Peringatan 45 Tahun Persada Studi Klub

Di usianya yang ke 45, Persada Studi Klub (PSK) sebagai salah satu wadah yang pernah menjadi bagian penting pergerakan sastra di Yogyakarta, bahkan Indonesia, boleh dikatakan sebagai salah satu tonggak yang sejak berdiri hingga hari ini semangat keberadaannya masih tertanam dan terjaga oleh para anggotanya. Untuk menancapkan tonggak tersebut sehingga menjadi lebih dalam, digelar acara Peringatan 45 Tahun Persada Studi Klub, pada hari Jumat, 15 Maret 2013 Pukul 19.30 WIB. di Rumah Budaya EAN, Jl. Barokah 287, Kadipiro, Yogyakarta. latar belakang digelarnya acara ini ada dua, yang pertama adalah untuk mencari dan mengembangkan spirit Malioboro, PSK yang sejak awal mengibarkan sikap terbuka maka acara inipun didesain untuk lintas generasi, lintas kominitas dan  lintas kota. Kedua, untuk menjawab kebutuhan akan majalah sastra yang terbit di daerah, maka muncullah gagasan tebritnya majalah sastra di Yogyakarta yang bernama SABANA. Sebuah nama yang diambil dari nama sebuah rubrik khusus puisi dalam Mingguan Pelpor yang digawangi Umbu Landu Paranggi ketika awal berdirinya PSK.

Dalam acara ini akan dibacakan karya-karya puisi buah pena para anggota PSK oleh Putik Arumsari, Novi Arisa, Ginandjar Wiludjeng, Raudal Tandjung Banua, Suminto A. Sayuti, Hari Leo AER, Slamet Riyadi Sabrawi, Mustofa W. Hasyim, Titi Yulianti, Ali Antoni, dan . pembacaan cerpen karya Arwan Tuti Artha oleh Dinar Saka Setiyawan.  Selain itu akan ada sambutan dari Teguh Ranusastra Asmara selaku salahsatu pendiri PSK, sambutan Emha Ainun Nadjib, sambutan ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Ahmad Charris Zubair. Akan tampil pula Untung Basuki dengan Lagu Puisi-nya.

Peringatan 45 Tahun Persada Studi Klub di Rumah Budaya EAN
Peringatan 45 Tahun Persada Studi Klub di Rumah Budaya EAN

Yogyakarta sebagai salah satu kantong sastra Indonesia – sebagaimana daerah-daerah lain– dikenal memiliki spesifikasinya yang khas. Misalnya, bertahun-tahun proses berkesenian di kota ini ditandai dengan maraknya semangat “paguyuban” dalam berolah kreatif; termasuk juga dalam proses bersastra. Atau paling tidak, sejak dekade 50-an iklim bersastra (dan berkesenian) di Yogyakarta sangat diwarnai oleh kecenderungan “asah-asih-asuh” antar pelakunya dalam suatu institusi yang bernama “sanggar” maupun “komunitas” tertentu.

Banyak sanggar serta komunitas seni di Yogyakarta sempat menorehkan prestasinya di masa lalu. Dan satu di antaranya adalah Persada Studi Klub (PSK) yang dimotori oleh sang Pangeran Sumba, yang ketika di Yogyakarta kemudian mendapat gelar “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi. Pada masanya, PSK mempunyai andil yang cukup besar dalam pertumbuhan sastra Indonesia, baik untuk skala Yogyakarta maupun nasional.

Berdasar catatan sang juru tulis, Ragil Suwarna Pragolapati, komunitas ini lahir 5 Maret 1968 sore hari di lantai dua kantor redaksi koran mingguan Pelopor Jogja di Jl. Malioboro 175 A yang diawaki oleh penyair Umbu Landu Paranggi. Sedang 6 penyair muda lainnya yang berikrar waktu itu adalah: Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarna Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Soeparno  S. Adhy, Mugiyono Gitowarsono,  dan M. Ipan Sugiyanto Sugito. Mereka membentuk PSK untuk mengasah kreativitas penulisan, khususnya puisi dan cerpen.