Mocopat Syafaat bersama Tim Nasional U-19

Reportase Maiyah rutin Mocopat Syafaat edisi Juli 2014 bersama pelatih Timnas U19, Indra Syafri.

Langit malam itu cukup cerah disekitar Tamantirto, Bantul Yogyakarta, setelah beberapa hari diguyur hujan, juga beberapa wilayah di Indonesia diliputi mendung serta hujan. Sejak pukul  20:00 WIB masyarakat Maiyah sudah meramaikan halaman TKIT Alhamdulillah lokasi Maiyahan Mocopat Syafaat diselenggarakan rutin disetiap bulannya setiap tanggal 17 Masehi.

Mocopat Syafaat edisi bulan Juli 2014 ini kedatangan tamu spesial dari Tim Nasional (Timnas) U-19 yang memang sebelumnya, Timnas U-19 beberapa kali sempat mengadakan pertemuan yang cukup intens dengan Cak Nun, Sabrang dan lingkaran di Kadipiro. Disela-sela padatnya latihan Timnas U-19, coach Indra Sjafrie beserta official-nya memenuhi janjinya yang memang mereka inginkan untuk dapat hadir pada Maiyahan Mocopat Syafaat.

Surat Maryam dibacakan oleh Ramli dari KMS (Keluarga Mocopat Syafaat) menjadi pembuka Mocopat Syafaat malam itu. Usai tadarus bersama, Cak Nun langsung mengawal jalannya Maiyahan bersama KiaiKanjeng. “Semoga segala yang baik menurun kepada Anda dan segala yang buruk menjauh dari Anda. Isinya yang baik dan buruk terserah Anda sesuai dengan sejarah dan pengalaman anda masing-masing,“ sapa Cak Nun kepada masyarakat Maiyah yang memadati lokasi.

Setelah menyapa masyarakat Maiyah, Cak Nun langsung membacakan doa panjang dan sholawatan bersama. Pada pertengahan doa, nomer “Hasbunallah” dibawakan dan dipandu oleh KiaiKanjeng menambah kekhusyukan para jamaah Maiyah. Kemudian Cak Nun mempersilakan Toto Rahardjo dan Sabrang untuk mengantar Coach Timnas U-19 Indra Sjarie dan Guntur Utomo (mental coach Timnas U-19) untuk naik ke panggung. Selain itu tampak pula personel Letto bersama Pak Mustofa W Hasyim sudah bergabung bersama dipanggung Maiyahan.

“U-19 adalah anak orisinal Indonesia, yang lahir dari Indonesia dan tidak berkiblat kepada manapun selain ke Indonesia”, ujar Cak Nun.

Sabrang bercerita tentang Letto yang ikut mendukung Timnas U-19 dengan membuatkan lagu untuk mereka berjudul “Hati Garuda”, yang akan dijadikan lagu resmi dari Timnas U-19. Lagu ini akan didistribusikan sehingga bisa terdengar dimana-mana. Dan segala keuntungan akan diberikan kepada Timnas U-19 sebagai bentuk support Letto kepada Timnas U-19. Setelah menjeleskan kontribusi Letto untuk Timnas U-19, Letto menyapa jamaah Maiyah dengan membawakan lagu terbarunya dan belum dirilis yang berjudul “Fatwa Hati”.

Toto Rahardjo mengingatkan bahwa Letto ditahun 2008 lalu pernah membuat kompetisi sepakbola tingkat SD sekecamatan di Banjarnegara, Jawa Tengah.  Kompetisi itu bertemakan “Sportivitas Jantungnya Keadilan”. Dalam kompetisi ini terdapat award-award yang dikhususkan untuk tim, seperti tim yang bekerja sama paling baik, tim paling sportif, tim paling didukung lingkungannya hingga tim paling berat perjuangannya.

Cak Nun langsung mempersilahkan Indra Sjafrie untuk berbagi pengalamannya kepada jamaah Maiyah. Diawal, Indra Sjafrie memohon maaf sebelumnya karena yang rencananya akan hadir bersama pasukannya Timnas U-19, ternyata harus batal karena Timnas U-19 saat ini berada di bandara Soekarno-Hatta Jakarta ketinggalan pesawat, disebabkan gagal menembus kemacetan di ibukota, sehingga mereka harus bermalam di bandara tersebut.

Indra Sjafrie mengungkapkan rasa syukurnya bisa bertemu dengan Cak Nun, “Pertama kali liat Cak Nun, saya liat di televisi saat peristiwa jatuhnya Presiden Soeharto tahun 1998, ada Gus Dur, ada Cak Nun sama seperti sekarang ini. Saya berfikir saat itu, boleh ya, orang berambut gondrong masuk istana?. Setelah itu saya coba mencari informasi mengenai siapa sih yang berambut gondrong itu, dan Alhamdulillah ketemu pertama kali bulan Maret 2014 di hotel UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) tempat kami menginap, beliau alhamdulillah hadir disitu, pertemuan tersebut terus berlanjut hingga sampai sekarang ini. Dan pada pertemuan itu menambah yakin untuk bisa meloloskan timnas U19 untuk ke piala dunia. Karena kehendak Tuhan kami tidak tahu selalu saja kami dipertemukan dengan orang-orang baik. Pertama official inti berbagai latar belakang, termasuk bertemu dengan para pemain dari Sabang sampai Merauke, dan orang-orang itulah yang berkumpul satu visi, satu keinginan, satu niat, satu doa, bagaimana bisa mengangkat harkat martabat bangsa lewat sepakbola. Ditambah lagi ketemu beberapa orang yang selalu menguatkan kami, termasuk Cak Nun ini yang kami anggap menambah keyakinan kami untuk bisa berbuat lebih baik.”

“Sedikit kami sampaikan mengapa timnas U19 ini bisa seperti sekarang ini, pertama karena keyakinan kami. Kami yakin sekali Indonesia ini adalah negara yang sangat besar disemua sektor termasuk sepakbola. Kami diuji oleh Tuhan waktu itu 2011 yang dari ujian itu muncul evaluasi dimana tahun 2011 kami hadir di PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) diberi tanggungjawab untuk membentuk tim nasional U16 mengikuti kualifikasi piala AFC (Asian Football Confederation) di Thailand. Saat itu kita disodorkan pemain oleh PSSI berjumlah 65 orang pemain. Kami latih selama 2 bulan, termasuk saat itu juga sudah masuk bulan ramadlannya. Kita berangkat ke Thailand, alhamdulillah kita gagal total disitu. Itulah titik awal kami melakukan evaluasi, saat itu belum ada Guntur Utomo, hanya 3 orang waktu itu, karena PSSI ketika itu berpikir bahwa sepakbola itu hanya bisa diselesaikan oleh segilintir orang. 3 orang ketika itu ada saya, Kujarot (pelatih kiper), dan Nur Saelan (pelatih fisik). Waktu itu di media massa dan jejaring sosial dibilangnya trio jin; Jarot, Indra, dan Nur Saelan. Tapi memang tidak cukup kalau hanya jin yang menyelesaikan sepakbola Indonesia. Setelah itu baru kami evaluasi semua pemain, rupanya titik permasalahannya kenapa kita Indonesia tidak berprestasi selama ini karena tidak adanya kejujuran, kejujuran dalam  memilih pemain,” jelas Indra Sjafrie.

“Dari 65 pemain yang disodorkan kepada kami waktu itu, yang bertahan sampai sekarang hanya 1 orang, yaitu Hargianto. Sisanya tereliminasi. Kami maju dengan presentasi ke PSSI, pada presentasi itu kami canangkan timnas U-17 menuju Piala Dunia 2015, dengan target 2012 mengikuti event-event, kita juara 2 kali di Hongkong, itu cikal bakal. Tetapi tidak ada ekspos media, tidak ada sponsor, tidak ada tur nusantara yang disiarkan oleh televisi, dan tidak ada uang yang milyar-milyaran. Kami makan nasi bungkus, kami pernah tidur di masjid, kami pernah tidur di hotel yang tidak berbintang. Dua yang kami minta ke PSSI saat itu, satu; kami tidak mau lagi mengelola timnas secara tradisional, yang kedua; kami tidak mau lagi membuat tukang tendang bola, karena tukang tending bola sudah sangat banyak di Indonesia. Kami mau membuat pemain-pemain profesional yang suatu saat dia jadi idola, idola bisa jadi panutan orang banyak, itu persyaratan yang saya ajukan ke PSSI waktu itu, kalau PSSI mau itu target yang kami canangkan, satu; juara AFF (Asean Football Federation), yang kedua; lolos Piala Asia, yang ketiga; lolos Piala Dunia. Dengan kerja benar, ikhlas, jujur, 2 target tercapai. Setelah 23 tahun Indonesia tidak pernah mengecap satu gelarpun, dan alhamdulillah mendapatkan gelar juara AFF. Dalam hitungan bulan, lolos Piala Asia, dan mereka kalahkan tim yang 12 kali juara Asia, yaitu Korea Selatan. Makanya sorotan lampu ini mengingatkan saya pada suasana saya meluluh lantahkan tim nasional Korea Selatan.”

“Satu lagi yang belum tercapai, yang akan kita wujudkan Myanmar nanti, yaitu lolos Piala Dunia. Tidak mudah memang. Tetapi kami official beserta pemain, tidak pernah sedikitpun tidak yakin itu bisa tercapai, dengan keyakinan itu kami bekerja setiap hari, berlatih setiap hari untuk mewujudkan itu. Pertama harus yakin, kedua kami bekerja cerdas. Kami tidak lagi sendiri, kami didampingi oleh orang-orang yang memang ahli dibidangnya, kita punya mental coach Guntur Utomo dari UGM (Universitas Gadjah Mada), kita punya dokter tim, kita punya psikoterapi, kita punya pelatih penjaga gawang, kita punya pelatih teknik, kita punya tim analis yang membantu kami, ada sekitar 15 tim yang saling membahu, yang saling satu niat tadi, yang bekerja setiap hari memikirkan bagaimana kita bisa lolos ke Piala Dunia. Insya Allah program sudah berjalan sekitar 6 bulan, kerja cerdas tadi kami terjemahkan dalam bentuk periodesasi persiapan timnas U-19 menghadapi Piala Asia dibagi 3 tahapan, sekarang masuk tahap kedua, tahap pertama yang lalu, selama 2 bulan kami di Batu, Malang, hanya untuk meningkatkan kondisi fisik,“ sambung Indra Sjafrie.

“Ada Syahrul, anak Ngawi, yang orangtuanya memetik daun teh di Gunung Lawu. Jadi ada program setiap hari rabu namanya Cross Country, yaitu lari jarak jauh di semua gunung yang ada di kota Batu, seperti gunung Panderman. Saya kadang kasihan melihat mereka, dan saya pernah tanya kepada Syahrul, ‘apa kamu tidak capek Rul?’, ‘Jangankan Gunung Panderman, Coach, gunung mau meletuspun saya akan panjat kalau kita mau lolos piala dunia’, Itu dia sampaikan ke saya. Coach, saya setiap hari mulai dari kelas 6 SD itu sudah turun naik gunung dibelakang itu ada daun teh, kecil lah ini coach. Jadi, mungkin hampir seluruhnya, dari pelatih hingga pemainnya, timnas U-19 itu adalah orang desa. Yang dulu pernah mandi di sungai,” cerita Indra Sjafrie dengan bangga.

“Kemarin Agum Gumelar mengkritisi, mungkin karena beliau tidak mengikuti 100% U-19, kata beliau harusnya timnas U-19 kalau mau juara itu diturunkan di kompetisi. Pertanyaan saya, ada tidak kompetisi yang seumur anak-anak U-19 ini. atau dia masuk ke kompetisi liga. tidak realistis. Sekarang coba lihat mereka belajar dari kompetisi yang kami desain sendiri, ada namanya tur nusantara, ada namanya tur timur tengah, ada namanya tur eropa, kalau ada tur akhirat kami bikin. Apa itu menurut pak Agum itu tidak lebih hebat dari liga Indonesia. Wasitnya masih wasit yang tidak terkontaminasi, dalam artikata, dia tidak harus mementingkan siapa yang menang, dia memimpin dengan sportif, jujur, dan manfaatnya jauh lebih besar dari kompetisi manapun.”

“Kami menganggap sepakbola tidak hanya bicara kalah dan menang. Sepakbola bisa mengangkat harkat martabat bangsa. Keluarga bagi kami, individu untuk para pemain dan official semua, mempersatukan bangsa. Bayangkan kami ke Aceh, sebelum sampai di Aceh saya sempat ngobrol dengan pelatih fisik. Kita ditonton orang Aceh atau tidak nanti kira-kira. Karena melihat sejarah dari dulu tidak pernah mereka  merespon baik tentang sepakbola Indonesia. Kami berpikir dan berdiskusi dengan official lain kita mau bikin statement begitu turun dari pesawat biasanya kan banyak media pasti akan bertanya. Apa yang kami lakukan ketika itu, kami bilang ke media, tolong besok bikin berita sebesar-besarnya di koran-koran anda, kekuatan timnas U-19 30% diisi oleh anak terbaik Aceh, dan kapten kesebelasan adalah Sandi, orang Aceh. Itu semua dimuat, dan apa yang terjadi 50.000 orang masuk ke stadion Harapan Bangsa. Dan ada yang masuk hanya untuk memeluk Evan Dimas. Bisa mempersatukan bangsa. Datang juga bekas komanda GAM (Gerakan Aceh Merdeka), coach saya baru sekali ini merasakan memiliki Indonesia katanya. Dan seluruh di stadion itu tidak ada keributan, belum lagi 25.000 berada diluar stadion menunggu kita pulang. Dari stadion butuh waktu 2 jam untuk kami sampai ke hotel, hanya melayani dari balik kaca saja untuk melambaikan tangan, dan mereka hanya sekedar mengelus bis. Bisa mempersatukan bangsa, bisa mengangkat harkat martabat bangsa.”

“Dulu kalau sudah mulai berhadapan dengan Malaysia, kita punya anggapan Malaysia sebagai musuh bebuyutan, dan lain sebagainya. Kami sama official bilang, saya pikir kita yang tidak mau hebat. Kita selalu lebih senang menghebat-hebatkan orang lain, menghebat-hebatkan bangsa lain daripada bangsa sendiri. Lawan Malaysia saja dibilang musuh bebuyutan. Tetapi apa yang saya bilang ketika kita melawan Malaysia dan tertinggal 1-0. Di ruang ganti kami bicara ke pemain, kalian sekarang tertinggal 1-0, 25.000 menonton, kalian ingin malu atau kalian ingin kepala kalian tegak dilapangan nanti, dengan negara lain kalian mungkin bisa kalah, tapi jangan dengan Malaysia. Para pemain jadi kaget dan mulai terbakar, sampai ada yang berkata, Malaysia itu cocoknya jadi provinsi ke 34 Indonesia. Hampir 45 menit kita hajar habis Malaysia dan draw, akhirnya kita yang masuk final. Keyakinan, itu yang benar-benar mereka miliki sekarang,” tukas Indra Sjafrie disambut tawa dan tepuk tangan yang meriah dari jamaah.

“Saat lawan Korea Selatan, ini banyak yang tidak terungkap di media, wartawan kita selalu tanya, coach Indra apa langkah-langkah atau strategi yang coach akan gunakan supaya nanti lawan Korea bisa memperkecil kekalahan, begitu katanya. Saya bilang ke teman-teman, ini orang Indonesia atau orang Malaysia. Besok mau pertandingan, malamnya ada pertanyaan itu, saya bilang ke dia, sekarang kalian berangkat ke hotelnya Korea, bilang ke Korea itu, siap-siap mereka kalah tanggal 12 nanti, saya sempat was-was ketika itu, takabur atau optimis. Malamnya saya tidak bisa tidur juga ketika itu, kalau kita kalah, Indra Sjafrie pasti orang sombong, karena setelah statement itu paginya dikoran-koran tertulis; pelatih timnas U-19 arogan, sombong, dan macam-macam. Malam saya tidak bisa tidur, tapi saya mendengar dari ustad-ustad yang belajar agama sedikit-sedikit, kata Tuhan kan begini, kalau kamu bertemu lawan jangan mundur, hadapi. Tapi syarat sebut namaKu banyak-banyak. Sampai pagi itu saya hanya meminta ke Tuhan, saya sudah membayangkan, lampu, penonton puluhan ribu, tolong ya Tuhan, saya dzikir sampai tertidur. Dan pagi kita latihan, malam harinya pertandingan, saya pikir itulah titik awal kebangkitan persepakbolaan kita. Saya tidak banyak berteriak pada pertandingan itu, diluar saya hanya menyebut nama Allah. Main seolah-olah ada yang mengatur, saya hanya mengatakan kepada Evan Dimas dan kawan-kawan, yang kamu lawan adalah Korea, dia tinggi, jangan main bola atas, setiap bola dari winger, saya tidak mau tahu kamu harus berada dititik pinalti, cuma itu yang saya kasih tahu, dan Tuhan aminkan itu. Tiga gol, dan tiga-tiganya terjadi begitu, kalau Tuhan berkehendak.

Setelah itu menang kita, wartawan yang tidak optimis tadi dan orang Indonesia termasuk yang ada disini tidak optimis tadi mulai optimis. Sekarang kalau saya bilang kalau kita diijinkan Tuhan lolos Piala Dunia, mungkin separuh masih ragu, makanya Indonesia itu tidak akan pernah juara dunia, karena orang Indonesia tidak yakin dengan kehebatannya, tapi kalau malam ini semua yakin kita lolos Piala Dunia, Kun..!!!, Jadi…!!!” jamaah secara spontan mengamini harapan Indra Sjafrie.

“Kenapa kita tidak pernah hebat, dulu kita pernah berkiblat ke Eropa, pelatih dari Jerman masuk. Besok kiblat ke Amerika Latin, pelatih dari sanapun masuk. Karena Jepang mulai maju, kita berkiblat ke Jepang, datang pelatih darisana. Australia, Timor Leste dan seterusnya. Kerja kita hanya berkiblat ke orang lain. Akhirnya yang muncul adalah kriteria-kriteria yang tidak muncul di Indonesia, pemain tinggi, hidung harus mancung, kulit harus putih, ya mana ada itu di Indonesia. Itu kami hilangkan, kalau mau hebat, ya dari hebat orang Indonesia. Kita tidak berkiblat kepada negara lain sepakbola kita. Pada saat mengalahkan Korea Selatan, enak saja mereka menyamakan kita dengan Barcelona. Kita bukan Barcelona, Indonesia lebih hebat dari Barcelona. Saat itu terucaplah Indonesia bukan tiki taka, tapi pepepa (pendek pendek panjang),“ ujar Indra Sjafrie.

“Dipertemuan kedua saya dengan Cak Nun di Kadipiro menambah keyakinan kami, telah lahir orang-orang yang punya atau yang dikehendaki oleh yang diatas. Kami memang betul-betul ingin merubah sepakbola Indonesia, karena kami orang sepakbola. Tapi kami kalau diijinkan presiden, kita akan rubah semua. Semua pemain sekarang kosentrasi untuk itu, apa yang kami cita-citakan dipresentasi awal itu kalau dia jadi idola, idola jadi panutan. Selebrasi sujud syukur kita sudah diikuti oleh sekolah-sekolah sepakbola di daerah, kalau masukan gol sudah tidak loncat-loncat bergembira lagi kayak orang diluar negeri itu, tapi sujud syukur. Alhamdulillah timnas U-23 sudah pandai pula sujud syukur. Dan termasuk timnas senior juga. ISL juga mulai. Berarti mereka sudah jadi panutan orang lain,“ kata Indra Sjafrie disertai gelak tawa jamaah Maiyah.

“Pernah suatu ketika diriset tim ahli kesehatan dari UGM, bahwa sebagian besar pemain ternyata dehidrasi, kolesterol tinggi, dan asam urat. Tetapi dari kebugaran, kapasitas paru-paru dia menghirup oksigen maksimal, tingkat kebugaran bulan juni kemarin sama dengan timnas Jerman juara Piala Dunia kemarin,” tambah Indra Sjafrie.

“Kita punya standar dalam memilih mereka. Kemampuan fisik, kemampuan tactical dan kecerdasan, Kemampuan skill dasar, dan mental harus bagus. Kalau dulu ada by feeling, by opini koran, by titipan, by suap. Sekarang itu semua tidak ada. Hanya itu yang kami perbaiki. Kalau melatih hampir sama dengan yang dulu.

Bagaimana men-scouting orang dengan benar, hingga sekarang timnas U-19 menunjukkan keindonesiaannya.”

Indra meminta doa kepada para jamaah, karena kekuatan doa itu utama. Kemudian bercerita bagaimana mekanisme Tuhan bekerja pada saat adu penalti pertandingan melawan Vietnam. Indra berkelakar, sampai mengadu Tuhan Vietnam dengan Tuhan Indonesia, bagaimana nanti hasilnya terserah Tuhan. Jika semua rakyat Indonesia mendoakan maka ada 250 juta orang yang mendoakan. Maka lawan siapapun pas akan menang pertandingan karena doa kita lebih banyak. Jamaah menyambut tawa dengan penjelasan ini.

Cak Nun menanggapi Indra Sjafrie dengan menjelaskan tentang kiblat Indonesia. “Pak Indra Sjafrie, Indonesia ini kan jangankan sepakbolanya, negaranya saja berkiblat pada negara lain. Bikin negara saja sudah bukan dirinya sendiri. Tata negaranya, konstitusinya, undang-undang hukum pidana perdatanya pun kita berkiblat. Islam juga sudah berubah menjadi arab sekarang. Jadi kita selalu berkiblat.”

“Sudah beberapa tahun yang lalu kita di Maiyah sudah menemukan bahwa ini sedang ada era bahwa kematian-kematian terjadi, dan kalau Allah menciptakan kematian, berarti Dia juga menciptakan kelahiran. Sekarang tinggal pilihan anda, anda mau menggabungkan diri kepada yang sedang mati atau anda menjadi orang yang lahir kembali,” tambah Cak Nun.

Cak Nun kemudian menjelaskan sedikit tentang Lingkaran Maiyah dan simpul-simpul rutinan Maiyah dibeberapa daerah, seperti Padhang Mbulan, Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, Gambang Syafaat, dan tempat-tempat tentatif lainnya. Cak Nun menambahkan tidak ada fenomena seperti lingkaran ini ditempat manapun di dunia, yang sanggup duduk hingga shubuh tanpa beranjak satupun.

“Pak Indra ini menggali kembali Indonesia, orisinal, aslinya, takdir Tuhan. Kita kan meyakini, kalau kita jadi orang Indonesia, itu kan Tuhan yang bikin, Tuhan yang menentukan, wajib hukumnya berakidah. Itu bukan soal ibadah, itu akidah. Jadi perjanjian dasar dengan Tuhan yang tidak boleh diingkari, jadi sebagaimana ayam dijadikan ayam, kambing dijadikan kambing, itulah akidah. Jadi kita harus menjadi orang Indonesia. Disini, dilingkaran ini semua datang darimana-mana dan menjadi saudara semua. Tidak ada kepentingan pribadi. Tidak ada yang mencari apapun, selain mencari sama apa yang dicari Pak Indra. Pilpres ini adalah pelajaran sangat besar bagi Indonesia, karena akan ada rekayasa penyempurnaan pengkiblatan itu tadi, “ jelas Cak Nun.

“Didalam Maiyah kita diajarkan untuk tidak berfikir linier. Kalau dalam sepakbola, kita tidak saja hanya menendang bola kedapan, tapi kita bisa menedang bola kesamping, atau kebelakang. Asalkan dalam suatu notasi dan formasi untuk sampai ke depan gawang. Nomor satu di maiyahan itu bukan berbuat baik, tapi adalah menikmati berbuat baik. Kalau berbuat baik itu berat, tapi kalau sudah bisa menikmatinya maka berbuat baik tidak perlu disuruh-suruh, karena memang nikmat.”

“Anda tidak bisa mengelak dengan mainstream yang melakukan macam-macam. Seperti halnya Ilhamudin yang selama berlatih tidak pernah bisa memasukkan bola saat penalti, tapi ketika pertandingan malah menjadi kunci kemenangan adu penalti melawan Vietnam. Sama seperti anda. Anda ini, Maiyah ini tidak diperhatikan oleh siapapun, tidak dianggap oleh siapapun. Maiyah ini bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, dan tidak dianggap ada oleh Republik Indonesia, tapi jangan lupa, lambat atau cepat siapapun yang berkuasa nanti akan mengikuti anda. Karena yang punya perpektif masa depan adalah anda. Karena yang suci anda,” kata Cak Nun.

“Sepakbola kenapa menang sampai hari ini itu karena suci. Suci itu apa? Suci itu kalau matematika, empat adalah empat, bukan tiga setengah bukan lima. Kalau dalam berfikir, suci itu objektif. Kalau dalam moral, suci itu jujur. Kalau dalam estetika, suci itu tidak fals, kalau dalam olahraga, suci itu sportif. Meskipun keponakan pelatih, datanya tidak memenuhi syarat tidak bisa masuk tim. Selama ini suci dimonopoli oleh orang yang beribadah. Dan beribadahpun dimonopoli simbol-simbol dan institusi peribadatan, sehingga orang tidak pernah berfikir bahwa sepakbola juga terkait dengan kesucian. Terkait dengan Doa. Bahkan Tuhan beradu disana.”, ujar Cak Nun disertai gelak tawa jamaah.

Mbak Novia dan putrinya Haya maju ke panggung untuk menambah hangat suasana Mocopat Syafaat. Mbak Novia dan Haya berduet mempersembahkan nomor “Yansin Gaceler” nomor dari Turki yang pernah dibawakan Haya ketika tour di Turki selama sebulan bersama teman-teman sekolahnya, juga lagu tersebut sempat dibawakan di Maroko ketika KiaiKanjeng berkunjung kesana pada bulan Juni 2013 lalu. Setelah dengan fasih Haya membawakan lagu dengan Bahasa Turki, kemudian duet berlanjut dengan nomor jazz “Flying to the Moon”. Kegembiraan tampak dari wajah para jamaah Maiyah, dimana Maiyah memberikan wadah diskusi yang serius diselingi guyon-guyon yang segar dan berisi, belum lagi ditambah lagu-lagu dari KiaiKanjeng yang memiliki karakteristik yang khas.

Cak Nun bercerita tentang putrinya Haya bagaimana cara dia belajar bahasa asing, mulai dari bahasa Inggris, Turki hingga Korea yang baru-baru ini sedang dipelajarinya. Cak Nun sendiri agak terheran-heran bagaimana putrinya tersebut dapat menguasai itu semua tanpa perlu bimbingan, dan tanpa kursus. Itu membuktikan bahwa setiap anak diberikan potensi untuk mengeksporasi dirinya, menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk dirinya sendiri, dan orangtua cukup memantau setiap pertumbuhan itu. Kemudian Cak Nun memaksa Haya untuk menyanyikan satu lagu Korea, Haya dengan sedikit malu-malu membawakan satu lagu Korea yang direspon secara spontan oleh KiaiKanjeng mengiringi lagu tersebut. Bahkan Rampak juga yang ada disela-sela personel KiaiKanjeng, diminta Cak Nun untuk menyanyikan lagu Jawa. Dengan malu-malupun Rampak menolak. Canda tawa tampak terlihat dari para jamaah Maiyah.

Waktu menunjukkan pukul 23.45 WIB, Imam Fatawi, Islamiyanto dan KiaiKanjeng menambah gayeng suasana dengan nomor sholawat ”Duh Gusti Kulo…” yang diikuti koor “Ilahilastu” dari para jamaah. Sebuah nomor khusus dari Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk Indra Sjafrie, yakni lagu “Tombo Ati” dalam versi bahasa Minang, tempat kelahiran Indra Sjafrie.

Guntur Utomo dari coach mental (Psikolog) Timnas U-19 menceritakan tentang dinamikanya dalam timnas U-19. Terutama tentang perkembangan pergaulan bahasa, cara makan hingga jadwal rutin hariannya.

“Yang kami lakukan hanyalah sepakbola. Sesederhana itu yang kami lakukan, kami tidak melakukan apa-apa, melakukan yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang katanya mencintai sepakbola. Hanya dengan seperti itu, sekarang Timnas U-19 menjadi harapan, membukakan mata banyak orang Indonesia bahwa kita punya potensi. Seandainya ada lebih banyak orang yang mau sungguh-sungguh melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, saya pikir sepakbola dalam konteks kami akan jauh lebih cepat berkembang,” jelas Guntur Utomo.

Cak Nun menanggapi diskusi selanjutnya dengan menginformasikan kepada para jamaah Maiyah bahwa saat ini Cak Nun baru menerima informasi mengenai jatuhnya pesawat MH-17 di Ukraina.

“Kedalam Maiyah kita melakukan penyadaran dan mencari informasi seobjektif mungkin, jika keluar maiyah kita melakukan pengayoman. Sebab tetangga anda belum tentu mau diomongin sesuatu yang benar. Sampai oktober nanti anda jangan berdebat jangan banyak omong, , diayomi saja, kalau ada apa-apa meneng ae, ” pesan Cak Nun.

Sesi tanya jawab dibuka, beberapa jamaah Maiyah maju kedepan untuk melontarkan beberapa pertanyaannya kepada Cak Nun dan Indra Sjafrie. Penanya pertama dari Ariyadi, Guru Penjas (Pendidikan Jasmani) Yogyakarta, bertanya terkait, “Bagaimanakah secara konkret guru-guru Penjas dapat membantu coach Indra dalam mencari bakat-bakat sepakbola. Ada harapan juga coach Indra tidak berhenti di Timnas U-19 ini, tapi berlanjut seterusnya.” Kemudian penanya kedua dari Wiwid, “Bagaimana kisah bisa berkumpulnya timnas U-19 yang berasal dari Sabang hingga Merauke.” Penanya ketiga dari Risdiyanto, jamaah Maiyah dari Sulawesi Tengah, “Bagaimana metode pelatih dalam menciptakan kedisplinan untuk pemain Timnas U-19, apakah ada pemain Timnas U-19 yang tidak disiplin?.” Penanya keempat dari Akbar, jamaah Maiyah dari Wonosobo, “Pertanyaan untuk Mbah Nun, apa itu makrifat? Kalau untuk coach Indra, apakah ada pemain yang berasal dari Wonosobo yang bermain di U-19?.” Penanya terakhir dari Azzam, “Apakah ada pemain sepakbola yang tahajud setiap malam?”

Indra Sjafrie merespon baik berbagai pertanyaan dari para jamaah Maiyah. Indra menceritakaan bagaimana sistem pendidikan sepakbola di Jepang. Di Jepang terdapat 61.850 orang pelatih untuk memberikan pendidikan sepakbola di negara sekecil itu, sedangkan di Indonesia hanya ada 3.000 orang pelatih. Peran guru olahraga sangat penting, membantu perkembangan sepakbola di Indonesia. Dalam tur Nusantara, coach timnas U-19 melakukan pertemuan dengan guru-guru SSB yang bertujuan untuk mencari bakat dan uji klinik para pemain mereka. Indra percaya masih banyak pemain di Indonesia yang punya kemampuan yang bahkan melebihi Evan Dimas, dan itu ada di desa-desa dan di gunung-gunung.

“Sepakbola sebaiknya dikenalkan sedini mungkin, supaya anak-anak bisa menemukan tentang nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kerjasama, nilai-nilai fairplay. Karena akar dari perkelahian itu karena doktrin sepakbola hanya satu : menang.”, ujar Indra Sjafrie.

Indra Sjafrie menceritakan juga bagaimana scouting para pemain U-19, keliling Indonesia blusukan ke daerah-daerah dengan dana seadanya. Kalau sistem organisasi dalam scouting bagus, maka blusukan sudah tidak diperlukan lagi. Indra Sjafrie melengkapi tentang kedisiplinan yang diterapkan dalam Timnas U-19. Aturan-aturan didiskusikan dan dibuat bersama-sama oleh pemain dan official dan tidak ada ‘standar ganda’. Semua terkena aturan dan jika melanggar mendapatkan sanksi sesuai aturan, entah itu pemain, entah itu official. Terdapat juga beberapa pemain yang dikeluarkan karena tidak disiplin, meskipun itu satu kampung dengan Indra. Tanggapan miring sering terlontar dan Indra tetap bersikukuh dalam menegakkan kedisiplinan.

Cak Nun menambahkan respon untuk para jamaah Maiyah, “Dalam sepakbolanya Pak Indra ini ada sistem, ada disiplin, ada prinsip, ada ideologi, ada akidah yang membuat beliau bisa menemukan yang terbaik dari pemain sepakbola Indonesia di U-19. Lalu, apakah demokrasi kita bisa menemukan calon presiden yang terbaik antara manusia se-Indonesia? Demokrasi Indonesia sekarang tidak memungkinkan ditemukannya ‘Evan Dimas’ didalam kepemimpinan Indonesia. Jangankan demokrasi, umat islampun tidak bisa menemukan pemimpinnya. Anda sendiri tidak memiliki hak dalam menentukan pemimpin anda, anda dipilihkan oleh koalisi partai. Jadi dari satu pasar yang makanannya banyak, anda hanya berhak mencicipi dua warung saja.”

Menjelang pukul 01:32 WIB, Indra Sjafrie bersama official-nya mohon pamit karena paginya harus melanjutkan jadwal pelatihannya. Para Jamaah diminta berdiri bersama oleh Cak Nun dan yang ada di atas panggung, “Shohibu Baity” berkumandang dalam Mocopat Syafaat mengantarkan dan mendoakan Timnas U-19 agar bisa mencapai tujuannya yang untuk Indonesia.

Setelah itu Mocopat Syafaat dilanjutkankan kembali. Tampak Syekh Mustofa Al Haqqani yang baru datang dan menjadi tamu yang menarik pula malam itu. Sudah lama Syekh Mustofa tidak mampir di Mocopat Syafaat dan langsung diminta menyampaikan sesuatu untuk jamaah Maiyah. Syekh Mustofa menjelaskan tentang cerita Sayyidina Ali yang tidak jadi membunuh orang Quraisy yang meludahi muka Sayyidina Ali. Sayyidina Ali beralasan karena awal berperang karena Allah, begitu orang Quraisy itu meludahi mukanya, dia marah, dan kalau jadi membunuh itu bukan karena Allah, tapi karena marahnya.

“Memandang Allah dengan kekuatan cinta Allah yang konstan meskipun kita berbuat maksiat, itu adalah sebuah kedisiplinan. Disiplin adalah kesungguhan untuk memegangi kebaikan. Seperti cerita diatas. Ketepatan menempatkan Rasulullah pada tempat yang utama dan persambungan yang utama, itu disiplin.”, ujar Syekh Mustofa.

Sebagai “menu” selanjutnya, dan sudah ditunggu-tunggu oleh jamaah Maiyah Pak Mustofa W Hasyim membacakan puisi karyanya 2 puisi jenaka rusak-rusakan yang berjudul “Lembaga Survei Paling Rusak-rusakkan Sedunia“ dan “Yang Kecelik dan Yang Tidak Kecelik“.

Kemudian Cak Nun menjelaskan tentang edaran yang kemudian dibagikan kepada para jamaah untuk menghadapi suasana 22 Juli 2014.

“Intinya adalah, saya tidak percaya bahwa Allah akan mengijinkan beberapa hari yang akan datang, tipu daya internasional akan melindas bangsa Indonesia. Saya percaya Allah sudah menerima keluh kesah anda, menerima kebingungan bangsa Indonesia, menerima penderitaan yang panjang, menerima ketidaktahuan karena dibodohi, didalam fokus-fokus rekayasa yang sangat detail, sehingga Insya Allah, anda semua bangsa Indonesia yang anda cintai, yang anda ayomi, akan diselamatkan oleh Allah, amin.”, tegas Cak Nun.

Tepat pukul 02.35 WIB, Mocopat Syafaat edisi bulan Juli 2014 dipuncaki dengan Indal Qiyam dan doa bersama yang dipimpin oleh Syekh Mustofa Al Haqqani. [Red JS/Hilmi Nugraha]