Menuju Bangsa tanpa Sastra

Dengan judul ini, tak pelak akan menggugah pergulatan wacana dalam mencari makna. Saya kira bukan mustahil kita tidak hanya “menuju”, bahkan sudah “terjerumus” sebagai bangsa tanpa sastra. Tetapi sebelum ke sana, perlu saya ajak untuk membincangkan sastra itu bukan sekadar penggunaan bahasa verbal sebagai teks dalam konteks estetika, terlebih dipersempit lagi hanya sebagai puisi dan prosa. Sastra, sebagaimana dalam tradisi arkais kita, lebih luas dari bahasa verbal berestetika. Sastra, tak lain merupakan seluruh ekspresi dari dinamika kebudayaan. Pustaha Batak yang tersurat di bilah bambu dan lembar kulit kayu dan hewan, adalah sastra; memuat sejarah penciptaan leluhur, pengetahuan perbintangan, pengobatan, sampai mantera magis. Dia merupakan ekspresi kebudayaan Batak. Dan kebudayaan jangan pula dipersempit hanya sebagai salah satu sektor kehidupan.

Bangsa tanpa sastra, atawa bangsa tanpa kebudayaan. Dalam skala entitas bangsa, tentulah ini suatu krisis besar.

Para pujangga klasik melihat manusia dalam 2 konteks bersifat mistis, yaitu jagat besar (macro cosmos) dan jagat kecil (micro cosmos), sementara ilmuwan sosial menempatkan manusia dalam kerangka analisis konseptual dengan melihat dunia dinamika sistem (struktural) dan dunia tindakan diri (personal). Titik pangkal seluruh krisis pada hemat saya bermula dari kerancuan dalam menghadapi dunia sekaligus kerancuan atas diri, yaitu kerancuan dalam merumuskan (defining) dunia di luar-diri dan dunia diri. Di satu sisi kerancuan dalam mendefinisikan dunia luar, batas jagat besar yang dibayangkan, atau pun taksanomi struktural yang melingkupi diri. Di sisi lain kerancuan dalam mendefinisikan diri, sebagai apakah gerangan jagat kecil yang dibayangkan, atau pun taksanomi tindakan personal setiap diri.

Bang Hadi sedang menyampaikan pidato kebudayaan
Bang Hadi (Ashadi Siregar) sedang menyampaikan pidato kebudayaan

Untuk itu perlu kaji ulang kejelasan hubungan jagat besar dan jagat kecil, atau dinamika struktural dan tindakan personal. Dalam azas harmoni, jagat kecil berupaya menyatu dengan jagat besar, atau tindakan personal harus disesuaikan dengan dinamika struktural. Harmoni tidak mengenal krisis. Krisis adalah manakala jagat kecil gagal menyatu dengan jagat besar, atau tindakan personal bertentangan dengan dinamika struktural. Kalau ada yang percaya bahwa harmoni adalah karunia yang mewujud dari “sono”nya, bersiaplah kiamat. Tak perlu repot mencari harmoni. Yang perlu adalah pencarian terus-menerus untuk menemukan makna (meaning) di antara dikhotomi jagat besar-kecil, dan dunia struktural-personal itu. Pencarian ini disebut sebagai proses kebudayaan, dan tidak pernah berujung, sebab makna kebudayaan berproses terus-menerus, dan jika berakhir adalah sebagai artefak dan tradisi yang mati. Boleh saja memujanya, tetapi tetap sebagai bagian proses dialektika eksplorasi makna. Artefak dan tradisi hanya bermakna jika menjadi memori kolektif yang dihadapkan dengan kekinian dan masa depan suatu komunitas/bangsa.

***

Bagaimana duduknya perkara sehingga suatu bangsa mengalami krisis yaitu kondisi tanpa sastra (kebudayaan)?

Ketiadaan sastra ini dapat dilihat sebagai mandek atau bekunya kebudayaan, atau matinya elan bagi kebudayaan. Maka untuk membincangkan ini, saya ingin menawarkan kerangka pemikiran kategoris, dengan melihat manusia sebagai jasmani dan rohani, atau raga dan sukma, dua dimensi yang tidak boleh meniadakan satu sama lain. Dengan cara lain, kesemua ini ingin saya masukkan dalam dalam dua kategori: pertama dunia pragmatis yang berurusan dengan fakta/realitas, dan kedua dunia kebudayaan yang berurusan dengan alam pikiran (termasuk rasa).

Pertama, pada dunia pragmatis ini kehidupan dapat dilihat melalui sektor-sektor politik, ekonomi, dan sosial, setiap tindakan manusia berada dalam kerangka nilai-guna. Kehidupan pragmatis memiliki dinamika berdasarkan tujuan, pengetahuan dan metode. Tujuan pragmatis menggerakkan manusia bertindak, pengetahuan memberi arahan bagi tujuan, metode menjadikan manusia dapat bertindak efisien dan efektif. Segala pengajaran pragmatis, entah apapun nama sekolah dan disiplin keilmuannya, pada dasarnya memberi dan meningkatkan ketiga aspek itu. Dari situ kehidupan pragmatis dalam berbagai sektornya dipelihara sebagai landasan kehidupan bersama.

Orientasi pragmatis mutlak dalam kehidupan manusia. Pragmatisme menjadi landasan dalam strategi pembangunan oleh negara melalui sektor-sektor, suatu upaya yang sangat signifikan dalam kehidupan berbangsa. Karenanya persoalan strategi pembangunan yang sifatnya pragmatis ini perlu dilihat dalam pertanyaan kunci, apakah pembangunan dimaksudkan untuk memperkuat atau memperbesar institusi-institusi politik, ekonomi dan sosial, dan berikutnya apakah tujuan institusionalisasi itu semata-mata untuk orientasi kekuasaan (power) atau permodalan (capital) ataukah untuk kehidupan manusia yang bermakna? Krisis pada dunia pragmatis adalah manakala tindakan personal hanya berorientasi pada kekuasaan dan permodalan dalam lingkup tertutup suatu institusi, sehingga institusi lepas dari konteks pada manusia. Dalam bahasa populer disebut sebagai teknokratisme.

Kedua, pada dunia kebudayaan, ada upaya untuk mencari, meneguhkan, dan mengembangkan makna kehidupan. Makna kebudayaan pada hakikatnya mengandung nilai positif bagi kehidupan, dikembangkan dalam 3 dimensi nilai (values), yaitu epistemologi, etika, dan estetika. Dimensi epistemologi dengan nilai rasionalitas, melalui capaian-capaian pengetahuan dan teknologi; etika dengan penghayatan nilai kebajikan kemanusiaan universal dalam kehidupan; dan estetika dengan apresiasi nilai keindahan yang diekpresikan dari dan untuk kehidupan manusia. Manusia menghayati ketiganya, mungkin dalam gradasi berbeda antara satu dimensi dengan lainnya, tetapi tidak dalam dimensi tunggal. Menjadi manusia dengan dimensi tunggal merupakan krisis pada tingkat diri (keakuan) manusia.

Kebudayaan dapat dilihat bagaimana manusia berbuat sesuatu yang bermakna, sebagai suatu praktik maupun melalui hasil (produk). Manakala praktik dan produk dicitrakan melekat pada kolektivitas suatu bangsa, disebut sebagai kebudayaan bangsa (nasional). Adakalanya kebudayaan bangsa sebagai praktik dan produk disikapi dengan dua cara.

Pertama, kebudayaan bersifat statis, sesuatu yang diperoleh sebagai warisan (heritage) dari generasi sebelumnya dalam entitas komunitas eksklusif, yang selalu dihadapkan dengan sesuatu yang datang dari luar entitas komunitas. Dikhotomi entitas bangsa dan non-bangsa ataupun dalam kaitan nilai ini dapat menjerumuskan pada nasionalisme sempit dengan mengelus-elus dan berbangga pada praktik dan produk warisan kebudayaan. Begitupun nilai komunitas sosial/agama keakuan yang dihadapkan dengan nilai komunitas sosial/agama liyan, melahirkan eksklusivitas, bukan suatu proses dialektika mencari nilai bersama (shared values) kebudayaan. Disitu kebudayaan warisan bersifat statis, sebab sering dikeramatkan, sehingga generasi penerus dididik untuk tidak berani mengotak-atik, hanya boleh menggunakan.

Kedua, kebudayaan bersifat dinamis, yaitu bagaimana manusia mengeksplorasi dan berusaha mewujudkan praktik dan produk yang bermakna melalui memori masa lalu, untuk kehidupan kekinian dan masa depan. Makna merupakan hal yang dihormati atau diperluhur, atau sebagai kebenaran, kebajikan serta keindahan yang berasal dan direfleksikan dari penghayatan kehidupan. Jika berkonteks pada kehidupan politik, kita mencari keluhuran dari sana, sebagai nilai budaya politik. Begitu juga melalui sektor lain, kita menemukan nilai budaya dalam tindakan ekonomi, serta interaksi sosial. Pada saat pelaku politik hanya berorientasi pada kekuasaan, atau pelaku ekonomi hanya berada dalam orientasi kapitalisasi, dan dalam interaksi sosial orang berorientasi eksklusif demi hak kelompok, pada dasarnya dunia pragmatis itu mengalami krisis kebudayaan.

***

Kebudayaan bukan salah satu sektor dalam dunia pragmatis. Dia berada di dalam dan terekspresai ke luar, dari sektor-sektor kehidupan. Tentu saja kebudayaan dapat dilihat sebagai produk dari sisi nilai-guna, tetapi mereduksinya kedalam fungsi pragmatis ini akan menyebabkan kita kehilangan orientasi. Kehilangan orientasi menyebabkan berada dalam lilitan persoalan, yaitu ketiadaan strategi kebudayaan.

Dari sini perlu dilihat bahwa dikhotomi kehidupan pragmatis dan kebudayaan tidak bersifat diametral, melainkan komplementer. Dia terpisah, namun baku-konteks. Orientasi dalam strategi pembangunan sektor pragmatis di satu sisi, dan strategi kebudayaan di sisi lain, menuntut tempat berpijak yang jelas. Untuk itu ada baiknya kita menempatkan duduknya perkara kedua dunia ini. Dinamika dunia pragmatis dan kebudayaan masing-masing pada hakikatnya merupakan suatu dialektika.

Pada level institusional, keluaran dari kehidupan pragmatis berupa intitusi-institusi sektoral, seperti institusi politik dalam konteks kekuasaan negara (state) atau masyarakat sipil (civil society), institusi ekonomi dalam konteks kapitalisasi korporasi bisnis atau kesejahteraan rakyat, dan institusi sosial dalam konteks organisasi masyarakat eksklusif atau inklusif. Sedangkan dari dunia kebudayaan kita mengenal adanya institusi kebudayaan dengan dinamika yang memelihara makna kehidupan dalam sektor-sektor pragmatis.

Persoalannya, apakah kita pernah membayangkan institusi pragmatis semacam partai politik atau korporasi ekonomi misalnya, memiliki konteks pada makna kehidupan dalam orientasi kehadirannya? Sementara yang terasakan bahwa kehadirannya hanya berpretensi mendudukkan orangnya di lembaga-lembaga kekuasaan, kemudian keluarannya tidak

memiliki makna bagi kehidupan manusia! Atau bahkan: apakah institusi persekolahan formal merupakan institusi pragmatis semata ataukah fungsional sebagai institusi kebudayaan?

Berikutnya dari sisi dunia pragmatis ada media yang berfungsi untuk mengaktualisasikan realitas. Disebut sebagai fungsi pengaktualisasian mengingat keberadaannya dalam mengangkat fakta/realitas empiris kehidupan pragmatis sebagai teks dalam berbagai formatnya. Fungsi mediasi ini adalah memenuhi hak warga masyarakat untuk mengetahui (right to know) atas fakta-fakta dan dinamika dunia pragmatis, baik dari entitas lokal, nasional maupun global.

Di sisi lain, dari dunia kebudayaan ada sastra, yaitu sebagai ekspresi dinamikanya. Disebut sebagai pengekspresian mengingat fungsinya adalah dalam menampilkan makna dari kehidupan. Dengan begitu sastra berada dalam dataran pemenuhan hak warga untuk berekspresi (right to expression) atas pemikiran, pendapat, dan seluruh penghayatan manusia. Atau dalam dalam tradisi klasik, yaitu seluruh ekspresi dari dinamika kebudayaan, dalam format yang dapat dihasilkan dari kapasitas komunikasi manusia mulai dari tubuh sampai teknologi sebagai ekstensi ketubuhan manusia.

Bang Hadi (Ashadi Siregar) sedang menyampaikan pidato kebudayaan
Bang Hadi (Ashadi Siregar) sedang menyampaikan pidato kebudayaan

Media dan sastra tetap terpisah jika masing-masing hanya berurusan dengan dunianya. Pertemuannya saat masing-masing berkonteks satu sama lain. Media pragmatis dalam aktualitasnya mau mempertanyakan makna kebudayaan dari institusi dan keluarannya, sebaliknya sastra mengekpresikan dunia pragmatis dalam konteks pemaknaan dalam kehidupan. Contoh sederhananya, media pragmatis menyediakan tempat yang luas bagi features liputan human interest story yang mengangkat nilai humanitarian. Sebaliknya, dapatkah majalah sastra mengundang dan menyajikan esai politik atau ekonomi atau sosial yang mencerahkan dalam penghayatan nilai?

Berbarengan itu proses institusionalisasi ini melahirkan manusia pragmatis yang adaptif terhadap institusi-institusi dalam sektor-sektor kehidupan, atau produktif dalam mengisi dunia pragmatis. Pada sisi lain institusionalisasi kebudayaan melahirkan pula manusia kebudayaan (berbudaya), yaitu manusia yang menjalankan praktik dan menggunakan produk kebudayaan secara tepat atau produktif dalam kehidupan manusia.

Dengan dua dunia semacam ini kita menghadapi dikhotomis kehidupan seperti ini: institusi sektoral vis-à-vis institusi kebudayaan; media vis-à-vis sastra; manusia pragmatis vis-à-vis manusia kebudayaan. Selama dikhotomi ini merupakan sisi yang berhadapan, maka kita akan melihat dua dunia yang terbelah, atau malahan bangsa ini sekumpulan diri manusia dengan mental yang terbelah (schizophrenia).

***

Krisis dalam dunia terbelah ini bersumber dari mabuk sukses dari dunia pragmatis. Sukses pragmatis dipandang sebagai makna kehidupan, melahirkan manusia jumawa. Seorang pengarang bangga dengan novelnya yang beroplah tinggi dan tersebar secara global, dan dalam mabuk sukses itu melecehkan karya pengarang sastra sekelas Pramudya Ananta Toer. Seseorang yang mengeritik pernyataannya itu mau diajukannya ke pengadilan dengan menggunakan pengacara tersohor (pembela koruptor), atas tuduhan pencemaran nama baik. Luar biasa nama baik itu, sungguh jumawa. Sedangkan persoalannya adalah perbandingan paramater dunia pragmatis dengan makna kebudayaan dari karya-karya Pram tentulah tidak relevan.

Mabuk dari dunia pragmatis ini sangat besar kemungkinan terjerumus pada sukses palsu. Untuk itu ada baiknya selalu menyadari bahwa setiap dunia masing-masing menuntut parameter yang sesuai. Kita layak membandingkan capaian materil dari dunia pragmatis, sebelum mabuk dengan oplah suatu novel domestik misalnya, bandingkan dengan oplah dan hasil materil dari pengarang serial Harry Potter. Bandingkan capaian-capaian dunia pragmatis kita sebagai suatu bangsa dengan capaian komunitas bangsa lain, untuk itu barangkali kita tidak bakal mabuk sebab yang kita rasakan hanya keprihatinan.

Bangsa Tanpa Sastra
Bangsa Tanpa Sastra

Ilustrasi lain: Parameter materil dalam capaian korporasi media misalnya, boleh dibanggakan. Tetapi jika harus dipertanyakan makna kehadirannya, perlu cara pandang lain. Artinya, selain berkonteks pada kapitalisasi dan orientasi kekuasaan bagi pemilik, pernahkah dipertanyakan: apa makna sukses pragmatis dari dunia kapital dan kekuasaan itu bagi manusia? Bahkan pada manusia di dalam korporasi, kapitalisasi dan kekuasaan itu tidak memberi nilai apapun. Tetapi sistem menjadikan manusia hanya menjadi buruh yang tidak menyadari dirinya ternyata sebagai obyek eksploitasi. Belum lagi jika dipertanyakan konteks pada manusia lebih luas, makna kehidupan macam apakah yang diharapkan dari media semacam itu?

Akar permasalahan bisa dirunut lebih jauh. Agaknya karena kita tidak menggunakan kerangka pemikiran dialektika dari dunia pragmatis ke dunia kebudayaan. Tetapi dunia pragmatis dihadapkan dengan kerajaan antah berantah bernama akhirat. Disitu capaian pragmatis tidak dipertanyakan maknanya pada kehidupan manusia, tetapi digunakan untuk menebus tempat bagi diri sendiri di akhirat. Karenanya orang dapat mabuk dalam capaian dunia pragmatis, dan makna kehidupan dikhayalkan dapat diraih untuk diri di akhirat. Koruptor atau pengeksploitasi manusia dalam kapitalisasi menganggap timbangan dosanya menguntungkan nanti di akhirat jika sebagian hartanya mendirikan rumah ibadat. Mending jika seluruh hartanya dipublikkan agar digunakan oleh manusia untuk beribadah, dan dia kembali hidup dalam ketiadaannya. Pahlawan akhirat semacam ini tidak perlu main timbangan. Tapi apa ada orang semacam itu? Toh harta korupsi dan kapitalisasi dengan eksploitasi manusia itu bagian terbesar dipakai untuk kehidupan hedonistis yang berada pada dunia pragmatis.

Jadi kembali bersastra (berkebudayaan), tidak untuk akhirat, pun tidak demi estetika sebagai dimensi tunggal, melainkan mempertanyakan makna setiap tindakan personal dan otientasi institusional pada dunia pragmatis. Dan ini dikerjakan oleh manusia hidup, dengan memori masa lalu, kekinian dan masa depan dari kehidupan bersama!