Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Malang, 26 Okt 2014

Catatan Perjalanan dan Reportase Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, Malang, 26 Oktober 2014.

Malam ini masyarakat perumahan ASABRI Bumiayu Kedungkandang Malang mengikuti Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Acara ini merupakan persembahan keluarga besar Pak Ahmad Rifa’i dalam rangka tasyakuran ulang tahun emas perkawinan kedua orang tuanya: Bapak Abdul Qohhar dan ibu.

Membuka Ngaji Bareng ini, Cak Nun meminta Cak Fuad untuk mendoakan hajat keluarga Pak Rifa’i ini. Dengan mengajak semuanya membaca surat al-Fatihah, Cak Fuad mendoakan bagi keberkahaan keluarga Bapak Abdul Qohhar dan ibu beserta semua anak cucunya. “Keberhasilan dalam menjaga kelanggengan bahtera perkawinan merupakan prestasi yang luar biasa,” tutur Cak Fuad.

Setelah itu, Cak Nun langsung membawa semua yang hadir memasuki semesta ruhaniah dengan membawakan narasi Ya Karim, yang diselingi nomor-nomor shalawat yang sangat kuat: Shalatum minnallah wa alfa salam, Sidnan Nabi, dan Sholli wa sallim da’iman alahmada. Semuanya dibacakan sambung-menyambung tanpa putus dalam durasi yang panjang sehingga benar-benar mengikat hati para jamaah.

Secara khusus, rangkaian shalawat tadi dimaksudkan sebagai permohonan kepada Rasulullah agar beliau bersedia menggandeng Bapak Abdul Qohhar beserta Ibu ke dalam surga kebahagiaan dunia dan akhirat.

Terlihat semua warga perumahan ini cancut taliwondo bareng-bareng bekerja untuk suksesnya Maiyahan malam ini. Bahkan anak-anak juga dilibatkan. Berangkat dari rumah Pak Rifa’i menuju panggung sekelompok anak-anak berbaju putih-putih dengan membunyikan terbang dan melantunkan shalawat Badar mengantarkan Cak Nun ke panggung.

Rohmah adalah cinta yang tulus, Mawaddah adalah cinta yang masih ada unsur pamrihnya.
Rohmah adalah cinta yang tulus, Mawaddah adalah cinta yang masih ada unsur pamrihnya.

Lapangan ASABRI yang berada di simpang lima di dalam komplek perumahan ini dipenuhi oleh warga masyarakat, yang telah menanti kedatangan Cak Nun KiaiKanjeng. Di tempat yang sama, kurang lebih setahun lalu, Cak Nun KiaiKanjeng juga pernah Maiyahan di sini.

“Jujur, Tulus, Setia” itulah tema Maiyahan kali ini, yang berangkat dari semangat keutuhan keluarga seperti dicontohkan oleh keluarga Bapak Abdul Qahhar dan Ibu. Tentang pernikahan atau perkawinan, Cak Nun menjabarkan posisi ideologis dan doktriner dari pernikahan bagi hidup manusia. Bahwa pernikahan itu ide atau gagasan Allah untuk dijalankan oleh umat manusia. Sedangkan negara atau relasi-relasi kemanusiaan lainnya adalah gagasan manusia. “Jadi lebih penting mana pernikahan dan negara?,” tanya Cak Nun. Semuanya menjawab: “Pernikahan.” Dari situlah Cak Nun mengajak semuanya untuk punya sikap hidup yang jelas, tidak boleh ingah-ingih.

Kehadiran Cak Fuad malam ini benar-benar dimanfaatkan untuk memberikan berkah ilmu bagi semua yang hadir khususnya mengenai bagaimana menjaga keutuhan keluarga. Bagi Cak Fuad memang “Jujur, Tulus, Setia” itulah nilai-nilai yang menopang kelanggengan bahtera perkawinan. Ketiga nilai tersebut berakar dari keimanan kepada Allah. Cak Fuad menjabarkan secara detail bagaimana posisi dan porsi ketiga nilai tersebut dalam praktik menjalankan kehidupan perkawinan.

Di antaranya masalah jujur. Kejujuran itu salah satu wujudnya adalah menjaga amanah. Karenanya Cak Fuad mengingatkan bahwa Hadis Nabi mengatakan La diina liman la amanata lahu (Tak ada agama bagi orang yang tidak menjaga amanah. Artinya, menerima dan menjaga amanah adalah bagian utama dalam beragama. Hadis lain menyatakan, “Ad-diinu An-Nashiah, Liman ya Rasulallah, Lillahi Warrosul waliaimmatil muslimin. Agama adalah Kesetiaan. Kesetiaan kepada Ya Rasulallah. Kesetiaan kepada Allah, kesetiaan kepada Rasul, dan kesetiaan kepada pemimpin umat Islam.” Nah, di dalam perkawinan, kesetiaan adalah juga pilar penting yang akan menegakkan kelanggengan perkawinan. Kemudian Cak Fuad menyatakan ketiga nilai yang diangkat sebagai tema ngaji bareng malam ini merupakan intisari dari kehidupan Pak Abdul Qahhar dan Ibu. Kepada beliau berdualah kita seharusnya belajar.

Tentang kebiasaan kita mendoakan pasangan pengantin “Semoga menjadi keluarga Sakinah mawaddah warohmah”, Cak Fuad sempat menyinggung bahwa sebenarnya cukup “semoga menjadi keluarga sakinah” sebab mawaddah dan rohmah adalah dua komponen yang outputnya adalah “sakinah”. Mawaddah adalah cinta yang masih ada unsur pamrihnya, misalnya cinta karena melihat ganteng dan cantiknya seseorang. Sedangkan rohmah adalah cinta yang sudah murni tanpa ada pamrih, keinginan, dan dorongan-dorongan lain. Rohmah adalah cinta yang tulus. Keduanya diperlukan bagi kehidupan perkawinan.

Biarpun telah memasuki usia perkawinan yang ke-50, dan justru karena keberhasilan mengarungi waktu selama itu, berarti beliau berdua selalu punya metode memperbarui segala sesuatu di dalam kehidupannya perkawinannya. Untuk itu, Cak Nun menghadiahi beliau berdua sebuah nomor meriah penuh nuanasa kebahagiaan: “Aduh Senangnya Pengantin Baru”, dari Nasyida Ria, dan dibawakan oleh duet Mbak Nia dan Mbak Yuli KK.

Kebahagiaan malam ini juga disempurnakan oleh kehadiran Cak Kartolo, yang saat ini sudah berada di panggung. Cak Nun juga mengingatkan bahwa Cak Kartolo ini adalah juga contoh keluarga sakinah. Seorang seniman ludruk yang tidak kepencut menjadi ledek di Jakarta dan tidak pernah mau jadi bintang iklan yang menjelek-jelekkan produk lain. Untuk kesetiaannya puluhan tahun melestarikan kemurnian seni Ludruk, Maiyah pernah menganugerahkan dan menyematkan penghormatan “Ijazah Maiyah” kepada Cak Kartolo, berbarengan dengan Bunda Cammana dan Pak Joko Temon, pada November 2011 di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya.

Suasana sangat meriah dan penuh kegembiraan. Sebelum Cak Nun memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Cak Kartolo untuk menggembirakan para hadirin dan jamaah, Cak Nun meminta KK mengantarkan dengan nomor “Perdamaian” masih dari Nasyida Ria.

Meskipun demikian, Cak Nun mengingatkan agar kegemberiaan tidaklah berlebihan, makan jangan sampai kekenyangan. Yang bagus adalah posisi luwe, tapi jangan sampai kaliren atau kelaparan, dan makan bukan karena keinginan tapi karena kebutuhan untuk memenuhi hak badan akan kesehatan. Nah, sebelum Cak Kartolo, Cak Nun mempersilakan jamaah untuk menimba ilmu lewat tanya jawab kepada Cak Fuad seputar kehidupan pernikahan.

Seorang penanya menanyakan kepada Cak Fuad perihal jodoh. Apakah jodoh itu dicari atau ditunggu saja. Selain itu, juga ditanyakan kalau sudah bersuami-istri bagaimana kalau tidak selalu bisa hidup satu rumah. Untuk pertanyaan tentang jodoh, Cak Fuad menjelaskan bahwa segala sesuatu itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Termasuk jodoh. Tetapi itu tidak berarti kita tidak berusaha mendapatkannya. Yang jadi persoalan adalah ketika mencari jodoh lakukanlah secara wajar dan tidak berlebih-lebihan. Mencari dengan jalan berinteraksi, bermasyarakat, dan bersosialisasi, tapi jangan meniati semua aktivitas itu dengan tujuan mencari jodoh, sebab semua itu hanya sarana saja. Kalau seseorang sudah pada usia yang oleh umum dipandang sudah waktunya menikah, tapi belum juga dapat, maka terimalah kondisi itu dengan ikhlas sembari berdoa dan berkeyakinan bahwa pada waktunya jodoh itu akan datang.

Kemudian soal suami-istri yang ada tuntutan untuk tidak bisa tinggal serumah misal karena pekerjaan, maka menurut Cak Fuad yang terpenting adalah memanage-nya dengan sebaik-baiknya. Meskipun yang terbaik adalah kumpul dan tinggal serumah.

Pertanyaan kedua menyoal cinta karena Allah dan cinta yang masih ada pamrihnya. Cak Fuad menegaskan bahwa mencintai seseorang karena cantik atau gantengnya itu boleh, tetapi perlu disertai kesadaran bahwa suatu saat cantik dan ganteng bisa berkurang atau hilang. Juga misal karena harta atau posisi/jabatan, semua itu juga akan hilang. Maka yang sejati adalah cinta karena Allah. Artinya, keberangkatan dari mana pun, cinta kita harus dimuarakan kepada cinta karena dan di dalam Allah.

Lebih jauh Cak Nun mengurai arti kewajiban taat kepada suami oleh istri, dan memberikan contoh bagaimana beliau menerapkannya dalam keluarga beliau, juga Cak Nun berpesan bahwa dalam pernikahan jangan cuma siap untuk senang, tetapi siaplah mengubah apa saja menjadi senang, dilakukan dengan senang, yang nggak enak pun dinikmati dengan senang.

Juga hidup berat itu baik. Hidup abot itu diperlukan untuk memperkuat dan mempertangguh anda. Kalau senang, apa susahnya. Yang diperlukan adalah kemampuan mengatasi kesedihan.

Cak Kartolo mulai mempersembahkan kegembiraan bagi semua yang hadir melalui kesenian ludruknya. Ludruk bukan sekadar guyonan tanpa bangunan. Pada bagian awal, Cak Kartolo diiringi musik ludruk, membawakan parikan-parikan yang bermuatan pesan-pesan bagaimana membangun keluarga yang sakinah. Baru kemudian parikan-parikan yang mengundang tawa. Setelah iringan musik selesai, Cak Kartolo tetap bertutur, menyampaikan narasi-narasi ludruknya, sampai kemudian memanggil Cak Safari dan mulailah dialog-dialog cerdas dan segar meluncur dari keduanya. Para jamaah tertawa lebar setiap kalian dialog-dialog lucu tercipta.

Dialog-dialog lucu dan cerdas itu diambil dan diolah dari kehidupan sehari-sehari hidup bersuami-istri yang sebenarnya merupakan realitas yang dekat dengan kita semua, sehingga ludruk mengajak kita menertawakan diri kita sendiri, menertawakan kekonyolan diri kita, tetapi tetap diselipkan pesan-pesan yang baik.

Fragmen yang dibawakan Cak Kartolo cs menyerukan agar kita benar-benar menjaga diri agar tidak gampang tergoda oleh apapun yang dapat merusak mahligai dan kelanggengan perkawinan.

Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Nusantara.
Cak Kartolo, Legenda Hidup Ludruk Nusantara.

Usai menikmati hiburan bergizi dari Cak Kartolo, masyarakat kembali mengikuti pembabaran ilmu dari Cak Nun. Pada prinsipnya Cak Nun menjelaskan bahwa sebenarnya segala yang kita kerjakan bermuatan perkawinan atau pernikahan. Cak Nun KiaiKanjeng pada malam-malam sebelum beracara di lain tempat dengan pengundang/masyarakat yang berbeda dengan agenda/temanya masing-masing, semua itu sesungguhnya prinsipnya adalah pernikahan dan perjodohan. Pernikahan adalah berbagi tanggung-jawab. Ada empat jenis pernikahan atau persuamiistrian. Pertama antara suami dan istri. Kedua, persuamiistrian antara manusia dengan alam. Ketiga, persuamiistrian antara pemimpin dan rakyat/yang dipimpinnya. Dan keempat, persuamiistrian antara Allah dan mahkluk-Nya.

Jadi, persuamiistrian adalah prinsip yang tidak terbatas antara pria dan wanita, dan bahwa keempat jenis perkawinan tadi dapat dipakai sebagai perspektif dalam menganalisis peristiwa-peristiwa di sekitar kita hingga bagaimana negara dijalankan, bagaimana kekacauan dan silang-sengkarut politik bermula dari hancurnya perkawinan antara pemimpin dan rakyatnya.

Di segmen akhir, Cak Nun mengingatkan ttg hal-hal dasar dalam kehidupan. Bahwa aktivitas manusia hendaknya dikelola dengan memanage antara aktivitas fisik, aktivitas intelektual, dan aktivitas rohani (seni dan lain-lain). Demikian pula dalam setiap maiyahan, ketiga aktivitas tersebut diupayakan tersaji secara seimbang. Muatan yang bersifat fisik dan intelektual sejak awal acara sudah didapat. Ilmu sudah disampaikan Cak Fuad. Fisik anda juga sudah berjuang dalam kesetiaan untuk tetap duduk dan bertahan mengikuti acara. Maka, sekarang saatnya, menikmati musik yang tidak terlalu berat. Bergiliran Mbak Nia, Mbak Yuli, Mas Imam, dan Mas Zainul diberi kesempatan membawakan nomor masing-masing. Lagu-lagu yang senang-senang tetapi memberi keuntungan ilmu dan rohani. Demikian Cak Nun menjelaskan.

Sementara itu Mas Islami kebagian mempersembahkan nomor shalawat yang sudah lama tidak dibawakan yaitu “Bis syahri”. Mas Islami merupakan salah satu soko-nya KiaiKanjeng yang selalu setia dan istiqamah mempunggawai kemanapun KK pentas.

Bagaikan mengabsen setiap vokalis KK, tak lupa Cak Nun meminta mas Alay untuk ikut maju ke depan membawakan “Marhaban”. Sudah lama mas Alay tidak ikut nyanyi karena berposisi sebagai road manager dalam acara-acara dan perjalanan KiaiKanjeng. KiaiKanjeng sendiri sangat senang mengirinya, seperti ada kangen yang terobati.

Vokalis terakhir yang diminta bernyanyi adalah Mas Doni, yaitu membawakan lagunya Mbak Via, “Keluarga Cemara” yang dipadu dengan Tholaal Badru. Keluarga Cemara adalah juga nomor yang mengendorse semangat menjaga nilai-nilai prinsipil dalam membangun keluarga.

Semua hadirin diajak melantunkan lagu yang mengajarkan bahwa Harta yang paling berharga adalah keluarga ini. Sekaligus nomor ini mengantarkan acara di penghujungnya.

Mas Zainul memimpin ‘indal Qiyam dengan melantunkan rangkaian shalawat Ya Nabi Salam ‘alaika dan diikuti oleh semua jamaah. Menutup acara ini, Cak Nun berharap agar perjumpaan di malam ini dapat menghijrahkan kita semua menuju kebaikan-kebaikan.

Foto :

Adin