Milad NM ke-3 dan Relaunching Majalah Sabana

Sabana bukan majalah Indonesia bukan majalah kebudayaan nasional. Tidak mengurusi Indonesia, tidak mengurusi apa-apa.

Rabu, 9 Juli 2014, Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib (Rubud EAN) di Jalan Wates km 2,5 Gg. Barokah No. 287 Kadipiro Bantul Yogyakarta malam itu sudah dipenuhi oleh Jamaah Maiyah dan juga masyarakat umum. Padatan jamaah sudah tampak mulai dari pendopo hingga dihalaman parkir. Malam itu diadakan acara Milad Nahdlatul Muhammadiyyin (NM) yang ketiga serta relaunching majalah Sabana edisi keempat dengan format baru.

Memasuki pukul 20:00 WIB, Haryanto dari Nahdlatul Muhammadiyin membuka acara tersebut dimulai dari mendengarkan mars Nahdlatul Muhammadiyin yang liriknya ditulis langsung oleh Cak Nun yang kemudian diaransir oleh Novi Budianto bersama KiaiKanjeng, mars tersebut pertama kali diperdengarkan pada tanggal 9 Agustus 2011 tiga tahun silam. Setelah itu Adib selaku panitia memberikan sambutan yang kemudian dilanjutkan dengan Orasi Budaya “Pensiun” oleh bapak Mustofa W. Hasyim yang sebelumnya menjabat sebagai redaktur pelaksana “abadi” di Majalah Suara Muhammadiyah selama 21 tahun, momentum pensiun beliau tersebut juga sekaligus menjadi penanda bahwa beliau akan aktif secara total di Nahdlatul Muhammadiyin yang sudah memasuki tahun ketiga ini.

“Pensiun bukan sebuah titik untuk berhenti,” kata pak Mustofa. Dalam orasinya pak Mustofa menceritakan kisah hidupnya hingga bersentuhan dengan dunia jurnalistik. Dimulai belajar dari buku dan media, hingga memberanikan diri mewawancarai seseorang bermodalkan teknik wawancara yang dipelajarinya dari buku. Di tahun 1989 pak Mustofa merantau ke Jakarta dan mendapatkan pelatihan di Balai Kewartawanan selama satu tahun. Disinilah pak Mustofa merasa mendapatkan “gemblengan” pendidikan jurnalistik paling keras diseluruh dunia. dari teori hingga praktek. Berbagai cerita unik mewarnai proses pendidikan jurnalistik pak Mustofa. Dari disuruh editing berita, ikut digusur oleh Satpol PP (Pamong Praja) hingga pernah di todong senjata api oleh aparat keamanan. Pak Mustofa pulang kampung ke Yogyakarta dan menjadi redaksi Harian Masa Kini. Pak Mustofa merasa senang menjadi wartawan, karena bisa bertemu dengan siapa saja.

Hingga sampai dengan saat ini pak Mus sudah menulis novel sebanyak 16 buku. Novel-novel itu terinpirasi dari fakta-fakta yang ditemui selama perjalanan menjadi wartawan ke seluruh Indonesia. Selain kewartawanan, pak Mustofa juga bergelut dibidang penerbitan buku. Dimulai dari masuknya beliau di LP3Y (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta), sebagai anggota divisi kliping. Pekerjaannya adalah menyeleksi berita yang masuk, setiap hari harus membaca 7 hingga 8 koran. Buku pertama yang beliau buat adalah buku klipingan dari berita tertentu yang dikumpulkan kemudian dijadikan buku. Kemudian pak Mustofa diajak untuk bergabung oleh Sholahudin Press, penerbit baru milik UGM. Pak Mustofa bercerita awal mulanya mengapa dirinya suka menulis buku, ketika itu ayahnya yang seorang tentara suka bercerita mengenai zaman perang, sehingga cerita-cerita itu kuat melekat dalam ingatannya, kemudian dituangkan kembali oleh beliau kedalam tulisani. Terkait dengan Nahdlatul Muhammadiyin pak Mustofa merasa senang dengan adanya lembaga ini, karena memang sejak kecil menyukai berorganisasi. Mulai dari yang kecil-kecil seperti kepanitiaan tarawih anak-anak hingga pada Nahdlatul Muhammadiyin sekarang ini.

Setelah bapak Mustofa menyampaikan orasi budaya “pensiun”-nya, acara dilanjutkan dengan relaunching majalah Sabana yang dibuka oleh mas Toto Rahardjo. Secara simbolis Slamet Riyadi, pemimpin majalah Sabana memberikan majalah Sabana dengan format yang baru kepada presiden Komunitas Lima Gunung, mas Tanto Mendut.

Acara selanjutnya adalah re-launching majalah Sabana dibuka oleh Pak Toto Raharjo. Secara simbolis Mas Slamet Riyadi, pemimpin redaksi Majalah Sabana memberikan Majalah Sabana yang baru kepada Mas Tanto Mendut sebagai perwakilan jamaah. Kemudian Cak Nun mulai sesi ini dengan penjelasan transformasi majalah Sabana dari majalah sastra menjadi majalah kebudayaan.

Cak Nun memperkenalkan penggiat-penggiat Sabana yang hadir malam itu, yaitu Slamet Riyadi, yang merupakan penyair dan aktivis jurnalistik, ada juga Iman Budi Santosa, penulis berbagai buku puisi dan tentang budaya Jawa. Cak Nun mengajak yang hadir untuk kilas balik ke era Persada Studi Klub (PSK). “Sekarang anda tidak bisa merasakan, diwaktu itu yang namanya kesenian, puisi, estetika begitu penting, begitu bermartabatnya didalam nilai kebudayaan masyarakat. Sekarang kan nabi sudah tidak ada harganya,“ ujar Cak Nun.

Ada Teguh Ranusastra Asmara dan Suwarno Pragolapati. Mas Warno adalah orang yang mendokumentasikan segala sesuatu tentang kesenian di Yogyakarta. Dari kliping berita tentang seni hingga karcis bis terekam sempurna oleh mas Warno dan sekarang tersimpan di perpustakaan EAN.

Ons Untoro dari Rumah Budaya Tembi hadir pula pada acara malam itu. Ons Untoro merupakan teman berproses Cak Nun dan teman-teman PSK yang dulu aktif di rubrik sastra Insani. Selain itu ada juga Eka Ardhana yang di Sabana edisi kali ini menulis tentang perjalanan kreatifnya dari Riau ke Jogja. Juga hadir Budi Sarjono yang dulu ketika di PSK aktif dalam bidang penulisan cerpen, pada Sabana edisi kali ini juga menuliskan cerpennya.

“Ini bukan majalah. Ini adalah lapangan dimana anda berhubungan dengan sumber-sumber anda. Sumber-sumber anda tidak perlu jauh-jauh. Cukup Cak Fuad, Pak Nursamad Kamba, Pak Mustofa W. Hasyim, Toto Rahardjo, dan juga teman-teman Sabana, saya, ya hanya itu lah,” jelas Cak Nun.

“Ini segmennya sudah jelas, teman-teman Maiyah dan komunitas ini. Dan ini bukan majalah Indonesia bukan majalah kebudayaan nasional. Ora ngurusi (tidak mengurusi, -red) Indonesia, ora ngurusi opo-opo (tidak mengurusi apa-apa, -red). Ngurus wong sing dadi sumur, karo sing nimba ning sumur (hanya mengurusi orang yang jadi sumur, sama yang menimba sumur). Hanya begitu saja”, Cak Nun melanjutkan.

Cak Nun dan Iman Budi Santosa mulai menggali tulisan-tulisan apa saja yang dimuat Sabana edisi kali ini. Di mulai dari rubrik Khasanah, berjudul ‘Piwulang Estri’. Iman Budi Santosa menjelaskan bahwa tulisan ini adalah bentuk reportase yang ditulis Tegus ranusastra Asmara yang bersumber dari kegiatan mas Manu Jayatmaja yang aktif nguri-nguri kabudayan Jawi di Yogyakarta.

“Teguh dan mas Amir Sutoko kita beri tugas menggali Mas Manu. Karena mas Manu yang Khatolik ini kita kejar dua hal, yang pertama beliau mengatakan, ilmu yang tertinggi adalah “Ashadu ala illa ha ilallah,” ujar Cak Nun. “Tolong dipahami dulu makna kata ‘asyhadu’ itu dulu. Dicicil ini dulu, ndak usah dalam-dalam dulu”, Cak Nun menambahkan.

“Yang kedua, mas Manu mengatakan, besok-besok peradaban dunia akan sangat berubah dan akan lebih feminis sifatnya. Kalau sekarang kan sifatnya sangat maskulin, sangat ingin menguasai, sangat ingin menjajah, sangat ingin mengkooptasi. Dan mas Manu mengatakan, kedepan aksara Jawa akan dikawinkan dengan aksara Arab yang dipakai untuk al Quran. Huruf berbeda dengan aksara”, ujar Cak Nun. “Kita harus pelajari pelan-pelan tentang ini, ditengah situasi sejarah kita yang dibesarkan oleh huruf latin. Sekarang penulisan arab ke latin itu sudah kacau balau. Dan itu dipelopori oleh orang arab itu sendiri. Karena orang arab tidak menguasai barat. ‘alladzi’ oleh mereka ditulis ‘allathi’. Karena mereka tidak kenal kepada roso bunyi sejak awal. Ibunya bunyi mereka tidak kenal,” lanjut Cak Nun.

“Jadi ini saya sekedar menggoda anda mengenai aksara. Daripada anda pusing tentang segala sesuatu yang akan jadi penyakit dalam hidup anda, diwilayah politik, wilayah sosial kebudayaan, wilayah pasar bebas, mending anda khusyuk dengan pembelajaran-pemebalajaran yang sejati dalam hidup anda. Dan itu akan menjadi aura yang baik untuk keluarga anda. Dan akan menjadi resonansi yang tepat untuk masa depan seluruh masyarakat kita.”

Cak Nun memaparkan dulu setelah UUD 45 diamandemen sehingga MPR tidak berperan lagi, maka secara kebudayaan kita mendapatkan akibat kita ini seperti yang hanya pegang pisau dapur. Mungkin masih punya pedang, tapi sudah tidak punya keris. Negera ini tanpa sesepuh, negara ini tanpa kenegarawanan. Ini kalau ngomong struktur politik”.

“Ternyata kita sekarang tidak hanya kehilangan wilayah panembahan, begawan, kasepuhan, yaitu keris itu tadi. Kita sudah kehilangan pedang juga. Kita tidak bisa medang singapura, kita tidak berani tanding sama malaysia, kita tidak berani tanding dengan siapa-siapa. Karena kita tidak punya pedang lagi. Pedang itu paralelnya adalah ksatria. maka judul Kenduri Cinta (lingkar Maiyah di Jakarta), “Bayang-Bayang Para Ksatria” itu mengingatkan kepada jamaah Kenduri Cinta bahwa pementasan seniman Lima Gunung itu sangat menggambarkan watak ksatria kita”, jelas Cak Nun.

“Pada jaman dulu, seniman tidak mau diatur. Sekarang, kita boleh mengaturnya untuk kepentingan bersama. Kalau jaman dulu, terserah dia mau menulis apa”.

“Saya adalah seniman yang tidak pernah menutup diri untuk diatur. Saya mau diatur. Tapi bareng-bareng lho ya. Untuk kebaikan bersama, saya mau diatur. Dramanya harus gimana, adegannya harus gimana seberapa panjangnya, pelakunya gimana-gimana, saya mau diatur, tapi untuk perundingan bersama. Karena saya tidak menyembah drama, saya tidak menyembah teater, saya tidak menyembah dunia tulis menulis, saya mempersembahkan karya tulisan, drama dan apapun ini untuk kemanusiaan dan kebudayaan”, lanjut Cak Nun.

Budi Sardjono kemudian diminta menjelaskan tentang intisari cerpen yang dibuatnya dan dimuat oleh sabana. Kemudian Iman Budi Santosa melanjutkan penjelasan tentang rubrik-rubrik di Sabana. Tulisan selanjutnya dari Djoko Passandaran yang termasuk Ragil malioboro yang menulis tentang bagaimana isi keindahan puisi Umbu Landu Paranggi.

Cak Nun sedikit menceritakaan pengalamannya bersama Kiai Kanjeng keliling 4 kabupaten di Kalimantan, sewaktu kerusuhan Sampit antara Suku Dayak dan Madura. Kemudian ada tulisan dari Cak Fuad dalam kolom Kisaran, yang berjudul “Antara Agama dan Budaya dalam perspektif Islam”. Cak Nun menjelaskan bahwa Cak Fuad ini adalah rujukan ilmiah utama ilmu Maiyah.

Deded Er Moerad menulis tentang riwayat lahirnya musik puisi yang lahir tahun 70-an di Malioboro. Dari poetry reading, poetry singing, hingga berbagai macam modifikasi perpaduan musik dan puisi.

Iman Budi Santosa ikut menulis dalam Sabana kali ini, berjudul “Wajah Nusantara dalam peribahasa”. Beliau bercerita sejak tahun 80a-n sudah mulai mengumpulkan peribahasa nusantara dari Aceh sampai Papua dan kini sudah terkumpul 852 halaman. Beliau mempersilahkan para jamaah untuk bisa mengakses kumpulan peribahasa ini, untuk dipelajari bersama.

“Di masyarakat Madura terdapat peribahasa yang artinya ’daripada menjadi ekor ular besar, mendingan jadi kepala ular kecil’. Dan sekarang terjadi dalam wilayah politik kita”, ujar cak Nun. Rubrik selanjutnya bernama Talang, ceret, gentong. Diisi oleh tulisan Cak Nun, berjudul “Kenapa Semut Beranak Sapi”. Ini adalah tafsir nekat Cak Nun atas lagu dolanan “Semut Ireng, Anak Sapi”. Bangsa kita adalah bangsa semut, yang hidup sangat bergotong royong. Sistem sosialnya luar biasa, organismenya luar biasa. Dan sangat komunal, lincah, tidak bisa dibunuh orang. Bisa dibunuh, tapi masih banyak. Dan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun, sehingga kita bikin suit, semut bisa mengalahkan gajah. Tapi cita-cita kita menjadi sapi. Padahal sapi tugasnya hanya tiga selama hidupnya, disuruh membajak sawah, diperah susunya, dan jika sudah tua disembelih. Kita disuruh membajak sawah, padahal itu adalah sawah kita sendiri, nanti hasil panen itu diberikan kepada petani internasional. Kita diperah susunya melalui freeport, newmount.

“Jadi saya menegaskan pada teman-teman Maiyah, penyadaran seperti ini hanya berlangsung internal Maiyah, tidak usah  jadi rerasanan di media sosial. Jadi kalau kedalam Maiyah sifatnya penyadaran, kalau keluar Maiyah sifatnya pengayoman. Kalau memang belum saatnya diceritakan malah kontraproduktif dengan kita, jadi marah, bukan malah jadi sadar,” ujar cak nun.

Selanjutnya ada rubrik Rumpun yang berisi rekaman peristiwa tentang event Banawa Sekar di Trowulan kemarin. Cak Nun menjelaskan tentang tahap-tahap lanjutan Banawa Sekar yang masih akan dikerjakan Maiyah, “Sebenarnya capres ini tinggal belajar dari Banawa Sekar, visimisinya. Beres nantinya.  Tapi kan mereka tidak bertanya.

Ada juga kiriman tulisan dari Hongkong yang berisi tentang kegiatan sastra yang berlangsung pada komunitas buruh migran di Hongkong. Cak Nun bercerita tentang pengalamannya ke Hongkong bersama mbak Via dan Kiai Kanjeng. Cak Nun bangga dengan kemampuan para buruh migran kita di Hongkong, begitu trampil, rajin, kuat, dan tangguh. “Disini tukang becak aja punya filsafat dalam hidupnya, kalau di luar negeri, harus dosen dulu baru bisa berfilsafat”.

Cak Nun kembali mengajak yang hadir untuk memasuki kisah-kisah uniknya pada tahun 70-an dan mengambil hikmah tentang psikologi watak manusia yang begitu luas. Termasuk Umbu Landu Paranggi, Cak Nun menceritakan bahwa dulu ia suka menyuruh Cak Nun menulis, kalau ada apa-apa ”Em, kamu yang nulis ya”, lama-kelamaan Cak Nun mahir menulis. Dari sini Cak Nun menegaskan begitulah guru, dia tidak mengajarkan melainkan merupakan atmosfer yang merangsang muridnya.

Acara kemudian dikembalikan kepada Haryanto untuk memulai diskusi dengan para penggiat Nahdlatul Muhammadiyin. Pak Marzuki memperkenalkan semua simpul-simpul srawung Nahdlatul Muhammadiyin yang tersebar di kiblat papat, yaitu Kiai Abdul Muhaimin, pak Muhidin dari Wonolelo, pak Hardi dari Lereng Merapi. Pak hardi merupakan pencetus ijtihad ‘arabe digarap, jowone digowo’.

Kiai Abdul Muhaimin memulai testimoninya tentang Nahdlatul Muhammdiyin, diskusi pada forum seperti ini tidak hanya pembicaraan pada level fisik, tapi juga berbicara pada level spiritual. Pak Hardi dari Lereng Merapi berbicara tentang kebudayaan Jawa yang hampir luntur. Pak Muhidin berbicara tentang kegelisahannya sekarang, dan berharap daerahnya, Wonolelo, bisa menjadi tempat untuk ‘ndeder kastrio’ bersama dengan jamaah Maiyah dan Nahdlatul Muhammadiyin.

Setelah itu moderator membuka sesi tanya jawab dan mempersilakan beberapa penanya untuk ikut berinteraksi. Penanya pertama menanyakan kenapa dari presiden pertama sampai presiden terakhir tidak ada yang berkumis?. Cak Nun menjawab dengan berkaca dari timnas U-19. Tentang ideologi timnas U-19 yang sangat menjadi diri sendiri dalam bermain sepakbola.

“Ideologi terpenting dari U-19 adalah, dadio satrio (jadilah kesatria, -red). Jadilah dirimu sendiri. Dan ini ternyata bukan hanya masalah sepakbola, tapi juga petani, seniman, hingga beragama. Bukan terus menjadi orang arab dalam beragama, jika kita berteknologi maka menjadi orang barat,” jelas Cak Nun.

Bukan urusan budaya, bukan urusan nasionalisme, tapi ini adalah urusan akidah. Akadmu dengan Allah adalah kamu ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Itu adalah lembaran akad kita dengan Allah. Bahwa presiden belum ada yang berkumis karena belum satria. Masih wandu. Katanya demokrasi tapi presiden yang memilih parpol. Katanya negara tapi malah ada pasar bebas.

Sesi tanya jawab menjadi puncak pada acara milad Nahdlatul Muhammadiyin dan Relaunching majalah Sabana tersebut, kemudian ditutup tepat pukul 00:35 WIB, diakhiri dengan doa bersama oleh Kiai Abdul Muhaimin. [Red Juguran Syafaat/Hilmy Nugraha]