Maiyah dan Postmodernism

Dalam Edaran Maiyah 2013 beberapa hari yang lalu Cak Nun menantang para Salikul Maiyah untuk mulai mencari, menggali, dan merumuskan pola-pola, strategi, wilayah dan bidang-bidang garapan Gerakan Penghancuran Manusia dan Agama yang dimulai sejak kurun Nabiyullah Isa AS, di zaman Rasulullah Muhammad SAW, lantas pasca-Muhammad, dan kemudian update paling mutakhir yang kini sedang kita alami bersama. Para Salikul Maiyah diharapkan oleh beliau sanggup menggunakan Maiyah sebagai anti-toxin sehingga selalu memastikan bahwa para Salikul Maiyah tidak termasuk korban sebagaimana mainstream dunia, termasuk bangsa Indonesia. Allah yang menentukan seberapa luas dan jauh Maiyah diamanati untuk melakukan pengobatan peradaban.

Peringatan Cak Nun ini nampaknya penting dicermati, sebab kini telah terjadi satu perubahan yang dahsyat terkait dengan perubahan peradaban yang setidaknya diwarnai tiga hal penting, yakni perubahan basis material kebudayaan: yang semula berbasis manufaktur ke machinofactur, dari teknologi industri ke teknologi informasi, dan dari tata sosial produksi ke reproduksi. Tentu saja perubahan ini akan berdampak terhadap kehidupan umat Islam juga, yang sadar atau tidak, bisa menenggelamkan ke masa jahiliah (baru), yakni jaman penyembahan api dan akal pikiran.

Ketiga basis material kebudayaan yang saya sebutkan di atas di ujungnya akan merangsang manusia untuk mengkonsumsi apa saja yang dasarnya bukan karena kebutuhan dan kecukupan, melainkan keserakahan yang berujung kepada penyembahan “tuhan-tuhan” baru. Ini adalah jaman imajinologi, dengan aktor utama adalah “citra” atau image. Benda nyata justru “tidak nyata”, karena yang “lebih nyata” adalah “citra” atau image-nya. Inilah yang pernah disebut sebagai hyperreal oleh Baudrillard. Barangkali dalam titik ekstremnya, demikian gambarannya, yakni kita justru lebih tahu berapa ukuran bra Dewi Persik atau Julia Perez dibanding ukuran bra isteri kita, karena gencarnya informasi yang membombardir ruang kita.

Dalam era sebagaimana disebut orang “era globalisasi” saat ini, peranan media massa amat menentukan. Media massa telah dijadikan pembentuk visi subyektif bagi aneka kepentingan, meski berlindung dibalik obyektivitas. Media massa telah menjadi kekuatan tersendiri yang menentukan garis-garis pandangan aneka kepentingan. Dalam waktu yang relatif singkat, media massa sanggup membalikkan keadaan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, maupun dalam “bawah sadar” alam pikiran konsumennya. Sialnya koran-koran di tanah air misalnya, lebih suka cari. “Selamat” dengan jalan lebih enak mewawancarai artis, seperti menanyakan berapa pacarnya, jam berapa kalau mandi lulur, berapa ukuran bra-nya atau celdam-nya, dsb.

Di jaman imajinologi, orang bisa bertindak gila dan tidak rasional, misalnya mau mengeluarkan uang 50 dollar AS hanya untuk melihat foto Madonna bercumbu dengan pria dan wanita yang berkalung anjing. Ini adalah jaman penciptaan “tuhan-tuhan” baru. Beranakpinaknya modal menjadi basis kapitalisme yang disokong oleh : Negara,  pasar, dan teknologi dan dipadankan dengan: stabilitas, alokasi efisiensi dan produktivitas. Lalu lintas keuangan dunia yang lebih banyak bergerak di dunia maya –misalnya pergerakan harga saham, dst — menunjukkan bahwa tekanan peradaban kini bukan lagi pada “rasionalitas” melainkan kepekaan, dan bukan lagi pada fungsi namun khayalan (imajinasi).

Produksi bukan lagi untuk nilai guna, melainkan nilai tukar, dan komunikasi media menjadi jantung utama. Karenanya, penjajahan baru dimulai pula dari penguasaan media. TV-TV lokal tidak rela jika para penontonnya selalu memencet remote control, dan karenanya, suguhan acaranya juga harus “hura-hura” tanpa harus dikunyah. Celakanya, suguhan TV swasta ini juga menyangkut apa yang disebut sebagai “dakwah islamiyah”, yang mengangkat “Dai-dai, Kiai-kiai atau Gus-gus” dadakan yang sengaja diciptakan melalui komodifikasi massal. Umat menjadi obyek dan bukan subyek untuk di-brain washing. Persoalan bukan lagi indah, baik, benar atau wacana adil dan tidak adil, namun berdasarkan menang-kalah atau enak dan tidak enak. Produsen makanan misalnya, tidak lagi memikirkan konsumen yang mengkonsumsi produknya sehat atau tidak, namun yang penting enak (meski tidak sehat dan tidak rasional).

Dari titik itulah menjadi penting artinya “gerakan” maiyah yang telah kita selenggarakan bersama. Benar kata Cak Nun bahwa Maiyah bukan Islam yang menuntut ummat manusia untuk berproses menyatu dengan Maha Asal Usulnya, namun hanya upaya mencerdasi kehidupan, mengarifi pengalaman, menjernihi kenyataan, menyetiai jalan dan mengakurasi tujuan — agar para pelakunya mengistiqamahi akad dan cintanya di jalan Allah yang dituntunkan oleh Rasulullah. Para pelaku Maiyah bersiteguh memelihara kesadaran tentang keniscayaan ada dan hadirnya Allah, Rasulullah dan Islam — di dalam diri mereka, di rumah mereka, di kantor kios warung pekerjaannya, di sawah, di gardu-gardu dan jalanan.

Cara berpikir Maiyah ini penting karena dalam kenyataan gelombang peradaban “Fir’aun” dan “Jahiliyah” baru ini terus mengkristal dalam peta kehidupan kita dan umat, melalui segenap butiran dan rangkaian ilmu pengetahuannya, dengan segala simbol dan imaginya, serta dengan perwajahan dan teknologi kesejarahannya. Kesemuanya tidak pernah berakhir atau sirna dari kosmos jiwa para pelakunya. Insya Allah jika cara berpikir Maiyah itu kita perkuat, maka kita dijamin akan selamat. Para jamaah yang rata-rata kaum intelek harus sadar memahami bahwa saat ini ilmu pengetahuan yang mereka banggakan telah kehilangan narasi besarnya (grand narrative), yakni rasionalitasnya.

Para mahasiswa, dosen dan intelektual lainnya sering terjebak dalam alam pikiran Barat yang selalu mereka agungkan dan harus selalu muncul dalam kutipan-kutipan karya ilmiah kita, seolah hanya dari Barat-lah sumber ilmu pengetahuan. Demikian pula, bagi kaum muslimin banyak yang terjebak dalam “Arab-mania”, seolah-olah Islam identik dengan Arab. Padahal, Arab harus digarap dan Barat harus diruwat, demikian kata Cak Nun.

Perlu dipahami dengan hilangnya narasi besar ilmu pengetahuan yang berujud rasionalitas, maka yang muncul adalah kepastian kebenaran ilmu pengetahuan telah kehilangan legitimasinya. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan tidak lagi mendapat kredibilitas pada kebenarannya, melainkan pada sifat gunanya, dan karenanya kekuasaan lah yang menguasai ilmu pengetahuan. Disinilah “tuhan-tuhan” baru itu muncul dan akan menenggelamkan umat manusia, termasuk umat Islam jika kita lengah. Penghancuran Islam tidak harus dengan peperangan atau pemusnahan massal, tapi “cukup” dengan “cara sederhana”, yakni memisahkan mereka dengan Rasulullah SAW saja. Biaya pemusnahan jauh lebih mahal dan tidak mudah, dan sebaliknya jauh lebih murah dan mudah dengan mem-brain washing umat, baik lewat media, maupun lewat dai yang seolah memperjuangkan dan memurnikan ajaran Islam, namun kenyataannya mereka adalah agen dajjal baru.

Inilah kejahatan yang harus diwaspadai umat. Ilmu pengetahuan dan “revitalisasi” ajaran Islam yang sering diteriakkan sesungguhnya hanyalah mistifikasi rasionalitas belaka. Mereka sering mendewakan bahwa apa yang ada di luar rasio adalah “tidak benar”, dan ini adalah wujud nyata dari “ideologi totaliterisme” dalam berpikir. Karenanya para salikul maiyah harus paham bahwa “akad nikah” antara Ajaran Allah dengan manusia berupa ijtihad, tafakkur, tadabbur dan taaddub di dalam kehidupannya.

Dari titik ini menarik membaca peringatan Cak Nun bahwa dalam Tiga Dekade terakhir ini Kaum Muslimin Dunia digiring menuju “kesempurnaan” itu. Kemudian satu Dekade belakangan ini Ummat Islam Indonesia diguyur racun, epidemi kebodohan berpikir, kedangkalan mata pandang, kekerdilan mental, kesempitan jiwa, mata kuda materialism, yang secara keseluruhan melahirkan watak-watak primitivisme dan ketidak-beradaban.

Dalam diskursus postmodernism, semuanya dapat dikatakan bersifat dekonstruktif, seperti adanya keinginan untuk skeptis terhadap segala bentuk kepercayaan pada kebenaran mutlak, pengetahuan, kekuasaan, diri dan celakanya, bahasa pun diterima begitu saja tanpa mencurigani bahwa sifatnya hanyalah reprensentatif dan politis. Dalam pandangan tokoh postmo semisal Lyotard, kondisi postmo tidak lagi dapat menerima narasi besar atau dari kemamapanan filsafat pencerahan yang mengandalkan akal dan kebebasan naluriah. Kesemuanya telah berubah menjadi metanarasi (di balik cerita) yang melegitimasikan dirinya. Kita tidak lagi menerima kebenaran tunggal, dan karenanya legitimasi menjadi majemuk dan lokal (bukan universal).

Dalam konstruksi postmo inilah para pelaku Maiyah bisa menyelami kedalaman ajaran, menelusuri keluasannya, serta mengeksplorasi substansinya, esensi dan nuansanya. Karena ilmu pengetahuan juga bukan hanya berurusan dengan rasionalitas  belaka, namun juga dengan kepentingan dan permainan bahasa (language games), baik lewat kekuasaan maupun lewat berbagai aliran keagamaan, oleh karenanya aktivitas Maiyah seharusnya menjaga diri agar tidak terpeleset menjadi padatan kelompok atau organisasi aliran. Apabila kehidupan Ummat Islam tidak bisa menghindarkan diri dari keniscayaan alamiah untuk terserak-serak menjadi golongan dan aliran, maka para pelaku Maiyah mempertahankan dirinya pada peran kualitatif, peran substansial, peran essensial, peran “glepung”, “serbuk” atau “pohon pionir”, demikian kata Cak Nun.

Selamat “Memayu hayuning” Maiyah. Allah SWT menolong dan meridloi kita. Amin.