Sikap Hidup Jazz

Perjalanan persaudaraan kreatif membawa KiaiKanjeng mendampingi Inna Kamarie dalam Indonesian Jass Festival pada 30 Agustus 2013 pukul 18.00 – 19.00 WIB di Istora Senayan Jakarta.

Inna Kamarie, anak muda gelisah, yang pernah mendapatkan 2 nominasi AMI Award sebagai Jazz Vocalist terbaik, juga Penyanyi  Berbahasa Daerah Terbaik, dengan suaranyanya yang unik dan prolifik, yang aransemen jazzy-nya disupport oleh Jazzer-jazzer muda dari Komunitas Jazz Kemayoran – menyeret KiaiKanjeng naik panggung Indonesian Jass Festival tahun ini.

Mungkin ini merupakan peristiwa ‘salah tingkah’. Yang disebut ‘KiaiKanjeng’ itu bukanlah group musik, 12 orang ini hanya sekumpulan ‘pelayan sosial’ yang malam ini melayani keponakan yang mereka sayangi yang bernama Inna Kamarie. Mereka tidak punya nama kelompok. ‘KiaiKanjeng’ adalah nama seperangkat Gamelan karya Novi Budianto yang bukan Gamelan Jawa: ia diatonis nggak lengkap, berfungsi sedikit pentatonis di sejumlah kemungkinan. Setiap bunyi yang terdengar dari mereka semata-mata ekspressi pelayanan sosial, meskipun pelayanan yang bener selalu mempersyaratkan tanggungjawab estetik dan artistik yang maksimal.

Inna Kamarie bersama KiaiKanjeng.
Inna Kamarie bersama KiaiKanjeng.

Malam ini kali ke 3.490 terhitung sejak 1995 KiaiKanjeng naik panggung, di dalam negeri sebanyak 3.433 di 28 Provinsi, 57 acara di 10 negara (luar negeri), meskipun tidak benar-benar punya tempat di Atlas Musik Indonesia. ‘Dosa’ rasanya kalau memperbandingkan mereka dengan para Peterampil Jazz yang selalu dahsyat kemampuan teknis dan olah kreatifnya. Mereka ini sekadar pemuda-pemuda dusun dan pinggiran jalan yang tidak punya latar belakang pembelajaran musik yang ‘bisa dipertanggungjawabkan’. Mungkin ‘haram’ untuk menyebut mereka ‘Jazzers’, tapi juga mohon jangan buang mereka, sebab mereka sangat mencintai musik Jazz dan mengagumi para seniman Jazz. Kata orang bijak: “Jangan pernah buang muka dari wajah cinta”.

KiaiKanjeng, yang sedang asyik belajar mencari Jazz sebagai ‘sikap hidup’, mengawal Inna Kamarie membawakan:

“Don’t Surrender”, lagu tradisional Jawa yang diangkat dari syair nyanyian langgar berjudul “Ladrang Pangeling-eling/Manungso”, Novi khusus mengaransir tidak melibatkan instrumen-instrumen modern, (dominan gamelan hanya ditambah biola) awalnya dinyanyikan oleh penyanyi yang memiliki latar belakang Sinden. Perkembangannya, komposisi ini diaransir ulang KiaiKanjeng dan liriknya tanpa mengubah aslinya dibahasa-Inggriskan oleh Noe Letto.

“Lukamu Lukaku”, lagu dan lirik bikinan Emha Ainun Nadjib, aransemen musiknya di-handle oleh Kiai Kanjeng. Lukamu jadi lukaku, tangismu jadi tangisku, darahku tak leleh padaMu….

“Summer Time” karya George Gershwin untuk Opera Porgy and Bess pada tahun 1935, lirik oleh DuBose Heyward. Semua pemerhati musik tahu lagu dengan basic gaya opera Broadway ini sering dibawakan oleh musisi dari berbagai aliran, Blues, Rock dan Tentunya Jazz dengan berbagai style.

“Over the Rainbow”, ciptaan Harold Arlen, lirik oleh E.Y. Harburg, pertama kali dinyanyikan oleh Judy Garland pada tahun 1939 sebagai soundtrack film The Wizard of Oz, dan memenangkan Academy Award sebagai original Ballad Songs. Salah satu ‘lagu abadi’ dunia yang kerap dinyanyikan para Jazzer Musician dengan berbagai versi, Vocal maupun Instrumental

“Gundhul-gundhul Pacul”, Kiai Kanjeng sangat mendalam mentarikati muatan lirik lagu Jawa yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak ini kemudian mengkreativinya dan melahirkan komposisi musik yang unik. Pada komposisi ini dituntut keterampilan, kecepatan dan ketepatan pemain gamelan.

“Nothing Compares to You”, lagu yang aslinya diciptakan oleh Prince, dipopulerkan oleh penyanyi asal Irlandia Sinead O Connors. Inna memilih nomer ini berangkat dari suatu alasan sangat privat dan mendalam di dalam hatinya ‘terhadap’ si Irlandia itu, yang mendapatkan Award pada tahun 1997 untuk “Grammy Award for Best Rock Song, dan Female Rock Vocal”

“Give Me One Reason”, diciptakan dan dinyanyikan oleh Penyanyi dan penulis dari Amerika Tracy Chapman, melalui album “New Beginning” 1995 dan menjadi single utamanya pada tahun 1996,  yang mengantarkan dia mendapatkan  Grammy Award.

“Hujan Gerimis”, Inna memilih nomer ini tidak hanya berangkat dari pilihan musikalnya, tetapi juga diam-diam menelusuri atau meneliti ‘lorong-lorong’ untuk menemukan dimensi yang paling substansial dan esensial dari manusia Benyamin S, sebuah pencarian ke-Indonesia-an berdasar perabaan terhadap “gen” Kebudayaan Nusantara.

“Ajur Ajer”, komposisi Ari Sumarsono Kiai Kanjeng. Komposisi ini menampilkan kolaborasi bunyi-bunyian gamelan, alat gesek, tiup, gitar, keyboard secara utuh. Ajur Ajer merupakan tema yang tengah menjadi pusat perhatian di lingkaran KiaiKanjeng, yang dapat dipahami sebagai tuntutan agar KiaiKanjeng senantias bisa bergaul dengan siapapun saja (golongan, kelas sosial, agama, etnik) termasuk dalam urusan bermusik.