Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Semarang, 30 Okt 2014

Catatan Perjalanan dan Reportase Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng bersama BMPD, Semarang, 30 Oktober 2014.

Tanpa jeda sesudah rangkaian acara di Solo, Kediri, dan Malang, malam ini Cak Nun KiaiKanjeng kembali memenuhi undangan masyarakat. Kali ini BMPD (Badan Musyawarah Perbankan Daerah) Semarang mengundang Cak Nun KiaiKanjeng dalam rangka menyambut tahun baru 1 Muharram 1436 H. Acara yang berlangsung di Gedung Bank Indonesia Semarang ini mengambil tema khasanah pemimpin.

Usai nomor pembuka dari KiaiKanjeng, dengan ditemani dua narasumber dari BMPD dan Bank Indonesia, Cak Nun langsung naik panggung, dan segera merespons tema acara yang dihadiri pelbagai kalangan perbankan di Semarang atau Jawa Tengah dan tamu undangan lainnya dengan mengapresiasi, “Di dunia tidak ada bank yang bikin acara Muharraman, jadi malam ini sangat bagus acara ini.” Kemudian Cak Nun mengungkapkan, “Beberapa acara terakhir saya bersama KiaiKanjeng adalah dalam rangka 1 Suro atau Suronan, belum lagi yang besok dan lusa. Jadi kalau anda hanya satu kali memperingati 1 Muharram, maka saya bisa 12 kali,” disambut tawa para hadirin.

Berbeda dengan acara-acara sebelumnya yang digelar di lapangan terbuka, baik di kampung atau di desa-desa, malam ini acara berlangsung di gedung BI lantai 7 di ruangan auditorium yang penuh AC, semua hadirin duduk lesehan di atas karpet hijau. Tetapi, di jenis tempat seperti apapun beracara, dan dengan latar belakang sosial apapun audiens yang dihadapi, KiaiKanjeng tetap sama, yakni memberikan pelayanan dan persembahan terbaik buat masyarakat. Bahkan perjalanan-perjalanan KiaiKanjeng itu disyukuri sebagai suatu pengembaraan dan persentuhan sosiologis yang jarang bahkan tidak dialami kelompok musik manapun.

Bahkan Cak Nun sendiri jauh lebih padat jadwalnya. Pagi tadi baru saja tiba dari Denpasar menjenguk Penyair Umbu Landu Paranggi, dan siang tadi langsung bergerak ke Semarang.

Pak Miyono pejabat BI, menyampaikan bahwa acara Muharraman ini dimaksudkan agar semangat hijrah dan pembaruan di masyarakat perbankan kuat ditanamkan, apalagi saat ini BMPD sedang memperkuat dan mengembangkan ekonomi syariah atau ekonomi Islam. Cak Nun lantas menggoda, “Berarti ini sekarang ekonominya bukan Islam atau Syariah ya sehingga perlu dihijrahkan ke Syariah atau Islam…,” disambut senyum-senyum para hadirin. Lebih jauh Cak Nun menjelaskan, “Nggak papa sebenarnya ini kan ada kaitannya dengan sekularisme. Dalam beberapa segi sekular itu nggak papa, karena berisi usaha untuk memilah-milah, ada bagian ini, ada bagian itu. Tetapi, kalau dilihat dari segi dan konteks lain, sekular bisa lebih bahaya dari kafir. Lebih-lebih jika dilihat sekarang ini sedang marak kesempitan-kesempitan berpikir yang outputnya adalah gampang mengatakan ini haram, ini nggak boleh, ini sesat, sementara yang lain tidak diharamkan,” tegas Cak Nun.

Karena waktu yang tersedia tidak lama, berbeda dengan maiyahan-maiyahan bersama masyarakat luas yang bisa sampai jam 1 malam bahkan lebih dari itu, maka Cak Nun memberikan kunci-kunci dasar saja dalam merespons apa yang disampaikan para narasumber. Salah satunya tentang Hijrah. Inti utamanya adalah hijrah berangkat bukan dari sosok, melainkan nilai. Yakni nilai yang diusung oleh Kanjeng Nabi melalui peristiwa hijrah tersebut. Ini berbeda dengan kecenderungan di dunia politik, di mana orang ngegenk ke sana atau ke sini tidak karena nilai, tetapi karena mengincar kemungkinan peluang kekuasaan. Ngegenknya pun bisa tiba-tiba berpindak ke kelompok lain, kalau tiba-tiba kelompok lainnya tersebut membawa keuntungan politik.

Walaupun acara ini tidak secara khusus ditujukan untuk tema perbankan syariah, karena sebenarnya merupakan puzling silaturahmi pelbagai elemen perbankan, Cak Nun berpesan, “Saya tidak tahu tentang perbankan, tetapi kalau mau sungguh-sungguh, bank syariah sebaiknya direview dan direevaluasi lagi, sebab saya ini keranjang sampah keluhan orang tentang bank syariah. Itu berarti ada hal-hal yang harus direevaluasi. Saya dengar bank syariah yang benar malah di Hong Kong, dan orang-orang Arab menyimpan uangnya di Bank Syariah di Amerika. Tolong BI verifikasi kembali secara fakta dan juga prinsip-prinsip di baliknya. Maka Pak Syafi’i Antonio perlu diajak diskusi terus menerus, karena beliau salah satu yang menggalakkan ekonomi Islam.”

Dengan tema Hasanah Pemimpin ini, seperti disampaikan Pak Bahauddin, Kasi Keagamaan BMPD Jateng, BMPD ingin mengajak untuk melahirkan pemimpin yang menebarkan aura kebaikan. Khususnya di lingkungan perbankan. Pernyataan ringkas ini kemudian menjadi pintu masuk bagi Cak Nun untuk menjelaskan butir-butir pokok mengenai kepemimpinan. Di antaranya, berbicara tentang kebaikan harus harmonis dan dialektis dengan keindahan dan kebenaran. Kadangkala kebaikan bagi satu pihak, tetapi ternyata madhorot bagi pihak lain. Jadi, harus seimbang di antara ketiganya, sehingga sesedikit mungkin madhorotnya bagi orang lain.

Suasana semakin kental dengan pencarian ilmu. Beberapa hadirin merapat ke depan, untuk menyimak uraian Cak Nun yang padat ilmu tetapi juga penuh kesegaran yang menerbitkan kegembiraan bagi hadirin. Cak Nun makin lengkap memaparkan dimensi-dimensi kepemimpinan. Beliau menjelaskan bahwa pemimpin itu sesuatu yang abstrak, yang tidak sama dan sebangun dengan direktur, ketua, dan jabatan-jabatan lain. “Analoginya, kapten tim sepakbola itu kan nggak mesti pemain yang paling bagus mainnya. Conductor kelompok musik itu bisa jadi orang yang tidak bisa memainkan alat musik apapun, itu sebabnya, waktu pentas di Napoli, maaf, saya disebut dan dipanggil sebagai maestro karena saya yang mengaransir lagu KiaiKanjeng waktu itu,” tegas Cak Nun.

Dimensi lain dari kepemimpinan adalah sabda Nabi Kullukum ro’in wa kullu ro’in mas’ulun ‘an roiyatihi (kalian semua adalah pemimpin, dan setiap pemimpin dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya). Dengan landasan ini Cak Nun menegaskan bahwa tugas pemimpin adalah menumbuhkan kepemimpinan di mana yang dipimpin adalah juga pemimpin atau punya kepemimpinan atas dirinya sendiri.

Terlihat sekali insan-insan perbankan yang merupakan salah satu representasi kaum profesional di dalam masyarakat kita ini sangat serius menyimak uraian ulang-alik siklikal Cak Nun mengenai kepemimpinan. “Maka kepemimpinan ini bukan soal perbankan saja, melainkan universal. Dan kalau anda sudah universal, maka perbankannya pasti masuk.”

Pada intinya Cak Nun menegaskan bahwa kita bisa mengambil ilmu dan filosofi kepemimpinan dari manapun, dari agama, dari kitab-kitab suci, dari khasanah nenek-moyang kita. Tidak ada yang diciptakan nenek moyang kita yang tidak bermuatan ajaran tentang kepemimpinan. Misalnya lagu Gundul-Gundul Pacul. Jelas sekali filosofinya, bahwa rakyat (yang disimbolkan oleh wakul) posisinya ada di atas pemimpin, yang menyungginya.

Sementara itu dari kekayaan Islam, kita bisa belajar dari konsep Amirul Mukminin (pemimpinnya orang-orang beriman), khilafah Islamiyah, dan lain-lain. “Sayangnya, kita selama ini tidak hati-hati bikin dan menerapkan nama-nama. Istilah khilafah Islamiyah sudah penuh stigma. Apalagi menurut saya khalifah itu adalah titah/tugas setiap orang. Tidak bisa dan tidak boleh diklaim sebagai milik satu kelompok orang saja.”

Di bagian akhir, salah seorang pimpinan di lingkungan BMPD diminta Cak Nun menyampaikan pesan. Bapak yang mewakili BMPD ini mengatakan bahwa dengan acara Muharraman malam ini, yang merupakan acara penuh rahmat dan penuh pencerahan, dirinya dan lingkungan perbankan ingin mengajak semua yang hadir untuk berpindah dan bergerak dari yang semula buruk dan jauh dari Allah untuk menjadi baik dan dekat dengan Allah, secara pribadi. Sementara itu, secara sistem, perbankan bermaksud untuk bisa memberikan manfaat dan warisan yang baik bagi masyarakat.

Menanggapi hal ini, Cak Nun menggarisbawahi dua hal. Pertama, kalau yang dituju adalah manfaat, maka itu dimensinya bukan saja horisontal sesama manusia, melainkan juga vertikal, karena Nabi menegaskan Khoirunnasi anfa’uhum linnas (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya). Kedua, ini berarti sebuah perjalanan menuju Allah. Dalam hal ini perlu diingat firman Allah: wabtaghi fiima aatakallahud daarol akhirota wala tansa nashiibaka minad dunya. Ayat ini memberikan pelajaran tentang mana yang diprimerkan dan mana yang disekunderkan. Dalam ayat ini, diperoleh ilmu bahwa yang primer adalah berjalan menuju Allah (darul Akhiroh). Tetapi, Allah berpesan, dalam perjuangan menuju akhirat, janganlah lupa nasibmu di dunia. Jangan lupa nasib karyawan, keluarga, dan bankmu. Ini kontras dengan pesan orang tua zaman sekarang “kalau bekerja jangan lupa shalat”, jadi shalatnya berposisi sekadar “jangan lupa”.

Kemudian Cak Nun menandaskan, “Nah, seringkali kita orang-orang modern mengira kalau kita mencari Allah lantas kita tidak kebagian dunia. Padahal, tidak demikian. Sebab Allah yang memiliki dunia.”

Terakhir, Cak Nun mengingatkan bahwa manusia itu makhluk yang kondusif, artinya kalau kita sibuk dengan berpikir bagaimana melayani orang dengan sebaik-baiknya, membuat orang bersyukur atas keberadaan kita, maka uang atau rezeki akan berebut mendatangi kita.

Acara dipuncaki dengan persembahan nomor medlei Nusantara oleh KiaiKanjeng di mana beberapa pentolan BMPD diminta untuk ikut serta bernyanyi. Para hadirin yang sebagian mengenakan peci atau kopiah, dan mayoritas mengenakan baju koko, mereka pasti menyiapkan diri untuk mengikuti sebuah pengajian, tetapi yang mereka peroleh ternyata lebih dari sekadar pengajian pada umumnya. Dengan Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng malam ini mereka diajak mencicipi slulup ke semesta ilmu yang komprehensif, keasyikan yang bermartabat, dan kenikmatan yang menyehatkan yang mungkin tidak mereka peroleh pada kesempatan-kesempatan lain.