Mendalami Musik Versi Vincent McDermott

“Sayangilah masa lalu, belajarlah tanpa henti, dan ciptakanlah cara baru untuk melihat masa kini” (Vincent McDermott)

“Sayangilah masa lalu, belajarlah tanpa henti, dan ciptakanlah cara baru untuk melihat masa kini” (Vincent McDermott). 

Vincent mengingatkan kepada kita semua tentang pentingnya menghargai masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan.  Setiap zaman memiliki watak yang berbeda, selalu berubah, tetapi saling berhubungan. Dan kreativitas adalah kombinasi yang mesra dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Vincent berpesan kepada semua yang hadir malam itu: “buatlah karya musik yang dalam dan bermakna, melalui banyak cara.”

Itulah esensi yang disampaikan Vincent McDermott dalam peluncuran bukunya: “IMAGI-NATION: Membuat Musik Biasa Jadi Luar Biasa” (Art Music Today, 2013). Vincent adalah komponis Amerika yang telah lama menetap di Indonesia, mencintai musik klasik dan karawitan, dan membuat karya dalam berbagai bentuk, seperti klasik, kontemporer, etnik, campuran, hingga Opera.

Vincent McDermott, yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 1933 ini, merupakan Profesor Emeritus Musik di Lewis & Clark College, Oregon Amerika Serikat (untuk komposisi musik dan musik dunia). Pernah belajar komposisi dengan Vauclain Konstan, Darius Milhaud, George Rochberg, Karlheinz Stockhausen. Ia memperoleh gelar Ph. D dari University of Pennsylvania, MA dari University of California-Berkeley, dan BFA dari University of Pennsylvania. Selain itu, ia juga pernah menempuh studi tambahan di University of Toronto (Kanada), Aspen Summer Music Festival (Colorado, Amerika Serikat), University of Amsterdam (Belanda), dan Institut Seni Indonesia Surakarta. Menulis artikel seputar musik kontemporer, estetika, dan teori musik Jawa. Karya musiknya telah dipentaskan di Eropa, Asia, dan di seluruh Amerika Utara. Ia juga merupakan penerima berbagai penghargaan dan kehormatan, termasuk beasiswa Fulbright ke Indonesia, Malaysia, dan Jepang. Pada tahun 2002-2003, Vincent berkesempatan untuk mengajar komposisi di Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini aktivitasnya adalah berkarya, memberi workshop musik, dan beraktivitas seni dengan berbagai seniman multi-latar.

Art Music Today #5
Art Music Today #5

Saya kira penting untuk digarisbawahi, bahwa bagi Vincent (80 tahun), musik sebagai aktivitas budaya sangat tidak membutuhkan kehadiran karya-karya musik yang berkualitas jelek, karena budaya yang hidup sangat berhubungan dengan pikiran yang selalu berkembang dan berubah, bukan statis dan stagnan.  Kebudayaan akan berada pada tempat yang semestinya ketika ia dikerjakan dengan seideal mungkin. “Buku ini tidak berisi resep teknis dan praktis tentang bagaimana cara menciptakan karya yang berkualitas, tetapi lebih sebagai inspirasi yang akan membantu para kreator untuk menemukan jati dirinya, sebagai orang Indonesia, tanpa harus mengekor Barat,” tegas Vincent.

Acara yang digelar di Rumah Budaya EAN (11/9) ini dihadiri setidaknya puluhan audiens dari berbagai latar belakang, yang umumnya para komponis, akademisi, seniman, dan mahasiswa musik. Dimeriahkan pula oleh Dango Uma dan Sabusi, para pemusik dari Kalimantan.

Ketika acara berlangsung, audiens terlihat khusyu’ menikmati apa yang disampaikan Vincent, yaitu berupa kesimpulan-kesimpulan umum dari empat bab yang terdapat di buku ini: mendiskusikan musik, musik seni dan musik lainnya (bagaimana menjadi penyair bunyi), dimensi dan perangkat musikal, dan Tips-trik bagi pengajar dan mahasiswa komposisi musik. Meskipun Vincent menyampaikan hal-hal yang umum dan mendasar, tetapi inilah yang menjadi filosofi pemikiran musiknya, yang relevan untuk dijadikan bahan kajian terkini tentang kreativitas dalam penciptaan musik, pendidikan musik, dan soal-soal sikap kesenimanan, yang kita tahu, sangat miskin dan kontra-produktif di sini, baik di lingkungan akademik maupun di sektor lapangan kerja nyata.

Maka, tidak berlebihan kiranya bahwa hadirnya buku seperti ini dibutuhkan, selain sebagai penyejuk di tengah bencana kekeringan literatur musik, juga sebagai bahan dialektika bersama untuk (selalu) melihat kembali, apa yang tengah berkembang saat ini, dan bagaimana cara menghimpun refleksi kritis terhadap fakta-fakta maupun fenomena musikal yang terjadi di sekitar kita. Bukan musiknya yang penting, tetapi makna di sebaliknya.

Musik Seni

Vincent menyebut “musik seni” sebagai parameter untuk menemukan jalur yang tepat dalam berkarya. “Semua bisa menjadi musik seni, musik pop pun bisa,” kata Vincent. Tetapi, yang harus digarismerah lagi, bahwa “musik seni” bukan merupakan genre, tetapi hanya sebuah “rumus.” Sedikit contoh komparasinya, “musik seni” adalah musik yang merepresentasikan keluasan, kedalaman, ekspresivitas dan inovasi; sementara, musik pop hanya memperhatikan salah satu segi saja, misalnya melodi yang merupakan elemen yang dominan, dan musik pop tidak bisa populer tanpa lirik. Banyak yang bersaksi di antara kita, musik pop Indonesia rata-rata jelek, dan sedikit yang bagus. Ini sebuah kodrat atau kemandegan yang berlebihan? Buku Vincent bisa memberi jawaban atas kegalauan ini.

Agaknya Vincent justru lebih pro kepada para pemusik hobi yang “lawaran” namun memiliki pengalaman keindahan yang panjang dan sungguh-sungguh, daripada para “pembaca notasi” dari akademika yang sama sekali tidak memahami apa makna musik yang sesungguhnya. Vincent bilang: “Notasi (bacaan) itu bukan musik. No! Musik bukan notasi, tetapi musik adalah tentang bagaimana jiwa seseorang bekerja dengan sempurna.”

Selain itu, soal kritik musik. Vincent juga mengkritisi tentang laporan-laporan musik di media massa, yang lebih membicarakan pertunjukan dan audiens daripada membicarakan musik itu sendiri. Dari sini ia meyakini bahwa apresiasi musik di Indonesia ternyata tidak terbangun dengan baik, padahal kekayaan musik Indonesia sungguh luar biasa. “Di Barat, karya dan kritik sama pentingnya, dan dari sinilah apresiasi masyarakat terbangun,” ujar Vincent.

Apa harapan Vincent atas terbitnya buku ini? Tidaklah rumit, ia hanya ingin membagi pengalaman kepada kita bersama tentang apa yang mungkin jarang kita perhatikan, yaitu memusatkan perhatian kepada musik, dan bagaimana membangun kejujuran dalam berkarya.

Terlepas dari itu semua, musik tetaplah musik, musik adalah: nek muni asik.