Dari Esei, Eseis, Manusia Hingga Warganegara

Esei

Esei bukan tulisan ilmiah yang dipersyarati oleh kaidah-kaidah keilmuan, kecerdasan dan kejernihan terhadap fakta, serta oleh teguh dan tajamnya logika. Tetapi beban esei bisa lebih berat, karena esei harus lebih meluas dan mendalam dibanding ilmu. Esei tidak hanya sekedar mencerdasi menjernihi fakta melainkan juga nuansa dan rasa. Esei tidak harus hanya menteguhi dan mentajami fakta, tetapi juga memerlukan kepekaan, kelembutan, lantip dan waskita.

Esei bukan karya akademis dengan batasan-batasan ketat ‘administrasi persekolahan’. Tetapi esei justru harus mengenali pemetaan seluruh pagar-pagar akademis, sebagai bagian paling elementer dan baku dari fakta-fakta. Pemahaman esei terhadap batasan-batasan akademis itu justru merupakan salah satu langkah primer agar kemudian menemukan bahwa kehidupan ini tidak dikurung di dalam pagar, melainkan menjauh dan melebar hingga ke cakrawala, menembus keremangan dan terjebak di dalam kegelapan.

Para pekerja ilmiah dan akademis sangat merasa ketakutan terhadap kegelapan, sementara esei justru mengembarai dan menembus kegelapan sebagai metoda yang paling effektif untuk menemukan cahaya. Sebenarnya dunia ilmu dan etos akademis juga sangat melandasi perjalanan pencariannya dengan pekerjaan penelitian. Perbedaannya, para peneliti esei mengarungi kehidupan dengan jiwa ‘telanjang bulat’, sementara para ilmuwan dan akademisi memasuki hutan rimba remang-remang kehidupan dengan membawa pagar-pagar dan kurungan-kurungan yang sangat dijadikan pegangan kegiatannya, sehingga sekaligus juga sangat mengurung, membatasi dan memenjarakannya.

Prinsip-prinsip ilmu dan disiplin akademik sama sekali tidak boleh diremehkan oleh esei, sementara penulisan ilmu dan karya akademik sama sekali tidak dituntut untuk mengandung, membawa atau memancarkan nuansa dan keindahan sebagaimana yang dibebankan kepada esei.

Padahal esei bukan puisi. Akan tetapi esei tidak diperkenankan untuk hadir tanpa rasa poetika. Esei bukan cerita pendek, bukan novel, bukan reportoar teater, namun esei diharuskan bercerita, diwajibkan mengekspressikan suasana, itupun cerita dan suasana harus merupakan kandungan yang implisit, yang tersirat, yang samar, sebab kalau tidak: ia dituduh sebagai puisi atau cerita pendek atau novel atau reportoar teater.

Demikianpun esei tidak boleh mengelak dari tanggung jawab ilmu dan pemetaan akademik, tetapi kalau esei terlalu terpaku pada hal-hal tersebut: ia akan dituduh sebagai artikel ilmiah dan dibatalkan kehadirannya sebagai esei.

Esei tidak boleh mengingkari ilmu, tetapi tatkala ia menghadirkan dirinya, esei tidak diakui sebagai tulisan ilmiah. Esei tidak boleh meninggalkan segala sisi dan kandungan kehidupan sosial, tetapi ketika ia hadir membawa hasil pergulatan sosialnya, ia dilarang untuk dipakai sebagai rujukan ilmu sosial. Esei berendah hati kepada Tuhan dan mengapressiasi peri-kehidupan manusia beragama, tetapi esei tidak sah untuk dianggap sebagai patokan bagi para pembelajar dan penggiat Agama. Esei mendalam dan menyentuh sebagaimana puisi, tapi jangan sekali-sekali menyebut esei adalah puisi. Esei mengalir dan mendekap hati pembacanya seperti cerita pendek atau novel, tapi jangan taruh buku esei di rak cerita pendek dan novel. Esei menggeluti mengunyah menyelami apa saja di samudera kebudayaan, tetapi tidak dibenarkan penulis ilmu kebudayaan mengutip kalimat-kalimat esei dengan mempercayainya sebagai kebenaran.

Kebenaran kebudayaan berdomisili di Ilmu Kebudayaan, bukan di hamparan esei-esei kebudayaan. Kebenaran Agama bertempat tinggal di almari buku-buku Agama, bukan di serpihan kemesraan kata-kata esei. Kebenaran Ilmu Kehidupan berada di kuasa tangan para Ilmuwan, bukan di lembaran esei-esei yang mensyukuri kehidupan.

Eseis

Di dalam pengalaman personal saya, esei sangat memudahkan masa muda saya dan sangat menyelamatkan masa tua saya sekarang ini.

Kenapa memudahkan? Karena esei itu sangat ‘longgar’ di banding ilmu dan logika yang sangat ketat, teguh dan setia. Karena itu, uraian tentang esei di bagian awal tulisan ini sebenarnya jangan terlalu dipercaya, dan tak usah dijadikan pegangan, sebab kandungan ‘dramatisasi’nya cukup tinggi. Pada kenyataannya saya sebenarnya tidak benar-benar paham esei itu apa. Kalau tulisan ilmiah, atau ilmu itu sendiri, memberi dua kemungkinan: dipahami atau tidak dipahami. Sedangkan esei: ‘boleh’ tidak benar-benar dipahami, tanpa orang yang tidak benar-benar memahami itu harus disebut tidak paham.

Lihat saja, saya coba kutipkan salah satu wacana baku resmi tentang esei. Setelah 40 tahun lebih merasa menulis esei, ternyata bukan yang demikian itu yang disebut esei :

“Esai adalah suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya.

Sebuah esai dasar bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

Pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut.

Kedua, tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek.

Ketiga, adalah bagian akhir yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis.

Langkah-langkah pembuatan esai

Jika dipetakan mengenai langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut:

  1. Menentukan tema atau topik
  2. Membuat outline atau garis besar ide-ide yang akan kita bahas
  3. Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan kalimat yang singkat dan jelas
  4. Menulis tubuh esai; memulai dengan memilah poin-poin penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang telah kita buat sebelumnya.
  5. Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai pendahuluan. Itu sebabnya, yang akan kita tulis itu harus merupakan alasan atau latar belakang alasan kita menulis esai tersebut.
  6. Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya (memang) bersikap netral.
  7. Jangan lupa untuk memberikan sentuhan akhir pada tulisan kita agar pembaca merasa bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis tersebut dengan mudah dan sistematis sehingga membentuk kerangka berpikir mereka secara utuh…”

Jelas sekali esei itu apa dan seharusnya bagaimana, dan itu sama sekali jauh dari yang saya ‘igau’kan di atas, maupun dari yang puluhan tahun ini saya kerjakan . Tidaklah demikian pemahaman dan cara saya menulis hal-hal yang selama ini saya sangka esei.

Mungkin ternyata saya seorang ‘penipu’. Tampaknya publik juga terperdaya oleh informasi dan kesan seolah-olah saya adalah penulis esei. ‘Materi’nya memang bukan tidak ada: saya telah menulis dan menerbitkan 51 Buku ‘Esei’ dari 76 buku keseluruhannya, di luar yang muncul di berbagai jenis penerbitan yang bukan buku, di berbagai level dan strata wacana para pembaca tulisan. Keseluruhannya mungkin sekitar 2500 – 3000, saya tidak tahu persis karena sedang terus dilacak, terutama yang tercecer-cecer.

Belum lagi ‘esei lisan’ yang sedang dalam proses transkripsi — dalam komunikasi dengan publik sejak Agustus 1972 hingga sekarang – yang menurut catatan beberapa peneliti di ‘kantor’ saya – sejumlah 9072, sementara bersama Kiai-Kanjeng 3583 kali pementasan di berbagai belahan dunia.

Perjalanan sangat panjang, yang hari-hari ini justru terasa baru asyik-asyiknya memulai, sesungguhnya tidak banyak manfaatnya bagi Bangsa dan Negara, selain hanya bermakna bagi diri saya sendiri — karena sungguh-sungguh amat memberi kemudahan selama puluhan tahun saya menjalani kehidupan masa pra-manula saya.

Penjelasannya sederhana: saya tidak benar-benar punya kemampuan untuk menulis ilmiah, tidak terdidik dan tak punya latar belakang yang memungkinkan untuk itu. Saya juga tidak punya kapasitas untuk berkarya-tulis tentang hal-hal keagamaan, politik, apalagi ekonomi, lingkungan hidup, analisis-analisis sosial, atau bidang apapun yang saya memang tidak punya landasan kependidikan. Mungkin di sebagian waktu saya pernah saya hasilkan tulisan-tulisan semacam puisi, cerita pendek, naskah drama dlsb, namun tidak pernah memenuhi standard kwalitatif untuk benar-benar disebut sebagai bagian dari karya sastra, kesenian dan keindahan.

Dengan demikian aslinya posisi dan fungsi esei adalah suatu cara elegan tapi tersamar untuk menyembunyikan ketidakmampuan saya mengolah permasalahan Keilmuan, Agama, Politik, Ilmu-ilmu Sosial pada umumnya, serta Kebudayaan, Kesenian, Kesusastraan dan apapun saja.

Memang di dalam ribuan tulisan itu disentuh apa saja: pertanian, kesehatan, nelayan, gelandangan, firman, bentrok petambak, kebatinan, tutup botol, hibrida enerji, innovasi, ijtihad dan invensi berbagai penggalian kreativitas jasad maupun rohani, juga tawur, wirid, bom, tasawuf, apa saja, bahkan hampir semua term dari keilmuan resmi saya sebut-sebut juga.

Tetapi karena semua itu bukan tulisan ilmiah, maka saya tidak tertuntut untuk bertanggung jawab terhadap apapun saja yang saya sebut. Jadi, definisi saya tentang ‘esei saya’ adalah suatu jenis dan formula penulisan di mana saya bisa bersembunyi dari tanggung jawab ilmu.

Manusia

Sebagaimana tulisan esei saya, demikian pulalah ‘kehidupan esei’ yang saya jalani berpuluh-puluh tahun sampai hari ini. Dan hal itu sungguh sangat menyelamatkan hari-hari di masa tua saya sekarang ini.

Saya menulis sastra tapi merdeka untuk tidak menjadi sastrawan, dan peta resmi kesusastraan nasional atau Dunia tidak harus mencantumkan nama saya. Ribuan kali saya disuruh berceramah di Universitas dan Sekolah-sekolah, tanpa dibebani identitas sebagai Intelektual, atau Ilmuwan, dan skripsi atau disertasi mahasiswa tidak perlu repot-repot mengutip kalimat-kalimat saya, baik yang tertulis maupun yang lisan.

Saya dilibatkan di dalam forum keagamaan dengan ratusan, ribuan atau puluhan ribu ummat hampir seminggu tiga kali, tanpa kewajiban untuk menjadi Ulama. Saya bergaul dengan ribuan atau jutaan orang yang mengaku Santri saya, para Salik-in, para penempuh Tarikat, tetapi terhindar untuk menjadi Syeikh atau Maulana.

Saya menggali khasanah tradisi budaya dan keagamaan, pepujian, shalawatan dan berbagai item lain, sehingga akhirnya menjadi bagian kegiatan yang sangat primer dan meriah dari kebudayaan kelas menengah modern. Tetapi saya tidak dibebani dengan identitas atau gelar Habib, Gus, Syeikh atau apapun. Iseng-iseng saya bersama teman-teman juga punya banyak album musik di mana saya juga banyak bernyanyi, namun tidak ada siapapun yang menyiksa saya dengan menyebut saya Penyanyi. Bahkan ternyata banyak juga lagi-lagu yang saya bikin, aransemen-aransemen musikal yang saya susun, dan ringan hidup saya karena itu membebani saya dengan identitas, kategori profesi atau identitas.

Orang di Canberra, Roma, London dan tempat-tempat lain memaksa saya bekerja mengusir hantu dari rumah atau bangunan angker yang mereka tinggali, dan senang sekali karena dengan itu mereka tidak menyebut saya apa-apa kecuali nama saya saja.

Saya diminta membikin nama ribuan bayi, tanpa institusi atau profesi Biro Pemesanan Nama Bayi. Saya disuruh menyembuhkan macam-macam orang sakit, dan mereka tidak menyimpulkan saya adalah Tabib atau Dukun.

Saya menampung orang kecopetan atau menemani orang bangkrut, dimintai pertimbangan demonstrasi, Lasykar, terpojok tak bisa mengelak datangnya orang-orang kecil dan orang besar kepepet, mentraining patriot-patriot muda calon penangkap koruptor, workshop kreativitas dengan ratusan kanak-kanak, menampung orang-orang istimewa yang meramalkan gunung-gunung meledak, meladeni semedi meditasi suatu kaum di pesanggrahan leher gunung, evakuasi ke dekat puncak gunung tatkala masih tahap-tahap erupsi, memandu proses normalisasi ribuan penghuni kampong pelacuran terbesar se Asia Tenggara dan menaikkan para Germo ke panggung musik, merangkul orang-orang gila yang mendadak naik panggung dan mengamuk atau mahasiswa marah yang melempar sandal, menyetop rombongan ratusan penyerbu ke sebuah kota, memagari empat Kabupaten agar tak ikut dibanjiri oleh perang Suku dan pembunuhan massal, dan bermacam ragam lagi pekerjaan-pekerjaan “yang tidak pada tempatnya” – syukur semua mereka tidak memberi embel-embel apapun kecuali hanya menyebut nama saya dan menatap wajah saya.

Saya diseret untuk berkeliling melakukan pendidikan politik, pendidikan spiritual, pendidikan kependidikan, pendidikan kesehatan, pendidikan mental, atau apa saja sampai konsultasi rumahtangga di perempatan jalan, di warung, ruang tunggu Terminal dan Bandara atau bahkan di mobil dinas Polisi. Akan tetapi saya diselamatkan oleh mereka semua yang terlibat, dengan cara tidak memposisikan saya sebagai Pendidik atau Konsultas.

Saya terpojok untuk merayu Presiden agar lengser, menemaninya sesudah jatuh di bawah. Terkadang kalau pasti hati jengkel bahasanya saya bikin kasar: Saya pernah menurunkan Presiden dan menaikkan orang lainnya menjadi Presiden. Bahkan Presiden yang saya turunkan itu, bersedia saya bikin menandatangani Surat Empat Sumpah untuk tidak akan menjadi Presiden lagi, untuk tidak turut campur dalam setiap proses pemilihan Presiden, untuk siap diadili oleh Peradilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahannya selama menjadi Presiden, serta siap mengembalikan harta rakyat yang dibuktikan oleh hasil pengadilan.

Di saat lain dipepet untuk memproses seorang lain agar menjadi Presiden, kemudian mengajaknya pulang dari Istana sesudah ia dipecat oleh Parlemen. Banyak sekali pekerjaan-pekerjaan politik, dengan detail-detail yang unik, dengan nuansa-nuansa yang lucu, dengan logika-logika dan pola berpikir yang penuh paradoks. Tetapi sampai usia udzur sekarang ini saya disayangi oleh kehidupan sehingga terhindar dari sebutan Politisi, aktivis politik, operator politik, atau apapun.

Banyak sekali juga jenis pekerjaan saya yang lain, sehingga tidak jelas identifikasinya. Hanya satu sisi yang jelas dari hidup yang saya jalani: yakni bahwa saya tidak punya profesi. Tidak punya karier, dan tidak punya cita-cita.

Yang pernah ditulis oleh jari-jari saya bukan karya ilmiah, bukan pidato politik, bukan makalah akademis, bukan ceramah Agama, bukan puisi atau ragam sastra yang lain, juga bukan primbon, rajah atau aji-aji. Maka tinggal satu kemungkinannya: yang saya tulis itu adalah esei. Dan supaya tidak lepas lagi yang tersisa ini, maka saya bikin anggapan sendiri tentang esei.

Warganegara

Demikian juga sebagai pejalan kehidupan yang semakin samar-samar wajahnya ini: saya bukan Sastrawan, bukan Budayawan, bukan Ulama, bukan Dukun, bukan Politisi, bukan Kiai, bukan Mursyid, bukan Intelektual, bukan Ustadz, bukan Pemusik, bukan Pengusir Hantu, bukan Failasuf, bukan Preman, bukan Begawan, bukan bagian dari Kaum Profesional, bukan Raja, bukan Lurah, bukan Menteri dan juga bukan Presiden.

Saya ini manusia. Sangat berbeda dengan semua yang saya sebut berderet-deret itu. Saya hanya manusia. Manusia bukan Presiden atau Menteri, meskipun tidak lantas berarti Presiden dan Menteri bukan manusia.

Kalau nanti saya lulus sebagai manusia, tahap berikutnya adalah saya akan tekun belajar menjadi Warga Negara.

Saya sungguh tidak sabar untuk menapaki tahapan itu. Terutama karena saya mendengar Negara ini sudah sedemikian majunya. Masyarakatnya dewasa. Matang sebagai bangsa. Kesejahteraan dan keadilan perekonomiannya membuat cemburu seluruh penduduk Bumi. Kebudayaannya penuh kebanggaan dan rasa percaya diri. Demokrasinya menjadi teladan dan rujukan bangsa-bangsa sedunia. Pers-nya cemerlang dan tak bisa ditandingi oleh media apapun di dunia. Pemerintahannya hampir sempurna. Kepribadian pemimpin tertingginya hampir menyamai kwalitas para Nabi. Gemah ripah loh jinawi, baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Tak sabar saya ingin segera belajar menjadi warganegara. Alangkah asyik dan indahnya.

Tampaknya itulah ‘esei’ masa depan saya.***

Yogyakarta, 03.05 wib
4 September 2014