Reportase Padhangmbulan Agustus 2013

Reportase dan Dokumentasi Maiyah Padhangmbulan Jombang Agustus 2013

Agustus ini Padhangmbulan diselenggarakan pada hari Rabu tanggal 21. Untuk tidak menyia-nyiakan momentum yang belum lama ini dirayakan oleh umat Muslim, Pak Toto Rahardjo meminta jamaah untuk membagi pengalaman masing-masing agar menjadi bentuk-bentuk pengetahuan baru.

Ada yang menemukan kesejukan suasana selama Idul Fitri, tapi tidak sedikit pula yang mengeluhkan berbagai macam hal — dari berkurangnya silaturahmi antar tetangga, materialisme yang sangat kental, tawuran-tawuran antarpemuda, minum-minum selama malam takbiran, juga keluhan-keluhan pribadi semacam kerinduan kepada orang tua yang sudah meninggal dan kejengkelan menghadapi tingkah laku adik sendiri yang sangat urakan. Di luar tema Idul Fitri, ada yang menanyakan perbedaan antara iman, kepercayaan, dan keyakinan; serta pertanyaan mengenai sisi spiritual Idul Fitri.

“Yang barusan kita lakukan adalah memotret peristiwa Lebaran,” ujar Pak Toto, “Memotret itu kan bisa saja alat yang dipakai sama tapi hasilnya beda antar orang. Memotret ini dalam bahasa lain namanya melukis dengan cahaya. Maka salah satu pelajaran penting adalah mempelajari cahaya itu sendiri. Dan kalau sudah mampu memotret, apakah lalu hasilnya bisa membawa terang untuk sesama?”

Dalam memotret Idul Fitri ini kita bisa memetakan dengan cara menilai baik atau buruk, meningkat atau menurun, semakin berani atau semakin pengecut, semakin luas cara berpikirnya atau semakin sempit. Di samping itu, perlu juga memaknai kemiskinan dan kekayaan: apakah di dalam kemiskinan kita menjadi remuk secara moral atau justru tumbuh. Cak Nun sendiri sejak tahun ’70-an sudah sangat banyak menulis mengenai Idul Fitri dan Ramadhan.

“Al-Qur’an melambangkan ada Masjidil Aqsa dan Masjidil Haram. Di dalam hidup ini ada kesejukan dan kegelisahan; ada kebahagiaan dan ada juga kesedihan, penderitaan, nelangsa, kesepian, dan sebagainya; ada kaya dan miskin; ada pintar dan bodoh,” Cak Nun mengawali uraiannya.

Ada orang yang disayang Allah dengan kepandaian, tapi ada pula yang dilindungi dengan kebodohan. Indonesia ini rusak karena Allah sedang mengadzab orang-orang pandai yang dengan kepandaiannya mereka menipu dan memperdaya orang. Begitu menjadi pintar, orang mempermainkan hukum. Begitu menjadi ustadz, orang menipu para TKI.

Kadang-kadang ketidaktahuan merupakan rahmat. Ada saat-saat di mana kita sebaiknya tidak tahu. Oleh karena itu Allah memberikan keterbatasan dimensi kepada manusia sehingga yang mampu diinderanya pun sangat terbatas. Begitu masuk ke dimensi berikutnya, manusia akan melihat warna dan bentuk yang sama sekali berbeda yang kita tak punya perbendaharaan kata untuk menceritakannya.

“Kalau saya boleh urun, ada orang yang dirahmati Allah dengan kesepian, dan ada orang yang diazab Allah dengan keuntungan materi sangat banyak. Materialisme membuat pandangan kita terbalik-balik dalam mengenali mana keuntungan mana adzab. Jadi, Anda yang jauh dari orang tua pada waktu Idul Fitri, serahkan kesepianmu kepada Allah sehingga pengalaman sepi dan sedihmu menjadi rahmat nantinya.”

“Kalau untuk saya pribadi, hari raya merupakan hari sepi. Saya malah sengaja menyepikan diri karena saya punya pertimbangan pribadi; kalau waktunya orang bersenang-senang, apa hebatnya saya ikut bersenang-senang? Intinya, apa saja yang Anda alami, entah itu menyenangkan atau tidak, maknailah dan kembalikan kepada Allah.”

Ada orang yang jalannya ke Tuhan adalah melalui kekayaan. Dihikmahinya kekayaan sehingga menjadi shodaqoh yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Tapi jangan lupa bahwa ada juga orang yang jalannya adalah melalui kemiskinan, kerja keras, penderitaan, atau melalui hidup nelangsa seumur hidup.

Kalau dalan pengertian kesehatan, bagaimana memperkuat sel-sel kita baik melalui makan maupun tidak makan. Sebab semakin banyak kita makan justru semakin lemah tubuh kita. Puasa mematikan sel-sel buruk sambil memperkuat sel-sel sehat. Lapar itu baik. Batasnya adalah jangan sampai kelaparan. Yang tidak boleh itu faqir; kalau miskin itu justru baik kalau kita menghadapinya dengan benar.

Maka Rasulullah mengatakan, makanlah ketika lapar. Seberapa ukuran lapar itu? Mungkin satu, dua, tiga, atau empat jam setelah lapar kita baru merasa kelaparan. Tapi yang terjadi sekarang, baru saja semenit lapar sudah langsung makan. Ini ada kaitannya dengan penurunan luar biasa kualitas manusia Nusantara.

“Saya dulu sering sekali menceritakan kehebatan-kehebatan manusia Nusantara. Itu sebenarnya ada terusannya; hanya saja saya nggak tega. Kehebatan-kehebatan itu dulu. Sekarang manusia Nusantara bodoh sebodoh-bodohnya, hina sehina-hinanya, kerdil sekerdil-kerdilnya. Sekarang manusia Nusantara adalah wong cilik bukan dalam pengertian kultural melainkan dalam pengertian kualitas hidupnya. Budaya hanya mengenali wong cilik berdasar fakta kekayaan dan kesuksesannya, padahal ada pengertian yang lebih luas daripada itu ada tukang becak yang wong gedhe, ada bupati yang wong cilik – kalau secara kualitas hidup.”

Wong gedhe itu tidak kagetan. Tapi sekarang manusia dididik oleh televisi untuk menjadi sangat kagetan, untuk sering sekali meluarbiasakan hal-hal biasa sehingga akhirnya yang luar biasa itu tidak ada lagi.Ini adalah kebodohan yang merupakan bentuk adzab.

“Tolong dicari dalam hidupmu apa-apa saja yang merupakan rahmat ketidaktahuan yang menjaga Anda tetap sehat dan selamat, karena tidak semua ilmu pasti bermanfaat.”

Yang merusak Indonesia adalah semakin banyaknya orang berilmu yang dihasilkan sekolah-sekolah modern. Semakin banyak sarjana justru semakin rusak. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh sekolah, tapi harus punya kesadaran bahwa ada yang tidak benar dalam filosofi, komitmen integralitas, niat, dan kultur pendidikannya.

Sama seperti yang terjadi pada musik dangdut. Musiknya indah, tapi justru dirusak oleh kultur dan sikap hidup dangdut itu sendiri. Budaya dangdut tidak percaya pada keindahan musik dangdut sehingga kemudian mengandalkan joget dangdut. Kalau sudah ada joget, pemain musik menjadi tidak lagi penting karena toh rekaman sudah memadai sebagai hiburan. Joget pun terus mengalami penyempitan – akhirnya tidak penting lagi tangannya, kakinya, kepalanya. Maka matilah pemusik dangdut karena budaya dangdut yang mereka bela sendiri. Tak hanya di dunia musik; di politik dan agama pun kita bunuh diri.

Kembali ke soal penurunan kualitas manusia Nusantara, manusia yang terbiasa lari tak akan kepayahan begitu disuruh lari. Kalau kita biasa mendapat tantangan, kita punya ketangguhan-ketangguhan. Tapi sekarang ini kita tidak terlatih menghadapi tantangan sehingga sangat mudah mengeluh.

“Maka semua yang kamu keluhkan itu, jadikanlah bagian dari tantangan yang akan mengubah dirimu.”

Sekarang ini NASA kebingungan dan langsung datang ke Jogja begitu mendengar bahwa ada buku tulisan orang Jawa yang berisi penemuan tentang planet-planet dan bahkan galaksi — yang jauh melebihi batasan yang diketahui dunia Barat hari ini. Buku yang memuat pengetahuan akan 216 galaksi ini sedang diterjemahkan. Penemuan ini tidak menggunakan alat-alat seperti teropong. Di Kediri ada tempat untuk time tunnel. Kakek-kakek kita juga sudah sejak lama tahu di Mars itu bagaimana.

“Mbah-mbahmu dulu yang punya kekhususan tentang ini bisa kamu tanyai. Tapi sekarang, percaya bahwa Mbahmu punya teknologi seperti ini saja tidak mau.”

“Orang Jawa memiliki penemuan sedulur papat limo pancer. Aku sering ngomong yang mungkin kamu anggap iseng-iseng. Kalau aku di sini, aku juga di sana; aku juga melihat diriku sendiri, mengawasi. Aku tidak cuma satu. Aku punya beberapa lapis padatan sel yang berbeda-beda, yang nanti output warna dan bentuknya juga beda. Jadi kalau matamu sedang melihatku, jangan percaya-percaya amat bahwa aku adalah seperti yang kamu lihat. Ini cuma salah satu simtoma di mana kamu bisa melihat dengan mata itu.”

“Mbah-mbahmu dulu kalau mau keluar dari tata surya, misalnya, menggunakan badannya yang agak ungu. Kalau mau lebih jauh lagi, menggunakan yang agak putih, dan seterusnya. Sabrang kemarin diajak khusus melihat bentuk dan warna jin, malaikat, dan nabi. Dia ditunjuki tiga jagad. Alam jin itu penuh dengan gelembung-gelembung dan tidak terlalu tegas garis-garisnya. Kalau alam malaikat terutama berwarna kebiruan dan di sana segala sesuatunya terdiri dari cahaya. Sementara itu rapat para nabi di tempat semacam stadion besar yang terdiri dari emas permata yang mencorong kilaunya.”

“Ini sekadar untuk mengatakan kepada Anda, jangan dipikir bahwa yang Anda ketahui merupakan satu-satunya kenyataan. Ada bermilyar-milyar kenyataan yang kita tidak tahu, tidak bisa kita lihat, sentuh, dan masuki. Dan itu jauh lebih luas daripada apa yang kita ketahui. Apa-apa yang tidak Anda indera bukan berarti tidak ada.”

Di dunia ini pernah ada tiga pedoman dasar yang menjadi landasan peradaban, yaitu Yunani Kuno, Mesir Kuno, dan Jawa Kuno.Yang berlaku sekarang di Indonesia dan seluruh dunia adalah Yunani Kuno, mulai dari filsafatnya, caranya beragama, keseniannya, sampai caranya membangun masjid. Dengan cara pandang materialisme Yunani kita mengagumi masjid bukan karena keteduhannya, melainkan karena kemegahan konstruksinya.

Maka begitu diberi pemahaman bahwa Indonesia sedang mengalami kerusakan, kita tidak percaya karena dalam pandangan kita selama masih ada gedung-gedung tinggi, selama masih ada mobil dan kecanggihan teknologi, selama ada mall-mall, itu berarti kemajuan.

Padahal orang Jawa mewariskan kebesarannya bukan melalui materi. Maka tidak ada peninggalan Majapahit karena kebesarannya tidak dilambangkan dengan gedung-gedung besar. Keraton Majapahit hanya berupa rumah banjar yang terbuat dari kayu. Bangunannya tidak penting-penting amat karena yang dipentingkan oleh orang Jawa adalah kualitas batinnya. Jadi kalau mau ke Mars, misalnya, bukan dengan ulang-alik melainkan masuk kamar dan duduk bersila dalam hening.

Orang Jawa sekarang tidak kagum pada apa yang sebenarnya mengagumkan pada dirinya. Mereka kagum pada sesuatu yang datang dari luar yang sebenarnya sama sekali tidak mengagumkan.

Islam itu bukan pada megahnya masjid, bukan pada sorban dan jenggot. Meskipun berangkat dari niat baik supaya terlihat seperti Nabi Muhammad, tetapi dalam dialektika sosial budaya ini bisa menimbulkan penipuan-penipuan – yang mungkin tidak terlihat oleh mata tapi tertangkap oleh logika.

“Kemarin di Kediri saya katakan, lebih baik yang memberikan khotbah itu orang dari kampung sendiri karena dengan begitu dia akan lebih bertanggung jawab. Kalaupun mau panggil ustadz dari mana-mana, selidiki dulu siapa dia. Kalau kamu tidak tahu siapa dia, dia bisa ngomong apapun saja tanpa kamu bisa mengontrolnya.”

“Saya merespon tadi yang mengeluhkan adiknya yang nakal. Ini juga merupakan penipuan-penipuan general, penipuan-penipuan sosial global. Kita selalu dibikin percaya bahwa orang alim itu yang seperti itu pakaian atau statusnya. Kalau misalnya arek-arek Maiyah ngaji atau shalawat, itu pasti urutan terakhir dari segi bagusnya suara dan fasihnya ucapan. Tapi mana ada pengajian di mana orang-orang abangan berani masuk? Pengajian itu bukan kumpulan orang-orang yang dekat dengan Allah, tapi justru mencarikan peluang-peluang kepada yang belum dekat untuk bisa mendekat. Kalau memang masih jauh ya jangan dipaksa untuk sarungan.”

“Maka kepada adik Anda, jangan lihat penampilan punk-nya, tapi lihat tingkah lakunya. Belum tentu orang yang berpenampilan santri lebih bisa berendah hati dan mengendalikan diri daripada yang preman. Jadi jangan sangka kalau orang sudah belajar agama otomatis dia lebih baik daripada orang lain. Sejauh saya bergaul dengan preman-preman, mereka sangat jujur dan tidak sok suci.”

Tentang penurunan mutu silaturahmi, ada poin yang harus diingat yaitu bahwa kerenggangan antarmanusia dalam hati, budaya, dan sosial terjadi karena mereka tidak merasa aman dengan orang lain. Manusia menjadi saling tidak percaya.

Ada proses besar yang membuat manusia tidak lagi berkohesi secara nurani satu sama lain karena saling tidak percaya dan saling tidak memuaskan satu sama lain karena selama ini yang dibayar untuk kehidupan bersama tidak pernah menuntaskan pekerjaannya. Maka manusia menjadi tidak percaya kepada orang lain dan memang, dirinya sendiri juga tidak bisa dipercaya.

Orang Indonesia menjadi seperti ini karena belum pernah punya pemerintah yang membuat hatinya lega. Kita belum pernah bernegara dan berbangsa dengan benar, maka hasilnya adalah penurunan-penurunan kualitas, kondisi sosial, dan keterpecahan-keterpecahan kemanusiaan. Oleh karena itu tawuran dan konflik sosial sangat gampang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, jangan harap kita bisa guyub di Hari Raya.

“Seperti yang pernah dikatakan oleh Mas Toto, gotong-royong itu tidak bisa muncul sendiri. Dia hanya ada kalau di antara mereka kehidupannya saling aman dan memuaskan sehingga mau saling menolong.”

“Anda jangan tidak mendapatkan makna sepulang dari sini. Dan sekali lagi, apapun yang Anda alami harus memperkuat hidup Anda, entah itu negatif atau positif.”

Sebagaimana 18 orang yang di awal  sudah membagi pengalaman mereka ketika Idul Fitri, Cak Fuad juga bercerita, “Malam takbiran saya tidak bisa tidur karena takbiran di masjid yang sangat bikin mangkel. Sudah lagunya nggak enak, suaranya nggak enak, isinya guyon thok. Itu terjadi sampai jam 22.30. Saya, penasihat nomor satu masjid itu, kirim SMS ke ketua takmir untuk menghapus nama saya dari posisi penasihat. Saya nggak mau ikut menanggung dosa, takbiran kok main-main begitu.”

Lima menit kemudian, takbiran berhenti. Rupaya ketua takmir yang sedang berada di kecamatan, waktu itu langsung menelpon ke masjid.

Kalau ada yang takbiran sambil mendem, ini di Malang saja sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Ini hanya merupakan gejala yang tampak di permukaan. Penyebabnya merupakan sesuatu yang sudah sangat merajalela di negeri kita. Orang-orang tidak serius dalam beragama.

Orang-orang tidak bisa membedakan mana agama mana budaya. Takbiran itu budaya. Bukan berarti bahwa yang budaya itu tidak boleh, karena kita sangat membutuhkan budaya. Di sudut yang berseberangan, ada yang mengatakan bahwa takbiran merupakan aktivitas bid’ah.

Wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’alakum tasykurun. Perintahnya adalah takbir membesarkan nama Allah karena bersyukur sudah berhasil menyelesaikan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Tapi bukan berarti bahwa takbiran lantas dilarang, karena itu juga merupakan ekspresi dari keberagamaan berupa kegembiraan dengan selesainya Ramadhan. Asalkan budaya takbiran tidak menabrak ketentuan-ketentuan agama dan tentunya norma-norma budaya itu sendiri. Di sinilah perlu dilakukan pemilahan dengan bijak.

“Tadi ada yang menanyakan sisi spiritual dari Idul Fitri. Sebenarnya yang dimaksud dengan sisi spiritual dalam hidup ini bukan hanya yang menyangkut ibadah mahdloh saja. Kita melakukan apapun saja bisa menjadi pengalaman spiritual.”

“Ada seorang teman saya yang saya minta untuk menjelaskan ayat Al-Qur’an yang mengatakan ‘Dan Kami turunkan besi’ – mengapa ‘turunkan’ dan bukannya ‘ciptakan’. Ahli tafsir ini tidak bisa menjelaskan.Lalu ada ahli Fisika yang ternyata bisa menjelaskan rahasianya. Berdasar ilmu pengetahuan, besi memang bukan berasal dari perut bumi tapi dari planet-planet yang lain. Setelah dia menjelaskan, ada seorang dosen yang angkat tangan dan menyatakan keberatan mengapa kajian tafsir diisi dengan bahasan mengenai ilmu pengetahuan tentang besi.”

Padahal bukankah Allah mengatakan bahwa orang yang berpikir (termasuk yang berpikir tentang alam semesta) pada akhirnya akan mampu bersaksi Rabbana ma khalaqta hadza bathila.

Maka makna spiritual Idul Fitri sangat tergantung pada sejauh mana kita bisa memaknai hal-hal yang kita alami dalam merayakannya. Melepas kerinduan dengan orang tua yang sudah lama tak bertemu juga merupakan pengalaman spiritual. Asalkan segalanya kita hubungkan dengan Allah, dia menjadi spiritual.

“Kalau tentang iman, kepercayaan, dan keyakinan,” lanjut Cak Fuad, “iman itu Bahasa Arab dari kepercayaan. Sementara itu, keyakinan merupakan syarat dari iman. Cak Nun tadi menyinggung bahwa kita sudah kehilangan kepercayaan satu sama lain, kehilangan rasa aman dari orang lain. Ini ada kaitannya dengan iman.”

Secara etimologi, ada beberapa makna dari iman, yaitu tenteram, percaya, setia. Kalau kita benar-benar beriman, akan terjalin sikap saling percaya satu sama lain. Orang beriman pasti akan menimbulkan ketentraman hati. Kalau sekarang kita kehilangan kepercayaan satu sama lain, yang pertama harus dipertanyakan adalah iman kita sendiri. Dan iman ini tidak ditentukan oleh luasnya ilmu pengetahuan agama. Ada orang yang pengetahuan agamanya sedikit tapi imannya sangat kuat.

“Berkaitan dengan hari raya, waktu puasa dulu saya ajak teman-teman untuk mencari dari mana referensi kok bulan Ramadhan disebut sebagai bulan suci. Di Islam yang termasuk sebagai bulan suci itu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab. Tapi di Indonesia kita ciptakan sendiri bulan suci yang baru, yaitu Ramadhan. Oleh karena itu orang lebih menghormati Ramadhan ketimbang menghormati Allah. Selepas Ramadhan, lepas pula kerudungnya. Padahal kan bersikap sopan saja setiap hari itu sudah cukup.”

Kemudian Idul Fitri disebut sebagai hari kemenangan. Ini diambil dari ucapan hari raya yang sangat khas Indonesia, minal aidin wal faidzin. Artinya : semoga termasuk orang-orang yang kembali (aidin) kepada fitrah dan semoga kita termasuk orang-orang yang menang (faidzin). Yang menang siapa?

“Kalau menurut Pak Toto tadi, yang menang ya kapitalis. Televisi, mall-mall besar, mereka paling banyak mengambil keuntungan. Sementara orang Islam sendiri ya kalah terus; termasuk masih kalah dengan nafsunya sendiri.”

Salah satu yang diingatkan Al-Qur’an dalam ayat penutup dari ayat-ayat puasa, yaitu Surah Al-Baqarah : 188, adalah supaya kita puasa sepanjang masa dari memakan yang haram. Wa la ta’kulum amwalakum bainakum.‘Janganlah sebagian dari kamu memakan harta sebagian yang lain’ merupakan isyarat bahwa harta harus diletakkan bukan sebagai milik pribadi tapi sebagai kepemilikan bersama. Oleh karena itu, kalau kita merusak harta orang lain berarti kita juga sedang merusak harta kita sendiri.

Bil bathili (secara tidak sah; makna asalnya hilang atau musnah). Kalau kamu mengambil harta orang lain secara tidak benar, maka kamu akan mengalami kehilangan harta. Dalam Jawa ungkapan ini dikenal sebagai ‘Rejeki ora halal iku ora barokah’.

Wa tudlu biha ilal hukkami lita’kulu fariqan min amwalinnas bil itsmi. Jangan kamu bawa pengambilan harta yang tidak halal itu kepada penguasa (hakim, polisi, atau pejabat berwenang lain) supaya diberi legalitas karena di hadapan Allah tetaplah haram.

Wa antum ta’lamun.Padahal kamu sekalian mengetahui; maka tidak usah mencari-cari cara untuk mendapat legalitas.

“Kita diingatkan bahwa selepas Ramadhan kita wajib untuk berpuasa sepanjang hidup dari memakan harta yang tidak halal – dan ini hanya bisa kita lakukan kalau kita mengalahkan hawa nafsu kita,” pesan Cak Fuad menutup penjelasannya.

Cak Nun kemudian mengajak jamaah untuk lebih mempelajari apa itu sekularisme. Selama ini kita sering terjebak oleh pengertian yang sebenarnya substansial (ruhaniah) yang kemudian menjadi formal. Ada kelompok sekuler, ada kelompok Muslim.

Mungkin kita sedang diadzab Allah dengan ditipu oleh keadaan di mana orang-orang yang paling menghina Islam adalah justru orang-orang yang paling dekat dengan Islam.

Ada dua macam sekularisme. Sekularisme pertama yang dipakai di seluruh dunia adalah: urusan agama tidak ada hubungannya dengan urusan dunia. Lebih tegasnya, politik negara dan agama harus dipisah. Urusan pertanian, perdagangan, KTP, itu murni merupakan urusan negara. Agama wilayahnya pada sembahyang, puasa. Ini yang menghancurkan dunia.

Sekularisme kedua berasal dari Perancis yang kemudian dipakai oleh Kemal Attaturk di Turki. Sekularisme jenis ini bukan hanya memisahkan agama dari negara, tapi : yang ada hanya nasionalisme Turki. Di luar itu tidak ada dan tidak boleh ada. Agama tidak perlu ada. Pendidikan Islam tidak boleh, adzan dengan pengeras suara dilarang. Ini merupakan penderitaan luar biasa selama 30 tahun bagi masyarakat Turki.

Dihubungkan dengan yang diucapkan dosen pada kajian tafsir Cak Fuad, perlu kita ketahui bahwa salah satu manajemen dan aplikasi dari Islam adalah kita disuruh menjadi khalifah. Apa saja yang diurusi oleh khalifah?Apa hanya rukun Islam? Apakah khalifah tidak perlu mengurusi pepohonan, musik, air, dan bidang-bidang lain?Apakah ada hal yang berada di luar agama?

Padahal agama itu akhlak; dan akhlak meliputi apa saja. Tak ada satu urusan pun dari perdagangan sampai pemerintahan, kehidupan berkeluarga, bertani, yang tidak melibatkan akhlak. Yang nomor satu menghancurkan Islam bukanlah orang-orang sekuler, melainkan justru orang yang merasa paling Islam.

Salah satu efeknya, selepas sahur dilarang tarhiman karena bid’ah. Sebagai gantinya, mereka dangdutan atau guyon-guyon. Bahkan mereka sampai pada tingkat tidak apa-apa melacur asalkan hasilnya dipakai untuk memperjuangkan Islam.

Justru sekarang yang berkembang di dalam Islam adalah Islam-sangat-sekuler. Meskipun diri dipenuhi tanda-tanda Islam, cara berpikirnya sangat sekuler. Maka dosen tak paham bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mengandung muatan ilmu alam, teknologi, dan apa saja. Nabi Dzulkarnain saja ngurusi besi. Semua termasuk di dalam tugas kekhalifahan.

“Ada ulama yang keras yang untuk memaknai ekspresi menghormati bendera saja tidak bisa. Syirik itu kan terletak di dalam pikiran dan hatimu. Sembahyang menghadap Ka’bah juga bisa syirik kalau salah struktur berpikirmu. Mencium Hajar Aswad kan juga bukan untuk mencium batunya, tapi ungkapan kemesraan dengan Allah dan Rasulullah. Masa nggak ngerti dunia simbolik? Potong tangan dimaknai sebagai hanya potong tangan, jihad dimaknai sebagai membunuh orang kafir.”

Selama ini yang dipentingkan adalah menjadi orang Islam. Melakukan apa saja kalau belum menjadi Islam, batal semua. Padahal sesungguhnya Islam adalah cara untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sementara banyak orang yang menjadi manusia saja belum.

“Kalau ngomong Idul Fitri, semoga meskipun kita tidak bisa mencapainya, kita diridhoi. Puasa itu kan upaya untuk restore factory setting, proses melakukan pembunuhan-pembunuhan secara intelektual, ruhani, kesadaran, supaya yang hidup hanyalah yang sejati.”

“Idul Fitri mustahil bagi kita karena seluruh sistem pendidikan melanggar semua hakikat penciptaan Tuhan. Pendidikan dengan kurikulumnya memaksa emprit, jalak, garuda, untuk menjadi sejenis. Padahal Idul Fitrinya jalak adalah dengan menjadi jalak sejati, bukan dengan membentuk dirinya menjadi garuda. Orang yang jenisnya kluruk, begitu dia menggonggong dia berkhianat terhadap Allah.”

“Bagaimana mau Idul Fitri kalau tidak pernah ada kesadaran untuk menyadari siapa dirinya, tidak pernah ingat dan punya keinginan bahwa setiap orang harus mencari jati dirinya. Padahal anakmu setiap hari meneliti dirinya sendiri dengan mencoba ini dan itu sampai dia mengerti ada hal yang dia sukai dan ada yang tidak.Setiap anak melakukan penelitian terhadap dirinya sendiri, dan tugas orang tua adalah mengawalnya. Jangan sangka kamu mengerti anakmu.”

Al-Qur’an memberikan informasi bahwa sebelum dilahirkan, manusia punya perjanjian Allah – baik secara sifat maupun dzat. Manusia perlu mempelajari setiap kecenderungannya.

“Anak saya yang kecil setiap hari mencari dirinya sendiri. Menolak bergaul, kemudian tiba-tiba ceramah: orang jahat yang berbuat curang itu jangan disebut curang karena kecurangan merupakan sifat alamiah manusia dari Tuhan. Setiap manusia pasti punya kecurangan-kecurangan.Itu bukan dosa.Yang dosa itu kalau kecenderungan itu diterapkan dalam rangka untuk berbuat jahat. Maka orang yang berbuat jahat kemudian melakukan kecurangan, itu bukan merupakan kecurangan tapi merupakan bentuk kejahatan.”

“Dia meneliti, dan saya kan tahu bahwa rupanya dia filosofis anaknya. Kalau tiba-tiba saya suruh jadi dokter kan runyam. Ada orang yang dikasih Allah bakat menghafalkan yang luar biasa, ada orang yang nggak bisa menghafalkan; tapi di sekolah semua orang harus bisa menghafalkan.”

“Kalau begini caranya, bagaimana mau Idul Fitri? Padahal Idul Fitri itu mengetahui presisi dirimu, jatining urip. Salah satu syarat untuk menemukan jati diri adalah kerjasama harmonis antara akal dan hati, antara kepala dengan dadamu. Sekarang kan tidak pernah ada elaborasi untuk menemukan formula harmonis ini.”

Kita ditipu oleh televisi seolah-olah yang disajikan acara agama padahal bukan. Isinya hanya orang cari laba. Akhirnya Ramadhan justru makan lebih banyak daripada biasanya, justru guyon dari pagi ke pagi lagi. Mereka menipu lewat rating, sehingga perusahaan sponsor dan televisi taat pada rating yang dilakukan oleh tim AC Nielsen.

Mekanisme mendeteksi apakah suatu acara disukai atau tidak itu dengan memilih 1000 orang yang TV remote-nya online dengan kantor Nielsen. Kalau di Amerika, 1000 orang ini diganti seminggu sekali sehingga masih lumayan banyak kemungkinan untuk melihat selera orang. Tapi di Indonesia tidak.

“Anda menjadi korban penipuan dari begitu banyak sistem industri yang luar biasa merusak.”

Cak Nun kemudian bercerita bahwa sore tadi datang tamu yang mengatakan bahwa nanti akan ada tatanan Majapahit yang lahir kembali. Akan ada goro-goro, dan nanti akan berganti semuanya.

“Kita ini orang yang sangat merindukan perubahan-perubahan, sementara para pemimpin negeri ini berada pada posisi tidak mau berubah karena kondisi yang paling menguntungkan bagi mereka adalah sekarang. Tapi dalam dua tahun ke depan harus ada jawaban. Kalau tidak, benar-benar saya dan teman-teman Maiyah harus mengambil keputusan dan bertemu secara serius. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi lilin yang habis tanpa menyisakan apapun. Semoga kalaupun kita tidak bermakna hari ini, Allah membuat kita bermakna besok atau lusa atau minggu depan.”

Seperti yang sudah diterapkan di Mocopat Syafaat dua bulan belakangan, Pak Toto meminta jamaah Padhangmbulan mengumpulkan tulisan yang berasal dari pengalaman masing-masing, dengan bentuk dan cara penulisan yang bebas. Tulisan-tulisan jujur ini akan menjadi harta berharga.

“Saya kira hancurnya Indonesia salah satunya adalah karena tidak mendokumentasikan dan tidak menghormati sejarahnya sendiri,” Cak Nun menambahi, “Sehingga data-data kita yang seharusnya tersimpan rapi di khasanah pusat-pusat Jawa justru tersimpan di Leiden dan Perancis. Kalau kita mau mewarisi Bung Karno, hanya ada satu buku. Kalau kita mau belajar dari Hadratussyeikh, Beliau ceramah ribuan kali tanpa ada dokumentasi. Padahal sesungguhnya Allah meletakkan hidayah dan takdir-Nya kadang di tempat yang bisa berbeda-beda. Semua yang terdokumentasi dari teman-teman Maiyah akansangat berguna untuk anak-cucu. Saya wanti-wanti betul untuk terus mendokumentasikan.”

Usai pengumuman-pengumuman dari panitia, Padhangmbulan Agustus ditutup dengan berdoa bersama. [Source: Azam Fakhri, Verbatim: Ratri Dian Ariani]