Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Cangkringan, 6 Nov 2014

Reportase Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng bersama Paguyuban Tukang Coker dan Penambang Pasir, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, 06 November 2014

Maiyahan malam ini yang berlangsung di lapangan Srunen merupakan bentuk Syukuran dari Paguyuban Tukang Coker dan Penambang Pasir di dusun Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul. Mereka bersyukur pasca erupsi Merapi 2010, kehidupan perekonomian warga makin membaik.

Berangkat dari kegiatan ekonomi sebagai tukang coker (meratakan pasir yang sudah dinaikkan ke atas truk) dan penambang pasir, mereka punya modal untuk mengembangkan sektor peternakan yakni ternak sapi perah. Yang biasanya, sebelum erupsi 2010, warga hanya memiliki 2-3 ekor sapi, kini mereka telah memiliki lebih dari jumlah itu. “Kalau pakai ukuran yang gampang, hampir 80 persen warga tiga dusun ini kini punya mobil,” tutur Pak Bowo, ketua paguyuban dan tokoh penggerak masyarakat di sini menggambarkan kemajuan ekonomi di sini. Bahkan pesatnya sektor peternakan ditandai dengan telah berdirinya Koperasi Susu Sapi dan pada tahun 2014 ini koperasi tersebut mendapat penghargaan dari Presiden sebagai koperasi susu terbaik di Indonesia.

Kesejahteraan tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang buruk, jangan sampai ada hal-hal yang Allah tidak mengampuni.
Kesejahteraan tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang buruk, jangan sampai ada hal-hal yang Allah tidak mengampuni.

Perkembangan dan prestasi ekonomi ini tentunya tidak dicapai dengan semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan usaha, kegigihan, dan tekad yang membaja. Lebih-lebih jika mengingat, seperti diceritakan Pak Bowo, pada saat erupsi Merapi 2014 daerah ini tidak tersentuh bantuan dari pemerintah, dan sejumlah kendala-kendala infrastruktur yang ada.

Namun, di tengah menikmati meningkatnya perekonomian ini, warga masyarakat di sini masih menyimpan kegalauan dikarenakan terbitnya Perpres yang meminta agar kawasan ini sebagai KRB (Kawasan Rawan Bencana) untuk dikosongkan sampai tahun 2017. Tidak mudah mengimplementasikan hal ini, terlebih bila tidak didukung oleh strategi pendekatan yang baik di mana warga masyarakat di sini masih menjunjung tinggi tradisi yang telah dijaga secara turun-temurun, salah satunya adalah norma di mana orang tua harus dihormati. Tetapi yang paling menggelisahkan adalah ancaman atau potensi destruktif yang datang dari luar berupa “penyakit masyarakat” apakah itu perjudian, mabuk-mabukan, maupun bentuk lainnya.

Pengajian adalah ‘sesaji’ kepada Allah. Sesaji untuk memohon kepada Allah agar anak-anak ini terhindar dan tidak tersentuh oleh miras, oleh hal-hal yang buruk yang mengancam masa depan mereka.
Pengajian adalah ‘sesaji’ kepada Allah. Sesaji untuk memohon kepada Allah agar anak-anak ini terhindar dan tidak tersentuh oleh miras, oleh hal-hal yang buruk yang mengancam masa depan mereka.

Sesuatu yang bukan mustahil terjadi di tengah kehidupan ekonomi yang sangat mencukupi. “Kami ingin kehidupan rohani kami yang kurang bisa diisi melalui acara pada malam hari nanti,” kata Pak Bowo. Dusun Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul, totalnya dihuni oleh 700 Kepala Keluarga. Dari puncak Merapi hanya berjarak kurang lebih 9 kilometer, dan lokasi acara Maiyahan malam ini berjarak kurang lebih 0,5 kilometer dari Makam Almarhum Mbah Maridjan. Semua tokoh masyarakat di sini, maupun dari desa sebelah juga diundang. Dan semuanya sangat senang dengan undangan ini.

Masyarakat juga sangat antusias dengan kehadiran Cak Nun KiaiKanjeng. Seperti dikemukakan Pak Bowo acara nanti akan di-shooting, dan semua warga sudah inden untuk mendapatkan dvd-nya. Sebagian mereka masih kuat ingatannya ketika tahun 2002 Cak Nun pernah datang ke sini. “Ya kiai ki yo koyo Cak Nun iki, sing iso ngemong wong, koyo ngopo wae wonge kuwi,” tutur Pak Bowo menirukan pengakuan mereka.

Menjelang maghrib, lepas cek suara, KiaiKanjeng diajak ke rumah transit dan di tempat ini mereka disuguh telo goreng, getuk, tales goreng, teh manis, dan Susu Segar Hadi yang merupakan produk unggulan dusun ini.

Pukul 20.30 ketika acara mulai dibuka oleh MC, orang-orang terus berdatangan menuju lapangan Srunen tempat dilaksanakannya Maiyahan malam ini. Sementara di depan panggung, di tanah yang lapang dan dikelilingi rerimbunan pohon, warga desa Glagaharjo sudah memadat, duduk lesehan, diliputi hawa dingin, yang tentunya sudah menjadi bagian hidup sehari-hari mereka.

Pak Carik Glagaharjo tengah menyampaikan sambutan dalam bahasa Jawa yang halus dan adiluhung. Beberapa kali beliau menyebut, “Bapak Kiai Haji Emha Ainun Nadjib utawi Cak Nun.”

Mengaji itu tidak harus dengan lagu Arab. Dengan lagu Jawa boleh. Dengan gaya lagunya sendiri juga oke.
Mengaji itu tidak harus dengan lagu Arab. Dengan lagu Jawa boleh. Dengan gaya lagunya sendiri juga oke.

Begitu selesai sambutan Bu Yuni S. Rahayu Wakil Bupati Sleman, MC mempersilakan Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk memulai pengajian. Sebelum musik berbunyi, Cak Nun mengajak para sesepuh dan pemuka masyarakat, Pak Carik, Pak Bowo, Pak Polisi dan lain-lain, untuk naik ke panggung. Dan, Cak Nun segera mengantarkan pertemuan ini dengan menjabarkan ungkapan Jawa Gemah Ripah Loh Jinawi.

“Glagaharjo ini gemah ripah loh jinawi, tanahnya subur, ternaknya maju. Tinggal bagaimana pemerintah khusus mampu mengolahnya menjadi Toto Tentrem Kerto Raharjo. Nah di dalam Islam, konsepnya lebih dari itu. Kesejahteraan harus disertai pengampunan Allah (wa robbun ghofur). Artinya, kesejahteraan tidak boleh digunakan untuk hal-hal yang buruk, jangan sampai ada hal-hal yang Allah tidak mengampuni,” tutur Cak Nun seakan menyicil sedikit demi sedikit menuju salah satu poin tema pengajian.

Pengajian di desa, apalagi di lereng gunung seperti di Glagaharjo ini, selalu berbeda dengan pengajian di kota. Jauh dari kebisingan atau kepadatan kota. Orang-orang datang berjalan kaki, berombongan ramai-ramai, banyak yang mengenakan sarung, menapaki jalan menurun atau menanjak menuju lokasinya. Suasana ketenangan dan kesejukan alam sangat terasa di sini. Sambutan tuan rumah dengan segala suguhannya menggambarkan keguyuban dan patembayatan.

Ada satu hal yang mencuri perhatian Cak Nun. Qari yang membaca al-Quran tadi amat berbeda dengan qari-qari yang biasanya bagus-bagus lagu dan suaranya di setiap pengajian. Qari kita kali ini sangat biasa, bahkan beberapa kali terdengar kurang akurat tajwid-nya. Cak Nun mengingatkan bahwa ngaji atau membaca al-Quran itu pertama-tama bukan urusan suaranya bagus atau tidak, tapi hatinya ikhlas atau tidak. “Nah, qari kita tadi terasa sekali hatinya ikhlas, walaupun suaranya tidak sebagus qari-qari lain, dan itu membuat dia terbebas dari kemungkinan sombong dan berasik sendiri dengan suara indahnya pada saat mengaji. Dan lagi, bahwa mengaji itu tidak harus dengan lagu Arab. Dengan lagu Jawa boleh. Dengan gaya lagunya sendiri juga oke,” tegas Cak Nun yang sangat familiar (disertai pemetaan yang detail) dengan beragam qari dari dalam maupun luar negeri, dari yang legendaris seperti Syaikh Khusairi Mesir hingga qari kontemporer dari mancanegara lainnya saat ini. Tak terkecuali qari-qari yang dimiliki Indonesia yang jumlahnya sangat tak terhitung.

Rombongan Tim SAR DIY yang dikomandani Mas Brotoseno juga hadir malam ini. Daerah seperti Glagaharjo adalah kawasan yang sudah mereka akrabi, khususnya ketika terjadi erupsi Merapi. Masyarakat sangat dekat dengan mereka yang melakukan tugas utama search and rescue ini. Dan sebagaimana teman-teman Jamaah Maiyah ketahui, antara Merapi, Tim SAR DIY, dan Cak Nun merupakan sebuah “komposisi” tersendiri. Melalui Cak Nun, teman-teman jamaah Maiyah mempelajari secara sangat mendalam setiap hal yang terkait dengan meletusnya Merapi. Bahkan saat itu, Cak Nun memberikan edaran berupa panduan pikiran, mental, dan wirid (doa) kepada para jamaah dalam menghadapi situasi yang darurat kala itu. Panduan ini merupakan wujud kepemimpinan spiritual dan moral yang hari-hari itu justru kosong padahal amat dibutuhkan masyarakat. Malam ini pun Cak Nun mengingatkan kembali bahwa Merapi bukan meletus (mledos, bencana) melainkan nduwe gawe, terbukti sekarang kehidupan warga di sini makin membaik.

Semoga Allah menilai Anda yang tidak takut kepada Merapi tetapi malah sangat dekat dengan Merapi seperti khatam Al-Quran sehingga berhak mendapatkan kasih sayang dari-Nya.
Semoga Allah menilai Anda yang tidak takut kepada Merapi tetapi malah sangat dekat dengan Merapi seperti khatam Al-Quran sehingga berhak mendapatkan kasih sayang dari-Nya.

Bencana atau bukan bencana tidak bergantung pada kejadian alamnya, melainkan pada kepentingan orang yang melihat atau menyebutnya. Maka, menanggapi perpres yang mengharuskan kawasan rawan bencana untuk dikosongkan, Cak Nun mengemukakan beberapa hal. Pertama, kalau warga di sini diminta pindah, apa ada jaminan mereka terbebas dari risiko bencana dalam bentuk lain semisal gempa bumi, tanah longsor, atau yang lain. Apalagi kita hidup di atas kawasan yang menurut sejumlah ahli adalah ring of fire. Jadi kalau bicara rawan bencana, di mana pun bisa juga rawan bencana. Bencana tidak hanya erupsi gunung berapi. “Bukan berarti saya menentang Perpres tersebut, tetapi kita harus menyeluruh dan bijaksana,” tegas Cak Nun, sebagaimana juga tadi disampaikan dalam bincang-bincang dengan para tuan rumah dan panitia di ruang transit. Kedua, seharusnya sebelum Perpres ditetapkan pemerintah berunding dengan warga di sini, karena wargalah yang sehari-hari hidup di sini dan mengenal lingkungan mereka. “Kerawanan-kerawanan yang ada di sekitar kita, sebagaimana juga gemah ripah loh jinawi yang dinikmati warga di sini, tidak boleh menjadikan kita berhenti di situ, tetapi hendaknya membuat kita dinamis dan memperoleh tantangan untuk berjuang dan berserah kepada Allah Swt,” tegas Cak Nun.

Kemudian para jamaah diajak bareng-bareng melantukan doa Khotmil Qur’an, yang biasanya dibaca sesudah seseorang mengkhatamkan membaca Al-Quran. Bagi Cak Nun seseorang yang sudah mencapai tingkat kualitas hidup tertentu tak ubahnya orang yang sudah khatam Al-Quran. “Saya doakan semoga Allah menilai Anda yang tidak takut kepada Merapi tetapi malah sangat dekat dengan Merapi seperti khatam Al-Quran sehingga berhak mendapatkan kasih sayang dari-Nya,” harap Cak Nun mengantarkan nomor Khatmil Quran ini.

Sekarang anak-anak diajak naik ke panggung, dilatih Cak Nun untuk melantunkan Alhamdulillah Was Syukru Lillah, dan kemudian dengan diiringi musik KiaiKanjeng, mereka diminta melantunkan bersama-sama. Orangtua mereka, dan semua yang hadir di sini, menyaksikan kekompakan mereka, dan menikmati suara kanak-kanak mereka. Seorang ibu yang berdiri di kanan panggung dan tengah menggendong bayinya menggerakkan badannya sembari mengikuti lantunan Alhamdulillah was Syukru Lillah dengan penuh kekhusyukan.

Dengan keikhlasan para warga datang jauh-jauh ke tempat pengajian ini, apalagi sejauh ini mereka hidup dalam kerukunan dan harmoni, Cak Nun berdoa semoga Allah selalu memberi solusi ketika terjadi situasi-situasi yang sulit. “Tau-tau anda punya ide, yang membuat anda bisa keluar dari setiap kesulitan,” papar Cak Nun. Selanjutnya Cak Nun mempersilakan para pemuka masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan yang penting kepada warga mengenai hal-hal yang perlu dilakukan. Mulai apa yang perlu dilakukan saat ancaman tiba, tentang menjaga diri dan memanfaatkan ilmu titen dalam menghadapi keadaan, sampai soal perlunya menjauhkan diri dari miras, di mana Bupati Sleman telah membuat Perda yang mengaturnya.

Cak Nun sendiri merespons bahwa Sleman ini merupakan kabupaten yang berbeda dengan kabupaten lainnya di DIY di mana di dalamnya berkumpulnya banyak orang yang ragam latar belakangnya, tetapi prinsipnya adalah semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi level sosial seseorang, sesungguhnya yang dibutuhkan adalah kewaspadaan, maka Perda-perda di Sleman hendaknya mencerminkan kewaspadaan tersebut.

Tidak mudah meramu maiyahan atau acara di tempat yang sangat dingin seperti ini, apalagi malam makin larut, tetapi sejauh ini masyarakat yang sudah mengikuti sejak pukul 20.00 hingga lewat pukul 23.10 ini masih duduk dengan setia, bahkan kini anak-anak tadi diajak nembang lagu Sluku-Sluku Bathok. Usai lagu ini, Cak Nun meminta para pemuka yang duduk di panggung untuk memangku anak-anak ini demi menunjukkan bahwa generasi yang lebih tua sangat dekat generasi yang di bawahnya. “Pengajian adalah ‘sesaji’ kepada Allah. Sesaji untuk memohon kepada Allah agar anak-anak ini terhindar dan tidak tersentuh oleh miras, oleh hal-hal yang buruk yang mengancam masa depan mereka. Dan kepada mereka yang masih terlibat miras, judi, dan lain-lain, kita tidak membenci mereka, tetapi berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada mereka, sehingga mereka yang paling jago judi, miras, dan lain-lain, akan berubah paling getol dalam melakukan kebaikan,” doa Cak Nun.

Kini Cak Nun meminta komandan SAR Brotoseno untuk berbicara. Dengan suaranya yang lantang dan retorika yang dinamis tetapi juga lucu yang mencerminkan kedekatannya dengan warga, komandan SAR DIY ini berpesan agar pengajian-pengajian seperti diperbanyak di setiap RT RW dan desa, dengan keyakinan dan harapan Merapi tidak lagi erupsi seperti itu. Mas Brotoseno juga bercerita bagaimana saat evakuasi, “Kami berangkat untuk evakuasi ditemani Cak Nun, khususnya doa Cak Nun, dan alhamdulillah evakuasi berjalan dengan baik.

Setelah itu Mas Brotoseno merespons mengenai KRB (Kawasan Rawan Bencana). Menurut BPPTK dan pemerintah, KRB adalah kawasan yang memiliki puncak merapi. Pengertian ini tidak tepat menurutnya. Sebab yang terjadi, daerah Kepuhrejo dan Glagaharjo yang memiliki puncak Merapi ini, korban meninggalnya hanya 5 untuk Kepuharjo dan 34 untuk Glagaharjo, itu pun meninggalnya tidak di kedua desa ini, melainkan di daerah lain. Sementara desa-desa di bawahnya, korbannya lebih banyak hingga ratusan orang. Jadi tidak tepat kawasan yang paling dekat dengan puncak adalah yang paling rawan. Lalu? Yang paling rawan adalah desa yang kepala desanya dan perangkat-perangkatnya tidak cerdas, tidak sigap, dan tidak dipercaya oleh warganya. Dengan argumentasinya itu, Brotoseno juga mendukung warga Glagaharjo menolak Perpres yang mengharuskan dikosongkannya kawasan ini.

Selanjutnya Brotoseno berpesan kepada warga dan di depan para pemuka masyarakat dan kapolsek, agar para warga tidak menjual tanahnya kepada orang di luar desa ini karena khawatir jika nanti dibangun penginapan, sebab kawasan ini sangat indah. Kalau dibangun penginapan, Brotoseno khawatir akan dampak sosialnya. Kawasan ini harus dijaga keadaannya sebaik dan sealami mungkin seperti adanya saat ini.

Usai pidato Brotoseno, Cak Nun segera meresponsnya. Pada intinya, dari semua yang disampaikan Brotoseno hanya satu yang kurang benar. Maksudnya baik, tapi logikanya perlu dibenahi. Yakni bahwa dengan pengajian diperbanyak, Merapi tidak akan meletus lagi. Yang benar adalah Merapi sunnatullahnya adalah meletus dan terserah Allah yang memiliki Merapi akan kapan dan seberapa memuntahkan isi merapi. Tetapi Allah sudah mengajarkan dalam ayat-Nya, “Wa ma romaita idz romaita walakinnallaha roma.” Ketika merapi mengeluarkan isinya, sampainya ke kita bukanlah bencana melainkan menjelma berkah. Kalau merapi tak meletus, bagaimana kita dapat berkah berupa pasirnya. “Jadi, wiridkan Wa romaita idz romaita walakinnallaha roma 5 kali sebelum tidur dan 5 kali begitu anda bangun tidur,” pesan Cak Nun.

Menjelang pukul 24.00 acara segera diakhiri. Semua hadirin berdiri, mengamini doa yang dipimpin oleh Pak Carik dan mengamini pula kandungan doa saat Cak Nun melantunkan surat an-Nur ayat 35.

Selesai doa, para jamaah pulang ke rumah masing-masing, membawa kegembiraan kebersamaan dengan para pemuka masyarakat, menikmati kemesraan komandan SAR kepada Cak Nun yang tak lain adalah Ketua Dewan Syuro SAR DIY itu sendiri, dan yang terpenting para warga memperoleh wacana-wacana yang menyehatkan mengenai kehidupan mereka di lereng Merapi ini.

Foto :

Adin