Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Gresik, 01 Nov 2014

Catatan Perjalanan Cak Nun dan Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng, “Nguwongno Uwong”, Gresik, 01 November 2014.

Jamaah Siwalan Peduli (JSP), yang mengundang Cak Nun KiaiKanjeng untuk maiyahan malam nanti, adalah komunitas sekelompok anak muda yang terbentuk pada tahun 2003. Kegiatan dan concern utama mereka adalah membantu dulur-dulur atau saudara-saudara yang sakit. Mereka urunan semampunya untuk membantu, atau menjadi pintu informasi tentang saudara-saudara yang sakit yang perlu dibantu. Tidak ada keanggotaan resmi. Siapa saja yang punya kepedulian, dia bisa menjadi anggota.

Bentuk pelayanan yang mereka berikan bisa berupa layanan mengantar ke Rumah Sakit, membantu mengurus proses mendapatkan keringanan biaya pengobatan, menunggu di rumah sakit karena mungkin orang yang sakit tidak punya saudara yang bisa menunggui, dan layanan lainnya. Semuanya dikerjakan sesuai kemampuan yang teman-teman JSP miliki.

Jadi orang gede tak apa, asal tidak untuk nggedeni orang lain.
Jadi orang gede tak apa, asal tidak untuk nggedeni orang lain.

Pada suatu ketika, pernah mereka dihadapkan pada kondisi tidak punya uang sementara ada saudara yang sakit yang perlu dibantu. Mereka akhirnya memutuskan untuk wadul kepada Allah. Mereka ngumpul di perempatan jalan, dan berdoa kepada Allah. Akhirnya, ada masyarakat yang membantu sehingga terkumpul dana yang siap disalurkan. Dari wadul kepada Allah inilah, lahir “Pengajian Sa’kobere”, yang sudah berlangsung keenam kalinya. Sa’kobere bukan berarti asal-asalan, melainkan kesadaran pada titik dimana sesudah berusaha keras manusia perlu mewakilkan urusannya kepada Allah.

Merupakan edisi yang sangat istimewa bahwa Pengajian Sa’kobere ini terkabul cita-citanya dapat menghadirkan Cak Nun KiaiKanjeng. Mereka bersujud syukur, karena harapan mengundang Cak Nun KiaiKanjeng direspons dengan cepat. Saking bahagianya dengan kedatangan Cak Nun KiaiKanjeng nanti, beberapa teman-teman muda yang biasanya kurang greget beraktivitas jadi sangat serius, dan tanpa disadari mereka makin lebih tertata hidupnya.

Teman-teman JSP sendiri beberapa pentolannya adalah jamaah Maiyah yang sudah lama mengikuti maiyahan. Acara pengajian malam ini mereka persembahkan untuk masyarakat Siwalan dan sekitarnya. Bahkan masyarakat juga diajak terlibat dalam penyelenggaraan acara ini.

Masyarakat Desa Siwalan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik yang beragam latar belakangannya ini baru kali ini akan ketemu langsung dengan Cak Nun KiaiKanjeng. Tetapi, mereka sudah mengenal dua lagu KiaiKanjeng “Tombo Ati” dan “Ilir-ilir”, yang keduanya sangat populer di sini. Berharap kedua lagu ini bisa dibawakan KiaiKanjeng.

Jibril itu satu, tapi jangan dianggap siji seperti pengetahuan tentang siji, sebab siji-nya Jibril itu bisa di mana-mana pada saat yang sama.
Jibril itu satu, tapi jangan dianggap siji seperti pengetahuan tentang siji, sebab siji-nya Jibril itu bisa di mana-mana pada saat yang sama.

Judul dan Tajuk pengajian ini murni gagasan dari teman-teman JSP. “Nguwongno Uwong” dimaksudkan sebagai suatu tema untuk mengajak masyarakat agar peduli kepada sesama. Terutama pada diri anak-anak muda agar hidupnya bisa lebih baik, terlebih banyak anak muda yang tidak peduli dengan dirinya sendiri. Terbukti, di antaranya, masih banyak yang suka gebug-gebugan atau tawuran.

Teman-teman JSP berharap Cak Nun dapat membimbing dan memberikan piweling agar semua elemen masyarakat di sini makin kuat kepeduliannya satu sama lain sehingga tercipta kehidupan yang penuh gotong-royong, tolong-menolong, guyub, dan rukun.

Ribuan orang telah memadati lapangan Siwalan Panceng Gresik untuk mengikuti Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Wajah mereka ceria dan penuh senyum menyiratkan kebahagiaan menyambut seseorang yang telah lama dinanti. Sewaktu memasuki lapangan ini, dengan kawalan ketat panitia, Cak Nun menyibak padatnya jamaah yang duduk lesehan. Sebagian berebut menyalami beliau, sebagian lain berusaha menyentuh kaki Cak Nun yang tengah melangkah ke panggung.

Sementara itu, usai maghrib rombongan KiaiKanjeng telah tiba di lokasi setelah menempuh perjalanan melewati kampung-kampung desa dan melewati kawasan hutan kering. Bus besar Panorama yang membawa awak KK harus pelan-pelan karena memasuki jalan desa yang meskipun sudah teraspal mulus tetapi kurang cukup lebar untuk ukuran bis ini, sesekali terpaksa bergesekan dengan ranting-ranting pohon di kanan-kiri jalan. Di lapangan Siwalan yang terlihat lebih terang dan ramai dari tempat-tempat lainnya, panitia menyambut kedatangan KiaiKanjeng.

Tandur terus, nggak usah berharap panen.
Tandur terus, nggak usah berharap panen.

Pasukan kepolisian juga sejak awal telah bersiaga menjemput, mengawal, dan mengantarkan Cak Nun hingga ke Lapangan Siwalan. Bahkan Pak Kapolsek Panceng turun langsung menunggu dan menyambut kedatangan Cak Nun. Tak lupa di belakang panggung Pak Kapolsek menyempatkan diri meminta berfoto bersama Cak Nun dalam kesempatan yang langka ini.

Begitu naik panggung, Cak Nun langsung menyapa jamaah dengan rasa yang begitu dekat dengan mereka. Pun ribuan sorot mata masyarakat yang hadir di sini yang seperti memancarkan suatu chemistri yang gayung bersambut dengan kehadiran Cak Nun malam ini. Perlahan-lahan dengan kata-kata yang terukur Cak Nun berbicara kepada mereka, melalui lontaran beberapa pertanyaan yang lebih berfungsi mendekatkan hati. Tetapi toh pertanyaan sederhana itu tetap mengantarkan percikan ilmu. “Ingin sugih (kaya) nggak papa, asal setelah kaya tidak sombong. Sebab kesombongan itu yang bahaya sekarang. Orang boleh kuat, tapi jangan sombong. Jadi orang gede tak apa, asal tidak untuk nggedeni orang lain. Jangan takabbur dalam posisi apapun, kecuali dalam kondisi melarat,” tutur Cak Nun disambut tawa jamaah. Sudah melarat nggak boleh sombong, rugi dua kali. Kelakar Cak Nun.

Di antara kesombongan yang sangat bahaya yang digarisbawahi oleh Cak Nun adalah kalau orang sudah rajin sembahyang atau ibadah, lalu memandang rendah orang lain yang belum shalat.

Sangat enak sekali komunikasi yang dibangun Cak Nun dengan masyarakat Jawa Timur ini yang nyaris tak ada jarak kultural dengan Cak Nun yang notabene juga berasal dari Jawa Timur. Pengajian malam ini karenanya menjelma sebuah dialog yang egaliter dengan bahasa Jawa Timuran yang egaliter juga.

Setelah menyapa jamaah tadi, Cak Nun mengajak mereka untuk terlebih dahulu mengonsentrasikan hati dan pikiran untuk menyapa Allah dan Rasulullah. Mas Zainul diminta mengawalinya dengan nomor La ilaha Illallah (Lawange Suwargo). Suara mas Zainul yang tinggi dan kuat, langsung diikuti oleh semua jamaah. Semuanya meneguhkan Tiada tuhan Selain Allah. Kalimat tauhid inilah yang menjadi pintu untuk masuk ke Surga.

Kepada jamaah Cak Nun mengajak mereka untuk meyakini bahwa para Kekasih Allah (Auliyaallah) menyaksikan bahkan hadir di majelis yang baik ini. Terlebih Gresik adalah titik penting bagi penyebaran agama Islam di Nusantara. Para penyebar Islam yang diutus Rasulullah itu mendarat di Gresik, dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain bahkan sampai ke Manila. Di sana ada Masjid bernama Masjid Sulaiman yang merupakan pusat kerajaan besar yang terdiri atas tiga kekuatan Islam yaitu Ternate, Manila, dan Bugis. “Jibril itu satu, tapi jangan dianggap siji seperti pengetahuan tentang siji, sebab siji-nya Jibril itu bisa di mana-mana pada saat yang sama. Itulah frekuensi, itulah gelombang,” tegas Cak Nun.

Wong mendem/mabuk itu karena jahat atau goblok?
Wong mendem/mabuk itu karena jahat atau goblok?

Berturut-turut jamaah diajak melantunkan surat al-Fatihah, Al-Falaq, Al-ikhlas, an-Naas, disambung Mas Zainul membaca petikan Maulid Simtud Duror, dan kemudian bareng-bareng melantunkan Sholatun minallah dan sholli wa sallimda.

“Manusia diberi akal oleh Allah. Akal itu berfungsi untuk mengetahui tinggi-rendah, martabat dan tidak bermartabat,” kata Cak Nun. Kemudian Cak Nun menanyakan, “wong mendem/mabuk itu karena jahat atau goblok?” “Goblok,” serempak jawab jamaah. Pertanyaan Cak Nun ini terkait dengan kegelisahan panitia tentang generasi muda yang senang tawuran atau mabuk. Dalam pandangan Cak Nun, gejala atau fenomena tersebut perlu dilihat apakah itu dominan atau tidak, supaya tidak salah treatmen. Berapa persen dari keseluruhan masyarakat. Sebab, tawuran itu juga terjadi di mana-mana dan di atas sana. Gejala itu pasti tidak berdiri sendiri. Kalau dilihat secara parsial, generasi muda melakukan hal-hal yang desktruktif itu bukan karena jahat, tetapi karena bodoh. Karena tidak menggunakan akalnya. Walaupun secara sistemik, terkait dengan banyak hal: pendidikan, kesepian, keterpinggiran, dan ketakberdayaan ekonomi.

Sejurus dengan itu, Cak Nun menasihati teman-teman Jamaah Siwalan Peduli agar tak henti dan tak bosan-bosan melakukan kebaikan terus dengan prinsip tandur terus, nggak usah berharap panen, sembari Cak Nun memberikan contoh dirinya yang saban malam keliling ke mana-mana, tak lain hanya dengan maksud tandur kebaikan. “Temukan kenikmatan dalam mengerjakan kebaikan. Ukuran keberhasilan bukan pada panennya. Belum disebut berhasil kalau kalian belum menemukan nikmatnya kebaikan yang kalian kerjakan,” pesan Cak Nun.

Lebih jauh Cak Nun mengingatkan, untuk bisa “Nguwongno Wong” (Menghormati orang sebagai manusia), maka kita harus mengenal dan mengerti manusia dengan berbagai karakter, natur, dan dimensinya. Sebagai contoh, orang tidak bisa diajak mikir terus, maka setelah lelah berpikir berganti aktivitas fisik, misalnya mbetulin genteng, abis itu ganti membaca buku, habis itu ganti dzikir, dan seterusnya. Berputar terus dari satu jenis aktivitas ke jenis aktivitas lainnya, sehingga tetap bisa fresh. Maka yang terbentuk kemudian adalah kreasi yang rekreatif dan rekreasi yang kreatif. Dengan prinsip yang sama, formulasi Maiyahan dibangun. Musik berpadu dengan dan menjadi jalan bagi ilmu. Ilmu disampaikan dengan relevansi dengan sisi-sisi hidup lainnya. Ada kontemplasi, tapi juga ada kegembiraan. Ada tertawa, tapi juga ada khusyuk. Semuanya diformasi dan dijalankan secara bagus, nikmat, dan kuat oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Begitulah, sesudah Mbak Yuli menyanyikan Laksmana Raja Di Laut, Mbak Nia berkolaborasi dengan seorang ibu membawakan kembali La Ilaha illallah dikombinasi dengan ilahilastu lil firdausi ahla. Saat musik pelan, semua jamaah bareng-bareng mengikuti lirik yang dibawakan Mbak Nia sehingga suara jamaah itu dapat didengarkan oleh semuanya, ya syahdunya, ya spritualitasnya, ya kandungan getarannya.

Pak Kapolsek, Pak Kiai, Mas Yusuf dan Mas Nanang dari JSP, serta Pak Kades Siwalan yang sedari awal sudah ikut menemani Cak Nun di panggung sangat serius dan antusias mengikuti apa-apa yang setahap demi setahap disampaikan Cak Nun. Mereka menikmati dan menyerap bagaimana Cak Nun menaburkan kegembiraan, meyakinkan akan masa depan bangsa, membangunkan kembali semangat kebesaran kita sebagaimana pernah diraih kakek dan nenek moyang kita, menunjukkan milik kita yang lama tak disadari sebagai keunggulan, membesarkan hati masyarakat, dan lain-lain muatan yang orisinal disampaikan Cak Nun.

Cara lain untuk nguwongno wong adalah memahami kebudayaan manusia. Kebudayaan dan khasanah yang baik dijunjung dan dihormati. Itulah yang selama ini dikerjakan KiaiKanjeng dengan merawat kekayaan tradisi dan seni yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Cak Nun mengecek jamaah apakah masih hafal lagu Cublak-cublak suweng, dan alhamdulillah mereka masih ingat. Kemudian bareng-bareng diajak melantunkan Sluku-Sluku Bathok dipimpin mas Imam Fatawi. Oleh KiaiKanjeng lagu dolanan anak-anak yang sarat filosofi ini dan dibawakan dengan gaya rock oleh mas Imam dikombinasi dengan beberapa lirik Qashidah Burdah Imam Al-Bushiri menjadikan nomor ini sangat khas dan unik karena memadukan dua kekuatan yang berbeda tapi saling menguatkan.

Selain itu Cak Nun juga mengingatkan bahwa kalau kita melakukan kebaikan, dan mungkin belum kelihatan hasilnya, ingatlah bahwa Allah tidak tinggal diam. Sebab Allah adalah al-Fa’aal, yakni maha mengerjakan apa yang dikehendakinya. Kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan akan dilihat oleh Allah.

Sekarang, setelah mengembara ke dalam dzikir, ilmu, lagu-lagu, kehangatan dan kemesraan, ribuan orang yang benar-benar memadati Lapangan Siwalan ini berdiri semuanya, dan bersama-sama mengikuti nomor Ilir-ilir dari KiaiKanjeng. Nomor ini mengantarkan kepada puncak acara. Cak Nun memimpin doa dengan melantunkan awal surat al-Fath. Dengan barokah surat al-Fath ini Cak Nun memohon agar Allah membukakan pintu barokah, pintu ilmu, pintu kemenangan, dan pintu kebahagiaan.

Melalui prosesi salaman atau berjabat tangan dengan Cak Nun dan pemuka masyarakat, jamaah satu persatu pulang ke rumah masing-masing, dan esok hari akan menjalani hidup dengan lebih fresh, segar, santai, dan tidak tegang, baik dalam menjalankan agama maupun dalam mengelola pikiran dan batin mereka. Mereka akan mengerti mana yang cukup diletakkan di tangan kiri, dan mana yang perlu digenggam di tangan kanan sebagaimana pesan Cak Nun kepada mereka dalam pengaosan sa’kobere malam ini.

Mengantarkan kepulangan jamaah, sebagaiman biasa, KiaiKanjeng dengan setia mengalunkan lagu-lagu sampai nanti tuntas rangkaian jabat tangan ini. Mengiringi kepulangan jamaah dengan lagu adalah bagian dari bentuk pelayanan KiaiKanjeng kepada masyarakat. Tak jarang, mereka yang sudah berjabat tangan tak segera pulang melainkan mendekat ke kanan kiri panggung, ikut menikmati nomor-nomor meriah-pelayanan KiaiKanjeng ini sampai selesai. Kepada jamaah, Cak Nun meminta didoakan agar KiaiKanjeng diberi kesehatan dan stamina yang prima sehingga bisa melanjutkan rangkaian jadwal acara selanjutnya dengan sebaik-baiknya.