Masa Depan Politik Mandar dalam Prespektif Agama dan Nasionalisme

Khusni Djamaluddin, Baharuddin Lopa, Subaer Kawali, adalah tokoh-tokoh Mandar yang dikenal secara karena keluhurannya, bukan karena kemahsyurannya.

Rabu, 15 April 2014, sekitar pukul 20.30 WITA, bertempat di lapangan parkir SDN 003 Kandepai Tinambung, di gelar kembali Forum Maiyah Papperandang Ate Teater Flamboyant yang dimana subtema pada malam hari ini adalah “Masa Depan Politik Mandar dalam Prespektif Agama dan Nasionalisme” yand dihadiri oleh Mas’ud Saleh, SS ( Wasekjen GP Ansor Pusat ) selaku Narasumber juga pada malam hari ini, Nahar A. Nasada, SH ( Mantan Ketua KPU Provinsi Sulawesi Barat ), beberapa tokoh masyarakat setempat dan masyarakat disekitar lokai acara, serrta siswa siswi SDN 003 Kandeapi Tinambung.

Maiyahan dimulai dengan Yasinan secara berjamaah yang dimana Pahalanya ditujukan kepada Bapak H. Tajuddin ( Ayahanda dari Muhammad Syariat Tajuddin dan Abdul Mutalib Tajuddin selaku Dewan Pembina Teater Flamboyant ) yang dimana pada hari Jumat, 11 April 2014 kemarin, beliau telah mendahului kita semua dan dilanjut dengan Irama ritmis rebana yang dipadu dengan syair shalawatan yang dilantunkan secara harmony oleh siswa siswi SDN 003 Kandeapi Tinambung.

Dalam statementnya Mas’ud Saleh mengatakan bahwa manusia hari ini sudah tidak di kategorikan sebagai manusia lagi tetapi sebagai suatu nilai nominal matematik atau angka dan di lanjut dengan beberapa pengantar terkait tema malam ini.

“Islam itu something dan Muslim itu something other sebagaimana Mandar adalah sesuatu dan orang Mandar juga adalah sesuatu yang lain atau berbeda . Masihkah kita Mandar 20 – 30 tahun yang akan datang? Secara biologis mungkin iya tetapi secara ideologinya dimana? Ini bukan kalimat pesimis tapi ini adalah suatu hal yang memicu nalar kita untuk membangun suatu optimisme bahwa kalau bukan sekarang kapan lagi yang dimana kita sebagai orang yang mengaku lahir dari tanah Mandar ini”.

Papperandang Ate 15 April 2014
Papperandang Ate 15 April 2014

“Mandar pada posisi ajaran atau pada posisi nilai, itu sangat malaqbi. Tapi pada kondisi hari itu hanya dislogankan dan tidak dilakonkan. Makanya generasi Mandar kedepan hanya akan menemukan Mandar pada posisi teks-teksnya sebagaimana kita hari ini membaca Mandar pada posis teks Aksara Lontara dan lain sebagainya. Pembuktiannya dilihat dari para pendahulu kita yang membuat aturan-aturan yang namanya pranata kebudayaan itu seperti Pamali, ussul, dan sebagainya dimana Islam hadir dengan pendekatan menyapa lokalitas. Mandar bisa jadi kedepan tetap akan ada pada sisi biologisnya tapi secara ideologis ia akan kita temukan hanya pada kritikan – kritikan tulisannya. Jika bukan kita selaku orang tua siapa lagi yang yang akan mentransfer ilmu-ilmu tentang nilai-nilai keMandaran yang malaqbi kepada generasi muda yang dimana warna dan kondisi politik hari ini sangat di jangkiti virus seperti money politik dan sebagainya”.

“Mari kita berjuang dengan keluhuran, bukan karena kemahsyuran. Khusni Djamaluddin, Baharuddin Lopa, Subaer Kawali, adalah tokoh-tokoh Mandar yang dikenal secara nasional itu karena keluhurannya, bukan karena kemahsyurannya. Orang yang berjuang dengan keluruhan ketika dipuji, itu tidak membuatnya terbang dan ketika dicaci tidak membuatnya tumbang. Itu semua adalah bekal yang penting buat kita, tapi sekarang hal-hal yang seperti itu sudah kita tangan kirikan karena kenapa? Karena sudah tidak sebanding dengan materialnya. Mereka tidak akan berbicara dari segi finansial karena mereka bermental pejuang”.

“Kalau bicara sogok menyogok, siapapun tau itu haram. Yang memberi dan yang diberi pasti itu sogok yang dimana menurut Rasulullah SAW itu Finnar atau haram. Uang inilah yang akan membeli fitnah, membeli bala’, membeli banjir. Uang yang kita terima karen money politik yang kita beri ke ke keluarga kita yang kita pakai untuk membeli makanan untuk keluarga kita, itu akan menjadi darah dan dagingnya yang dimana finishing dari semua itu adalah berbuah penyakit yang berbagai macam karena tubuh dan darahnya menyatu dengan dosis-dosis yang haram di dalamnya”.

“Sejak Rasulullah SAW Wafat, selama tiga hari tiga malam, itu Rasulullah SAW belum di semayamkan, sementara Abu Bakar sibuk berdiskusi, bermusyawarah tentang tata cara teknis pemilihan pemimpin. Rasulullah SAW tidak meninggalkan satu tekspun tentang tata cara pemilihan pemimpin. Dan itupun tidak ada di Al-Quran dan Al-Hadits. Apa hasil kesepakatan pada saat itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq menggunakan pendekatan Bai’at dari seluruh pemimpin-pemimpin Kabilah sedangkan dari Abu Bakar ke Umar Bin Khattab, tidak menggunakan metode-metode seperti itu lagi tapi Abu Bakar menunjuk langsung Umar untuk menggantikan kekhalifahannya dan penunjukkan langsung sepertu itu sering terjadi di Mandar di saat I Manyambungi memanggil kembali anaknya kembali ke Mandar untuk menghadapi prahara pada saat itu. Serta dari Umar Bin Khattab ke Usman Bin Affan yakni dengan membentuk satu komite yang disebut Electoral College. Ada tujuh orang yang dipilih untuk memilih pemimpin menggantikan Umar dan salah satu dari tujuh orang itu adalah anak Umar yang bernama Abdullah Bin Umar tetapi Umar Bin Khattab kepada Abdullah diantara tujuh orang hanya Abdullah yang tidak punya hak untuk dipilih, dia hanya punya hak memilih. Begitupun dengan pemilihan Ali Bin Abi Thalib juga menggunakan metode yang sama. Pasca Ali Bin Abi Thalib muncullah yang disebut dengan Muawiah Abu Sufyan yang mempersiapkan anaknya untuk menggantikan Ali dan terjadilah perang antara kubu Aisyah dengan Kubu Ali dan sebagainya. Dari sinilah lahirnya kepemimpinan Islam yang bersifat keturunan”.

“Kenapa Islam Indonesia memilih pendekatan demokrasi pemilihan langsung karen dia merujuk pada pendekatan Bai’atnya Abu Bakar Ash-Shiddiq. Diamana setiap warga negara apapun dengan persyaratan itu berhak untuk menentukan pilihannya, salah benar, pintar atau tidak, itu bukan urusan, tetapi negara telah memberikan keluasan kedaualatan politik pada rakyatnya untuk memilih pemimpinnya”.

“Hari pemilihan telah kita lalui pada tanggal 9 April 2014 kemarin. Saya selaku yakin dan percaya bahwa menjadi suatu kebetulan hal yang selalu mecana akhir-akhir ini adalah money politik. Saya masih percaya bahwa masih banyak orang Mandar, masih banyak diantara kita yang kemarin memilih tapi tidak dengan uang. Hanya sayangnya orang baik-baik ini tidak berkumpul untuk memilih orang yang baik pula”.

“Dan yang terakhir yang saya ingin sampaikan bahwa Pancasila ini bersifat final. Dialah Pancasila yang mampu menterjemahkan nilai-nilai Mandar kita dan Pancasila adalah sesuatu serta pemimpin kita adalah sesuatu yang lain pula. Pancasila adalah merupakan Konstitusi negara yang mengejawantahkan nilai-nilai agama yang banyak di Indonesia. Makanya apabila anda ingin melihat prototipe Islam pada zaman Rasulullah SAW, lihatlah Indonesia. Ratusan kabilah pada saat itu dipimpin oleh Rasulullah SAW, banyak agama yang dipimpin oleh Rasulullah SAW dengan satu sistem pemerintahan yang disebut dengan piagam Madinah yang memiliki tiga item yakni, pertama dia menggunakan persaudaraan sesama muslim, kedua persaudaraan sesama bangsa Arab dan yang ketiga adalah persamaan antara agama dan agama”.

“Jadi itu di atur sebagaimana Pancasila, makanya Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai teks terakhir yang diusulkan oleh Bung Karno, itu di tempatkan pada posisi pertama pada saat BPUPKI mengetuk palunya. Di Indonesia meman memiliki berbagai macam agama, tapi setiap agama pasti mempercayai bahwa Tuhan itu hanya satu. Makanya sila kedua kemanusiaan adil dan beradab meskipun hari ini kemanusiaan adil dan beradab berganti menjadi kemanusiaan yang adil dan biadab. Persatuan Indonesia menjadi seperatisme dimana-mana. Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan berubah menjadi Elitisme, bagaimana mana bisa ada keadilan sosial bagi seluruh rakyak Indonesia, yang ada hanyalah keadilan bagi keluarga dan kerabatnya sendiri”.

Rindu Rasul di cipatakan oleh Alm. Darmawi ( Cecep ) yang di bawakan oleh Teater Flamboyant sebagai selingan untuk penyegaran suasana pada malam hari ini.

“Jadi sebenarnya yang juga salah di kita,” lanjut Nahar A. Nasada SH, “ada sistem yang salah di ketatanegaraan kita, jadi sesudah reformasi itu makin buruk, karena kemudian masyarakat menuntut jatah perermpun dan proposional terbuka, itu yang membuat keadaan semakin memburuk. Banyak orang yang sudah bertahun-tahun di partai dan sangat mengerti tentang ketata negaraan, tetapi kemudian tidak terpilih, hanya karena ada calon yang mempunyai uang banyak tetapi tidak mengerti apa-apa masuk jadi caleg. Apabila ini tidak di kembalikan pada sistem lama, money politik ini akan semakin merajalela sampai-sampai ada calon yang mendirikan satu masjid di suatu daerah dan ternyata di daerah tersebut dia hanya memiliki satu suara, sehingga perlu kita jadikan pelajaran bagi kita semua”.

“Lima puluh persen umat Islam di dunia berada di Indonesia yang berarti lima puluh persennya berada di timur tengah. Semua negara timur tengah mengkalim negara Islam, tetapi perhatikan hari ini. Negara Islam Mesir hancur, Arab Saudi tinggal menunggu waktu, Irak selesai, Libya apa lagi, mereka semua mengklaim bahwa mereka adalah negara Islam, meskipun pemerintahannya kerajaan, meskipun mereka perdana menteri, meskipun mereka republik. Tetapi Indonesia tidak menggunakan kalimat negara Islam, dia punya Pancasila sebagai sublimasi dari negara ajaran-ajaran Islam. Dan kenapa Syekh Muhammad Alwi Al-Maliki melihat banyak orang Indonesia dibelakang kanannya Rasulullah SAW karena negera yang masyarakatnya yang paling banyak bershalawat kepada Rasulullah SAW adalah umat yang ada di Indonesia serta yang terakhir apabila anda ingin mengetahui suku di dunia, satu-satunya umat komunitas di dunia yang paling panjang waktu Maulidnya itu hanya ada di Mandar dan ini di kisahkan oleh Syekh Muhammad Abdul Qodir Al- Manawi Ulama’ Indonesia yang ada di Jawa Tengah”, “Closing Statement oleh Mas’ud Saleh SS “.

Do’a yang dipimpin oleh Amru Sa’dong selaku Dewan Pembina Teater Flamboyant pun menutup mengakhiri Forum pada malam hari ini dengan harapan kita semua Insya Allah mendapat berkah dan limpahan Rahmat dari Allah SWT. (Red PPA/Ahmad Arif)