Cair Padatnya Zaman

Pengamen itu seperti jaelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Jadi, dikasih syukur, tidak dikasih alhamdulillah (Lik Plompong, 2011)

Zaman ini bukanlah zaman kesyukuran. Lik Plompong — seberapapun bijaknya ia dan sedalam apa pun kesungguhan hidupnya dalam menjalani “profesi” mengamen — pada  konstelasi kesenian atau bahkan kebudayaan kita hari ini bukanlah ontensitas nilai yang perlu untuk diminati. Apalagi diperhitungkan. Yang diminati dan diperhitungkan oleh apresiasi masyarakat kebudayaan kita hari ini adalah popularitas, materi, instantivitas dan segala pragmatisme hidup lainnya. Pokoknya, kualitas pada nilai itu jadi makhluk yang aneh di hadapan masyarakat berkebudayaan pragmatis. Mungkin, ini awalan pengertian bahwa ungkapan zaman yang dapat kita tangkap pada hari ini memang soal materialisme yang menguasai alam pikir manusianya. Jadi dengan suasana hidup yang orientasinya kuantitatif macam ini, kesyukuran adalah ekspresi naif mengenai berapa banyak yang bisa saya dapat, bukan seberapa manfaat yang mampu saya berikan. Dan Lik Plompong, menurut saya tidak dalam pengertian ini. Honda!

Ketika Anda atau saya, atau siapa pun saja yang pada titik kesadaran tertentu merasa sudah mampu menangkap pesan atau ungkapan zaman, setidaknya asumsi itu akan menghadirkan diameteral (dua sisi) pengertiannya. Adalah pemaknaan kita akan realitas gelap dan terang. Lazimnya citra suatu zaman, padanya selalu bisa kita lihat dan rasakan dualitas tadi: gelap-terang. Dalam perspektif ini, mau tak mau kita memang harus menyepakati filsafat dualisme. Semacam falsafah hidup harmoni (Yin-Yang) dari negeri Sun Go Kong, bahwa kehidupan pada hakikatnya itu ada dan menjadi berada karena kerja/prinsip keselarasan. Ada konsep dan realitas: gelap-terang, baik-buruk, siang-malam, sorga-neraka, panas-dingin, diam-gerak, hidup-mati dsb. yang keduanya terus berinteraksi atau berdialog untuk menuju titik keselarasannya. Meskipun sekilas, cara pandang ini bisa dikatakan bersifat sangat hitam-putih, tapi dengan segala keterbatasannya justru dengan pijakan yang tegas dan kaku ini, kita bisa mengoreksi segala macam keruwetan hidup yang pada kenyataannya tak selalu hitam-putih. Jadi tiada salahnya kalau kita mencoba menangkap pesan-ungkapan zaman dengan kacamata dualisme tersebut.

Bahwa ungkapan zaman adalah semata-mata ungkapan dari dan oleh penyokong zamannya itu sendiri, manusia, maka sisi kemanusiaan yang pada hakikatnya adalah makhluk paradoks akan menghasilkan pula ungkapan-ungkapan zaman yang serba paradoksal. Manusia itu, apalagi manusia Indonesia, ketika sedang dirundung masalah sangat berat seperti ketiadaan negara dalam kehidupan kenegaraaannya, toh masyarakat masih sangat antusias menuju bilik suara untuk memilih kembali orang-orang yang sebetulnya sudah menyengsarakan hidup mereka. Dalam hal ini, Cak Nun adalah yang seringkali mempertontonkan kenyinyiran kehidupan macam itu dengan bahasa yang renyah. Misalnya, menceritakan korban banjir yang malahan dadah-dadah di depan kamera wartawan dengan tidak ketinggalan pula menunjukkan senyum manisnya. Atau cerita-cerita ketangguhan para pemuda kita yang berani kawin, bahkan kridit sepeda motor Honda meskipun ia penganggur. Mendengarnya, kita pun senyam-senyum, bahkan terbahak-bahak mendengar kelucuan yang sebenarnya tak lucu. Paradoks lagi, bukan? Kita, kok. Malahan pada sosok Cak Nun sendiri, yang telah berbuat nyata untuk menambal bolong-bolongnya tubuh keindonesiaan kita semenjak berusia muda sampai bercucu kini, ia masih saja menemani sisi-sisi kesepian rakyat dengan segala kehangatan forum Maiyah — toh tak semua orang memahaminya (aktivitas Cak Nun Kiai Kanjeng dan Maiyah) sebagai pencerahan. Bahkan, ada yang bilang Cak Nun itu sesat. Demikian gambaran sederhana atas paradoksal manusia, yang paradoksal kita juga. Kita, kok.

Lebih kompleks lagi, kita bisa menatap wajah paradoksal manusia kalau misalnya melihat bagaimana sejarah pertikaian antaragama, bahkan antar-pemeluk agama. Mulai dari perang salib yang diawali rebutan penguasaan atas wilayah politik sampai kerusuhan di Ambon, juga yang lebih dekat adalah intimidasi kepada penganut Ahmadiyah dan Syiah. Manusia bisa dengan gampangnya membenarkan tindakan membunuh manusia lain atas dasar beda keyakinan. Ada yang main bom sana bom sini sebagai anggapan jihad fisabilillah. Ada yang merampok uang bank untuk biaya jihad. Ada juga yang sesumbar, “Karena si anu itu sesat, maka darahnya halal.” Soal kekejaman dan kegelapan hidup manusia ini, kalau kita hubungkan dengan garis panjang sejarah pun seperti ada pola yang konsisten. Yakni pengulangan-pengulangan abadi mengenai pertikaian dan perdamaian, kejahatan dan kebaikan, cinta dan benci, dan sebagainya. Lalu, kita pun bisa bilang kalau satu ungkapan zaman yang harus kita terima adalah, bahwa zaman itu merupakan sekeping mata uang yang dualitas kontradiktifnya tak mungkin terhindarkan. Tapi kenyataan kehidupan ini memang selalu berada dalam oposisi biner (dua sisi mata-uang). Mau apa lagi?

Kembali pada persoalan kehidupan beragama yang kerap kontradiktif, ketika lembaga agama (atau agama yang dilembagakan?) tidak pernah bisa kita percayai sepenuhnya, maka pengalaman privat kita masing-masing adalah jalan paling mungkin untuk memaknai keyakinan kita padaNya secara personal. Bukankah Muhammad putra Abdullah juga tidak pernah melembagakan ajarannya? Bukankah Islam itu berawal dari pengalaman yang sangat personal? Dan bukankah nabi-nabi itu memulai membangun moral lingkungannya dari pengalaman privatnya atas Tuhan? Cara pandang semacam ini memang rentan mengarah pada egoisme keagamaan, atau bahkan cara-cara beragama yang asosial. Para sufi yang terlalu asyik dengan Tuhannya, dari sisi ini juga bisa disebut asosial, bukan?

Dari titik ini, kelihatan bahwa hidup tidaklah hitam-putih semata. Maka kehidupan kita dapat saja dianalogikan sebagai air, dengan segala sifat dan hukum-hukumnya. Air yang terikat oleh hukum gravitasi, secara material tak mungkin mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi. Kehidupan yang termaknai dalam konsep waktu juga terikat pada hukum jalannya sejarah yang tak bisa dihentikan sedetik pun, apalagi dimundurkan. Air, yang menurut Thales, filsuf Yunani di 600 SM dulu adalah arche (zat inti) alam semesta yang tiada pernah hilang keberadaannya — analogi lain adalah hukum kekekalan energi. Bandingkan informasi ilmu pengetahuan umum ini dengan informasi dari ayat Tuhan yang turun lebih dari 10 abad setelahnya: ”Waja’alna min al-mai kulla syaiin hayyin” (Al-Anbiya’: 30) yang menyiratkan bahwa Allah menjadikan segala sesuatu yang ada ini dari air. Bahwa alamiahnya air itu hanya berubah dari sifat satu ke sifat yang lainnya, jadi es atau uap misalnya. Manusia pun begitu. Ia tak bisa menjadi baik selalu, atau jahat melulu. Perubahan kualitas manusia yang bisa diberikan suatu sifat padanya (baik-jahat, marah-sabar, kuat-lemah, dan sebagainya) akan selalu bergantung pada hal lain di luar dirinya, entah apa pun penyebabnya. Bisa saja faktor eksternal dan internal. Ya, makanya manusia itu analog dengan air, dan tentu cair sifatnya. Oleh karenanya zaman memang selalu bersifat cair.

Paralel dengan sifat zaman yang cair, adalah fleksibilitas atau kelenturan zaman. Seperti yang pernah disampaikan Cak Nun, secara moral, manusia di zaman ini lebih buruk kualitasnya ketimbang manusia zaman sebelumnya. Nabi Musa hanya perlu sepuluh hukum Tuhan saja untuk pedoman kehidupan sosial-masyarakatnya. Umat Muhammad, dengan segala kondisi zamannya harus diberikan 6000-an lebih ayat-ayat Allah dalam 114 surah Al Qur’an. Coba bandingkan lagi dengan kehidupan zaman modern ini, yang manusianya tidak mempercayai dirinya (akal dan nuraninya) sendiri sehingga harus menciptakan ribuan pasal-pasal untuk mengatur hidupnya. Semacam maniak pasal-pasal perundang-undangan. Jadi, meskipun secara kebudayaan manusia itu terus mengalami kemajuan dan perkembangan, namun secara moral (akhlak) kualitasnya jelas bersifat degradatif alias menurun. Dari hal itu, zaman yang diisi oleh catatan pradoksal manusia memang bersifat cair, tak hitam putih dan tidak mudah untuk membingkainya dalam konsep-konsep yang pasti. Dan posisi ilmu pengetahuan hanyalah sebatas menangkap pola-pola zaman yang cair itu.

Kalau dikaitkan dengan sejarah agama-agama monoteistik yang pada hakikatnya berdogma tauhid, pada sisi yang lain nampak ada sifat padatannya, sifat kepastiannya. Hal ini bisa lihat pada abstraksi karakteristik agama yang dibawa oleh nabi Musa, Isa, hingga Muhammad. Saat melihat kembali psikis umat nabi Musa dalam sejarah masyarakat Yahudi masa lampau, kita selalu akan menemukan kisah-kisah pamaknaan akan Yahweh, Tuhan Yahudi Yang Pencemburu. Seperti kisah-kisah kebebalan masyarakatnya, umat Musa itu dikondisikan dengan berbagai hukum-hukum Allah (Taurat) yang dicitrakan sangat otoritatif dan penuh kecaman. Keberagamaan semacam itu adalah realitas manusia yang berada dalam kondisi ”anak-anak”. Sebagaimana lumrahnya sifat alamiah manusia muda (anak kecil yang belum dewasa) yang memerlukan bimbingan, atauran-aturan dan segala hukum untuk mengarahkan ke mana arah tujuan kehidupannya, maka umat Musa adalah gambaran kualitas manusia macam ini. Karakteristik keberagamaan yang pertama ini adalah agama yang sangat ketat di mana sumber kekuasaan Tuhan adalah Dia Yang bercitra Pemarah.

Hal seperti gambaran keagamaan umat Musa itu akan menjadi berbeda ketika Isa putera Maryam — yang oleh orang Romawi disebut Yesus itu — dianggap  sebagai tonggak cara manusia menjalanakan hidup beragama secara damai, penuh cinta kasih. Berbeda dari citra Tuhan sebelumnya sebagai Dia Yang Maha Pencemburu, maka prinsip ajaran-ajaran nabi Isa membawa pesan baru. Ya, Tuhan itu adalah Dia Yang Maha Kasih. Cinta Kasih Tuhan akan melampaui pengertian tentang Tuhan Pencemburu, dan Dia Yang Pemarah. Ajaran Isa dalah antitesis dari ajaran Musa, tapi ini tidak dalam artian bertolak-belakang secara nilai. Dari citra keagamaan umat Musa yang masih anak-anak itu, maka sederhananya dapat dikatakan kalau umat Isa adalah cara beragama yang meningkat sisi biologisnya, yakni menjadi “remaja” yang kata orang patut memasuki usia pacaran, sayang-sayangan. Maka dogma ajaran Isa adalah cinta dan kasih sayang.

Lalu apa kaitannya dengan dogma ajaran yang sampaikan oleh Muhammad? Sebagai ajaran agama kewahyuan pada jalur Abrahamik (silsilah Ibrahim), Islam umat Muhammad secara kualitatif adalah sintesis antara ajaran Musa dan Ajaran Isa (Cak Nun seringkali menganalogikan hal ini dengan istilah agama: bluluk, cengkir, degan dan klopo). Ajaran Muhammad adalah kualitas sekaligus kuantitas yang melampaui kedua ajaran sebelumnya itu. Ia, ajaran Muhammad merupakan integrasi antara nilai-nilai hukum agama yang ketat (citra Tuhan Pemarah) dengan nilai-nilai hukum agama yang penuh cinta/pengertian (citra Tuhan Pemaaf). Maka Islam merupakan kelengkapan dan keterpenuhan nilai dogmatis, yang secara tradisi kenabian mengakhiri peran-peran nabi Tuhan sebelumnya. Kenabian pun ditutup pada Muhammad sang khatamul anbiya.

Dari pola degradasi moralitas serta peningkatan kualitas dogmatis yang kita tangkap dari sejarah ajaran kenabian, mulai karakteristik umat Musa, Isa, hingga umat Muhammad, maka kalau mau disebut sebagai ungkapan zaman bisa diamaknai sebagai cair-padatnya zaman. Pola sifat cair pada zaman nampak pada proses peningkatan kualitas dogma ajaran kewahyuan sebagai jawaban/representasi kualitas manusia zamannya (ummat). Secara dogmatis, Islam adalah capaian kedewasaan beragama yang melampaui pemaknaan manusia atas Tuhan Pencemburu dan Tuhan Pemaaf. Dalam Islam, Tuhan tidak sesempit pemaknaan macam itu. Allah, adalah Tuhan yang tak pernah selesai dimaknai. Kata Muhammad, ”Aku (Tuhan) sesuai dengan persangkaan hamba-Ku”.

Air zaman telah menunjukkan gerakannya mengalir dari kualitas kemanusiaan yang lebih tinggi menuju kualitas yang lebih rendah. Namun secara esensial, peningkatan pola keberagamaan yang berakhir pada ajaran Islam adalah kualitas nilai yang semakin memadat, semakin sempurna. Padatan yang paling material adalah teks-teks wahyu dalam bentuk al-Qur’an. Dan secara dogmatis, keyakinan seorang muslim terhadap nilai al-Qur-an itu bersifat padat, tegas dan pasti. Keimanan (pada Qur’an) itu tidak bisa diganggu gugat oleh apapun. Dan ayat-ayat Allah dalam teks simbolis bahasa Arab itu (Qur’an), sebagai padatan tentulah mengundang keharusan penganutnya untuk memecah dan menempa padatan nilai-nilainya menjadi peradaban.

Persoalanya kini adalah kita mau ikut melarut dalam aliran air zaman yang makin menderas, atau kita berusaha mencari alat apa pun yang tersedia di sekitar kita untuk memecah padatan nilai tadi? Menurut saya, Lik Plompong adalah salah satu sosok inspiratif pejuang zaman yang ikut berusaha memecah dan menempa padatan nilai itu dengan musik Bambu Runcing di tangannya itu.

Banjarmasin, 9 Mei 2014
Penulis adalah ”fans” Lik Plompong, bekerja di IAIN Antasari Banjarmasin.