Kunjungan Rombongan PKS ke Pendopo Kadipiro

PKS harus punya aransemen, harus punya balaghah. Bukannya malah kita bela yang salah.

Kamis (07/02) malam pukul 23.30 Presiden Anis Matta beserta rombongan PKS meluangkan diri untuk sowan kepada Cak Nun di Pendopo Kadipiro, Jl. Wates km 2,5 Gg. Barokah No. 287 Kadipiro, Yogyakarta. Termasuk di dalam rombongan ada Taufiq Ridho (Sekjen PKS yang baru), Fahri Hamzah (anggota DPR RI F-PKS), Ustadz Jazuli (anggota Komisi VIII DPR RI), dan Ustadz Najamudin. Turut hadir pula para pimpinan wilayah dari tiga provinsi, yakni DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pada masa-masa ini memang presiden PKS mengajak para ketua bidang dan ketua badan untuk terus berkonsolidasi dengan para pimpinan wilayah.

“Kami intinya silaturahim ke Cak Nun, dan alhamdulillah sampun kepanggih. Tentu saja kami berharap doa dan tausyiah dari Cak Nun,” seorang perwakilan PKS Jogja menyatakan niat kedatangan mereka.

Silaturrahmi PKS di Kediaman Cak Nun
Anis Matta mengemukakan alasan Kunjungan PKS

Anis Matta terlebih dulu menceritakan awal persentuhannya dengan Cak Nun, yang dimulai dari kegemarannya terhadap buku-buku sastra. Kumpulan puisi berjudul 99 untuk Tuhanku dari Cak Nun menjadi salah satu buku favoritnya karena karakter tulisannya yang enerjik.

“Ini yang membuat saya punya memori dengan Cak Nun, tapi sayangnya sebelum ini tak pernah punya kesempatan untuk ngobrol secara langsung. Jadi kalau kita dikumpulkan dalam situasi-situasi seperti ini, sebenarnya ini merupakan momen yang saya sukai – di luar momen seperti apa yang sedang dihadapi oleh PKS.”

“Kebetulan kami sedang dalam rangkaian konsolidasi setelah menghadapi musibah. Istilahnya kita saat ini sedang masuk ke dalam sumur seperti dalam kasus Nabi Yusuf. Dalam hal ini, bisa saja yang terjadi adalah kita kejeblos sendiri atau ada pihak lain yang menjebloskan.”

“Saya punya tanggung jawab besar untuk membawa kapal besar PKS keluar dari sumur itu. Kemarin ketika di Jakarta begitu kami menetapkan Jogja sebagai tujuan, saya berharap bisa bertemu dengan beberapa tokoh, termasuk salah satunya Cak Nun. Dalam situasi seperti ini, kami ingin mendengar dari Cak Nun terkait apa sajalah.”

Cak Nun menyambut kedatangan rombongan PKS dengan menceritakan kedekatan Beliau terhadap daerah asal Anis Matta, yakni Makassar. Sudah sejak 1980-an Cak Nun aktif di sana, kenal dekat dengan para dosen Universitas Hasanuddin dan tokoh-tokoh kebudayaan di sana.

“Saya sangat tidak asing dengan logatnya orang Bugis. Saya juga ikut mbantuin banyak hal di berbagai bidang kehidupan di sana, bukan hanya dalam bidang kebudayaan dan agama. Tapi bantuan saya selalu yang bersifat garam dan gula, nambahin bumbu-bumbu. Saya tidak peduli orang jual soto; kalau sotonya kurang garam ya saya kasih garam. Tapi Anda jangan lantas tanya apakah saya ini pro-soto atau pro-rawon, karena di dalam hidup ini ada fungsi-fungsi yang dalam Biologi disebut sebagai pohon pioneer. Ada fungsi serbuk, ada fungsi tepung, dan saya di dunia ini disuruh berfungsi tepung. Maka saya tak pernah punya keberanian seperti Anda untuk membikin parpol.”

“Saya tidak punya pabrik roti besar, saya tidak punya saham pada pabrik roti. Saya hanya angin yang ikut menyebarkan serbuk-serbuk-Nya saja. Namanya juga angin, maka tak jelas bagaimana marginnya, dan juga keuangannya. Jadi akhirnya saya ya terserah Tuhan mau menghembuskan ke mana. Maka rejeki saya seratus persen berasal dari Tuhan. Caranya dari mana, ya macam-macam. Kalau terpaksa ya Dia kasih cash ke saya, cuman ya ndak sampai 1 M”, yang langsung disambut dengan tawa dari semua yang hadir pada waktu itu, “Oke, ini sekadar pengantar bahwa saya tak pernah heran pada pertemuan saya dengan Mas Anis malam ini.”

“Termasuk saya tidak heran kalau nasib kami berbeda, baik dalam bidang keuangan maupun dalam bidang keluarga. Dan itu tidak ada yang unggul dan kalah unggul. Jadi kerbau atau jadi kambing itu tak usah diperbandingkan. Di dalam kehidupan ini sesungguhnya tak ada keunggulan dan kemenangan kecuali ada turnamen lima tahunan yang palsu. Tapi ya nggak apa-apa juga; sudah terlanjur, karena Anda memang masuk dalam perangkap konspirasi besar itu.”

“Yang saya senang, karena mekanisme defense psychology Mas Anis, langsung ngomong mengenai konspirasi besar.”

“Kata konspirasi ini seharusnya dijaga karena bangsa Indonesia harus mempelajarinya. Kita jangan ngomong PKS saja, kita ngomong manusia di muka bumi, yang selama dua millenium terkahir ini memang berada di dalam perangkap konspirasi besar – meskipun kata konspirasi ini diucapkan hanya sebagai idiom pada orang yang menjadi korban. Tapi bagi yang mempunya strategi dan desain, namanya mungkin protokol atau yang sejenisnya.”

“Jadi sudah pasti PKS harus dikasih patah tiangnya, PPP harus dibuka skandal Qurannya, PKB juga sedang menunggu gilirannya. Ada konspirasi besar, itu benar, tapi kalau itu hanya apologi sesaatnya Mas Anis ketika musibah datang, berarti dia juga sangat membantu konspirasi itu. Kalau saya kan memang sejak awal tidak memilih untuk jualan soto atau tepung, karena saya tidak yakin bahwa saya mampu berenang di dalam tabung konspirasi itu. Sementara, Mas Anis dan kawan-kawan kan merasa mampu; tapi ternyata nggak mampu juga.”

“Maka Allah beretorika dengan Laa taqrobuzzina, bukan Laa tuzzani. Ada proses dan jarak budaya serta psikologi atas suatu hal di mana sejak awal kita sudah harus antisipatif. Kalau kita lihat, media tayang sudah menjadi alat penghancur luar biasa terhadap manusia, moral, martabat. Manusia Indonesia sudah nggak ngerti apa itu martabat.

“Rasulullah sudah memulai sejak jauh-jauh hari dengan melarang orang menggambar wajahnya. Itu bukan hanya soal seni saja, tapi satu bentuk peringatan berjarak peradaban. Dari goresan menjadi wajah, kalau diteruskan menjadi fotografi, lalu kamera. Begitu sampai kamera, kamu mendapat dilema. Ketika kamera itu kamu pakai untuk acara keluarga, fine, bagus. Tapi begitu kamera dipakai untuk sesuatu yang akan diperjualbelikan, dia terikat oleh ideologi kapitalisme. Dia akan menghajar siapapun yang akan dihajar, sesuai dengan siapa yang laku hari ini. Kamera menjadi alat pendorong untuk – bahasa Al Quran-nya – ayuhibbu ahadukum ayya’qula lahma akhihi maitan. Antum sekarang sedang menjadi maitan, dan mereka tidak karihtum. Anda sedang dihajar habis.”

“Dari dulu konspirasi ada, dan kalau bisa PKS ikut mewacanakannya. Dulu, istri dari Raja Mandar menyembelih anaknya karena anaknya mencuri. Yang salah tetap diperlakukannya sebagai yang salah. PKS harus punya aransemen, harus punya balaghah. Bukannya malah kita bela yang salah. PKS itu bukan seseorang saja. PKS tidak bisa dijamin bahwa ada seseorang di dalamnya yang tidak mencopet, tidak mendambakan gratifikasi seks.”

Silaturrahmi PKS di Kediaman Cak Nun
Guyonan-guyonan Cak Nun

“Saya kira saya pasti tidak akan mendukung apa saja dan siapa saja yang salah. Siapapun yang mendengar bahwa kita bertemu malam ini, mereka tidak bisa menyimpulkan bahwa saya sedang membela yang salah. Yang salah kan bukan PKS. Yang salah adalah beberapa di antara pejuang-pejuang di dalam PKS.”

“Yang penting PKS menjadi institusi yang memiliki aransemen yang bagus untuk masyarakat. Wa balaghah wa ushlub. Harus ada sastranya ngomong ke masyarakat, tapi sudah terlanjur ada istilah yang dilontarkan, yaitu ‘konspirasi’. Kalau saya di berbagai forum kan memang sering menyebut kata itu. Karena memang nggak mungkin hidup tanpa konspirasi. Cuman, hanya disebut konspirasi oleh pihak yang dirugikan. Tapi setiap orang bikin konspirasi. Tidak mungkin Golkar pengen Nasdem menang, maka dia bikin konspirasi sedemikian rupa supaya Nasdem kalah. Demikian juga dengan PKS, yang pasti punya cita-cita bahwa yang menang adalah PKS sehingga mau tidak mau yang lain kalah. Ketika didoakan kalimat itu kepada Tuhan, kan Tuhan agak ketawa-ketawa dikit. Ngomong kalah-menang memang susah – seperti dua pemain sepakbola yang sama-sama berdoa supaya bisa menang.”

“Di Jawa ada filosofi Menang tanpo ngasorake. Semakin kapitalistik dunia ini, semakin sukar menerapkan filosofi tadi. Begitu Anda menang Anda pasti merendahkan yang kalah.”

“Dalam hidup ini saya kan cuma nggedhein hatinya orang supaya mereka bisa tertawa karena tertawa itu kan tidak melalui hati maupun pikiran. Tertawa itu berasal dari sumber tersendiri, maka anda tidak pernah mengalami kelelahan saat tertawa karena energinya bukan berasal dari pikiran atau hati Anda. Begitu Anda tertawa sepanjang malam ini, saya gembira karena saya bisa mengeksplorasi ekstra energi yang Anda sendiri tidak pernah pahami.”

“Kembali ke topik konspirasi, kita menjadi negara Insonesia kan memang karena konspirasi. Apa yang nggak karena konspirasi? Amandemen Undang-Undang, dari peraturan nasional sampai peraturan daerah – ada dorongan-dorongan untuk melakukannya; bisa lewat subversi, meeting-meeting dan macem-macem.”

“Saya tidak mengatakan bahwa PKS harus menjelaskan secara rinci dan terang-terangan mengenai konspirasi-konspirasi itu tetapi saya kira paling tidak orang harus berpikir untuk jangan terlalu kagum, terutama untuk para kader PKS. Mereka masih banyak yang salah sangka, karena setiap orang memiliki persangkaan sendiri terhadap PKS.”

“Saya punya banyak alasan untuk menerima Anda dengan ikhlas, dengan bergembira. Diam-diam kita punya perjanjian-perjanjian berbobot dalam hati kita masing-masing karena kita tak tahu besok akan terjadi apa. Kita tak tahu apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali beriktikad baik dan berjuang. Oleh karena itu kita selalu berinvestasi untuk bisa mitsaqan ghalida antara kita dengan perjanjian-perjanjian mendasar, meskipun sotonya nggak tahu gimana. Di antara Anda apakah akan ada yang kena atau tidak, saya juga nggak tahu.”

“Apakah PKS datang ke Kadipiro terus saya ngomongngomong ini koruptor mau datang? Ya nggak lah, wong adik saya sendiri saja bisa salah, ibu saya, kakak saya, bisa salah. Anak saya bisa salah. Yang pasti kalau anak saya salah, saya tolong dia dengan memperlakukan dia sebagai pihak yang salah, dan saya menyatakan cinta saya dengan menghukumnya. Rumusnya kan sederhana: salah + dihukum = benar; sementara salah + tidak dihukum = salah kuadrat.”

“Saya tidak mengatakan bahwa Beliau salah. Monggo, itu kan ada parameternya sendiri. Ini bukan pertemuan hukum, bukan pertemuan yuridis, tapi pokoknya kita harus punya aransemen yang bagus; terutama Anda yang langsung, ‘Ada konspirasi besar!’. Lho kok Mbugise metu ndhisik lho. Padahal Bugis itu harus campur ludruk dikit.”

“Emang di sebelah mana yang kita nggak ditipu? Apa itu demokrasi, sosialisme, kapitalisme, segala macam jenis ideologi yang sampai ke kita, yang mana yang kita nggak ditipu? Seluruh ilmu-ilmu sosial ada untuk menipu kita dengan mempengaruhi cara berpikir kita.”

Kemudian, Cak Nun memaparkan bahwa ada tiga tahap asal-usul konspirasi di sepanjang sejarah, yakni :

  1. Penyaliban Nabi Isa
    Kehadiran Nabi Musa yang dipercaya luar biasa sakti dengan kemampuannya untuk membelah lautan sangat dibanggakan oleh kaumnya. Padahal kalau mau bicara sakti atau tidak sakti, Nabi Musa nggak sakti. Kalau pagi hari setelah dia membelah laut, masih bisakah Nabi Musa membelah laut untuk kedua kalinya?Kejadian terbelahnya lautan itu adalah Allah yang memperkenankan momentum itu dan mendayagunakan (memerintahkan) kepada tongkat Nabi Musa dan kepada laut untuk terbelah.Tak heran Nabi Musa sangat dibanggakan oleh umatnya. Lalu sampailah pada Zakariya, Yahya, Daud, Ibrahim, sampai akhirnya datanglah Nabi Isa. Masih bayi sudah langsung bisa bicara; membicarakan kenabiannya. Kalah tongkat Nabi Musa. Repot, ada matahari dobel. Tak suka pada Isa, terjadi perundingan untuk menyingkirkannya. Kekuasaan sampai berhasil diprovokasi untuk menyalib Nabi Isa.
  2. Penuhanan Nabi Isa dan konsep juru selamat
    Setelah sukses konspirasi pertama, teman-teman kita turunan Nabi Ishaq ini tidak menyangka bahwa ketika manusia dihancurkan karakternya, justru dia punya potensi untuk menjadi lebih besar lagi. Ini hukum alam. Maka 37 tahun sesudah wafatnya (dinaikkannya) Nabi Isa, diciptakanlah satu desain konspirasi yang intinya adalah: “Kalau gitu, Isa jangan dibiarkan menjadi nabi karena akan menjadi kompetitornya Musa. Dituhankan saja!”Sejak saat itu disebarkanlah mitologi-mitologi bahwa Isa adalah anak Tuhan dan mempunyai fungsi sebagai juru selamat. Penyebaran ide ini sukses dan dipercaya orang sampai sekarang. Seluruh dunia ini menjadi korban konspirasi. Amerika bukanlah konspirator, melainkan hanya jari-jari dari konspirasi besar. Obama hanya dipasang di situ supaya tidak ada ribut-ribut lagi soal rasisme. Karena sistem sudah jadi semua, tak masalah siapapun yang dipasang.Konsep juru selamat ini meskipun sangat aneh, tapi sangat dipercaya bahkan oleh orang-orang modern. Ngomong konspirasi, beruntunglah kita sebagai orang Islam.“Sehebat-hebatnya konspirasi itu, kalau sama orang Islam kenanya ya nggak ada separo. Ya ada juga yang kejaring. Kita walaupun berbeda-beda, tapi akidahnya tak tersentuh.”

    “Salah satu makna dari perjumpaan kita malam ini adalah Anda lebih apresiatif, lebih dewasa, lebih matang, lebih berbobot, lebih akurat kalau mau apa-apa. Maka peristiwa yang terjadi di PKS ini rejekinya 70%, musibahnya 30%.”

  3. Konspirasi pasca-Renaissance
    Sesudah ada Revolusi Industri harus ada redesain. Lalu muncullah protokol. Termasuk di dalamnya Indonesia mau diapakan, Arab Spring bagaimana; kalau Khadafi langsung dibunuh, kalau Saddam Hussein mesti dikejar-kejar dulu. Syiria belum berhasil, Mesir juga tertipu. “Tak mungkin Indonesia di-Libya-kan, karena manusia Indonesia merupakan jenis hibrida yang unik, dan Amerika belum kenal-kenal amat. Jadi, menurut saya, dalam perundingan mengenai Arab Spring itu PKS dipercaya bisa punya audiens yang lebih luas karena selama ini dianggap memiliki garis sambung dengan Ikhwanul Muslimin – mereka sedikit keliru.”

“Bung Anis, ini saya bukan sok tahu atau gimana, tapi Indonesia adalah rujukan yang dipilih dari urutan 6 negara Islam oleh para konspirator, jadi mereka memastikan tidak akan membikin negara-negara Arab Spring ini menjadi Iran, Turki, Afghanistan, Pakistan, dan lain sebagainya. Tapi kalau mau seperti Maroko, Aljazair, nggak juga. Mereka memilih Indonesia. Maka sekarang kita baik-baikan sama Amerika meskipun ada faktor tawar-menawar dengan SBY, tapi sekarang kan kita nggak diapa-apain – dan memang mereka nggak berani ngapa-ngapain kita. Tak mungkin berani pada manusia Indonesia yang tak jelas rumusnya. Kalau mau perang sama kita, susah. Rumus tentara, rumus polisi, itu jelas. Tapi rakyat (Indonesia: red) nggak ada rumusnya.”

Silaturrahmi PKS di Kediaman Cak Nun
Suasana penuh tawa sepanjang acara

“Beberapa hari lalu – atas permintaan konsulat Amerika – saya disuruh melantik Gus Dur sejajar dengan Martin Luther King. Hubungannya apa? Saya punya kritisisme permanen terhadap Gus Dur, meskipun sebagai sahabat saya tolong dia. Tapi secara politik dan moral, PKS sama sekali tak pernah mendapat simpati dari Almarhum. Muhammadiyah, Masyumi, HMI, juga merupakan golongan-golongan yang tak akan mendapat simpati dari Beliau.”

“Saya senang Anda masih bisa ke sini, tapi Anda juga jangan lantas mencoba mengkategorikan saya sebab saya ini uncategorized, saya ini UFO. Saya mohon maaf sudah berlama-lama, tapi kalau Anda sudah menggulirkan sesuatu Anda harus tuntaskan sampai khatam.”

Kemudian Cak Nun melontarkan pertanyaan apakah ‘tertawa’ itu benar atau baik.

“Kebaikan itu menyangkut moral dan etika, sementara kebenaran menyangkut sains. Tertawa bukan baik dan bukan benar, melainkan indah. Dimensi keindahan ini yang sudah lama dikesampingkan di Indonesia, maka tak ada diplomasi di Indonesia. Tak ada retorika. Dalam perjalanan saya keliling dunia bersama teman-teman, tak saya temukan diplomat Indonesia.”

“Ludruk itu keindahan. Dan keindahan ini bisa bermacam-macam akibat yang ditimbulkannya: bisa berakibat menangis atau tertawa. Tertawa dan menangis kan tak berlawanan. Justru di puncak frustrasi Anda akan tertawa, dan di puncak tawa Anda mengeluarkan air mata.”

“Banyak sekali cara kita memandang kehidupan mejadi haqminded, yang lalu semakin disempitkan menjadi syariat-minded, fiqih-minded, dan lalu menjadi salah satu aliran fiqih; padahal ada banyak sekali tafsir. Sampai-sampai ada Bank Mandiri Syariah. Seluruh dunia tertipu. Karena ada kata syariat lalu disangka Islam, padahal syariat itu aturan; ada syariat Islam, ada syariat maling juga. Lebih parah lagi, Bank Muamalah juga disangka Islam, padahal muamalah itu apapun yang terkait, yang bersentuhan, itulah muamalah, kok sekarang dianggap Islam. Salahmu dhewe yang mengecewakan pikiranmu dhewe.

“Tidak sama kasus ini dengan PKS; melainkan part of PKS. Dan tetap Anda temani semua proses itu untuk mendapatkan keadilan yang obyektif. Nggak ada masalah. Lha wong pancen salah, trus ngopo? Saya sering berkunjung ke penjara-penjara dan selalu saya katakan kepada mereka, Anda jangan minder. Sama dengan miskin juga. Sudah miskin, minder, kan rugi dobel”, cerita dari Cak Nun ini sontak kembali membuat semua hadirin tertawa terbahak-bahak.

“Anda adalah warga negara Indonesia yang saya wajib mencintai Anda, Anda adalah makhluk-Nya Allah yang saya wajib mencintai Anda. Dan saya ucapkan syukur kepada Allah, bahwa di antara semua orang yang mengalami nasib bermacam-macam, kita tetap diperkenankan untuk bertemu, untuk mencari ilmu bersama-sama, mencari berkah bersama, beriktikad baik bersama, dan seluruh Indonesia sebenarnya sedang mengalami masalah yang sama dengan kasus yang berbeda-beda dan tidak ada pilihan lain bagi Indonesia kecuali untuk tetap tidak berhenti, tetap menunjukkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan.”

Larut malam sekitar pukul 01:00 WIB, rombongan PKS berpamitan kepada Cak Nun, “Kami semua berterima kasih atas kesediaan Cak Nun memberikan banyak sekali pada kita. Tausyiah Cak Nun isinya sangat sinkron. Maturnuwun, tambah penguatan. Kita usahakan untuk silaturahim terus.”

(source: Progress, Verbatim: Red KC/Ratri Dian Ariani).

Foto :

Adin