Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Paciran, 2 Nov 2014

Reportase Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Ngaji Noto Ati Ngadepi Industrialisasi dan Globalisasi”, Paciran, Lamongan, 02 November 2014.

Acara pada malam hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati haul Syaikh Maulana Ishaq dan memperingati 10 Muharram 1436 H. Syaikh Maulana Ishaq adalah salah satu wali yang dari garis keturunannya lahir beberapa wali yang merupakan bagian dari Wali Songo. Salah satunya adalah Sunan Giri yang merupakan anaknya. Dengan acara ini, diharapkan masyarakat dapat senantiasa mengingat, menjunjung, dan mewarisi nilai-nilai perjuangan para wali yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara.

Ngaji bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng malam ini merupakan puncak acara dari rangkaian acara yang telah berlangsung 10 hari, yakni Kirab Santri, Musabaqah Hifdhil Quran, Lailatul Qiroah, Musabaqoh Dzibaiyah, pergelaran wayang kulit, Qasidah dari beberapa pesantren, dan Istighotsah Qubro pada malam Jum’at Pon. Dengan tema “Ngaji Noto Ati Ngadepi Industrialisasi dan Globalisasi” panitia ingin Cak Nun memberikan panduan bagaimana masyarakat, khsusnya masyarakat Paciran ini, dapat memiliki sikap yang tepat dalam menghadapi datangnya industrialisasi dan globalisasi.

Ngaji Noto Ati Ngadepi Industrialisasi lan Globalisasi.
Ngaji Noto Ati Ngadepi Industrialisasi lan Globalisasi.

Salah satu yang perlu dipersiapkan adalah bagaimana generasi muda dapat membentengi diri menghadapi kemungkinan ekses budaya yang ditimbulkan oleh industrialisasi. Walaupun belum bisa dipastikan sebagai dampak yang timbul, tetapi gejala gaya hidup konsumtif dan ketidakpedulian itu mulai terasa. Dilemanya adalah generasi muda juga membutuhkan lapangan pekerjaan yang salah satunya disediakan oleh industri-industri yang ada, karena umumnya mereka enggan untuk bertani.

Masyarakat Paciran ini “hidup di dua alam”, malam hari pergi melaut sebagai nelayan, dan di pagi hari mereka bertani: cabe, jagung, kacang, dan lain-lain. Paciran juga merupakan pusat santrinya kabupaten Lamongan. Ada sekitar 15 pesantren di sini. Karena itu, Cak Nun diharapkan dapat memberikan view bagaimana para santri dapat merespons gelombang industrialiasai, tanpa harus menjadi korban industri.

Selain itu, juga merupakan harapan panitia agar Cak Nun berkenan memberikan wawasan yang memadai tentang bagaimana para pemuka agama dapat menyuguhkan Islam secara kreatif di tengah derasnya perubahan zaman, sehingga khususnya generasi muda tetap bisa kuat memegangi nilai-nilai agama. Yakni, bagaimana sebagai umat Islam dapat ber-Islam dengan kaffah di tengah perubahan-perubahan zaman ini. Menjaga antara kebutuhan merawat tradisi dan kebutuhan untuk inovasi dan ijtihad. Di Paciran ini sekurangnya ada tiga perusahan besar, yaitu Lamongan Shorebase (LSB) yang merupakan join antara pemerintah Lamongan dengan investor Singapura di bidang kargo dan shipping, di antaranya transportasi pertambangan; PT. DOK yang bergerak di bidang perkapalan; dan PT. LMI yang bergerak di bidang pembuatan kapal. Dengan pengajian pada malam hari ini, panitia berharap masyarakat dapat menimba ilmu tentang pelbagai hal yang tersirat dalam tema malam ini, sekaligus juga merasakan bagaimana ajaran Islam dapat disajikan dan direpresentasikan secara benar, baik, dan indah melalui pergelaran Cak Nun dan Kiaikanjeng.

Di pelataran depan Masjid Al-Abror yang sangat megah dan penuh di dalamnya ornamen dan kaligrafi, di komplek Makam Syaikh Maulana Ishaq, malam ini kembali Cak Nun KiaiKanjeng bermaiyahaan bersama masyarakat Desa Kemantren Paciran Lamongan. Acara ini digelar dalam rangka haul akbar Syaikh Maulana Ishaq dan peringatan 10 Asyuro 1436 H dengan tema “Ngaji Noto Ati Ngadepi Industrialisasi lan Globalisasi”.

Begitu naik panggung bersama KiaiKanjeng, Cak Nun langsung mengawali acara ini dengan nomor Pambuko di mana Cak Nun yang langsung melantunkan suluknya, yaitu shalawat Nabi. Sesudah itu, jamaah diajak memasuki semesta Hasbunallah wa Nikmal Wakil dari KiaiKanjeng.

Dengan diliputi hembusan angin pantai utara Paciran, ribuan jamaah memadati area di depan, kanan, kiri, dan bahkan belakang panggung, dan semakin rapat ketika Cak Nun dan KiaiKanjeng naik ke panggung. Dan, benar-benar tak menyisakan ruang kosong.

Langsung menukik ke tema, Cak Nun memberikan dasar. Pisau itu belum jelek atau baik. Pisau akan menjadi atau ada kaitannya dengan baik dan buruk. Demikianlah industri. Ada industri yang nggak papa, nggak ada industri yang papa. Anda yang menentukan baik dan buruknya industri. “Nah sekarang yang penting, jangan menjelek-jelekkan siapa-siapa, karena nggak ada sesuatu yang jelek, yang ada adalah sesuatu yang tidak pada tempat dan waktunya. Tidak usah rame soal bidah, soal NU dan Muhammadiyah, ojo gelut. Apapun latar belakangmu, yang penting keluarannya adalah kebaikan”, pinta Cak Nun.

Apapun latar belakangmu, yang penting keluarannya adalah kebaikan.
Apapun latar belakangmu, yang penting keluarannya adalah kebaikan.

“Ojo nganti pegatan (cerai) di tengah jalan, seandainya nanti pak bupati tidak lagi jadi bupati, persuami-istrian dengan rakyat tetap bisa dilanjutkan dengan format yang berbeda,” pesan Cak Nun.

Benar-benar spektakuler berkumpulnya begitu banyak orang di sini, di depan masjid yang megah dan agung, pemerintah dan rakyat duduk bersama, ditemani musik KiaiKanjeng yang kelasnya adalah orkestra, dengan panduan Cak Nun yang sangat piawai memberikan roh bagi setiap jengkal pergerakan di acara ini. Baru saja Pak Bupati menyanyikan lagu “Keagungan Tuhan” diiringi KiaiKanjeng.

Sedikit kembali ke soal industrialisasi, Cak Nun sempat menerangkan bahwa revolusi roda merupakan salah satu pencapaian manusia yang memacu makin cepatnya industrialisasi di dunia. Salah satu bentuk industri adalah televisi. Dulu sebelum ada televisi yang banyak seperti sekarang ini, anak-anak selalu menghabiskan waktu di surau atau langgar. Sekarang sudah berkurang jauh, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi. Justru pada jam-jam sholat maghrib dan isya’ adalah saatnya prime time. Dulu, di desa, kyai menjadi kyai karena dikyaikan oleh masyarakat atau umatnya. Sekarang, siapa menjadi kyai ditentukan oleh siapa yang punya uang, modal, dan media (televisi dan lain-lain). “Jadi, kalau mau menghadapi dampak industri seperti itu, maka anda harus berani menentukan sendiri siapa kyai anda, siapa yang layak menjadi kiai menurut anda. Jangan mengikut yang disodorkan media, sementara anda tidak benar-benar mengenalnya,” pesan Cak Nun memberi contoh bagaimana menyikapi ekses globalisasi dan industrialisasi.

Syaikh Maulana Ishaq, yang diperingati haulnya malam ini, adalah keturunan ke-18 dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Beliau merupakan di antara wali-wali pertama yang membuka penyebaran Islam di Nusantara. Sunan Giri adalah putra beliau. Dari beliau pula lahir beberapa wali yang tergabung dalam Walisongo. Sunan Ampel adalah keponakannya. Usai maghrib tadi KiaiKanjeng dipimpin Mas Islamiyanto berziarah di makam beliau. Merupakan acara yang unik memperingati haul beliau, sekaligus peringatan 10 Asyuro 1436 H, dengan tema industrialisasi dan globalisasi. “Tidak semuanya bisa saya jawab, apalagi dalam forum yang belum tentu bisa mendalam karena harus merespons banyak pihak,” kata Cak Nun saat briefing bersama KK dan panitia. Tetapi sejauh ini, Cak Nun telah memberikan dasar atau prinsip berpikir dalam menyikapi apa saja. Dan sekarang, sedang berlangsung dialog antara Bupati dengan rakyatnya, dipandu oleh Cak Nun.

Pak Bupati H. Muhammad Fadhli mendengarkan uneg-uneg rakyatnya, mulai soal mobil sehat hingga soal industri-industri yang masuk ke Lamongan tetapi sudah membawa tenaga kerjanya sendiri yang notabene dari luar kota, sementara di sisi lain ada kenyataan banyak anak-anak nakal yang kenakalannya dikarenakan nggak punya pekerjaan. Semuanya harus direspons Pak Bupati sebagai suaminya rakyat.

Jangan mengandalkan pemerintah untuk kesehatan kalian. Kalian harus menyehatkan diri anda juga. Jangan lantas perut mules sedikit datang ke kantor Pak Bupati.
Jangan mengandalkan pemerintah untuk kesehatan kalian. Kalian harus menyehatkan diri anda juga. Jangan lantas perut mules sedikit datang ke kantor Pak Bupati.

Usai Pak Bupati menjelaskan upayanya untuk mengatasi sekitar 31 ribuan pengangguran di Lamongan serta memaparkan belum bisa terserap penuhnya tenaga kerja di perusahaan/industri karena belum terpenuhinya kualifikasi teknis yang dibutuhkan, di mana Pak Bupati juga sedang membangun BLK (Balai Latihan Kerja) di Lamongan meskipun baru di kota, Cak Nun melengkapi apa yang disampaikan Pak Bupati. Cak Nun menerangkan dua jenis penjajahan. Pertama penjajahan lewat pendidikan. Kedua, penjajahan lewat mengatur dan mengubah undang-undang. Penjajahan kedua inilah yang memungkin investor asing bisa langsung masuk ke dareah kabupaten. Maka di sini, peran Bupati sangat penting. Perusahaan yang datang ke daerah kalau tidak memberi keuntungan bagi rakyatnya dan tidak menyerap tenaga kerja setempat, maka stop. “Tapi awakmu yo kudu meningkatkan skill dan keterampilanmu,” pesan Cak Nun kepada kaum muda Lamongan yang hadir dan ikut bertanya tadi.

Dialog seperti malam ini benar-benar contoh hidupnya suatu kepolitikan di dalam masyarakat. Dari sisi jumlah orang yang hadir serta kualitas isu yang dibicarakan sangat langka. Jarang terjadi public discussion seperti ini, di mana yang terjadi lebih banyak rakyat yang apatis terhadap pemerintah. Tetapi dengan panduan Cak Nun mereka bisa ajur-ajer, saling tenggang rasa, dan siap saling mendengarkan. Sewaktu Pak Bupati dibebaskan oleh Cak Nun untuk boleh pamit sewaktu-waktu, pak Bupati memilih tetap mengikuti acara sampai selesai, tetap bersama-sama rakyat di tempat ini.

Cak Nun sungguh-sungguh berpesan agar Pak Bupati bisa dekat dan menyatu dengan rakyatnya, kalau ada persoalan dibicarakan dengan sebaik-baiknya. Terlebih Cak Nun punya pengalaman bersinggungan dengan orang-orang Lamongan yang bekerja di berbagai negara, di mana mereka adalah pekerja-pekerja yang hebat dan penuh energi. “Lamongan itu hebat. Lamongan itu penting bagi Indonesia.

Lamongan itu suatu bangsa. Indonesia bukanlah sebuah bangsa, melainkan kumpulan dari bangsa-bangsa. Ada bangsa Lamongan, bangsa Madura, bangsa Sunda, dan lain-lain,” tegas Cak Nun sembari mengingatkan bahwa kita tidak boleh minder dengan bangsa asing manapun meskipun tidak boleh tinggi hati kepada siapapun. Indonesia memiliki kebesarannya sendiri.

Peran yang dimainkan Cak Nun dalam dialog publik seperti ini sangat penting, yakni membantu mengurai masalah secara jernih dan analogi yang mudah dipahami. Pak Bupati punya program membuat mobil sehat. Salah seorang warga memprotes, lebih baik menyehatkan warganya dulu baru beli mobil. “Duluan mana mobil dengan sehat? Sehat dulu baru beli mobil, atau beli mobil baru kemudian warga sehat? Silakan diputuskan sendiri. Sebab, beli mobil juga salah satu acara untuk melayani kebutuhan masyarakat akan kesehatan. Tetapi kalian juga jangan mengandalkan pemerintah untuk kesehatan kalian. Kalian harus menyehatkan diri anda juga juga. Jangan lantas perut mules sedikit datang ke kantor Pak Bupati,” urai Cak Nun.

Peran yang dimainkan Cak Nun dalam dialog publik seperti ini sangat penting, yakni membantu mengurai masalah secara jernih dan analogi yang mudah dipahami. Pak Bupati punya program membuat mobil sehat. Salah seorang warga memprotes, lebih baik menyehatkan warganya dulu baru beli mobil. “Duluan mana mobil dengan sehat? Sehat dulu baru beli mobil, atau beli mobil baru kemudian warga sehat? Silakan diputuskan sendiri. Sebab, beli mobil juga salah satu acara untuk melayani kebutuhan masyarakat akan kesehatan. Tetapi kalian juga jangan mengandalkan pemerintah untuk kesehatan kalian. Kalian harus menyehatkan diri anda juga juga. Jangan lantas perut mules sedikit datang ke kantor Pak Bupati,” urai Cak Nun.

Sama seperti konsep baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur yang lebih lengkap dibanding konsep toto tentrem kerto raharjo. Yang terakhir ini sekadar berbicara kesejahteraan lahir, sedang yang pertama bukan sekadar sejahtera secara lahiriah, melainkan juga kesejahteraan itu didapat dengan cara yang benar sehingga diridhoi oleh Allah dan mendapat pengampunan darinya. “Sangat tidak masuk akal jika negara anda ingin menjadi seperti negara-negara maju yang untuk menghidupi warganya harus dengan menjarah dan merampok bangsa lain,” tegas Cak Nun menjabarkan lebih jauh konsep Islam tentang negeri yang thayyibah dan mendapat pengampunan dari Allah.

Sesudah mengajak masyarakat membenahi pemahaman politik kenegaraan dan kebangsaan, kini para jamaah diajak mengingat dan mensyukuri anugerah alam yang gemah ripah loh jinawi ini dengan persembahan lagu Bukan Lautan Hanya Kolam Susu yang dipopulerkan oleh Koes Plus.

Sebagaimana diceritakan panitia acara, Masjid Al-Abror yang megah ini terbangun dengan sangat gampang, karena setiap kali ada kebutuhan, selalu berdatangan bahan-bahan atau dana yang dibutuhkan. Butuh kayu, tiba-tiba kayu datang. Masyarakat sangat ringan mengeluarkan biaya untuk terbangun masjid komplek Maulana Ishaq ini. “Sampeyan jangan lupa. Sampeyan jangan takut. Karena ada Allah yang punya kekuasaan. Allah punya aturan sendiri. Allah punya aulia dan kekasihnya. Sampeyan harus mengerti bahwa Allah berkuasa tidak saja dalam hal yang anda bisa lihat, tetapi juga berkuasa pada hal-hal yang tak tampak oleh mata anda. Maulana Ishaq adalah gurunya walisongo, maka tempat ini penuh karomah. Jangan maksiat di tempat ini,” tutur Cak Nun menekankan betapa besar jasa Maulana Ishaq sehingga tempat ini beroleh cipratan karomahnya.

Pukul 24.00 WIB, semua hadirin diajak berdiri, bareng-bareng melantunkan Shalawat Indal Qiyam yang dipimpin oleh Mas Zainul dan dilanjutkan dengan doa oleh bapak Kiai, memuncaki maiyahan malam ini. Pak Bupati dan seluruh rakyatnya yang hadir malam ini bersama-sama mengamini setiap doa yang terucapkan, demi terkabulnya harapan terciptanya Lamongan yang “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”.

Foto :

Adin