Meneguhkan Mabdâ Maiyah, Merumuskan Keteraniayaan

Mabda Miyah, panduan ini berlaku universal sekaligus kontekstual melalui terapan pola komprehensi berpikir Maiyah.

Semakin Canggihnya Bentuk Penjajahan

Panduan ini berlaku universal sekaligus kontekstual melalui terapan pola komprehensi berpikir Maiyah, tanpa tergantung bagaimana keadaan yang segera akan berlangsung, juga tidak berubah oleh siapapun yang berkuasa dan tidak berkuasa.

Setelah berempati, mengamati, mengalami, menyelami dan merenungi tahap-tahap proses Pileg dan Pilpres NKRI 2014, Masyarakat Maiyah dengan kecerdasan akal, kepekaan batin dan kewaskitaan membedakan antara yang tersurat dengan yang tersirat — telah memperoleh pembelajaran sejarah yang sangat besar, sehingga Masyarakat Maiyah semakin memahami dan mengerti:

  1. Semakin transparan dan semakin canggihnya bentuk-bentuk penjajahan baru, yang ujung tombaknya adalah penjajahan informasi, dengan hulu ledak rekayasa penguasaan atas Negara dan Bangsa, yang mesiunya adalah manipulasi, tipudaya dan dis-informasi, dan yang sasaran ledaknya adalah pembodohan absolut dan keterjajahan total.
  2. Semakin kasat-matanya ancaman-ancaman global dan nasional, yang menjaring masyarakat untuk disandera oleh sihir kata-kata, gambar, warna dan bunyi, ditelan oleh egosentrisme dan kesepihakan, dipenjara oleh ketidakmengertian yang akhirnya dikonsumsi dan diyakini sebagai kebenaran, serta dikungkung oleh fakta aktual firaunisme di dalam setiap diri, yang mewujud oleh akumulasi kebohongan dan kepalsuan.
  3. Fakta-fakta politik yang menunjukkan betapa kekuatan-kekuatan besar global, yang mempekerjakan kekuatan-kekuatan nasional, semakin keras berusaha tidak membiarkan NKRI benar-benar merdeka dalam arti yang sebenarnya, termasuk kenyataan independen atau tidaknya pelaksanaan pergantian kekuasaan.

Peta dan Tekstur Kejahatan atas Bangsa

Besertaan dengan itu, khusus yang berkaitan dengan persoalan kebangsaan, Masyarakat Maiyah juga mendapatkan bahan-bahan pembelajaran yang melimpah untuk meneruskan dan mematangkan proses pemikirannya tentang Bangsa dan Negara.

  1. Bagaimana semestinya Negara dan bagaimana seharusnya Pemerintah. Termasuk kewaspadaan untuk tidak menyangka Perusahaan sebagai Negara, Penjajahan sebagai Demokrasi, Eksploitasi sebagai Kemajuan, atau Tipudaya Neo-kolonialisme sebagai Pemilu.
  2. Kekuatan dan kelemahan Demokrasi, terutama proporsinya: di mana, dalam bidang dan konteks apa ia baik untuk diterapkan, juga bagaimana menentukan batas kemerdekaan dan kemerdekaannya.
  3. Manfaat dan mudlaratnya media informasi, mulia dan jahatnya berita-berita, termasuk bagaimana seharusnya hubungan timbal balik antara Negara dan Institusi Media, terutama kewajiban dan haknya.
  4. Betapa bangsa ini, bahkan kaum intelektualnya, sangat tidak memiliki pertahanan terhadap arus dusta sejarah yang melindasnya, terhadap praktek-praktek sangat terang benderang menyebarkan kebohongan dan pemalsuan.
  5. Kenyataan-kenyataan sangat transparan tentang eksploitasi dan manipulasi atas nilai-nilai, logika, Agama, bahkan Tuhan, untuk mencapai kepentingan yang sangat rendah derajatnya.
  6. Degradasi atau kemerosotan yang luar biasa hampir di segala bidang aktivitas manusia, masyarakat, bangsa dan Negara. Kemerosotan nilai, moral, mental, organisasi sosial, bahkan mungkin saja sesungguhnya sedang terjadi kemusnahan spiritual.

Semakin Melimpah dan Panjang Rizki Perjuangan

Semua itu memperjelas bahwa Allah Swt menganugerahkan kepada Masyarakat Maiyah rizki yang berupa peluang dan medan perjuangan, yang semakin melimpah tantangannya serta semakin panjang waktunya.

  1. Bahwa urgensi untuk merombak prinsip ketatanegaraan, konstitusi, hukum dan aturan-aturan, dari tingkat dasar filosofi hingga aplikasi-aplikasi pragmatiknya – semakin jauh dari harapan untuk dirintis pelaksanaannya.
  2. Bahwa seluruh peristiwa dan dinamika pergantian kekuasaan yang gegap gempita itu para pelakunya, termasuk kadar pengetahuan dan kemampuan para calon penguasanya: jauh dari memenuhi syarat untuk akan mampu mengatasi komplikasi masalah-masalah kenegaraan dan kebangsaan yang Masyarakat Maiyah sudah lama secara bertahap merumuskannya.
  3. Dengan demikian apabila Masyarakat Maiyah masih terpenjara dan mandeg pemikirannya di dalam kurungan kecil yang memenuhi kepalanya dengan pertanyaan “A atau B kah yang berkuasa”, maka ia bersabar untuk membaca kembali kitab alam nilai Maiyah dari lembaran pertama.
  4. Masyarakat Maiyah semakin dikepung oleh kenyataan-kenyataan yang makruh dan yang haram, yang masyarakat umum dan mayoritas bangsa melihat intervalnya justru antara wajib dengan haram, dengan sebagian mewajibkan yang haram dan mengharamkan yang makruh, sementara sebagian lain mewajibkan yang makruh dan mungkin memakruhkan yang haram.
  5. Sehingga diperlukan ilmu dan energi untuk bersegera menentukan maqam dan sikapnya: seberapa besar energi harus disiapkan untuk situasi makruh yang penuh ujian, atau seberapa besar harus disiagakan untuk kenyataan haram yang penuh kebingungan, jebakan dan penderitaan batin.
  6. Bahkan Masyarakat Maiyah perlu menyiagakan diri untuk hadirnya situasi-situasi brubuh yang dalam ghirah perjuangan sangat menggairahkan, namun secara batin sangat memberi cekaman, tikaman dan kesengsaraan, bahkan secara fisikpun tidak ringan untuk ditanggung.

Tahlukah dan Mabdâ Maiyah

Masyarakat Maiyah dianjurkan untuk semaksimal mungkin melakukan beberapa hal mendasar:

  1. Melaksanakan lebih lanjut Wirid Tahlukah secara bertahap atau sekaligus, secara sendiri atau bersama, tetapi dilandasi dengan pemaknaan baru, penglihatan dan kesadaran yang lebih meluas dan mendalam, serta dengan dambaan dan pengharapan yang lebih tepat dan terukur kepada Allah Swt.
  2. Memenuhi diri dengan rasa syukur tak terhingga kepada Allah Swt atas anugerah-Nya kepada seluruh Masyarakat Maiyah berupa kecerdasan yang jernih, kearifan yang dewasa, kesabaran yang tepat sasaran, serta tenaga batin yang luar biasa besar untuk tetap bertahan menyayangi dan mengayomi bangsa Indonesia.
  3. Masyarakat Maiyah, setelah sekian lama belajar kepada Allah dan Rasulullah seharusnya sudah memiliki kecerdasan sosial untuk menyadari kemurahan Allah dengan anugerah alam Indonesia, dan karena itu mensyukuri dan mengapresiasi dengan tidak membiarkannya dieksploitasi dan dieksplorasi oleh pasukan-pasukan Dajjal MataSatu, pada saat yang sama juga menyadari bahwa membiarkan semua itu terjadi adalah termasuk menganiaya diri sendiri.
  4. Masyarakat Maiyah, setelah ditempa oleh berbagai pengalaman dari peristiwa-peristiwa sejarah, baik oleh Rencana Allah sendiri maupun oleh rekayasa pasukan dajjal matasatu, seharusnya sudah memiliki kesadaran politik untuk tidak mudah dibohongi dan dipecundangi oleh anak-anak bangsa sendiri yang, karena hati mereka telah dibutakan oleh Allah maka perbuatan mereka yang sia-sia dan merusak dianggapnya baik (al-akhsariina a’maala ~al-kahf).
  5. Masyarakat Maiyah melalui ‘i’tikaf’ maiyah, do’a-do’a tahlukah, wirid, shalawatan dll ritual Maiyah kiranya Allah Swt dan Rasulullah Saw menegaskan petunjuk-Nya kepada seluruh Masyarakat Maiyah agar melakukan antisipasi dan identifikiasi tanda-tanda zaman dimana Allah mengisyaratkan untuk segera menerima amanah dari Allah menjaga dan memelihara bumi Allah sokoguru khatulistiwa.
  6. Masyarakat Maiyah meneguhkan kembali Mabdâ Maiyah, prinsip nilai Maiyah, hulu keberangkatan Maiyah, perspektif peletakan diri Maiyah, serta posisi dan sikap Maiyah, di tengah beragam konteks, tema kenyataan dan peta komplikasi masalah bangsa dan masyarakat Indonesia. Yakni : (Kuda- kuda Cinta Segitiga Allah-Muhammad-Kita) (Iman tanpa reserve hanya kepada Allah swt) (Keridhaan atas qadla-qadar Allah Swt) (Terus bekerja keras dan bersyukur) (Ibadah kasih sayang kemanusiaan) (Pengayoman kebangsaan) (Keteguhan independensi) (Kesetiaan nasionalisme) (Ketepatan meletakkan diri secara sosial, budaya dan politik) (Hati sumeleh, fikiran suci, jiwa penuh iradah dan amr Allah swt) (Meningkatkan kewaspadaan informasi dan kehati-hatian komunikasi)
  7. Masyarakat Maiyah menyusun dan meningkatkan pertahanan pribadi dan bersama dari kontaminasi yang bersumber dari arus besar dusta politik, kebohongan informasi, manipulasi fakta, kejahatan nasional-maksimal yang lahir dari nafsu berkuasa, kelicikan komunikasi, pemutar-balikan makna, eksploitasi Tuhan, Nabi dan Agama, yang seluruhnya sudah dan sedang berlangsung secara sangat ekstrem dan total. Jika kadar kejernihan dan independensi berpikir Masyarakat Maiyah lebih kecil atau lemah dibanding kadar kontaminasi dan kete-racun-annya, maka Maiyah telah tergeser ke wilayah mudlarat, dan justru menjadi manfaat kalau dibekukan, dihentikan, untuk sementara waktu atau selama-lamanya.
  8. Kalau ternyata anti-toxin Maiyah atas kondisi bangsa yang diayominya malah menjadi racun bagi Masyarakat Maiyah, maka pembekuan Maiyah menjadi keharusan. Apalagi jika Masyarakat Maiyah menjadi lupa dan kehilangan kesadaran terhadap posisi dan ‘nasib’ mereka sendiri sebagai kaum ghuraba di tengah mainstream sejarah yang kini sedang menyelenggarakan peralihan kekuasaan itu.
  9. Pesan minimal saya adalah Masyarakat Maiyah menyiapkan sebagian besar tenaga batinnya untuk mengalami kekecewaaan demi kekecewaannya atas kondisi apapun sesudah peralihan kekuasaan bangsa yang diayominya itu. Pesan maksimal saya adalah penumbuhan kesadaran bahwa mainstream atau arus utama sejarah bangsa yang disayangi dan diayominya itu sebagian besar meremehkan fakta Masyarakat Maiyah, menganggapnya tidak ada, tidak pernah sungguh-sungguh perduli terhadap apa yang dilakukannya, disepelekan dan direndahkan oleh media-media arus besar itu, sebagian kecil hanya menikmatinya secara konsumtif namun tidak mengimbanginya secara rasional tatkala mereka berpikir kebangsaan dan kepemimpinan.
  10. Karena di tengah totalitas manusia menempuh perjalanan abadi menuju 10 akhirat, Allah menganjurkan agar manusia tidak melupakan “nasibnya di dunia”, maka secara pribadi saya sendiri sedang pelan-pelan menghitung, mengidentifikasi, mengkronologi, menyusun dan merumuskan keteraniayaan dan ketertindasan sejarah saya pribadi di tengah bangsa yang saya cintai dan di dalam kekuasaan arus besar pelaku-pelaku sejarah “Dajjal Mata Satu” yang sangat mengutamakan kecurangan, ketidakadilan, kelicikan, pembunuhan eksistensial dan pemusnahan historis yang sangat tertata rapi formula dan strateginya. Hal itu saya lakukan, sampai saat ini, tanpa menuntut Masyarakat Maiyah untuk berempati atau membela saya dari era demi era penganiayaan atas diri saya. Masih terus akan saya biarkan Masyarakat Maiyah tidak memperdulikan sejarah keteraniayaan saya, sampai nanti akan tiba suatu momentum dengan takaran nilainya, di mana konteks ‘shadaqah’ saya itu berubah menjadi “penganiayaan saya atas diri saya sendiri”.
  11. Akan tetapi di dalam diri saya tidak mungkin saya izinkan Masyarakat Maiyah tidak menghitung nasibnya sendiri, mengkalkulasi ketertindasannya oleh arus besar yang menguasai bangsa yang Masyarakat Maiyah mengayominya, dengan berbagai metodologi dan cara pandang, sudut pandang, sisi pandang maupun jarak pandang. Dan kalau pesan ini kemudian tidak melahirkan penyadaran, upaya formulasi dan langkah- langkah aplikasi yang memadai pada perjalanan Masyarakat Maiyah, maka kenyataan itu akan memberi hak kepada saya untuk secara bertahap mengalihkan konsentrasi saya pada perjuangan Maiyah saya secara pribadi
  12. Setelah seluruh gegap gempita Juli-Oktober 2014, Masyarakat Maiyah sebaiknya merenungi, mencari, kemudian menemukan perubahan-perubahan berbagai kadar dan tingkat yang harus dilaksanakannya dalam skala pribadi, kebersamaan Maiyah maupun kemasyarakatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Masyarakat Maiyah berhutang kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw untuk lebih bersegera mereformulasikan dirinya dan menata kembali kematangan dan kedewasaan langkah-langkah perjuangannya.

Ahmad Fuad Effendy
Nursamad Kamba
Muhammad Ainun Nadjib
Kadipiro 17 Juli 2014

Anda bisa mendapatkan salinan tulisan tersebut dalam bentuk PDF disini.