Menjadi Manusia Sang Pendaki

Peringatan Isra’ Mi’raj umumnya selalu dikaitkan dengan perintah sholat kepada umat Islam. Namun kalau dipelajari lagi, ada sisi lain yang lebih menarik dari peristiwa ini. Misalnya kalau kita mau mendalami arti dalam ayat 1 surah Al Isra’, maka kita akan paham bahwa hidup ini harusnya selalu diorientasikan berdasarkan konsep diperjalankan Allah SWT. Dengan kata lain, apapun jabatan kita, entah jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, guru, dosen, dokter, tukang ojeg, blantik sapi, dst, sesungguhnya berada dalam koridor diperjalankan Tuhan sehingga dengan begitu kita janganlah terlalu banyak berprasangka mengenai diri kita dan mengenai dunia. Jika Allah yang memperjalankan, maka pasti Dia yang akan “memfasilitasi” dan menjamin keselamatan kita.

Kata kunci lain dalam surat tersebut selain kata “diperjalankan” adalah kata “pada suatu malam”. Bagi orang yang sudah sampai kepada jalan Allah, maka akan paham bahwa kata “malam” berarti “gelap”. Artinya hidup itu malam, hidup itu gelap dan peristiwa-peristiwa masa depan dalam hidup kita adalah malam. Karena itu untuk melewati kegelapan itu kita butuh cahaya, kita butuh penerang yang harus kita dapat dari apa saja yang telah diberitakan oleh Tuhan melalui ayat-ayatnya (tanda-tanda) kebesaranNya.

Dari titik itulah, pada pilpres nanti, misalnya, kita hanya bisa berharap pada orang yang benar-benar “diperjalankan Allah” untuk memimpin kita. Selama ini para kandidat calon, berada dalam koridor “diperjalankan” oleh : uang, politik, ambisi pribadi, kekayaan, popularitas dan seterusnya. Padahal mereka berada dalam “kegelapan” malam. Mereka berjalan tanpa “cahaya” dari Allah, sehingga hasilnya, hampir 300 kepala daerah, kini berada di bui.

Karena tidak “diperjalankan” oleh Allah, maka banyak pemimpin kita yang kemudian tersesat di kegelapan, dan pasti tidak mencapai mi’raj. Mestinya setiap peran apapun, jika itu diperjalankan Allah, maka akan sampai kepada tingkat manfaat. Kalau dalam hidup ini tidak ada peningkatan kualitas diri, berarti kita hidup tanpa berkah Allah.

Mi’raj atau Sang Pendaki

Jika dalam hidup kita tidak pernah naik kelas, maka konsep mi’raj tidak terjadi dalam hidup kita. Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sholat adalah mi’raj orang beriman. Mi’raj sendiri artinya “pendakian”. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar tanpa bisa mengantar manusia untuk naik kelas.

Perintah bahwa hidup harus selalu menjadi “sang pendaki” juga dikatakan oleh Paul G. Stoltz dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient (2000). Pada intinya Stoltz menegaskan tidak memadainya seseorang hanya memiliki IQ (Intellectual Quotient) yang unggul saja. Di Amerika, para pemilik perusahaan-perusahaan sukses umumnya tidak bersekolah secara formal, atau setidaknya DO, seperti Bill Gates.

Untuk mampu merubah “hambatan” menjadi “peluang”, Stoltz menawarkan perlunya “keyakinan” sebagai kekuatan utama sebagai seorang pendaki atau “climbers”. Di sela-sela orang lain mengalami keputusasaan, sang pendaki mampu menembusnya. Jika orang sudah memiliki bekal pesimistis, misalnya selalu mengatakan sesuatu sebagai “sulit dan tidak mungkin”, maka ia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Karenanya Stoltz membagi ada tiga golongan manusia, yakni : Pertama, Jenis. Quitters, yakni orang yang selalu befikir “tidak mungkin atau sulit”; Kedua,. Jenis campers, atau pekemah, yakni tidak sampai mencapai puncak, namun hanya punggung bukit untuk “berkemah”. Kamus hidupnya hanya sederhana “pokoke segini aja udah cukup, nggak perlu repot-repot”; dan ketiga, jenis. Climbers atau pendaki. Orang jenis ini selalu berseri-seri karena selalu optimistik, meski ada juga yang keterlaluan hingga “menghalalkan” beberapa cara. Semuanya tinggal seberapajauh seseorang memiliki bekal iman jika ingin menjadi sang pendaki agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif.

Dalam tradisi sufistik, kekuatan untuk menghadapi sesuatu harus selalu dilatih. Kalau ini dicapai, maka ia akan “tahan banting” dan selalu optimis. Kata Al Ghazali, jika kamu ingin menjadi orang yang saleh, maka milikilah lima sifat dari anak-anak. Kelima sifat itu ialah : mereka tidak cemas makanan sehari-harinya, tidak mengeluh ketika sakit, apapun makanan yang mereka miliki akan selalu berbagi, ketika berselisih tidak ada dendam, perlakuan meremehkan membuat mereka takut dan membuat  mereka meneteskan air mata.

Dari titik ini nampak bahwa peristiwa Isra` mi`raj  sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran, serta menjadi manusia ”sang pendaki”. Ini semua harus dikembangkan jika manusia ingin menuju peningkatan kualitas diri. Ajaran agama itu pada dasarnya untuk membentuk akhlaq dan moralitas. Dalam  puasa nanti, mutu ”sang pendaki” harus memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun.

Kalau ini bisa dilakukan maka dalam pilkada dan pilpres nanti, kita berharap akan mendapatkan tipe-tipe pemimpin yang berfungsi seperti ”sang pendaki”, mengabdikan diri menuju kualitas kehidupan berbangsa bernegara yang baik. Di sinilah letak pentingnya kesholehan pribadi dan sosial. “Sholeh itu kemampuan diri untuk menghitung setiap perkataan dan perbuatan kita sehingga mampu menakar apakah yang kita ucapkan dan lakukan itu kira-kira menimbulkan mudharat atau manfaat kepada orang banyak.

Itulah sang pendaki.