Catatan Perjalanan Cak Nun KiaiKanjeng, Pati, 28 Sept 2014

Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan.

Sebagai gambaran, Desa Sokopuluan ini merupakan pusatnya Islam di Pucakwangi. Ada 2 madrasah besar (jenjang PAUD hingga Aliyah). Tetapi, sayangnya, kedua madrasah ini tidak pernah akur. Tokoh-tokoh tua selalu tidak memberi contoh bagaimana para pemuda harus bersatu.

Kecamatan Pucakwangi adalah salah satu kecamatan di wilayah Pati yg masalah sosialnya cukup tinggi. Catatan tiga bulan terakhir, ada 2 kasus bunuh diri, 2 kasus pembunuhan, salah satunya dibunuh dan dibakar karena kasus hutang piutang, satunya lagi dibunuh dan dibuang ke sungai karena kasus perselingkuhan.

Kecamatan Pucakwangi ini juga gudangnya TKI. 85 persen anak muda lulusan sma merantau jadi tenaga kasar di kota dan luar pulau. Para perantau biasanya pulang di hari-hari besar seperti lebaran. Saweran nanggap dangdut, mborong miras dan tawuran, lalu balik merantau lagi.

Pemuda-pemuda yang menjadi panitia acara ini mulanya juga begitu. Baru sekarang ini berbalik arah: pengajian. Mereka tidak mau pengajian yang biasa-biasa, baku, garing, bikin ngantuk, dan lebih parah lagi: suka menyalah-nyalahkan orang.

***

Maiyahan malam ini di desa Sokopuluan Pucakwangi Pati sesudah sore hingga isya tadi bersilaturahmi di kediaman Gus Mus di kompleks Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Leteh Rembang.

Cak Nun bersilaturrahmi ke kediaman Gus Mus di Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh Rembang
Cak Nun bersilaturrahmi ke kediaman Gus Mus di Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh Rembang

Begitu masuk mendekati lokasi, tampak warga masyarakat berduyun-duyun memasuki lokasi acara yang ternyata juga sudah sangat dipadati hadirin. Maiyahan malam ini dihelat di sebuah area tanah lapang yang sangat luas. Kanan-kirinya adalah persawahan, dan kampungnya agak jauh di sebelah selatan. Di sekeliling area ini dipasang obor-obor di atas tiang bambu. Nyala ratusan obor ini dari kejauhan menjadi penanda sebuah acara sedang berlangsung. Kontras dg kegelapan di sekitarnya.

Cak Nun bersama Gus Mus
Cak Nun bersilaturrahmi ke kediaman Gus Mus di Ponpes Roudlotut Tholibin Leteh Rembang

Suasana pedesaan sangat kental terasa. Baik MC maupun sambutan dari Panitia penyelenggara menggunakan bahasa Jawa halus-ndeles. Bapak Nafi, dalam sambutannya mewakili penyelenggara, mengungkapkan kebahagiaannya dengan kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng. “Sejak sore, sampai ceck sound saat masih belum banyak orang, saya sudah di sini. Saya kesetrum oleh KiaiKanjeng.”

“Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan”. Demikian tajuk pertemuan pada malam hari ini. Saat KiaiKanjeng naik ke panggung, hadirin langsung menyambutnya dengan teriakan Allahumma sholli ‘ala Muhammad.

Mengawali Maiyahan malam ini, para hadirin yang sebagian besar dari kalangan santri — baik bapak-bapak, ibu-ibu, para pemuda, dan kalangan masyarakat lain–diajak untuk mengondisikan hati dengan membaca surat Al-Fatihah dan Ayat Kursi. “Agar Allah menambah jumlah malaikat yang menjaga rumah anda semua”, tutur Cak Nun.

Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan
Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan

Metode yang diterapkan Cak Nun di awal ini, KiaiKanjeng diminta tidak membunyikan dulu alat-alat musiknya, dan terlebih dahulu para jamaah diminta membangun kloso atau tikar berupa kesepakatan dalam pemahaman. Pertama, Cak Nun meminta agar disebutkan beberapa contoh kelakuan yang buruk. Kedua, agar disebutkan beberapa barang yang buruk. Baru sampai tahap ini, situasai dialogis langsung terbentuk. Beberapa jamaah menyahut, mendaftar beberapa tindakan dan barang yang dimintakan tadi. Perlahan-perlahan mereka diajak untuk memilah “sesuatu” yang dapat disifati baik atau buruk. Baik atau buruk bukan terletak pada barangnya, bukan terletak pada benda yang diciptakan Allah. Robbana ma kholaqta haadza baatila.

Maiyahan melatih masyarakat untuk berpikir jernih. Simulasi terus dipraktikkan oleh Cak Nun. Bilyard, narkoba, dan lain-lain sebagai barang tidak jelek. Yang jadi masalah adalah ketika barang itu digatukkan/diletakkan/dijodohkan dengan sesuatu yang tidak tepat. “Yaitu ketika narkoba itu anda masukkan ke dalam mulut anda”.

Karena di tahun-tahun sebelumnya, para pemuda di sini menggelar dangdutan, sesudah membeber simulasi tadi, Cak Nun bertanya, “Dangdutan itu baik apa jelek?” Latihan berpikir jernih mulai membuahkan hasil. Mereka lantang menjawab,
Baikkkk.” Jawaban yang sebenarnya kedengaran aneh untuk mainstream berpikir umumnya di masyarakat. Lalu Cak Nun menjelaskan, sebagai musik dangdut tak bisa disalahkan atau dinilai buruk atau baik, yang buruk adalah mengekspose aurat tidak pada tempatnya.

Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan
Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan

Sungguh luar biasa metode pendidikan Maiyahan ini. Dalam 20 menit pertama, sangat pada nilai dan pemahaman diintrodusir Cak Nun kepada masyarakat. Dan mereka sangat menangkap poin-poin ilmu ini. Bahwa yang harus kita kerjakan adalah menggabungkan/menjodohkan barang yang satu dengan barang lainnya secara tepat. Agar terjadi perjodohan yang baik, yang menghindarkan kita dari keburukan-kejahatan, dan mendekatkan kita pada kebaikan-manfaat.

Supaya lebih empiris, kini Cak Nun mempersilakan KiaiKanjeng membawakan musik dangdut yang baik, yang menggembirakan, yang terlindungi dan terukur oleh akhlak dan moralitas. Mas Imam Fatawi membawakan nomor Gelandangan dari koleksi Wak Haji Rhoma Irama.

Merupakan salah satu pemahaman dasar dalam ilmu Maiyah bahwa pikiran, musik, dan apa saja, harus terkait sama lain dalam suatu bangunan. Musik tidak boleh terlepas dari pikiran. Pikiran juga harus mendasari sikap atas musik. Dengan analogi tertib dalam shalat, benar-benar pikiran tadi dapat diibaratkan sebagai proses wudlu. Dan sekarang sesudah wudlu, baru tiba saatnya menyapa Allah dengan kerendahan hati dan ketawadhu’an. Demikianlah Cak Nun mengantarkan nomor Pambuko dari KiaiKanjeng.

Ilmu khas Maiyahan juga turun malam ini untuk masyarakat Sokopuluan. Gerimis datang saat Cak Nun dan KiaiKanjeng membawakan nomor Sholli wa Sallim Da’iman alahmada. Para jamaah dengan mudah menyerap yang disampaikan Cak Nun bahwa hujan adalah rahmat dan pertanda baik bagi siapa saja yang hadir malam ini. Bahkan ini bisa lebih mendekatkan satu sama lain. Beberapa jamaah yang di depan turut naik panggung. Yang duduk lesehan tetap setia berada di tempatnya.

Ada yang menarik barusan, saat KiaiKanjeng melantunkan nomor Sholli wa sallim tadi, beberapa jamaah yang berada di barisan belakang melambai-lambaikan bendera. Segera saja, mereka diminta ke depan. “Ayo maju di depan. Selayaknya membawa bendera itu di depan. Supaya bisa diketahui semuanya.” Sekarang lima bendera itu sudah dibawa ke depan. Ada dua bendera merah putih, bendera GP Anshor, bendera Pucakwangi Bersholawat, dan bendera bertuliskan Maulid Simthut Duror.

Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan
Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan

Sesungguhnya ini adalah langkah jitu Cak Nun dalam menggeser budaya fansmania yang salah satunya diekspresikan lewat bendera-bendera bak supporter sepakbola, seperti yang bisa anda lihat di beberapa majelis shalawat. Dalam forum shalawatan, yang ada hanya Allah dan Rasulullah. Tak ada bintang, tak ada fans dengan hubungan yang feodalisitik dan idolatrik.

Kini kelima bendera itu dikibarkan bersama-sama saat Cak Nun melantunkan bagian-bagian awal Maulid Simthut Duror yang terinspirasi oleh salah satu bendera tersebut sebagai bentuk sapaan kepada Imam Husayn Al-Habsyi sang penggubah Maulid Simthut Duror.

Bendera-bendera itu berkibar sesudah diletakkan pada posisi yang tepat, dan karenanya menjadi unsur yang baik dalam suatu komposisi sajian.

Intinya, malam ini semua yang hadir, termasuk para pemuka masyarakat di Sokopuluan ini, diajak melakukan penataan kembali atas nilai-nilai. Baik nilai-nilai yang menyangkut doktrin, maupun nilai-nilai yang berkonteks sosial-budanya. Kesemuanya perlu dipahami secara tepat.

Selain dengan analogi tertib/urutan dalam menjalankan shalat, metodo(ana)logi yang diperkenalkan kepada mereka adalah urut-urutan padi-gabah-beras-nasi. Ada sesuatu yang harus diletakkan sebagai padi yang masih perlu tahap selanjutnya supaya menjadi gabah dan padi. Dan bahwa padi janganlah langsung dimakan, tetapi dimasak dulu. Di masyarakat banyak hal yang tidak dimasak, langsung dimakan, dan langsung disuguhkan orang. Di sinilah kekecauan bermula. Maiyah mengajak semuanya untuk melakukan pemrosesan dan pemasakan atas sesuatu sehingga siap dimakan dan disuguhkan.

Acara semakin gayeng. Cak Nun membabar tafsir lagu Gundul-Gundul Pacul, dengan contoh-contoh yang mengundang kelakar, tetapi juga dengan bahasa komunikasi yang menggelegar yang membakar semangat kepercayaan diri dan nasionalisme. Bahwa lihatlah bagaimana wakul-wakul berupa BUMN yang dijual ke pihak asing, bahwa konon presiden baru akan mengusulkan referendum Papua, dan itu berarti papua akan terlepas dari kita.

Dari Maiyah, kita belajar bahwa sebuah acara atau performance tidak terutama ditopang oleh unsur-unsur bernama penonton, yang ditonton, dan pernak-pernik yang melingkupinya, melainkan oleh nilai-nilai yang sewajarnya dimiliki oleh manusia, di antaranya kejujuran, kemurnian, dan kebersamaan. Begitulah, saat KiaiKanjeng diminta mempersembahkan satu nomor lagu campursari yaitu Sewu Kutho, maka yang menyanyikan adalah Bapak Abu Nafi’, wakil bupati Blora yang asli desa Sokopuluan ini, bergantian dengan Bapak Camat Pucakwangi. Jadilah kebersamaan itu sebagai tali pengikat di antara hati-hati semua yang hadir di sini.

Dari pantauan di lokasi, masyarakat desa Sokopuluan dan sekitarnya yang mengikuti acara lain daripada yang lain ini, memadati dari area depan panggung hingga titik sudut terjauh kanan sampai kiri lapangan dari titik pandang panggung. Semuanya asyik masyuk, senang tapi juga penuh penyerapan, menyimak uraian-uraian dari Cak Nun dan menikmati musik KiaiKanjeng.

Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan
Guyub Rukun dan Tadarus Kebudayaan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka silaturahmi antar warga Sokopuluan

Di atas panggung berjajar beberapa kiai setempat. Mereka menyaksikan langsung bagaimana Cak Nun membimbing, menyemangati, dan mendidik masyarakat, dan tak kalah pentingnya bagaimana Cak Nun membangun komunikasi dan format acara pengajian. Pengajian yang tidak mainstream, pengajian yang revolusioner dari sisi nilai, strategi, dan formulasinya. Mereka bisa merasakan bagaimana indah dan hangatnya ketika lagu Padhangmbulan dibawakan: bendera-bendera mengiringi, anak-anak remaja yang duduk di tengah para muda dan orang-orang tua menggerak-gerakkan badan seirama nada-nada lagu Padhangmbulan, dan bahwa vokalisnya tidak mesti seorang bintang, melainkan satu di antara mereka sendiri, secara improvisatoris yang seringkali menyuguhkan kejutan di luar dugaan.

Siapa saja yang merasakan kenikmatan kebersamaan Maiyah, pasti ingin kebersamaan ini abadi. Demikianlah yang juga dirasakan Pak Abu Nafi. Saat diminta memberikan pesan, Pak Wakil Bupati Blora ini menyatakan, “Pesan saya sederhana, saya ingin kebersamaan ini tidak hanya terjadi di dunia ini, tetapi sampai di akhirat nanti.” Persis seperti itu pula yang terjadi sampai detik. Sampai pukul 23.10 belum ada tanda-tanda hadirin beranjak dari tempatnya. Semua mengikuti dan menikmati dari satu tahapan ke tahapan acara malam ini. Rasanya sulit dipilah mana puncak mana bukan, sebab semuanya adalah puncak-puncak yang ingin diabadikan terus.

Lebih jauh, Cak Nun menjelaskan bahwa yang kita rasakan ini adalah isyik, yang hakikatnya adalah kerinduan kita kepada Allah dalam wujud perjumpaan dan kebersamaan di antara kita.

Tembang Ilir-ilir dan Tombo Ati tak terasa mengantarkan acara ini di penghujungnya, disempurnakan dengan berdiri semuanya melantunkan bareng-bareng lagu Kemesraan untuk meneguhkan semangat kebersamaan di antara semuanya yang hadirnya khususnya masyarakat Desa Sokopuluan.

Usai lagu Kemesraan ini, Cak Nun menyisipkan pesan mengapa ada shalawat, mengapa lagu seperti Kemesraan ini, dan lagu-lagu lainnya, ialah agar semua mendapatkan tempat. Dan kalau semua merasa mendapat tempat maka kehidupan di masyarakat dapat dibangun dg sebaik-baiknya.

Kini, memuncaki semua rangkaian acara, shalawat Indal Qiyam bersama dilantunkan dengan iringan terbang KiaiKanjeng, dan disambung doa oleh salah satu bapak kiai.

Salut dan hormat kepada KiaiKanjeng yang selalu setia mengantarkan kepulangan para jamaah ke rumah masing-masing dengan serangkaian lagu. Tak ada di dunia musik dan pementasan manapun, “pengisi utama” masih memainkan alat musik sampai lokasi benar-benar ditinggalkan hadirin. Semoga Allah memuliakan Pak Nevi, Pak Jokam, Mas Jijid, Mas Bayu, dan bapak-bapak KiaiKanjeng lainnya.