Menata Hati dan Pikiran Menghadapi 2014

Hari-hari yang berjalan gaduh menjelang pemilu 2014, riuh-rendah kebisingan politik dan kecemasan-kecemasan tentang bagaimana nasib Indonesia.

Mizan bukan nama yang asing lagi dalam kancah industri buku Nasional. Penerbit yang berkantor pusat di Bandung itu, telah banyak diketahui sebagai salah satu penerbit yang rajin memproduksi buku-buku bertema Islam. Selain kegiatan penerbitan, lembaga itu juga memiliki sebuah forum diskusi rutin yang digelar di kantor redaksi Mizan, Jalan Cinambo No. 135, bernama Mizan Eksekutif Forum. Sebuah wahana yang bertujuan memberikan pencerahan dan juga ilmu dari berbagai macam disiplin. Tanggal 7 Februari kemarin, secara resmi Cak Nun diundang sebagai narasumber tunggal pada forum tersebut.

Diskusi dengan Cak Nun, dibuka dengan ajakan untuk merenungkan sisa usia dalam menata harapan untuk hidup yang lebih baik, termasuk dalam kaitan dengan masa depan Indonesia. Hari-hari yang berjalan gaduh menjelang pemilu 2014, riuh-rendah kebisingan politik dan kecemasan-kecemasan yang menyusup di ranah sosial tentang bagaimana nasib Indonesia, jangan sampai menjadikan generasi muda keliru dalam meletakkan konsentrasi. Pada topik ini, Cak Nun menegaskan tentang perlunya membenahi cara berpikir terhadap fenomena apapun, supaya lebih jernih meneropong persoalan. Baik itu perkara yang berkenaan dengan pribadi, sosial hingga soal kenegaraan. Memupuk semangat untuk terus mencari solusi-solusi baru atas setiap masalah dan tidak berhenti dengan pengetahuan-pengetahuan yang masih bersifat pakem. Mengedepankan kemandirian berpikir, dengan tidak asal ikut pada kesimpulan-kesimpulan konvensional, yang belum tentu benar. Proses pengolahan nalar berkesinambungan untuk menemukan kebenaran dan ilmu yang lebih segar, harus terus dipacu.

“Jadi anda harus menjadi manusia yang mujtahid. Itiba boleh, ngikut boleh, tapi anda harus paham persis apa yang harus anda ikuti. Nah, yang terjadi sekarang kan taklid mbak. Satu ngetut (mengikuti-jawa-red) ini, semua ngetut ini. Yang satu nuduh itu, sedang lainnya nuduh itu. Manut grubyuk (membebek buta) kalau bahasa jawanya. Atau seperti peribahasa rubuh-rubuh gedang (roboh beruntun layaknya pohon pisang)”.

Cak Nun mencontohkan, bagaimana fenomena rokok di Indonesia telah menjadi tema yang terus-menerus dituding negatif. Iklan-iklan korporat swasta maupun pemerintah rajin menulis tentang bahayanya, bahkan belakangan kian lantang dengan meneriakkan kalimat “Merokok Membunuh Anda”. Padahal apabila digali lebih dalam, rokok bukan satu-satunya bahan yang membuat orang dijelang kematian. Segala hal yang didunia ini berpeluang untuk menyebabkan kematian itu. Dari asap kendaraan, polusi pabrik, hingga konsumsi gula. Hal yang kerap dijadikan fokus bahasan, justru pada produknya, buka cara menggunakan produk itu. Apakah sesuai dengan taraf kewajaran bagi tubuh atau tidak. Jika kemudian rokok mengemuka menjadi persoalan besar kesehatan tubuh manusia, tentu harus diteliti kembali apa motif dibalik kampanye besar-besaran tersebut.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa ahlul hisap (perokok-red) itu karena komitmen kepada produk yang ditindas, buktinya sekarang saya ndak merokok selama masuk Mizan ndak masalah. Jadi saya ndak merokok itu ndak masalah. Apa saja, asal anda tidak maniak itu anda tidak masalah. Kalau anda berlebihan itu jadi masalah. Jadi yang membunuh bukan hanya rokok, tapi nasi juga membunuhmu, apa saja bisa membunuhmu. Cintapun bisa membunuhmu. Kalau kamu ingin tidak mati, hanya satu caranya, jangan hidup. Jadi, saya kasihan sama rokok. Lha wong knalpot saja ndak dikasih peringatan, polusi pabrik ndak dikasih peringatan dan tidak dibilang membunuh. Tapi rokok dibilang membunuh. Atau gula, sudah jelas banyak orang sakit gula, berjuta-juta tapi gulanya tidak diapa-apain. Jadi ada diskriminasi yang luar biasa”. Kemudian Cak Nun melanjutkan, “Ini bukan soal rokoknya. Maksud saya ini supaya kita tidak berhenti pada pengetahuan-pengetahuan pakem saja. Anda harus tetap mencari terus. Anda harus berijtihad terus. Karena dalam islam kan cuma 3, ijtihad, itiba, taklid”.

Bahasan mengenai rokok tersebut dilengkapi dengan pengalaman Cak Nun yang pernah didatangi oleh rombongan peneliti kretek. Pada satu kesempatan, di Jogja, berkumpullah orang-orang yang memiliki hasil penelitian akademis-ilmiah mengenai rokok kretek. Hasil riset itu menyebut, bahwa rokok kretek itu sebetulnya bukan konsumsi layaknya makanan. Namun lebih merupakan solusi pengobatan untuk penyakit-penyakit yang menyangkut tenggorokan dan nafas. Penemuan mengenai kesimpulan itu terjadi pada tahun 1963.

“Tapi syaratnya, tembakau itu harus dengan cengkeh. Lalu minuman kopi dijadikan sebagai aktivatornya. Harus ada kopinya. Kalo merokok cengkeh, eh, kretek dipadu dengan teh nanti makin sakit. Anda sakit. Tapi kalo dengan kopi anda menjadi plus”.

Konsentrasi kepada Allah

Lebih jauh Cak Nun mengajak hadirin diskusi sore itu, untuk membenahi sikap dengan kembali serius meletakkan Allah sebagai konsentrasi utamanya. Saat melakukan kegiatan apapun tujuan primernya adalah Allah, bukan yang lain. Dimasa kini, banyak yang tergelincir dan keliru fokus, sehingga hubungan dengan Allah tertutupi oleh hadirnya pihak lain. Ustadz, kyai, organisasi keagamaan, imam-imam masjid, pimpinan politik, hadir lebih dominan sebagai pihak yang dijadikan fokus tendensi kepatuhan umat. Akibatnya, Allah kerapkali menjadi pihak yang tidak lagi ada sebagai tujuan pokok dalam beraktifitas apapun.

Topik tersebut mengalir pada sebuah pengalaman, ketika tahun 1990 Cak Nun diminta oleh Habibie untuk bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tawaran tersebut dilontarkan Habibie kepada Cak Nun dalam sebuah perjalanan diatas pesawat yang ia sewa. Cak Nun memang sedang jadi sorotan karena tulisan-tulisannya yang tajam dimedia, demikian pula dengan ceramahnya yang kritis pada berbagai kesempatan. Setelah melakukan pembicaraan, Cak Nun pun bergabung. Meski tak lama kemudian, lahir ketidaksepakatan-ketidaksepakatan yang mengubah sikap Cak Nun terhadap ICMI, sehingga membuatnya memutuskan untuk mundur. Salah satu peristiwa menggelitik yang dialami Cak Nun ketika menjadi pengurus ICMI yang cuma sebentar itu, adalah perihal sebuah pasal dalam aturan organisasi.

“Disitu ada pengumuman, bahwa semua pengurus pusat ICMI diwajibkan untuk sholat. Saya menolak. Yang boleh mewajibkan saya — apapun itu — hanya Allah. Kalau ICMI mewajibkan saya untuk sholat, itu membuat sholat saya tidak khusyuk. Kalau saya sholat kepada Allah, dunia harus tidak ada. Tidak boleh terhalangi oleh ada Aa Gym, tidak boleh ada Uje, tidak boleh tertutupi MUI, tidak boleh terhalangi Indonesia. Antara aku dengan Allah tidak boleh ada hijab. Dan selama ini, seluruh insitusi islam itu nutupi seluruh hubunganmu dengan Allah. Betul ndak?” hentak Cak Nun dengan retorika yang cerdas. Hadirin meresponnya lewat senyum. Beberapa diantaranya mengangguk-anggukan kepala.

Titik berat penataan konsentrasi kepada Allah ini, muaranya adalah menemukan Allah dalam tiap rinci kehidupan. Sebab prinsipnya, pada keadaan apapun manusia mesti menemukan Allah. Sebab itulah tujuan utamanya. Dengan akalnya, manusia mengolah metode-metode, menjabar cara-cara untuk bertemu dengan Allah. Melukar misteri hidup dan penelahaan jatidiri agar memahami Allah dari segala aspek. Jika manusia telah menemukan Allah, maka cara apapun menjadi tidak penting. “Untuk tujuan itu”, ulas Cak Nun, “manusia tinggal memilih latar belakang kebudayaan masing-masing, untuk dijadikan alat telaah menemukan Allah”.

“Mau dari kebudayaan Sunda, kebudayaan Jawa, kebudayaan Arab, Yunani, atau dari mana saja anda bisa sampai ke Allah. Bisa dengan Asmaul Husna, bisa dengan struktur 25 rasul, bisa melalui apa saja. Atau yang kecil saja. Anda bisa memakai konsep empat sahabat untuk memahami diri dan hidup, agar menemukan Allah. Apakah engkau punya kecenderungan Abu Bakar, apakah engkau Umar, apakah engkau ini Usman, ataukan engkau ini Ali. Temukan dirimu siapa. Atau engkau kadang-kadang Umar, kadang-kadang Abu Bakar, kadang-kadang Usman, kadang-kadang Ali. Ndak apa-apa. Orang punya kecenderungan bisa punya variabel yang campur-campur. Tapi yang panting, kalau mengalami apapun, harus bisa sampai ke Allah. Untuk apa makan kenyang enak, tapi tidak sampai ke Allah? Sebab, jika ujung segala urusan adalah hanya sampai ke Allah, tidak penting lagi apakah makanan itu enak atau tidak enak. Dengan menghadirkan Allah disetiap detak jantungmu, maka segala sesuatu akan menjadi ringan” lanjut Cak Nun, disambut dengan tepukan tangan hadirin.

Hari semakin sore, tapi suasana dalam ruang diskusi itu kian hangat dengan paparan Cak Nun yang diselingi lontaran-lontaran jenaka. Melalui kalimat-kalimat yang tangkas dan lancar, Cak Nun menggugah semangat hadirin untuk tidak meratap-ratapi kesulitan hidup. Melawan tiap penderitaan yang menimpa dengan membenahi orientasi, bahwa penderitaan yang dialami itu tidak lebih hanyalah kendaraan untuk menuju Allah. Tendensi apapun selain Allah mesti diletakkan sebagai akibat dari kekuatan cinta terhadap Allah. Termasuk dengan soal surga dan neraka. Keduanya harus diposisikan sebagai akibat dari kualitas hubungan manusia terhadap Allah, bukan tujuan utama.

“Makanya anda jangan tertipu oleh surga atau neraka. Karena Allah memang sengaja membuat ranjau-ranjau, membuat jebakan-jebakan, dengan membuat iming-iming kepada manusia tentang surga. Jika anda jatuh cinta kepada surga, lalu bersusah payah mencarinya, Tuhan akan bilang, “lha kamu ternyata mencari surga, kamu ndak nyari Saya tho?” Hampir semua ustadz ngomong masuk surga masuk atau masuk neraka. Allahnya jadi hilang. Jadi anda jangan tertipu oleh surga, juga oleh neraka. Menurut anda, kalau anda mencari surga, apakah pasti mendapat surga? Yang pasti, anda bisa dapat surga itu kalau anda cari siapa? Cari Allah. Makanya ngapain kamu cari yang selain Allah. Kalau anda cari Allah, dunia akhirat pun dapat semua. Surga pasti dapat. Tapi kalau anda cari surga, belum tentu dapat surga, tapi sudah pasti kehilangan Allah. Jadi kenapa kamu kepincut dengan semua ini?”

Sholat, Sholawat dan Cinta Segitiga

Ditengah suasana yang kian akrab, Cak Nun melanjutkan bahasan yang kian menarik perhatian hadirin. Topik mengenai makna sholat dan shalawat, yang selama ini lepas dari perharian umum. Terdapat banyak hal yang diperintahkan Allah kepada manusia, tanpa Allah sendiri melakukannya. Contohnya adalah perintah untuk mendirikan sholat. Tapi ada satu perkara yang diperintahkan Allah supaya dilakukan hambaNya, dan Allah sendiri juga melakukannya. Kegiatan tersebut adalah Sholawat.

Sebagai awalan, Cak Nun menjabar mengenai penerjemahan istilah “shollu” yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan dua versi yaitu sholat dan sholawat. Dalam sebuah hadits populer yang jika ditulis dengan aksara latin berbunyi, “shollu kama roaitumuni ushalli”. Dalam hadits itu, istilah “shollu” bahasa Indonesia menerjemahkannya dengan kata sholat. Sedangkan dalam surat Al Ahzab ayat 56, istilah “shollu” yang muncul disana diterjemahkan sebagai sholawat, dan pada beberapa terjemahan juga ditafsir sebagai pujian. Kutipan surat Al Ahzab bila ditulis latin berbunyi sebagai berikut: “Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa salamu taslima”. Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Cak Nun telah lama melihat perbedaan translasi ini. Karena terjemahan yang tidak disertai penjelasan terpadu dan rinci, sedikit banyak berpengaruh terhadap pemahaman umat mengenai konsep sholat dan shalwat.

“Saya biarkan hal ini berlangsung 20 tahun berlangsung. Sekarang baru mau saya tembus sedikit. Yang saya pertanyakan dari kalimat tadi, apa pekerjaan yang Allah perintahkan dan Allah sendiri lakukan? Sholawat bener? Pertanyaannya, dimana bunyinya Allah bershalawat kepada nabi? Apa wujudnya shalawat kepada Muhammad tersebut? Kalau yang disebut sholawat itu adalah bunyi “Allahuma sholli wa salim ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad” kan gitu.. terus Allah ucapannya apa? Kenapa “shallu kama roaitumuni ushalli” diterjemahkan dengan “sholatlah sebagai mana engkau melihat aku sholat”. Sedang kata “shollu” pada ayat Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi diterjemahkan dengan kata bersholawat. Lantas, apa perbedaan sholat dan shalawat?” Pertanyaan tersebut menggelitik pikiran para hadirin yang jarang mengikuti loncatan pemikiran Cak Nun.

“Jangan-jangan ini ketidakmampuan saja untuk memahami. Akhirnya dikamuflase dalam translasi Indonesia, yang satu diterjemahkan sholat, sedang yang lain diterjemahkan shalawat. Pada dasarnya makna sholat dan shalawat sama saja. Namun ternyata yang keliru adalah pengertian kita mengenai sholat itu sendiri. Orang dipatok oleh pemahaman materil bahwa sholat itu terbatas pada kegiatan yang diawali oleh takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Meninggalkan pemahaman esensial, bahwa sholat (juga sholawat – red) adalah juga kegiatan tentang komitmen cinta.

“Sholatnya manusia kepada Allah itu diberi formula oleh Allah sendiri melalui Muhammad sehingga bunyinya “shollu kama roaitumuni ushalli”. Maka orang sholat allahu akbar, samiallahuliman hamidah dan seterusnya. Itu salah satu bentuk sholat yang posisinya manusia kepada Allah. Sholatnya Allah ke kita bukan bentuk sebagaimana kita kepada Allah, sholatnya Allah kepada kita adalah cinta dan kasih sayang. Karena urusannya bukan jasad (esensial — red), tapi soal komitmen cinta. Begitu juga Muhammad ke kita, kita ke Muhammad. Muhammad ke Allah, Allah ke Muhammad. Allah ke kita, kita ke Allah. Kalau dalam Maiyah disebut Cinta Segitiga itu. Nah ini contoh kecil aja daripada mikirin Indonesia 2014, ini saja direnungkan agar bisa tenang dan beres”.

Sebelum diskusi berakhir, beberapa hadirin dipersilahkan untuk melontarkan pertanyaan. Baik mengenai kecenderungan cara beragama yang kontroversial di khalayak hingga tentang bagaimana menuntaskan masalah-masalah di Indonesia. Acara diskusi yang diselenggerakan oleh Mizan itu berakhir menjelang senja. Setelah ritual doa bersama Cak Nun masih sempat menyelipkan pesan kepada penyelenggara dan hadirin di diskusi itu. “Saya mohon ijin untuk mengatakan, kalau memang kita bisa sebulan sekali, kalau Allah mengijinkan berarti kita sudah dikasih petunjuk sekarang. Acara kita tidak hanya dialog intelektual dan kultural tapi ternyata harus ada kebersamaan spiritual sehingga diperlukan ada menit-manit atau waktu tertentu dalam acara itu yang maksudnya adalah spiritual. Itu jadi lebih bagus. Intelektual, kultural, spiritual. Itulah pedoman Maiyah Mizaniah” [Red/KC, Verbatim: Red/JS. Hilmy Nugraha]