Duka Cinta Indonesia

Orang Indonesia itu saking ampuhnya, kalau ada api itu bisa tidak terbakar, dan ketika bertemu air juga tidak akan tenggelam.

Sejak siang hujan cukup deras mengguyur kota Pati hingga dimulainya Maiyahan Suluk Maleman di Rumah Adab Indonesia Mulia. Namun itu semua tidak menyurutkan niat jama’ah uuntuk hadir pada Maiyahan tersebut. Habib Anis Sholeh Ba’asyin selaku tuan rumah mengawali Suluk Maleman edisi ke-25 ini setelah iringan musik yang membawakan lagu Syi’ir Tanpo Waton dan Syi’ir Abu Nawas. Suluk Maleman kali ini mengangkat tema “Duka Cinta Indonesia” yang dihidiri oleh Cak Nun dan Ki Agus Sunyoto yang pada siang harinya menghadiri Sarasehan Budaya di Demak bersama Gus Mus. Hadir juga dalam Suluk Maleman kali ini Pak Ilyas dan Pak Saratri dari UNNES yang juga aktif di Maiyah Gambang Syafaat, Semarang.

Habib Anis membuka Suluk Maleman dengan mengingatkan kepada jama’ah bahwa dalam hari-hari kedepan kita harus lebih ekstra hati-hati dan benar-benar menjaga diri. Habib Anis mengingatkan bahwa salah satu hal yang paling penting dan saat ini sudah hilang dari kita adalah cara berpikir kita dalam menyikapi bancana alam. Ketika bencana alam terjadi, kebanyakan dari kita gagal membaca ayat Allah yang disampaikan melalui bencana tersebut. Misalkan ketika terjadi Gempa Bumi, dilihat dari ilmu Geologi akan dilihat dari proses pergeseran lempeng dan sebab-sebab lainnya berdasarkan ilmu pengetahuan yang ada. Namun tidak melihat dari fakta realitas kehidupan masyarakat, apakah terjadi kemungkaran dan kedholiman di masayarakat atau tidak, apakah mereka melakukan maksiat dan sebagainya, hal ini tidak menjadi salah satu bahan untuk menyikapi terjadinya Gempa Bumi tersebut. Pada zaman Rasulullah SAW ada 4 tahap bagaiaman menyikapi sebuah peristiwa; 1. Melihat sebab, kemudian melihat Tuhan. 2. Melihat Tuhan bersamaan dengan melihat peristiwa yang terjadi. 3. Melihat Tuhan, kemudian manusia berpikir kenapa peristiwa itu terjadi. 4. Hanya melihat Tuhan.

Saat ini 4 tahapan tersebut sudah sangat jarang digunakan oleh masyarakat sekarang, akibatnya kita tidak melihat ayat-ayat Allah yang disampaikan melalui bencana alam tersebut, padahal 4 hal tersebut merupakan peristiwa kemesraan Allah kepada kita. Semua itu sudah hilang karena kita terbiasa menggunakan rasionalitas. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menganggap bahwa Allah diam saja dan tidak berbuat apa-apa, kita menganggap bahwa kitalah yang bekerja. Maka ketika terjadi sebuah bencana alam, kita tidak sanggup bermesraan dengan Allah untuk kemudian menangkap ayat-ayat Allah dibalik bencana tersebut. Seperti halnya tubuh kita yang terhubung antara satu dengan yang lainnya, maka alam pun juga sejatinya terhubung dengan semua yang ada disekitarnya. Maka terjadinya bencana alam merupakan sebuah dialog antara alam dengan kita, dan dialog tersebut adalah akibat dari terjadinya ketidak harmonisan dalam kehidupan alam semesta.

Cak Nun kemudian mengawali diskusi sesi kedua dengan memperkenalkan Ki Agus Sunyoto, Pak Ilyas dan Pak Saratri. Cak Nun mengingatkan kepada jama’ah yang hadir, yang mayoritas berusia 20-30 tahun bahwa sangat penting untuk memahami persis sangkan paran, asal-usul dan titik koordinat dimana kita berada.

“Saat ini Bangsa Indonesia sedang berada di kandungan yang terdalam dari kegelapan hidupnya, baik itu kegelapan intelektual, kegelapan moral, kegelapan spiritual, kegelapan politik dan sebagainya, berada hampir pada titik kegelapan total. Tahun 2014 ini adalah tahun ketentuan dimana kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila Allah tidak menolong kita pada tahun ini. Kita tidak akan tahu bagaimana kita meneruskan seluruhnya ini dengan kewajaran berpikir dan kewajaran merasakan sesuatu, semua ini harus ditata ulang, dan tahun ini adalah momentum penataan ulang tersebut dimana kita sangat membutuhkan pertolongan Allah dalam hal ini”.

Tingkatan Manusia

Berangkat dari kesadaran skalatik, pada tahapan pertama kita adalah makhluk Allah, kemudian meningkat menjadi manusia (insan), kemudian naik lagi menjadi manusia yang mengerti posisi kehambaannya dihadapan Allah (abdullah), dan ketika kita menemukan bahwa diri kita tidak sendirian, bahwa kita memiliki asal-usul dan bertujuan ke Allah, maka kita kemudian mengerti bahwa kita mendapatkan posisi dari Allah sehingga kita menemukan posisi kita yang lebih tinggi dari sebelumnya yaitu khalifah (khalifatullah). Khalifah ini sendiri pun sangat bervariasai, ada khalifah sebagai anggota keluarga, khalifah dalam konteks kehidupan sosial, politik, budaya, agama dan sebagainya. Itu semua berada dalam satu komprehensi yang terus menerus sehingga kita tidak pernah sempat untuk terlelap kehilangan kesadaran dari titik koordinat itu. Karena sebenarnya hidup itu sangat sederhana, kita disuruh untuk mencari siapa diri kita sebenarnya. Sekolah, orang tua dan yang lainnya bertugas untuk menemani kita agar kita menemukan diri kita. Karena kalau kita tidak bisa menemukan diri kita kembali, kita tidak bisa mengikuti jalan yang disebut “Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Dalam kehidupan berbudaya kita sering diingatkan agar kita berjalan diatas rel, tetapi tidak pernah disebutkan kepada kita dimana akhir dari rel tersebut, sehingga kita tidak mampu memperhitungkan sampai mana tujuan akhir dari rel yang kita lalui tersebut. Jika kita terus bertahan pada fase ini, maka kita akan terlihat sebagai orang yang baik-baik dan taat, tetapi kita akan bersama-sama memasuki jurang yang tidak kita perhitungkan sebelumnya.

Berdasarkan perhitungan yang ada, sekolah di Indonesia sudah berusia 114 tahun, ini artinya sekolah sudah ada sejak zaman pra kemerdekaan. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana manusia nusantara sebelum sistem sekolah itu masuk ke nusantara, apakah mereka tidak bersekolah? Kemudian, dengan adanya sekolah apakah kita menjadi lebih pintar atau dengan bersekolah justru menjadi awal mula dari kebodohan kita? Pada tahun 1909, Belanda melaksanakan sensus buta huruf di Indonesia, dari sensus tersebut disimpulkan bahwa 99% penduduk di Indonesia adalah masyarakat buta huruf, dan hanya 1% yang dinyatakan melek huruf. Namun yang tidak disadari dari sensus tersebut adalah bahwa buta huruf yang dimaksudkan adalah buta huruf alfabet ABCD dst sampai Z. Dan tidak terdata masyarakat yang melek huruf “alif, ba, ta, tsa dst”, huruf Sansakerta atau Aksara Jawa (Ha Na Ca Ra Ka). Sehingga orang yang melek huruf-huru tersebut tetap dinyatakan buta huruf apabila ia tidak melek huruf ABCD. Padahal pada saat itu sangat banyak sekali orang yang melek huruf Hijaiyah, Jawa bahkan Sansakerta. Dan setelah kita mengenal ABCD, kita belum pernah mencapai kehidupan secuil pun dari yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita.

Walisongo itu terdiri dari 9 orang wali dan dibantu dengan staff-staffnya. Walisongo yang 9 orang itu mampu mengislamkan seluruh penduduk nusantara dengan sangat radikal dan dalam waktu yang sangat cepat. Sebaliknya, saat ini ribuan ustadz di Indonesia justru melakukan kegiatan yang membuat semua orang merasa ngeri berada didalam Islam. Mulai dari yang dituduh kafir, bid’ah, musyrik, sesat dan sebagainya.

“Sekarang kita belajar yang paling gampang saja”, lanjut Cak Nun. “Indonesia ini sebenarnya apa maknanya? Kenapa dinamakan Indonesia? Kita harus mempelajari ini karena bisa jadi besok-besok Indonesia ini hilang. Jangan anda katakan NKRI harga mati, karena anda tidak akan mampu menahan apabila NKRI suatu saat harus bubar. Bisa saja suatu saat negara ini berubah dan ibu kota negara pindah lokasi, itu bisa saja terjadi. Tahun ini belum tentu ada PEMILU, Pemilihan Legislatif masih mungkin terjadi, namun Pemilihan Presiden belum tentu dilaksanakan. Dilaksanakan atau tidak bukan hanya karena situasi elit politik, namun juga karena situasai alam yang sangat berpengaruh dan sangat “taat” kepada aura dan gelombang negatif dari seluruh manusia Indonesia, terutama para pemimpin negara ini di Jakarta”.

Belajar pada Nabi Khidir dan Nabi Musa

Nabi Khidir merupakan salah satu sosok yang misteri bagi kita. Nabi Khidir diinformasikan kepada kita tidak secara detail oleh Allah. Nabi Khidir adalah guru besar profesor kehidupan yang mana Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk belajar tentang kehidupan. Cerita yang sangat terkenal tentang Nabi Khidir dan Nabi Musa adalah sebuah cerita yang menceritakan 3 peristiwa, yaitu; peristiwa membocorkan kapal, peristiwa membunuh anak kecil dan peristiwa menegakkan kembali sebuah pagar yang hamper roboh.

“Ini cara saya melihat, dan tidak usah dibakukan menjadi sebuah ajaran”, lanjut Cak Nun sebelum menguraikan lebih dalam tentang peristiwa-peristiwa tersebut. “Membocorkan sebuah kapal. Kapal itu sengaja dibocorkan oleh Nabi Khidir karena apabila tidak dibocorkan, kapal tersebut akan diserang oleh kapal perampok, sehingga setelah dibocorkan kapal tersebut oleng, rusak dan sebagainya, kemudian kapal perampok tidak tertarik lagi untuk merampok kapal tersebut. Kalau anda analisis lebih detail akan sangat luar biasa. Misalkan, bagaimana cara Nabi Khidir membocorkan kapal tersebut dengan tangan kosong? Karena kita tidak diberi pengetahuan yang pasti tentang bagaimana cara Nabi Khidir membocorkan kapal tersebut. Maka bisa disimpulkan betapa saktinya ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan yang dimiliki oleh Nabi Khidir. Peristiwa membocorkan kapal ini melambangkan peristiwa kekinian, masa kini. Peristiwa kedua adalah peristiwa pembunuhan terhadap anak kecil, kelak Nabi Musa diberitahu bahwa anak tersebut berpotensi menjadi kafir saat ia dewasa dan akan membuat orang tua dan orang disekitarnya menjadi kafir. Peristiwa ini merupakan lambang kejadian masa depan. Peristiwa yang ketiga adalah menegakkan pagar yang miring dan hampir roboh. Pagar yang miring ditegakkan kembali karena dibawah pagar tersebut tersimpan di masa silam harta anak yatim yang melimpah dan akan digunakan di masa yang akan datang. Peristiwa ini melambangkan masa depan. Dari ketiga peristiwa tersebut, kita dapat mengambil poin pentingnya, yaitu bahwa rute perjalanan manusia adalah: masa kini — masa depan — masa silam”.

“Indonesia ini adalah negara yang paling unik didunia”. Ki Agus Sunyoto mengawali pemaparannya tentang sejarah Indonesia. “Negeri yang dahulu disebut Nusantara ini bagaikan surga bagi manusia. Kita ambil contoh saja kekayaan alam yang ada di negeri ini. Mulai dari minyak, emas, besi, intan, berlian, uranium dan sebagainya. Negeri ini memiliki semua jenis pertambangan tersebut, tetapi tidak dengan negeri lain yang hanya memiliki satu atau dua jenis saja. Begitu juga dengan hutan di Indonesia, tidak hanya wilayahnya saja yang luas namun juga kayu yang dihasilkan oleh hutan Indonesia adalah kayu yang berkualitas. Salah satu contohnya adalah Kayu Hitam di Sulawesi yang harganya mencapai 90 juta rupiah per 1 kubiknya”.

Karena kekayaan alam yang begitu banyak, maka sejak zaman dahulu semua bangsa ingin mengusai Indonesia untuk dieksploitasi. Itulah sebabnya para penjajah berpikiran bahwa orang Indonesia harus dibikin bodoh, dibikin lemah, dibikin tidak percaya diri dan sebagainya. Proses ini berlangsung sejak bangsa Eropa datang ke Nusantara dalam rangka menjajah bangsa ini. Dibuatlah sistem oleh mereka yang secara pelan-pelan mendidik bangsa ini agar mengikuti cara berpikir seperti yang dimaui oleh orang-orang Eropa. Dan sesuai dengan keinginan mereka, bangsa ini menjadi bangsa yang bodoh. Karena logika berpikirnya mengikuti logika berpikir Eropa.

Sebelum orang Eropa datang ke Nusantara, Bangsa ini sudah sangat maju. Abad pertama tahun masehi misalnya, orang jawa sudah mampu menciptakan kalender Jawa. Berdasarkan perhitungannya, kalender Jawa sekarang memasuki tahun 1947. Jika dibandingkan dengan kalender Hijriyah yang baru memasuki tahun 1431, maka kalender Jawa lebih tua sekitar 500 tahun dari kalender Hijriyah. Kemajuan teknologi manusia Nusantara pun sudah sangat maju. Salah satu contohnya adalah teknologi yang ada di Gunung Padang, manusia Nusantara membangun punden-punden yang berundak-undak menyerupai piramida di Mesir, ketika punden-punden itu diuji karbon ternyata sudah berusia sekitar 11.500 tahun sebelum masehi. Artinya, pada zaman purba orang-orang kita sudah mampu membangun bangunan yang menyerupai Piramid di Mesir. Begitu juga teknologi perkapalan. Kapal-kapal Nusantara saat itu berukuran sangat besar dan panjang. Pada abad ke 2 Masehi, tahun 280M, seorang pegawai bea cukai di China yaitu Wan Zen mencatat kapal-kapal dari selatan ukurannya lebih besar dari kapal-kapal China. Kapal dari selatan itu panjangnya mencapai 200 kaki (sekitar 65 meter) dengan tinggi geldak kapal mencapai 10 meter dan bisa dinaiki sekitar 700 awak kapal dengan total muatan mencapai 10.000 ton. Dan kapal-kapal tersebut dilengkapi teknologi alat penunjuk arah yang disebut “pedoman”, yang kini dikenal sebagai Kompas. Pedoman itu berasal dari kata “dom” (jarum), alat ini ditemukan oleh orang Jawa. Hal ini menandakan bahwa pada zaman purba orang kita sudah menemukan kompas.

Pada tahun 648 M, bertepatan dengan masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, di kerajaan Kalingga sudah terdapat hukum formal bernama Kalingga Dharma Sastra yang terdiri dari 119 pasal. Kemudian pada zaman Kerajaan Singosari, hukum ini dikembangkan oleh Wisnu Wardhana dengan nama Purwa Digama Dharma Sastra menjadi 174 pasal. Kemudian pada zaman Majapahit, oleh Gadjah Mada dikembangkan lagi menjadi 272 pasal dan dinamai Kutara Manawa Dharma Sastra. Sekalipun bangsa ini berada di antara 2 imperium besar, yaitu China dan India, tidak satupun dari kedua imperium tersebut yang berhasil menaklukan Nusantara.

“Orang Jawa ini mayoritas adalah pelaut, bukan petani”, lanjut Ki Agus Sunyoto. “Pada abad ke 9 masehi, di pelabuhan Sokotra, Somalia, ada seorang Arab bernama Ibnu Lakis mencatat ada 1000 kapal yang berasal dari Jawa yang datang kesana dan menyatakan bahwa mereka sudah melakukan pengembaraan di laut selama satu tahun untuk mencari barang dagangan sekaligus mencari orang-orang Jenggi (negro) untuk dijadikan budak. Menurut Ibnu Lakis, rombongan 1000 kapal tersebut seakan-akan merubah lautan menjadi sebuah kota. Rombongan tersebut kemudian bergerak terus menuju arah selatan, dan tidak pernah kembali lagi”.

Kemudian, ada sebuah pulau besar di sebelah timur benua Afrika, yaitu Madagaskar. Pulau tersebut berdasarkan letak geografisnya yang berdekatan dengan benua Afrika seharusnya warna kulit penduduknya adalah hitam. Ternyata penduduk Madagaskar tidak berkulit hitam, melainkan coklat. Bahasa yang mereka gunakan juga memiliki banyak kemiripan dengan Bahasa jawa. Dan semua orang-orang Madagaskar mengatakan bahwa leluhur mereka berasal dari Jawa. Berdasarkan catatan Ibnu Lakis, pelayaran orang Jawa juga mencapai ke perairan Pasifik. Dari sinilah sejarah kepulauan Hawai dikenal. Hawai menurut basanya berarti: Pulau Padi. Ketika ditanyakan kepada penduduk Hawai, dimanakah Pulau Padi tersebut, mereka tidak tahu. Menurut penelitian antropologi, cara berhitung orang Hawai itu mirip dengan Bahasa Jawa, yaitu : esa, dua, telu, pat, limo, nem, pitu, wolu, sanga, sedasa. Kita tahu bahwa ini adalah hitungan dalam Bahasa Jawa. Hal ini menandakan bahwa bangsa Nusantara saat itu sangatlah besar. Itu sebabnya mulai zaman kuni kita mampu membangun peradaban, membangun Borobudur dan sebagainya. Bangsa Nusantara sangat makmur, mampu melakukan perdagangan dengan transportasi laut. Zaman dahulu, tidak diperlukan izin yang sulit apabila ingin melakukan perdagangan ke luar negeri, ketika kembali dari perjalanan perdagangan tersebut, pemerintah kemudian memeriksa kekayaan yang dimiliki oleh si pedagang, baru kemudian dipungut pajaknya. Orang-orang Nusantara secara postur tubuh sangatlah kecil, namun penjelajahan perdagangannya mencapai ke China, India, Persia sampai di kepulauan Malindi, Somalia.

Perubahan keadaan ini berawal ektika orang-orang Eropa mendengar bahwa harga rempah-rampah dan emas asal India sangat mahal di jalur perdagangan sutera. Kemudian orang Portugis melakukan pencarian Negara India, pertama kali dilakukan oleh Colombus yang ternyata justru kesasar menuju Amerika. Kemudian Vasco da Gama pada tahun 1498M berhasil mencapai kepulauan India dan berlabuh di Kalikut. Ternyata Vasco da Gama tidak menemukan rempah-rempah, emas dan yang lainnya yang menjadi tujuan utama penjelajahan mereka. Hingga akhirnya, Vasco da Gama berhasil menemukan sebuah kepulauan di sebelah timur India dan di kepulauan tersebut terdapat semua barang-barang yang dicari oleh Vasco da Gama tadi. Orang-orang Portugis menyebut kepulauan itu sebagai Estada Indian (India Timur). Sejak saat itu wilayah Nusantara disebut sebagai India Timur. Ketika Belanda datang, mereka kemudian mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Persekutuan Dagang India Timur. Begitu juga dengan Inggris, mereka menyebut wilayah Nusantara sebagai EIC (East India Company).

Semua bangsa Eropa menyebut bahwa Nusantara adalah India Timur, namun orang Jawa sebagai penduduk asli Nusantara tidak pernah menyebut wilayah ini sebagai India Timur melainkan sebagai Nusantara Jawa. Orang-orang Belanda kemudian diberi sebutan oleh orang-orang Jawa yaitu “Kumpeni”, sebutan ini berasal dari kata Company, yaitu pedagang. Penduduk asli Nusantara menanggap bahwa orang-orang Belanda ini adalah pedagang, bukan penjajah apalagi penguasa. Tetapi orang-orang Belanda menganggap bahwa wilayah ini adalah Negara mereka, kemudian terjadi berbagai perlawanan-perlawanan dari penduduk Nusantara terhadap Belanda.

Belanda melakukan berbagai usaha untuk melemahkan orang Nusantara, mulai dari penundukan kerajaan-kerajaan, penyebarluasan opium, candu dan sebagainya. Dari situlah kemerosotan kepintaran orang-orang Nusantara berawal. Dan sekolah merupakan salah satu keberhasilan mereka dalam menundukkan Nusantara. Belanda begitu detail merancang doktrin-doktrin hingga tiap kata sampai istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut orang Indonesia. Sehingga ketika bangsa ini mencita-citakan kemerdekaan, mereka bingung mau menamai apa Negara ini. Belanda menyebut Negara ini sebagai Netherland Hindi (Hindia Belanda). Naskah-naskah sebelum kemerdekaan semuanya menyebut wilayah ini dengan sebutan Hindia.

Sejarah Nama Indonesia

Kata “Indonesia” dikembangkan oleh Adolf Bastian, yang artinya Kepulauan India. Indonesia berasal dari dua kata; Indos dan Nesos. Indos adalah India, Nesos adalah kepulauan. Sehingga, dengan menggunakan nama Indonesia, kita mengakui bahwa kita adalah orang India, padahal hal ini sangat ditentang oleh nenek moyang kita yang tidak pernah mengakui bahwa kita wilayah Nusantara dalah wilayah India Timur.

Melalui “Sekolah” pikiran bangsa ini diarahkan, kemudian masyarakat menganggap bahwa “sekolah” adalah simbol kemajuan, simbol pengetahuan, simbol progresifitas, simbol kemakmuran dan sebagainya. Orang apabila sudah mencapai jenjang pendidikan tertinggi kemudian dianggap bahwa status ekonomi dan sosialnya juga tinggi, padahal faktanya tidak demikian.

“Sekolah” mengajarkan kita untuk berpikir kacau, tidak konsisten dan tidak rasional. Tetapi karena kita dididik di “sekolah”, maka kita membenarkan itu. Contoh dari kekacauan-kekacauan itu seperti yang terjadi di jenjang pendidikan saat ini mulai dari SD sampai SMA, bahkan Perguruan Tinggi. Terdapat istilah “daftar ulang”. Bukankah sejak pertama kali kita mendaftarkan diri ke sekolah tersebut maka secara otomatis nama kita sudah terdaftar di sekolah tersebut? Dan ketika daftar ulang dilakukan, kita diharuskan membayar lagi ke sekolah, ini sekolah atau dagang? Dilain pihak, guru-guru disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang sudah dianggarkan dari pembiayaan hasil dari penarikan uang kepada para siswa, akhirnya guru-guru tidak fokus dalam mengajar, bahkan terjadi kekosongan jam belajar dalam sebuah kelas sehingga tidak ada kegiatan belajar mengajar di kelas dikarenakan guru sibuk dengan agenda-agenda sekolah tersebut. Yang terjadi sekarang, sangat sedikit guru-guru yang memiliki jiwa pendidik karena tujuannya adalah mencari uang, bukan mendidik. Mereka tidak lebih dari seorang buruh, karena jiwa mereka adalah buruh, bukan guru.

Kemudian ketika Ujian Nasional dilaksanakan, prosentase kelulusan Ujian Nasional dijadikan patokan kelulusan secara nasional, padahal ketika seorang siswa lulus Ujian Nasional, kemudian akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi, ia masih harus melaksanakan Ujian Masuk lagi. Dan Ujian tersebut juga tidak gratis. Bayangkan perputaran uang yang terjadi di wilayah itu saja. Belum lagi bagi mereka yang ingin masuk fakultas kedokteran. Untuk menjadi mahasiswa fakultas kedokteran tidak hanya dibutuhkan otak yang cerdas, tetapi juga dibutuhkan dana yang tidak sedikit agar seorang siswa bisa belajar di fakultas kedokteran. Untuk sekedar menjadi mahasiwa fakultas kedokteran saja dibutuhkan uang ratusan juta rupiah, belum termasuk biaya daftar ulang tiap semester, buku mata kuliah sampai biaya untuk praktikum dan sebagainya. Sehingga biaya dokter sangat ini sangat mahal karena biaya pendidikan dokter yang mahal.

Akhirnya, pendidikan ini tanpa kita sadari mengajarkan kepada kita tentang hal-hal yang tidak masuk akal, yang diluar akal sehat kita. Dan kita mengikuti saja sistem yang berlaku sekarang ini. Ketika kita dinyatakan lulus sekolah dari sebuah jenjang pendidikan, kita menganggap diri kita meningkat status sosialnya, status ekonominya dan sebagainya. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu. Kita bisa melihat fakta yang ada, para selebritis tanah air yang sering muncul di televisi itu contohnya. Banyak sekali dari mereka yang Sarjana S1 saja tidak lulus, namun penghasilan dan status sosialnya bisa lebih tinggi dari mereka yang menyelesaikan jenjang pendidikan sampai S3. Fakta yang ada tidak sesuai dengan doktrin yang ditanamkan, “kalau kamu tidak sekolah, maka kamu akan bodoh, melarat, tidak bisa bekerja dan seterusnya….”

“Tidak ada kewajiban ‘sekolah’ dalam agama, karena perintahnya dalam agama adalah menuntut ilmu”, lanjut Ki Agus Sunyoto. Dan menuntut ilmu itu beda dengan sekolah. Sekolah menyebabkan kita mengikuti kebenaran-kebenaran yang ditanamkan dengan cara pandang yang salah, sehingga kita tidak mampu melihat kehidupan secara realistis, karena doktrin sekolah tadi yang tidak sesuai dengan realitas yang ada. Yang ada dalam pikiran kita adalah doktrin, bukan realitas. Akibatnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini adalah kebingungan-kebingungan antara apa yang dianggap benar dan tidak benar, yang dianggap keliru dan tidak keliru, semuanya terbolak-balik. Pemikiran kita kacau karena mengikuti doktrin-doktrin zaman kolonial, kita tidak lagi memiliki kebebasan.

Kita dinyatakan buta huruf ketika kita tidak mampu membaca alfabet modern, yaitu ABCD sampai Z. Sekalipun kita bisa membaca huruf Hijaiyah, aksara Jawa bahkan huruf Sansekerta, kita tetap dinyatakan buta huruf selama kita tidak mampu membaca alfabet modern tersebut. Sehingga ketika dicanangkan gerakan pemberantasan buta huruf, yang dikenalkan kepada masyarakat adalah alfabet modern (baca: ABCD sampai Z).

Tidak hanya sampai disitu saja, istilah-istilah merendahkan orang Nusantara pun dibikin secara cetail oleh Belanda. Misalnya, Asam Jawa itu adalah asam yang warnanya hitam pekat, sedangkan Asam Belanda adalah yang warnanya putih. Rokok Jawa itu identik dengan rokok klobot atau rokok yang memakai kemenyan, sedangkan Rokok Belanda adalah Cerutu atau Rokok Putih. Gula Jawa itu gula yang warnanya merah kehitaman dan bentuknya besar. Sedangkan Gula Belanda itu adalah gula yang warnanya putih, yang sekarang dikenal sebagai Gula Pasir. HIngga istilah-istilah mengenai profesi pun dibuat secara cetail oleh mereka, pada zaman penjajahan Belanda profesi-profesi yang dikerjakan oleh orang-orang pribumi adalah profesi-profesi seperti: jongos, kuli, babu, kacung, kernet dan sebagainya. Sedangkan orang Belanda yang berkulit putih memiliki profesi yang lebih terhormat seperti : Direktur, Komisaris, Konsultan dan sebagainya. Doktrin ini ditanamkan di sekolah-sekolah kedalam pikiran kita. Kita sekarang melihat bahwa seorang teller bank, salah satu syaratnya adalah fisik, apabila perempuan maka akan dinilai cantik atau tidaknya, begitu juga dengan laki-laki, akan dinilai ganteng atau tidak. Puncak dari doktrin kolonial tersebut adalah penggunaan nama yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Tahun 2005 nama-nama khas Nusantara itu masih ada, seperti: Raharjo, Budiman, Joko, Khoirul, Sumaji, Sri, Ayu, Siti, Winarti dan sebagainya. Memasuki tahun 2007-2008, penggunaan nama-nama khas Nusantara mulai ditinggalkan, kemudian para orang tua menggunakan nama-nama yang terlihat lebih modern, seperti : Farrel, Marvel, Joni, Cornelia, Adelia dan sebagainya.

Begitu juga dalam hal berpakaian. Ketika kita membeli pakaian di Mall, terlihat lebih tinggi derajatnya jika dibandingkan apabila kita membeli di Pasar tradisional, misalnya. Ketika kita makan di Restoran yang besar dan terkenal, terkesan lebih tinggi derajatnya dibandingkan ketika kita makan di warung-warung pinggir jalan atau kaki lima. Makanan lokal dianggap inferior dibandingkan makanan internasional. Makan ayam goreng di warung lesehan kalah gengsi dari makan ayam goreng di restoran cepat saji.

Dalam hal pendidikan, beasiswa yang diincar oleh para mahasiswa adalah beasiswa dengan tujuan negara-negara di Eropa. Sangat jarang mereka mencari beasiswa dengan tujuan negara-negara seperti : Tunisia, Aljazair, Maroko dan sebagainya. Hal ini dikarenakan mahasiswa-mahasiswa kita sudah menganggap bahwa negara kulit hitam adalah negara yang terbelakang dibandingkan dengan negara kulit putih. Doktrin tersebut kemudian kita gunakan dalam proses pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara. Kita persilahkan para invenstor-investor asing untuk menanam investasi disini, kemudian orang asli kita disini menjadi buruh bagi mereka yang berinvestasi disini. Kekayaan bangsa ini akhirnya dimiliki oleh mereka, karena kita sudah diseting menjadi bangsa yang inferior. Kita sudah dianggap menjadi bangsa yang tidak mampu lagi untuk bangkit sebagai bangsa yang besar, padahal kenyataannya orang-orang Indonesia itu pintar-pintar sekalipun dianggap bodoh oleh mereka. Faktanya, banyak sekali setiap tahun anak-anak kita menjuarai olimpiade matematika, fisika dan ilmu sains lainnya di sebuah kompetisi yang diadakan di luar negeri seperti Jerman, Perancis dan Jepang.

Begitu juga dalam sepakbola, kita sudah mernganggap bahwa pemain yang mainnya bagus dan layak digaji dengan bayaran yang tinggi adalah pemain yang berkulit putih yang berasal dari Eropa atau Amerika. Sehingga anak-anak kita merasa inferior. Bangsa sebesar ini dengan jumlah penduduk mencapai 230 jiwa tidak mampu membangun sebuah tim kesebelasan sepakbola. Padahal kalau diadu betul, kita pasti mampu. Tapi kita lebih sering kalah mental terlebih dahulu.

Ketika Bung Karno memimpin bangsa ini, Indonesia memiliki 12 unit kapal selam dan memiliki kapal penjelajah terbesar di dunia yaitu KRI Irian. Kapal penjelajah ini hanya dimiliki oleh Indonesia dan Rusia. Ketika Belanda masih menggunakan pesawat baling-baling, kita sudah menggunakan pesawat MiG 19 dan MiG 21. Peluru kendali yang dimiliki oleh Indonesia saat itu adalah hasil modifikasi rudal dari Rusia. Peluru kendali itu dikenal dengan nama Kartika 1. Saat itu Indonesia dikenal sebagai negara pengembang rudal kedua di Asia setelah Jepang. Ketika muncul Blok Timur dan Blok Barat, Indonesia secara tegas tidak bergabung kedalam salah satu blok tersebut, justru Indonesia berani memunculkan Gerakan Non Blok. Indonesia mampu mempelopori Konferensi Asia Afrika, Indonesia berani membubarkan organisasi Yahudi (Freemason) beserta organisasi-organisasi dibawahnya seperti Rotary dan Lions Club. Keputusan ini dibuat melalui penetapan Presiden 21 April 1961, yang kemudian dijadikan undang-undang oleh DPR tahun 1962. Ketika Israel diketahui oleh Bung Karno ikut serta dalam Olimpiade 1960, Bung Karno dengan lantang menarik seluruh kontingen Indonesia dari Olimpiade itu, bahkan kemudian Indonesia menyelenggarakan GANEFO, kegiatan yang serupa dengan Olimpiade. Semua Negara di dunia diundang, kecuali Israel. Ketika Malaysia dibentuk, Bung Karno menentang dan mengatakan bahwa Malaysia adalah Negara boneka buatan Inggris, dan ketika Malaysia diakui oleh PBB, Bung Karno menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB. Tahun 1963, muncullah gerakan anti Malaysia, ganyang Malaysia dan sebagainya. Dalam sebuah pertempuran di Serawak, RPKAD bertempur melawan pasukan Inggris dan Australia. Dalam pertempuran itu, pasukan RPKAD yang gugur berjumlah sekitar 200 prajurit, sedangkan pasukan Inggris dan Australia yang gugur mencapai 2000 prajurit.

Kasus Usman dan Harun merupakan awal dari tidak ditakutinya lagi Indonesia oleh dunia. 3 orang prajurit, yaitu Usman, Harun dan Gani menyerang Singapura, dan meledakkan salah satu gedung disana. Pada akhirnya Usman dan Harun ditangkap oleh pemrintah Singapura dan dijatuhi hukuman mati. Namun, Singapura sangat cerdik, proses pengadilan terhadap Usman dan Harun dilakukan setelah peristiwa G 30 S PKI. Dan eksekusi hukuman mati dilakukan setelah Soekarno tidak lagi berkuasa di Indonesia. Usaha banding yang dilakukan oleh Presiden Soeharto mulai dari pengajuan grasi kepada Presiden Singapura sampai tingkat Mahkamah tertinggi ditolak. Bahkan, Presiden Soeharto memohon agar eksekusi hukuman mati untuk ditunda agar Usman dan Harun dapat ditemui oleh keluarganya, permohonan itu tetap ditolak. Dengan dieksekusinya Usman dan Harun, Singapura memproklamirkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan lagi negara yang kuat dan sudah tidak menakutkan lagi.

Memasuki sesi berikutnya, Pak Saratri kemudian memaparkan tentang fenomena ibadah yang diiming-imingi hadiah mobil. “Jadi sepertinya karena pahala dari Allah itu abstrak, maka dengan kreatifitas manusia, pahala itu harus dikongkritkan dan diwujudkan dalam bentuk yang nyata agar Masjid itu ramai dipenuhi oleh jama’ah yang melaksanakan sholat.” Sebuah ritual yang seharusnya dilakukan berlandaskan kasih sayang, kini justru menjadi rendah karena landasan utamanya adalah materi. Menurut Pak Saratri, selama ini agama hanya dipahami secara hukum fikih saja. Manusia semakin terbiasa memisahkan hal-hal yang seharusnya tidak dipisahkan dengan terminologi agama dan bukan agama. Di sekolah misalnya, ada pelajaran yang dianggap pelajaran agama dan pelajaran non agama. Pelajaran yang bersifat sains atau ilmu pengetahuan seperti; Matematika, Fisika, Biologi dan sebagainya dianggap sebagai pelajaran non agama. Yang sekarang terjadi di sekolah adalah pemisahan-pemisahan kurikulum, afeksi, kognisi, psikomotorik dan relijiusitas. Bahkan sampai perguruan tinggi, pelajaran agama hanya seputar hukum fikih saja tentang rukun Islam dan rukun iman. Akibatnya adalah terjadinya kekeringan-kekringan secara batin.

Wahyu pertama yang diturukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’. Nabi Muhammad yang dalam keadaan tidak bisa membaca justru disuruh membaca oleh Allah. Maka Iqra’ yang dimaksud dari wahyu pertama tersebut adalah membaca alam, membaca kehidupan dan sebagainya.

Dalam ilmu pengetahuan ada istilah Antroposentis. Bahwa manusia itu adalah pusat dari segalanya. Sehingga ego pribadi itu masih nampak, selain dirinya tidak dianggap keberadaannya. Setelah itu meningkat menjadi Biosentris dan Ekosentris, pada tahap ini manusia mampu menyeimbangkan dirinya, sehingga ia tahu apa tugasnya di bumi ini.

Pak Saratri melanjutkan, bahwa meningkatnya mutu pendidikan kita tidak berbanding lurus dengan meningkatnya moral dan akhlak manusia di Indonesia. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjaid pada manusia nusantara zaman dahulu. Sekarang ini orang yang korupsi justru orang yang berpendidikan tinggi, bukan orang yang tidak bersekolah. Ketika di Nusantara belum ada sekolah, orang Nusantara justru lebih berkualitas dalam segala hal. Sadar atau tidak dunia persekolahan kita adalah dunia pedagangan. Karena yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini adalah transaksi-transaksi. Kalau tidak punya uang, maka tidak bisa sekolah, tidak bisa menjadi dokter, tidak bisa menjadi insinyur dan sebagainya. Bahkan manasik haji sudah diperdagangkan. Kurikulum ritual ibadah haji disusun sedemikian rupa untuk dijadikan barang dagangan oleh Departemen Agama. Pak Saratri kemudian menceritakan pengalaman beliau ketika menunaikan ibadah Haji, beliau memarahi petugas penyelenggara Haji Indonesia karena jatah makan siang jama’ah Haji Indonesia habis, kemudian dinasehati oleh petugas tersebut untuk bersabar karena sedang melakukan ibadah Haji. “Ini bukan masalah sabar atau tidak sabar, karena saya sudah membayarkan biaya perjalanan ibadah Haji, seharusnya saya mendapatkan hak saya pada saat pelaksanaan ibadah Haji”.

Pemisahan antara agama dan bukan agama pun menjalar sampai pemerintahan di Indonesia, baru-baru ini seorang dosen di sebuah Universitas ternama di Indonesia, yang juga kebetulan adalah seorang Dirjen di sebuah Departemen diketahui menjiplak sebuah artikel, kemudian yang dia lakukan adalah mengundurkan diri dari posisinya sebagai seorang dosen, tetapi dia tidak mundur dari posisinya sebagai seorang Dirjen. Inilah akibat dari pemisahan-pemisahan yang kita lakukan terhadap agama dan bukan agama. Plagiat itu urusannya adalah moral, bukan hanya urusan akademis dan non akademis.

Pak Ilyas kemudian mencoba menyeimbangkan paparan-paparan yang sudah disampaikan oleh pembicara sebelumnya. “Anda jangan berani-berani tidak sekolah kalau anda tidak seperti Cak Nun. Anda sekolah saja belum jelas, malah mencoba untuk tidak sekolah, anda bisa jadi pengangguran abadi.”

Pak Ilyas menambahkan, bahwa sekolah itu tetaplah penting, namun harus diimbangi dengan kecerdasan. “Anda harus memiliki kepercayaan bawha nilai yang tertera di Ijazah anda hanyalah nilai dunia, standarnya dalam sebuah mata kuliah adalah lulus atau tidak lulus, tetapi anda harus benar-benar memiliki pengetahuan yang mendasar terhadap mata kuliah tersebut”. Pak Ilyas kembali menekankan adanya pemisahan antara agama dan non agama. Berdasarkan fakta yang ada, hampir semua orang tua merasa khawatir ketika anaknya tidak mampu berbahasa Inggris, lemah dalam matematika, kurang pandai dalam fisika maka yang dilakukan adalah mendatangkan guru les privat khusus mata pelajaran tersebut. Tetapi sebaliknya, apabila mendapati anaknya tidak mampu membaca Al Qur’an, para orang tua sangat jarang mendatangkan guru les privat untuk mengajari anaknya membaca Al Qur’an.

Ada sebuah terminologi yang terbalik dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Ujian Nasional yang dilaksanakan di Indonesia dalam hal pendistribusian soal dibutuhkan pengawalan yang ketat, bahkan melibatkan anggota kepolisian. Dan tidak ada satupun guru yang merasa tersinggung, padahal hal ini menunjukkan bahwa guru sudah tidak dipercaya lagi oleh pemerintah. Sebelum kitab-kitab Allah diturunkan, keadaan manusia saat itu sudah baik. Kemudian perlahan mengalami kerusakan-kerusakan, diturunkanlah satu kitab. Hingga akhirnya diturunkanlah Al Qur’an. “Anda jangan mengharapkan ada kitab yang diturunkan lagi oleh Tuhan”. Sementara itu, DPR dianggap produktif ketika menghasilkan banyak aturan-aturan dan undang-undang.

“Saya itu ke kampus semau-mau saya mau naik apa. Jalan kaki, naik angkot bahkan naik ojek pun saya tidak masalah. Makan juga saya tidak harus milih-milih.” Pak Ilyas menjelaskan tentang pentingnya kemandirian yang harus dimiliki oleh Mahasiswa karena kampus pada kenyataannya tidak mampu membuat mahasiswa mandiri. “Kalau anda kuliah itu yang cerdas lah, paling tidak ya bisa nyuci baju sendiri, nyetrika baju sendiri”. Pak Ilyas menyindir para mahasiswa sekarang yang sudah tidak bisa mandiri terhadap dirinya sendiri. Hingga akhirnya fenomena copy-paste dalam mengerjakan tugas mata kuliah pun sudah dianggap wajar dan suasana kampus saat ini tidak ubahnya sebuah pagelaran Fashion Show.

“Sekolah itu memang tidak bener 100%, tapi juga jangan sampai anda tidak sekolah karena keadaannya seperti ini. Anak-anak sekarang belum kuat seperti orang-orang yang dulu tidak sekolah. Intinya anda harus tau diri, kalau memang ndak mampu ya ndak usah nggaya-nggaya makan di café, nggak usah nggaya-nggaya mbayarin makan temen-temennya di kantin”. Pak Ilyas menutup paparannya.

“Mas Agus, perkenankan saya urun sedikit supaya tidak ada kebijakan pribadi yang salah mengenai sekolah.” Cak Nun menanggapi pemaparan Ki Agus Sunyoto tentang sekolah. “Nanti jangan sampai banyak orang mengikuti saya untuk tidak sekolah, sedikit makan, tiap hari merokok dan seterusnya. Itu bisa bahaya. Saya merokok tiap hari, tapi kalau di tes kekotoran para-paru saya itu nol. Untuk urusan-urusan seperti ini, anda jangan meniru saya.”

Cak Nun mengingatkan kepada jama’ah agar harus bisa mengukur diri sendiri. “Anda ini pada tahap survive atau sudah pada tahap revive. Survive itu adalah anda berada pada kondisi ekonomi, mental, sosial, psikologi dan budayanya baru pada tahap bertahan hidup. Tapi kalau anda sudah berada pada kondisi probadi yang memiliki bekal yang lumayan untuk melakukan kebangkitan dalam hidup anda, maka anda boleh mengambil keputusan yang lebih berbahaya. Kalau anda masih survive, maka anda harus sekolah, tapi kalau anda sudah revive maka anda boleh mengambil keputusan yang lebih liberal dan lebih luas.”

“Tapi saya ingin anda memiliki shortcut yang efektif”, lanjut Cak Nun menjelaskan. “Syarat utamanya adalah anda harus bisa mengukur diri anda sendiri, harus punya kemandirian untuk belajar mengambil keputusan sendiri. Termasuk; anda makan apa tidak, berapa porsi yang anda makan, apa yang anda makan, anda berani lapar atau tidak, anda mandi atau tidak, nyuci atau tidak dan seterusnya. Anda harus setiap hari belajar mengambil keputusan sendiri. Kalau anda sudah terlatih mengambil keputusan sendiri, itu ndak masalah anda sekolah atau tidak sekolah. Jadi masalahnya sekarang adalah kemandirian. Silahkan sekolah, tapi putuskan secara mandiri apa gunanya anda sekolah. Saran saya, sekolahlah anda sampai habis, tapi niatkan; pertama, biar mudah cari kerja dan kedua, untuk membahagiakan orang tua anda. Kalau urusan mencari ilmu, sekolah itu bukan andalan yang utama. Jadi sekolah itu tidak masalah, tidak sekolah juga tidak masalah asalkan anda sudah mandiri. Mulai sekarang latihan, diamati setiap hari, rasakan perutmu, dadamu, ginjalmu dan seterusnya diukur semua. Karena saya sangat tertib dan saya sangat detail atas hidup saya. Jadi jangan dipikir saya tidak tidur dan begadang berhari-hari, itu karena ada ukurannya”. Cak Nun kemudian bercerita tentang kehidupan dirumah bersama Mbak Via yang setiap hari bergantian mengurusi rumah tangga karena Cak Nun tidak punya pembantu dirumah.

“Anda harus mencari filosofi-filosofi pribadi”, lanjut Cak Nun. “Kalau anda menderita, anda harus menemukan bahwa penderitaan itu penting, jangan dipikir bahwa penderitaan itu kesengsaraan saja. Penderitaan itu anda butuhkan. Kalau anda tidak pernah menderita, anda cengeng, anda rapuh. Tapi kalau anda berlatih dalam penderitaan, anda akan menjadi manusia yang kuat. Maka gunanya anda ke laundry itu bukan soal anda punya uang atau tidak punya uang. Tapi anda pakai untuk melatih diri anda. Kalau saya keluar kota, baik sendirian atau sama KiaiKanjeng kemudian nginap di hotel, saya pasti mencuci pakaian saya di hotel, andaikan cucian saya tidak kering, maka saya masukan kedalam plastik dan saya bawa pulang. Dan saya masih menikmati yang kecil-kecil dalam kehidupan saya.”

“Sedekah itu tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. Sedekah itu hubungannya adalah berbagi rizki. Anda punya uang 100 ribu, anda berikan ke orang lain 30 ribu, bagian anda 70 ribu. Kalau anda berharap 30 ribu itu berlipat ganda menjadi 300 ribu, itu bukan sedekah namanya, itu berdagang.”

“Sekarang begini, anggap saja leluhur kita itu bodoh dan tidak memaliki kemampuan yang tadi sudah disampaikan. Nggak ada Majapahit dan sebagainya. Anggap saja kita tidak punya masa silam. Ambil satu saja, apa yang dilakukan oleh Singapura kepadamu, apa yang dilakukan oleh Israel kepadamu, apa yang dilakukan Amerika kepadamu. Apa yang dibela oleh Soekarno pada saat itu. Satu saja kamu ambil, kamu sekarang sebagai bangsa punya harga diri atau tidak? Martabatmu itu diinjak-injak apa tidak? Anda ini Garuda yang dijadikan emprit. Kalau hanya uangnya yang dicuri itu tidak masalah, tapi sekarang ini sudah dicuri uangnya, anda juga diludahi, dikentuti, diinjak-injak. Anda terima atau tidak?”

Cak Nun kemudian menjelaskan tentang syarat seorang pemimpin. “Kriteria seorang Presiden itu sangat sederhana. Presiden yang mengerti martabat bangsa dan negara, itulah yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini. Saya ini tidak ingin jadi apa-apa tapi hati saya tidak terima melihat keadaan seperti ini.”

Ki Agus Sunyoto kemudian menjelaskan tentang pers yang sudah tidak seimbang lagi dalam pemberitaan. Menurut Ki Agus, saat ini syahwat sudah menjadi komoditas utama dalam kegiatan ekonomi. Pasca runtuhnya komunisme, syahwat menjadi komoditas utama. Kita melihat saat ini mulai dari tarian, lagu dan sebagainya yang menjual dan laku adalah yang menyajikan syahwat sebagai komoditas utamanya. Begitu juga dalam pers, komoditas yang utama adalah syahwat. Karena dunia pers sekarang tergantung pada pemilik perusahaan. Kita lihat saja contohnya sekarang, calon presiden yang memiliki perusahaan media massa, maka perusahaannya akan digunakan untuk menjelek-jelekan rivalnya. Ki Agus mengingatkan agar jama’ah tidak mudah mempercayai pers.

“Jawa itu adari akar kata ja dan tua. Ja itu artinya lahir atau keluar. Dan tua artinya sungai atau air. Jadi suku jawa ini menganggap dirinya suku yang lahir dari air. Sunda juga sama. Berasal dari bahasa kuno yang artinya air. Di Kalimantan ada Galuh, berasal dari kata Aga dan Luh. Aga itu lahir dan Luh itu sungai. Lahir di sungai. Jadi orang-orang di Indonesia ini suku-suku rata-rata itu hidup di dekat sungai. Karena itu peradaban kita itu peradaban sungai. Dimana ada sungai besar, disitu muncul kerajaan-kerajaan yang besar. Jadi orang Indonesia ini orang yang hidup tidak jauh dari air, maka dulu ada lagu “nenek moyangku orang pelaut”. Karena itu orang Indonesia orientasi politisnya adalah maritim. Ketika orientasi politik bergeser menjadi agraris (pertanian), kualitas bangsa ini merosot. Itu sebabnya zaman Bung Karno dulu, maritim lebih diutamakan dan dikembangkan. Karena kita merupakan negara laut. Ketika zaman Soeharto, orientasinya bergeser ke darat/agraris lalu kualitas Indonesia merosot. Gus Dur melihat itu, kemudian memunculkan Kementrian Kelautan. Karena Gus Dur tahu, bahwa Indonesia ini potensinya adalah maritim.”

“Yang saya takutkan adalah, terjadi siklus seperti yang pernah dialami oleh Majapahit. Ketika kekuasaan itu melemah zaman Kertabhumi, Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kediri yang melibatkan massa yang sangat banyak. Dalam peperangan itu semua habis, rata dengan tanah, sampai rajanya hilang. Dan peristiwa itu ditandai dengan Chandra Sengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi. Raja Kertabhumi pun hilang dari bumi. Melambangkan tahun 1478M. Kemudian muncul Demak. Demak dimasa Trenggono itu sangat kuat. Ketika Trenggono terbunuh, terjadilah pertumpahan darah yang luar biasa. Kemudian muncul Pajang, relative aman. Tidak terjadi kerusuhan dan benturan-benturan. Karena Pangeran Benowo mundur dari kekuasaan dan menjadi Kyai mendirikan pesantren. Muncul Mataram. Kemudian sampai masa Amangkurat 1 terjadi amuk massa sampai Tegal Arum. Maka sekarang sisa keraton di Kota Gede itu sudah tidak ada. Kemudian pindah ke Kartasura, terjadi lagi kerusuhan pada masa Pakubhuwono 2. Kemudian muncul Surakarta. Terus terjadi sampai jatuhnya Belanda, mulai Tangerang, Jakarta sampai Bekasi pada 7 maret 1942 terjadi penggedoran luar biasa. Yang meninggal mencapai 6000 jiwa saat itu. Kemudian ketika Jepang jatuh pun terjadi amuk massa. Sampai akhirnya Bung Karno Naik jadi Presiden. Ketika Bung Karno jatuh, pembantaian PKI dimana-mana. Ketika Soeharto jatuh, kerusuhan saat itu juga terjadi pertumpahan darah dan amuk massa yang luar biasa. Ini yang juga saya khawatirkan saat ini. Proses pergantian kekuasaan ini saya takutkan terjadi pertumpahan darah yang luar biasa karena saya melihat dari siklus-siklus tadi.”

“Jadi kalau tahun ini anda masih keliru lagi, maka tidak ada harapan”. Cak Nun menyambung pemaparan Ki Agus. “Optimisme saya adalah melihat anda yang masih muda-muda ini. Tapi kalau saya melihat negara ini sudah stroke. Cuma bagaimana caranya untuk merubah negara ini. Mau amuk massa sudah tidak mungkin, mau revolusi kita harus menggunakan media massa sedangkan media massa sekarang hanya mencari untung untuk dirinya sendiri. Menggerakan gerakan golput se Indonesia pun sudah tidak mungkin. Kita sudah tidak ada jalan lagi untuk merubah Indonesia, hanya Allah yang bisa merubah Indonesia ini. Jangan menyuruh saya dan jaringan saya untuk merubah Indonesia, saya mau revolusi, tapi anda nanti pasti akan bunuh-bunuhan. Diantara kita sekarang ini saja pasti ada pro dan kontra. Maka saya lebih baik diam. Yang saya andalkan adalah setoran kepada Allah, makanya saya bikin acara seperti ini, Habib Anis bikin acara seperti ini harapan saya agar Allah itu terharu dan melihat bahwa kita serius ingin ada perubahan di Indonesia.”

Sesuai dengan ayat Al Qur’an, Innallaha laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim. “Kita analogikan saja dengan yang anda alami dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anda meniduri istri anda, hamil atau tidaknya istri anda itu hak prerogative siapa? Allah. Sekarang perubahan yang sangat complicated di Indonesia ini, kalau anda tidak mampu merubah tetap ada kemungkinan untuk berubah, yaitu kalau anda sungguh-sungguh melakukan perubahan-perubahan semampu-mampu anda, kemudian Allah berinisiatif untuk ikut melakukan perubahan. Itulah harapan saya tahun ini, kalau tahun ini Allah tidak merubah, kita betul-betul akan susah lebih panjang lagi.”

“Makanya saya seperti ini hampir tiap hari, itu biar terlihat bahwa saya itu nyabut-nyabut rumput, memperbaiki genteng dikit-dikit, pokoknya kita terlihat merubah sedikit-sedikit. Anda sekarang bisa mengatakan ingin berubah, tetapi ketika anda menjadi pegawai kabupaten, anda tidak ingin berubah. Saya itu sudah faham dan hafal sekian zaman. Ibaratnya saya ini punya pasukan 10.000. Begitu saya menjelaskan panjang lebar, berkurang menjadi 7.000. Begitu saya persiapkan bergerak, tinggal 5.000. Begitu saya ajak jalan menuju medan perang, berkurang lagi. Sampai ketika di medan pertempuran saya melihat kebelakang, tinggal 10 orang. Saya ini sudah berpengalaman sejak zaman Bung Karno, saya sudah hafal sifatnya anak muda. Begitu dapat proyek, anda diam. Itu sangat banyak, pejabat-pejabat yang diangkat SBY itu dulu aktivis-aktivis semua, begitu jadi pejabat mereka diam. Tapi saya juga tidak mengeluh, mereka itu juga anak-anak saya. Tapi kemudian saya dengan itu menjadi rendah hati. Anda jangan mengangguk terus, belajarlah menggelengkan kepala anda, agar anda tidak pernah merasa cukup dalam hidup anda, sehingga tidak ada pertanyaan dari diri anda tentang apa yang harus anda lakukan lagi.”

“Kalaupun kita tidak mampu, bukan berarti kita tidak mempunyai harapan. Kita kan punya Allah. Pasti beres, hanya soal tenggang waktu yang harus kita tunggu. Saya itu optimis, seperti yang tadi Pak Agus bilang, anak-anak kita juara olimpiade dimana-mana. Sepakbola kita itu puncaknya ya U-19, tapi kalau sudah U-22, U-23 mulai kenal Pilkada, mulai didatangi penjudi, sudah habis. Begitu juga mahasiswa, semester 1-3, kenal HMI, PMII dan sebagainya itu aktif dan membara semangatnya, tapi begitu sampai pada pemilihan ketua organisasi, sama seperti Pilkada pada umumnya. NU dan Muhammadiyah saja menurut pengurus-pengurusnya sendiri sudah mirip seperti Pilkada. Tapi saya ndak putus asa, saya punya keyakinan, orang Indonesia itu saking ampuhnya, kalau ada api itu bisa tidak terbakar, dan ketika bertemu air juga tidak akan tenggelam. Orang Indonesia mampu bergaul dengan lingkungan sekitar. Yang terjadi sekarang maling semua, maka semua jadi maling. Tapi suatu saat nanti ada pemimpin yang bagus dan memulai Uswatun Hasanah, tidak maling, istiqomah, semua tidak akan maling. Sekarang hati kita itu iri, disana maling, maka kita maling. Di perempatan, lampu merah kita saja sering menyerobot lampu merah karena ada orang lain yang menyerobot lampu merah. Untuk apa kita antri, kalau mereka juga tidak mau antri. Kan seperti itu hati kita sekarang. Kita sekarang mau berbuat baik tidak ada motivasinya. Maka sekarang jadilah manusia untuk berbuat baik jangan mencari motivasi di dunia, temukanlah motivasimu dengan Allah. Anda melakukan apapun itu karena Allah, bukan karena kanan-kiri anda.”

“Anak-anak muda seperti anda ini saya temukan di berbagai tempat, kemarin di Bandung saya menemukan yang seperti anda. Jadi saya ini mengira, kayaknya Allah ini sedang merencakana kematian-kematian bersamaan dengan kelahiran-kelahiran. Cuman adegannya bagaimana, kita jangan ngintip Lauhil Mahfudz. Bahwa sudah ada jadwal gempa, jadwal gunung meletus itu anda tidak perlu ikut ngintip kapan terjadinya. Letusan Gunung Kelud kemarin itu letusannya 100 kali lipat lebih dari Merapi, namun korban jiwa tidak banyak. Yang menjadi korban justru fasilitas pemerintah. Dan mereka harus mengeluarkan duit banyak untuk memperbaiki infrastruktur mereka sendiri. Jadi ada harapan, bahwa nanti kalau ada bencana yang lebih besar rakyat tidak akan menjadi korban utama. Tetapi yang menjadi korban adalah uang pemerintah daripada menjadi dikorupsi pejabat, lebih baik digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Itu yang terjadi dalam letusan Gunung Kelud kemarin. Anda bisa bayangkan, letusannya 17 kilometer ke atas, tapi korban utama adalah infrastruktur pemerintah. Jadi pertanyaan kita sejak 4 bulan yang lalu adalah, uang Indonesia sebanyak ini mau digunakan untuk pesta atau untuk evakuasi? Kalau digunakan untuk pesta maka digunakan untuk PEMILU, PILLEG, PILPRES dan sebagainya. Kalau digunakan untuk evakuasi, maka digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana alam. Jadi tidak ada putus asa didalam Islam. Saya tetap optimis, anda bertahan sampai jam segini disini ini merupakan bentuk ibadah kepada Allah, dan Insya Allah, Allah tidak menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan anda hari ini, sehingga Allah akan menolongmu, mengabulkan apa yang engkau cita-citakan, aamiin.”

Acara Suluk Semaleman kemudian ditutup dengan doa bersama. [Red KC/Fahmi Agustian]