Kemana Nilai-Nilai Luhur Itu

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam, dan mengasihi kita dengan al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an itu pula kita dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi-Nya yang terpercaya, Rasul-Nya yang bersahaja, yang lembut dan penuh kasih kepada umat-Nya.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd  

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Kita sambut hari raya Idul Fitri yang mulia ini dengan takbir dan tahmid, Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd. Dari lubuk hati kita yang paling dalam, sebagai hamba Allah yang beriman, kita puji kesucian Allah, kita puja keagungan-Nya, dan kita syukuri karunia-Nya yang tak terhitung jumlahnya.

Puasa Ramadan yang telah kita jalankan selama bulan Ramadan, mudah-mudah telah dapat mengasah kepekaan spiritual dan kepekaan sosial kita, mendekatkan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Kepekaan spiritual itu kita rasakan dalam getaran hati kita manakala nama Allah disebut, bertambahnya iman kita manakala ayat Al-Qur’an dibacakan atau tanda kebesaran-Nya ditampakkan, dan bertambah mantapnya tawakkal kita kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anfal 2.

“Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka”.

Sedangkan kepekaan sosial tercermin dalam kesadaran kita untuk berinfak dan semangat kita untuk membangun solidaritas sosial dengan menebarkan salam atau kedamaian, tidak memperuncing atau mempertajam perbedaan, mengasihi dan menyantuni kaum dhu’afa, anak-anak yatim, fakir-miskin, orang-orang yang tertindas, dan ditimpa musibah

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd 

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Makna as-shiyam hakekatnya adalah al-imsak, yang berarti menahan, mengendalikan, membatasi atau menghentikan. Kalau selama Ramadan kita menahan diri, membatasi keinginan, mengendalikan nafsu, menghentikan makan dan minum di siang hari, maka setelah usai Ramadan, apakah kita berhenti membatasi keinginan dan mengendalikan nafsu? Kalau selama Ramadan kita puasa makan dan minum, seusai Ramadan kita puasa apa?

Di dalam ayat 88 surat Al-Baqarah, yang merupakan penutup dari rangkaian ayat puasa, Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman agar berpuasa dari makan harta yang bathil, harta yang tidak sah, atau dengan kata yang lebih lugas “puasa korupsi”.

“Dan janganlah kamu memakan harta sesama kamu secara batil, dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian harta orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui”.

Posisi ayat ini sebagai penutup dari rangkaian ayat puasa, mengisyaratkan bahwa salah satu buah yang nyata dari ibadah puasa adalah kemampuan seorang mukmin yang telah berpuasa Ramadan, untuk berpuasa selama bulan-bulan berikutnya dari memakan harta orang lain secara batil  atau secara tidak sah. Jadi puasa Ramadhan 30 hari ini adalah madrasah atau pelatihan. Hasilnya tidak dalam bentuk selembar kertas ijazah, melainkan dalam praktek kehidupan sesudah Ramadhan.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd 

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kebebasan. Tapi tanpa sadar kita menjadi terjajah dan terbelenggu oleh kebebasan itu sendiri. Arus kuat yang melanda negeri ini adalah kebebasan tanpa batas, termasuk kebebasan dari nilai-nilai dan pagar-pagar agama, bahkan kebebasan dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Ini terjadi karena banyak di antara kita, terbawa gelombang pragmatisme, yang mendewakan dunia, kekuasaan, kekayaan, popularitas, dan menafikan atau merelatifkan nilai-nilai.

Bagi mereka tidak penting baik atau buruk, benar atau salah, indah atau tidak indah, pantas atau tidak pantas. Karena yang lebih penting bagi mereka adalah bisa dijual atau tidak, memberikan keuntungan materi atau tidak. Akibatnya mereka tidak lagi bisa membedakan nilai-nilai. Bahkan yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan; yang baik disangka buruk, yang buruk disangka baik; yang jujur direndahkan, yang khianat dimuliakan; yang berkata benar dipinggirkan, yang berkata dusta diberi kedudukan. Nilai kebersamaan telah digusur, digantikan oleh egoisme dan keserakahan.

Sudah cukup lama kita kehilangan nilai-nilai luhur, yang bersumber dari agama dan budaya kita sendiri. Kebenaran, keadilan, kejujuran, kesopanan, pengorbanan, kesetiaan pada agama dan negara, kebersamaan sebagai sesama umat dan sesama bangsa, nilai-nilai luhur yang dahulu dijunjung tinggi, entah dimana sekarang berada.

Kita mencoba mencari nilai-nilai luhur itu di jajaran pemimpin pemerintahan negeri ini, baik pusat maupun daerah, ternyata tidak kita temukan jejak-jejaknya; bahkan yang kita temukan adalah kecurangan, kepura-puraan, kesetiaan pada diri sendiri atau golongan, dan konsistensi mencari keuntungan.

Kita mencarinya di lembaga-lembaga politik, yang kita temukan bukan kemuliaan para negarawan, tapi keculasan para politikus. Kita coba mencarinya di lingkungan lembaga-lembaga pengak hukum, yang kita temukan bukan kebenaran dan keadilan, justru ketidakadilan, kezaliman, dan kecurangan.

Kemudian kita coba mencarinya di lembaga-lembaga pers, media massa dan media elektronik, yang telah dinobatkan sebagai pilar keempat demokrasi, ternyata di situpun kita sulit menemukan kebenaran, kebaikan, kejujuran, fairnes; karena justru merekalah yang menerapkan pragmatisme secara konsisten, menyembah rating demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sampahpun asal banyak pembelinya akan dijual, kalau perlu dikemas dengan bungkus yang bernuansa keagamaan.

Fenomena yang juga sangat mencemaskan kita semua adalah hilangnya tata-krama dan kesopanan. Setiap hari pemirsa televisi disuguhi aksi para presenter, para artis, dan para selebriti yang tidak peduli dengan sopan santun, apalagi dalam ukuran agama Islam, dengan dalih demokrasi dan kebebasan ekspresi. Tapi apa yang ditampilkan di televisi masih jauh lebih sopan dibandingkan dengan pornoaksi yang menjijikkan, yang dipajankan langsung dihadapan publik, melalui pentas-pentas musik dangdut, tanpa pandang waktu dan tanpa pandang usia para penontonnya.

Para pemimpin, terutama para pemimpin daerah di negeri muslim ini seperti tidak peduli atau mungkin tidak berdaya untuk menghentikannya. Organisasi-organsasi Islam yang besar pun sepertinya bersikap shummun bukmun ’umyun (tuli, bisu, dan buta), sehingga tidak tampak adanya usaha yang serius untuk melakukan nahi munkar.

Kebudayaan bangsa Indonesia sejak era terakhir ini sudah hampir total menomorsatukan materialisme, kapitalisme dan industrialisme. Dunia artistik, intelektual, bahkan spiritual hanya dijadikan sebagai komoditas (barang dagangan) untuk tujuan mencari keuntungan. Demikian massifnya gelombang pragmatisme itu, sampai rakyat tidak lagi bisa membedakan apakah orang itu “berbusana muslim” atau memperagakan busana muslim”, “bershalawat untuk Nabi” atau menjual lagu “shalawat Nabi”. Tidak lagi bisa membedakan apakah “sinetron berlabel Islami” yang mereka tonton dengan khusyuk itu dibuat untuk “mengekspresikan budaya Islam” atau justru untuk “melecehkan budaya Islam” atau sekedar mencari uang.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd 

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Di tengah gelombang pragmatisme, materialisme, dan hubbud dunya yang begitu dahsyat, kita tidak perlu galau, tidak perlu terlalu cemas, atau mengeluh dan kecewa berkepanjangan. Kita percaya bahwa nilai-nilai luhur tidak akan pernah mati dalam lubuk hati manusia. Masih banyak di negeri kita ini orang-orang baik, jujur, istiqamah fi dinillah, dan komunitas-komunitas yang memelihara akal sehat umat. Mungkin mereka ini dianggap aneh, tidak populer atau minal ghuraba’ dan dijauhi oleh media massa dan media elektronika.  Kita tetap optimis bahwa akan lahir generasi baru kaum muda yang segar dan orisinal, yang akan memproses perlawanan terhadap nilai-nilai budaya materialistik industrialistik yang menjadi main stream saat ini, dan telah membawa negara dan bangsa Indonesia ke tepi jurang kehancuran.

Tapi dari mana generasi baru ini akan lahir? Mereka akan lahir dari keluarga-keluarga yang tetap teguh dan istiqamah dalam menegakkan nilai-nilai yang bersumber dari agama Islam dan dari budaya luhur bangsa Indonesia. Mereka akan lahir dari komunitas-komunitas kecil yang konsisten membangun akal sehat anggotanya, menajamkan nurani mereka, dan menata orientasi hidup mereka.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Pertama-tama adalah membangun ketakwaan di dalam diri kita. Semua ibadah mahdhah yang disyariatkan di dalam agama Islam tujuan akhirnya adalah untuk membangun ketakwaan, karena ukuran kemuliaan manusia di hadapan Allah adalah ketakwaan.

Ketakwaan, sebagai produk dari ibadah, khususnya ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, ditandai dengan tiga kualitas jiwa. (1) memiliki kepekaan spiritual, (2) memiliki kepekaan sosial, dan (3) memiliki karakter yang kuat dan integritas yang tinggi. Ketakwaan melahirkan manusia yang mandiri, teguh pendirian, istiqamah, tidak mudah terseret oleh arus pragmatisme dan materialisme.

Kedua, kita bangun dan kita didik keluarga kita sebaik-baiknya. Di saat lingkungan masyarakat tidak kondusif untuk pendidikan anak-anak kita. Di saat lembaga pendidikan tidak bisa diandalkan untuk membangun karakter, mental dan moral anak-anak kita, maka hanya pendidikan keluarga lah yang harus bisa diandalkan. Oleh karena itu rumah keluarga-keluarga muslim harus disiapkan sedemikian rupa menjadi madrasah keluarga. Hanya pendidikan keluarga yang bisa membendung dekadensi moral. Dan oleh karena itu harus menjadi perhatian sangat serius dari kita semua.

Ketiga, kita bangun komunitas kebersamaan di lingkungan kita masing-masing. Bisa dalam bentuk pengajian, paguyuban, majlis ilmu, atau apapun namanya. Di dalam komunitas ini semua anggotanya belajar bersama secara aktif untuk memperoleh pemahaman yang tepat mengenai Islam yang paling inti dan substansial, serta implementasinya dalam kehidupan secara nyata. Kita harus beranjak dari kulit ke isi, dari formalisme ke substansi.

Keempat, kita menekuni pekerjaan kita masing-masing. Yang pedagang menekuni perdagangannya. Yang petani menekuni pertaniannya. Yang wirausahawan menekuni wirausahanya. Yang guru dan dosen menekuni keguruan dan kependidikannya. Yang karyawan menekuni kekaryaannya. Yang pejabat negara melakukan kewajibannya sebagai pejabat yang adil dan jujur. Islam menghargai semua jenis pekerjaan yang halal. Islam mengharga semua pekerja di bidang apapun.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd 

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis (sebagian ulama menyebutnya sebagai kata hikmah dari para sahabat) memberikan perumpamaan, bahwa dunia ini, atau dalam bentuk kecilnya masyarakat dan negara, ibarat sebuah kebun yang dihiasi oleh lima hal: Yaitu: ilmunya para ulama, adilnya para umara’, ibadahnya para hamba, jujurnya para pedagang, dan disiplinnya para pekerja.  

Hadis ini menyebutkan 5 hal yang akan membuat masyarakat dan negara menjadi indah, tapi juga sekaligus berfungsi sebagai pilar-pilar yang menyangga kokohnya sebuah masyarakat dan negara. Yaitu, ulama dengan ilmunya, umara’ dengan keadilannya, ahli ibadah dengan ibadahnya, pedagang dan pengusaha dengan kejujurannya, dan para pekerja atau para profesional dengan disiplin dan kesetiaannya. Kalau salah satu saja dari pilar ini keropos, maka keseimbangan negara dan masyarakat terganggu, dan bisa menyebabkan keruntuhannya.

Akan tetapi, kata Rasulullah SAW dalam lanjutan hadis ini, datanglah setan membawa lima penyakit.

Pertama setan bawakan penyakit iri dan dengki (al-hasad wal hiqd) untuk para ulama dan ilmuwan. Maka ada banyak ulama dan ilmuwan yang memendam dengki kepada sejawatnya bukan dalam urusan ilmu tapi dalam urusan dunia, bisa jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal Rasul SAW sudah mengingatkan bahwa “kedengkian itu membakar habis kebaikan seperti api membakar kayu”.

Kedua, setan bawakan penyakit zhalim dan bohong (azh-zhulmu wal-ghisy) untuk para penguasa. Maka lahirlah penguasa-penguasa otoriter dan penguasa-penguasa yang suka membohongi rakyat, yang setiap ucapan dan tindakannya adalah untuk pencitraan. Padahal Rasul SAW memperingatkan dengan keras “Jagalah dirimu dari berbuat zalim, karena kezaliman itu kegelapan (yang berlapis-lapis) di hari kiamat” Beliau juga memperingatkan penguasa yang suka bohong dengan sabdanya “Barangsiapa diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi pemimpin, tapi sampai akhir hayatnya dia tidak setia, tidak jujur, dan menipu rakyatnya, maka Allah mengharamkan baginya sorga”.

Ketiga, setan bawakan penyakit pamer (riya’) untuk para ahli ibadah. Dan kalau riya’ sudah merasuk ke dalam hati, maka ibadahnya itu justru akan mengutuk dirinya. Seperti firman Allah “celakalah orang-orang shalat, yang hatinya dipenuhi dengan riya’ dan yang enggan melakukan kebaikan kecil sekalipun”. Kalau ibadah dilakukan dengan riya’ maka dia tidak memberikan berkah dan kebaikan bagi masyarakat.

Keempat, setan bawakan penyakit curang (tathfif) untuk para pedagang dan pengusaha. Kecurangan dalam berdagang dan berusaha sangat merugikan diri sendiri dan merugikan perekonomian negara secara keseluruhan. Oleh karena itu Allah memberikan peringatan keras dalam surat Al-Muthafifin “celakalah orang-orang yang curang dalam perdagangan”.

Kelima, setan bawakan penyakit malas, tidak disiplin dan tidak setia untuk para pekerja dan para profesional. Kalau para pekerja bekerja malas-malasan dan tidak disiplin, kalau para profesional tidak setia kepada profesinya, maka produktivitas bangsa akan menurun. Oleh karena itu Rasul SAW mengingatkan bahwa “Allah menyukai seseorang apabila dia mengerjakan sesuatu dia mengerjakannya dengan baik dan tuntas”.

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah.

Kita semua yang hadir di sini pasti berperan dalam salah satu atau lebih dari lima pilar tadi. Maka kalau kita ingin agar negeri kita yang disebut sebagai “potongan sorga di atas bumi” ini menjadi baldatun thayyibah – negeri yang baik, jaya dan sejahtera, marilah kita bertekad melaksanakan peran kita masing-masing dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah.

Kalau anda seorang ilmuwan atau ulama jadilah ilmuwan atau ulama yang menerangi dan mencerahkan, bukan menggelapi dan menggelapkan. Kalau anda seorang pejabat atau umara’, jadilah pejabat yang adil, jujur, dan melayani rakyat. Kalau anda seorang yang tekun ibadah, jauhkan diri dari kesombongan dan jangan menjadikan ibadah sebagai sarana mencari dunia. Kalau anda seorang pengusaha atau pedagang, berlakulah jujur dan jangan sedikitpun mengotorinya dengan kecurangan. Kalau anda seorang pekerja, bekerjalah dengan tekun, serius, disiplin dan tuntas. Lakukan pekerjaan anda dengan rasa cinta dan setia.

Adapun mereka yang terbujuk rayuan setan sehingga melakukan penyelewengan, biarlah aparat hukum dan pemilik otoritas yang akan menghukum mereka. Tapi kalau ternyata pisau aparat yang berwenang terlalu tumpul untuk menghukum mereka, maka biarlah Allah Yang Maha Adil yang akan menghukum mereka pada waktu yang Ia kehendaki.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk dapat mengambil bagian di dalam perjuangan mewujudkan terciptanya kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Islam; dan semoga Allah menuntun kita semua ke jalan yang diridhai-Nya.

Akhirnya, marilah kita tutup dengan doa ke hadirat Allah Swt.

Tulisan ini merupakan naskah Khotbah Idul Fitri 1434 H yang disampaikan oleh Cak Fuad (Ahmad Fuad Effendi).