. Cak Nun kemudian bercerita tentang banyaknya TKI-TKI ilegal di Korea yang dilindungi oleh perusahaan-perusahaan dan pemerintah disana, karena mereka membutuhkan mereka. Di Korea, TKI asal Indonesia lulusan Tsanawiyah bisa menjadi mandor di sebuah pabrik. Mereka cukup belajar sebulan dua bulan, kemudian mereka expert.

“Saya ingin pemimpin-pemimpin itu percaya kepada rakyatnya? Emang ada rakyat Indonesia yang hidup makmur karena pemerintahannya? Yang ada adalah kemakmuran rakyat diganggu oleh pemerintahannya”, lanjut Cak Nun.

“Kopassus itu nomor 3 terhebat di dunia dengan fasilitas yang seadanya, hanya kalah sama Mossad dan SAS, tapi kalau dengan Green Barret mereka menang”. Cak Nun melanjutkan tentang kurangnya tingkat kepercayaan perusahaan-perusahaan di Indonesia kepada sekolah-sekolah Islam. Yang terjadi kemudian adalah lulusan sekolah-sekolah Islam tadi menjadikan ceramah sebagai salah satu pekerjaan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Kemudian mereka dipekerjakan oleh para biro travel umroh untuk menjadi pemandu ibadah umroh dan haji dengan menyusun doa-doa yang sangat panjang yang kemudian dihafalkan oleh para jama’ah umroh dan haji.

“Secara sosiologis, seandainya ada 1000 Amrozi, 1000 Imam Samudera muncul itu tidak membuat saya heran”, lanjut Cak Nun. Karena mereka yang lulusan sekolah Islam (pesantren) tidak mendapatkan tempat untuk bekerja. Maka kita tidak heran kalau kemudian muncul teroris dari kalangan santri. Alhamdulillah yang muncul sebagai teroris hanya sekian persen, yang lainnya menjadi Ustadz yang ceramah di beberapa tempat. Ini akibat kurangnya kepercayaan Indonesia sendiri kepada kalangan santri.

“Jangan meremehkan apapun, kalau ada orang yang bilang akan ada banjir darah di Jawa Timur, jangan bilang ya jangan bilang tidak. Tanya kepada Allah. Kalau ada orang bilang hati-hati setelah bulan April, jangan bilang ya jangan bilang tidak. Lihat gunung mana yang paling lemah lempengan batu-batunya untuk menahan Mandoro Geni dan Lava dari Gunung Merapi yang meyebar dari Aceh sampai ke Flores. Jangan terkecoh dengan gunung-gunung yang berstatus waspada karena nanti tiba-tiba akan meletus gunung-gunung yang tidak waspada, karena Vulkanologi sudah tidak mampu membaca perilaku dan karakter gunung-gunung, anda sekarang perlu belajar lebih tinggi lagi untuk mengetahui tentang itu”, lanjut Cak Nun.

“Carilah pemimpin satu diantara tiga, pemimpin yang bener-bener dicintai oleh rakyat, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat atau pemimpin yang dicintai dan ditakuti oleh rakyat”.

“Aku tidak tega kepada Jokowi, hatiku tidak tega, aku kasihan kepada dia, aku tidak melanjutkan kalimatku karena engkau akan sangat terkejut. Tapi ingatlah bahwa aku sangat cinta kepada semuanya dan aku tidak tega kepada dia. Tapi saya tidak akan kemukakan fakta apapun karena anda belum iqra’ bismirobbika-l-ladzi kholaq”.

’allama-l- insaana ma lam ya’lam, pada ayat ini Allah memposisikan diriNya sebagai Sang Maha Guru yang mengajarkan kepada manusia tentang apa-apa yang tidak diketahui. Pernahkah anda bertanya kepada Allah?”, lanjut Cak Nun. Selama ini manusia kebanyakan menghadap Allah hanya ketika meminta rizqi, tapi sangat jarang yang bertanya dan berguru kepada Allah.

Secara spontan, Mbak Inna Kamarie bersama Mas Beben Jazz and friends membawakan lagu “Kompor Mleduk” dan “Hujan Gerimis” karya Benyamin Suaeb yang dibawakan dengan aransemen Jazz. Dan juga Cak Nun meminta mas Beben memainkan beberapa nada untuk dikolaborasi dengan Qiro’ah.

Setelah itu diskusi kembali dilanjutkan, “Gubernur Majapahit yang terakhir setelah Demak berdiri itu namanya Nyulaewa, seorang China. Ia dituntut oleh masyarakat Majapahit asli agar membangun kembali kebesaran Majapahit ditengah kerajaan Demak. Tapi karena kemudian gagal kemudian ia dihancurkan oleh rakyatnya sendiri. Jadi kalau kamu punya kemauan apa-apa, hati-hati, tolong dihitung bener-bener. Kamu kawin di Solo belum selesai, kamu kawin di Jakarta. Baru saja kawin di Jakarta mau kawin lagi kamu dengan janda yang lebih kaya dan lebih gedhe badannya. Saya cinta janda itu, tetapi ayo dihitung bareng-bareng, hati-hati, tidak segampang itu. Indonesia tidak bisa selamat oleh keinginan-keinginan semacam itu, Indonesia hanya bisa selamat oleh perundingan bersama untuk menemukan yang terbaik, untuk menemukan yang titik tengah yang terbaik, khairul umuuri awsatuhaa”.

Syeikh Nursamad Kamba kemudian memaparakan tentang tahsabuhum jamii’an wa qullubuhum syattaa. Dalam beberapa waktu terakhir, kita melihat perkembangan di negara ini sangat luar biasa, orang melihatnya sebagai kecenderungan religiusitas yang berlebihan. Namun kecenderungan ini hanya terbatas pada “kulit” saja. Termasuk keseluruhan dari makna agama itu sendiri karena hanya menjadi formalitas saja, dan kita sudah melupakan esensi yang sebenarnya. Dalam Ilmu Fiqh misalnya, Sholat itu adalah af’aalun wa aqwaalun muftatahatun ditakbiir wa muhtatamatun bisalam,  Sholat itu adalah perbuatan dan perkataan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Itu sholat secara Fiqh, namun esensi dari Sholat adalah bukan hanya itu. Dalam ayat Al Qur’an Allah berfirman aqimi-s-sholaata li-d-dzikri dan pada ayat lainnya inna-s-sholaata tanha ‘ani-l-fakhsyaai wal munkar. Bahwa sholat itu dilakukan untuk mengingat Allah dan sholat juga memiliki efek sosial yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar. Agama ternyata tidak berhasil membentuk manusia menjadi sosok yang berkarakter ketuhanan yang bisa membimbing yang bisa menjadi sumber kabaikan bagi manusia yang lain. Menurut Syeikh Nursamad, lebih baik tidak usah beragama daripada beragama hanya sebagai formalitas saja. Sekarang ini kita bisa melihat bahwa orang yang semakin jauh dengan Islam justru semakin dekat dengan sifat Nabi Muhammad SAW. Karena agama Islam sekarang sudah dikotak-kotakan menjadi alat untuk berpolitik, berdagang, mencari kekayaan dan sebagainya.

Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasulullah, apakah beliau tahu bahwa beliau akan menjadi Nabi?. Bukankah dalam Al Qur’an terdapat ayat Qul, innama ana basyarun mutslukum, Katakanlah (ya Muhammad) aku adalah manusia biasa seperti kalian. Ada dua hal yang bisa kita contoh secara praktis dari Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi. Pertama, sejak masa kecil hingga masa muda, Muhammad sudah melakukan pembersihan jiwa dari empat hal : hasad, dengki, iri dan curang. Ini menjadi salah satu penafsiran Ibnu Katsir dalam surat Al Insyiroh. Simbol-simbol pembersihan jiwa terhadap 4 hal tersebut merupakan sumber-sumber dari kerusakan dan kejahatan yang ada pada diri manusia. Maka Nabi Muhammad SAW bersabda Iyyakum wal hasada fainnal hasada ya’kulu-l-hasanaati kama ta’kulu-n-naaru alkhotoba. Waspadalah terhadap hasad, karena dia bisa memakan seluruh kebaikan seperti api yang membakar sebuah kayu bakar. Jadi, sepanjang kita dalam kehidupan sosial masih terdapat dengki, iri, hasad dan curang itu tidak akan pernah ada kebaikan yang lahir. Hal inilah yang kemudian menyebabkan tahsabuhum jamii’an wa qullubuhum syattaa. Hati tidak bisa bertemu satu sama lain karena didalam hati itu sendiri terdapat dengki. 4 sifat buruk tadi kemudian menjadi sumber dari sifat-sifat yang lain seperti tamak dan serakah.

Kemudian setelah melepaskan diri dari 4 hal tersebut, dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad kemudian meluaskan hatinya dan melapangkan dadanya. Hal ini kemudian membuat Nabi Muhammad memiliki kemampuan dalam bersikap akomodatif dalam menerima pandangan orang lain dan kemampuan memberi respek kepada orang lain. Sifat-sifat inilah yang kemudian melahirkan sifat amanah yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Karakter serakah ini bisa kita lihat pada seekor harimau, karena karakter yang sudah tertanam dalam dirinya adalah menerkam. Ketika dia sedang melahap mangsa yang ada didepannya, kemudian ada mangsa lain yang lewat dihadapannya maka dia akan tetap menerkamnya, karena memang karakter harimau adalah menerkam. Apabila seorang pemimpin sudah memiliki karakter yang serakah, maka mau diapakan juga dia akan tetap serakah. Dari pembersihan jiwa tadi kemudian lahirlah sifat-sifat kenabian: Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan  Fathonah.

Hal yang kedua yang dapat kita pelajari adalah kebiasaan Muhammad bertapa. Pertapaan yang dilakukan oleh Muhammad sebelum menjadi Nabi bukanlah pertapaan yang biasa saja, namun dalam pertapaan tersebut Muhammad melakukan perenungan-perenungan sehingga output kehidupan sosialnya dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya. Pertapaan ini dilakukan untuk memperluasa cakrawala fikirannya, membuka wawasan dan memperdalam pengalaman-pengalaman jiwa. Dalam pertapaan itu Muhammad melakukan sesuatu yang disebut sebagai bakti sosial. Dalam sebuah riwayat, Siti Khadijah selalu membawakan Muhammad bekal ketika Muhammad akan melakukan pertapaan, dan bekal tersebut dibagi-bagikan oleh Muhammad kepada orang-orang yang ia temui di jalan. Padahal pada saat itu belum ada Islam. Ini artinya, kegiatan yang dilakukan oleh Muhammad sebelum menjadi Nabi merupakan sebuah tazkiyatu-n-nafsi, yang kemudian seolah-olah Muhammad dibentuk karakternya oleh alam melalui pertapaan yang ia lakukan, sehingga kemudian ia memperoleh wahyu.

Dua hal ini yang sekarang kita melupakannya, kita masih memberi ruang untuk dengki, hasad, iri dan curang dalam hati kita, sehingga kita belum mampu membebaskan diri kita dari hawa nafsu, meskipun kita mengaku beragama Islam. Sehingga agama sekarang tidak ada bedanya dengan paguyuban.

Dalam Islam itu ada 3 dimensi, yaitu dimensi Iman, Ihsan dan Islam. Namun sekarang dimensi tersebut semakin kita persempit dengan pengkotak-kotakan dalam Islam, mulai dari sunni-syi’ah, NU-Muhammadiyah dan lain sebagainya. Ini akibat dari karena kita masuk kedalam Islam tidak memiliki bekal pembersihan diri seperti yang dilakukan oleh Muhammad sebelum menjadi Nabi. Jadi jangan harap Indonesia itu akan baik apabila PEMILU yang dilakukan terdapat unsur kecurangan. Karena tidak ada satupun peradaban yang dibangun dengan kecurangan menjadi peradaban yang baik dan mulia.

Dalam maiyah kita mengenal segitiga cinta, yaitu Allah-Rasulullah-Manusia. Ini merupakan salah satu bentuk pertapaan yang kita lakukan. Karena Ilmu Pengetahuan yang kita miliki sejatinya adalah ajaran Allah, guru yang kita temui di sekolah hanyalah membimbing kita untuk menemukan Ilmu Pengetahuan tersebut.

Dalam riwayatnya, wahyu jarak antara wahyu pertama dan wahyu kedua yang diterima oleh nabi Muhammad SAW berjarak sekitar 3 bulan. Dan dalam masa jeda tersebut, Nabi Muhammad SAW tidak merasa langsung yakin bahwa dirinya adalah Nabi, melainkan beliau melakukan perenungan-perenungan selanjutnya melalui pertapaan yang dilakukan. Tidak ada sejarahnya begitu Nabi Muhammad mendapat wahyu yang pertama, kemudian beliau mendeklarasikan diri sebagai seorang Nabi akhir zaman. Sangat berbeda dengan realita yang ada saat ini, banyak sekali orang yang ebrani mendeklarasikan dirinya bahwa dia adalah orang baik.

Jadi seandainya Islam yang ada sekarang ini apabila kemudian merusak sifat-sifat manusia Nusantara yang sebelum masuknya Islam sudah unggul, baik bahkan berakhlak mulia, maka percuma saja dengan Islam. Sehingga apa yang disebut sebagai tahsabuhum jamii’an wa qullubuhum syattaa bukan sesuatu hal yang aneh di Indonesia.

Syeikh Nursamad Kamba mencoba merespon pertanyaan dari jama’ah tentang pencapaian spiritual seseorang. Nabi Muhammad SAW setelah mengalami peristiwa isra’ mi’raj bahkan menjadi lebih rajin ke pasar, hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kualitas spiritual seseorang semakin tinggi pula nilai kebaikannya dalam kehidupan sosial bermasyarakat, karena keintimannya kepada Tuhan menular kepada keintimannya kepada sesama makhlukNya di dunia. Ikhtiar itu sendiri merupakan indikator dari sebuah pencapaian spiritual yang tinggi, kemudian Istiqomah adalah konsistensi seseorang dalam berbuat baik.

Sesungguhnya Indonesia ini tidak membutuhkan Demokrasi, melainkan kearifan-kearifan lokal yang akan membuat Indonesia menjadi lebih baik.

Khairukum anfa’uhum linnaas. Sebaik-baik dari kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia (lainnya). Karena tidak ada satupun yang menjamin seseorang masuk Surga, kecuali Allah swt. Surga sendiri adalah suatu dimensi yang muncul setelah alam semesta yang ada sekarang ini hancur. Surga dan Neraka dimunculkan sebagai pengganti dari kehidupan yang ada sekarang.

Begitu juga persoalan halal dan haram, yang boleh melegitimasi kedua hukum tersebut adalah Allah swt. Apabila kemudian MUI mengeluarkan fatwa halal atau haram, sebaiknya diawali dengan kalimat “berdasarkan sidang para ulama, menurut sidang itu” baru kemudian dilanjutkan kepada kalimat hukum tentang fatwa halal atau haram. Karena dalam kehidupan ini pemilik saham total adalah Allah swt.

Kekeliruan memahami Islam akhir-akhir ini adalah karena kita salah mengidenetifikasi Islam itu sendiri karena berdasarkan kulitnya saja. Islam itu pada hakikatnya bersifat kualitatif meskipun pada saat-saat tertentu bersifat kuantitatif. Sholat itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah output dari Sholat itu sendiri. Sholat merupakan sebuah input yang menghasilkan output yaitu akhlak yang baik. Kesalahan kita sekarang adalah Sholat dijadikan output, sehingga kita sangat mudah menilai Islam atau tidaknya seseorang dilihat dari ibadahanya saja yang seharausnya merupakan sebuah input. Warung itu yang penting adalah hasil dari masakannya, enak atau tidak.

“Fokus anda didalam beribadah itu pahala atau Allah? Surga Atau Allah”, Cak Nun merespon pertanyaan jama’ah tentang pahala. “Kalau kamu berfokus kepada Allah, engkau tidak perduli akan ditempatkan di Surga atau Neraka”.

“Ibaratnya begini, saya punya kebun mangga, kemudian kamu datang ke kebun saya, mbantuin nyapu-nyapu di kebun saya, ndak minta mangga. Justru yang khawatir adalah saya, sehingga kemudian saya pasti akan kasih kamu mangga yang banyak”. Lanjut Cak Nun. “Jadi sholat kamu itu menyembah Allah atau pahala? Kamu sujud dihadapan ka’bah itu kamu sujud kepada ka’bah atau ke Allah?”.

“Jadi bodohlah orang yang mengutamakan jasad”. Cak Nun menambahkan penjelasan tentang kiblat. Bahwa ka’bah adalah kiblat bagi mereka yang sholat di masjidil haram, masjidil haram merupakan kiblat bagi mereka yang berada di makkah, makkah sendiri adalah kiblat bagi mereka yang tinggal di Saudi Arabia, dan Saudi Arabia adalah kiblat bagi mereka yang berada diluar negara Saudi Arabia. Pahala itu penting, tetapi jangan lupa bahwa itu bukanlah fokus yang utama. Dan jangan sekali-kali memasti-mastikan Tuhan. Allah itu merdeka, karena Dia adalah pemilik utuh alam semesta ini, dan Allah berhak merubah aturan-aturan yang sudah ada. Allah berhak dan berkuasa penuh atas semua keputusan-keputusan yang ada. Allah berhak memasukkan orang yang berkali-kali umroh sekalipun kedalam neraka.

“Sesungguhnya seluruh proses kehidupan ini mengandung pertaruhan”, Cak Nun merespon jama’ah yang bertanya tentang judi. Seluruh hidup ini mengandung spekulasi, bahkan seorang ibu yang sedang melahirkan adalah salah satu spekulasi dalam kehidupannya. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan bahwa dia akan tumbuh dari bayi menjadi orang yang dewasa atau sampai tua.

Rasulullah setiap malam itu menangis tetapi bukan dalam rangka menangis karena dirinya, melainkan menagisi ummatnya. Beliau tidak pernah mengeluh atas hidup beliau yang menderita. Beliau tidak pernah marah kepada orang yang melempar batu ke kepalanya. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menangisi ummatnya.

Dalam Islam dikenal istilah fastabiqul khoirot. Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini adalah perlombaan dalam hal kebaikan, bukan perlombaan tentang keunggulan satu sama lain. “Jangan pernah merasa sedikitpun kita merasa unggul atas orang lain”, lanjut Cak Nun. “Ndak boleh unggul dari orang lain, yang kamu lakukan adalah bermain sepakbola yang baik, kalah atau menang adalah hasil dari bermain sepakbolamu, bukan tujuanmu”.

“Judi itu dilarang agar jangan sampai anda menjadi kecanduan, dan uangmu habis hanya untuk berjudi”.

“Menurut anda masalah Indonesia ini apabila menggunakan istilah penyakit sudah berada pada stadium 5”, Cak Nun merespon jama’ah yang menanyakan tentang kesediaan menjadi Presiden dan kekhawatiran apabila Cak Nun menjadi Presiden kemudian tidak bisa hadir di acara Kenduri Cinta.

“Menurut anda, apabila anda saya tuntut menjadi Presiden apa reaksi anda? Pada saat semua orang tahu bahwa penyakit Indonesia yang sedemikian komplikasinya hampir tidak bisa disembuhkan, kok ada orang yang mencalonkan diri menjadi Presiden, apa niatnya?” Cak Nun memberi bekal pertanyaan kepada jama’ah yang hadir.

“Wiridnya kan jelas, in lam takun ‘alayya ghodobun falaa ubaali. Asalkan Allah ndak marah sama saya, apa saja saya mau. Menderita saya mau, berjuang saya mau. Saya ndak jadi apa-apa ya mau, jadi apa-apa ya mau. Ndak ada bedanya bagi saya, dan andaikan saya berada didalam struktur pemerintahan, jangan khawatir saya lantas tidak bisa berada disini”. Tutup Cak Nun.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 04:02 WIB, Kenduri Cinta puncaki dengan doa bersama oleh Syeikh Nursamad Kamba. [Red KC/Fahmi Agustian]