Inna Kamarie dan KiaiKanjeng Pukau Publik “Jass” Indonesia

Bukan KiaiKanjeng dan Inna saja yang mendekap para hadirin dan menggetarkan jiwa mereka: ada magnet Sulaiman, cahaya Yusuf dan lolongan Daud

Sesuai rundown acara, pukul 18.00 WIB Inna Kamarie dan KiaiKanjeng telah berada di panggung dan segera membuka rangkaian lagu yang akan dibawakan dalam Indonesian Jass Festival yang kali pertama digelar tahun ini. Surender (Man on the Land) adalah nomor perdana yang dipersembahkan jazzer Inna Kamarie dan KiaiKanjeng kepada publik jazz yang malam itu memenuhi Istora Senayan Jakarta.

Selain Surender (Man on the Land), Inna dan KiaiKanjeng menyuguhkan Lukaku, Summer Time, Over The Rainbow, Gundul Pacul, Nothing Compares To You, Give Me Reason, dan Hujan Gerimis. Publik jazz yang datang sepertinya memang telah menunggu kejutan dan pencapaian istimewa dari kolaborasi ini. Terbukti ketika Inna Kamarie membawakan Nothing Compares To You. Inna sendiri sampai menangis dalam kekuatan magis lagu dan musikalitas KiaiKanjeng pada nomor ini. Seluruh audiens terharu dan tenggelam di dalamnya. Sebelum membawakan nomor ini, Inna sempat berpesan, “Cinta itu suci, jangan sampai dinodai. Yang masih playboy berhentilah sekarang, jangan lagi ada yang tersakiti.”

Inna Kamarie dan KiaiKanjeng dalam Indonesian Jass Festival 2013.
Inna Kamarie dan KiaiKanjeng. Indonesian Jass Festival 2013.

Lagu Lukaku, yang merupakan lagu KiaiKanjeng, adalah nomor lain yang mendapatkan apresiasi tinggi dari penonton. Persembahan Lukaku ini di-lead vocal-I oleh Donni KiaiKanjeng. Dan apa yang dilakukan Inna adalah memberikan sahutan-sahutan improvisatoris sehingga memberi warna tersendiri pada nomor ini. Begitu pula pada nomor pembuka, Man on the Land, terjadi keunikan yang sangat. Pasalnya, Imam Fatawi KiaiKanjeng secara Jawa bersahut-sahutan dengan Inna Kamarie yang secara kontras mengeluarkan nada-nada Barat, sehingga melahirkan sajian perpaduan vokal yang khas.

Untuk keseluruhan lagu yang dibawakan dalam Indonesian Jass Festival ini, KiaiKanjeng memang mengaransemen secara berbeda agar dapat “mengantarkan” keunikan karaketer dan teknik vokal Inna Kamarie. Lebih daripada itu, Inna Kamarie dan KiaiKanjeng mempersembahkan semua nomor itu dengan hati. “Tak hanya khas karena vokalnya, tetapi terutama Inna bermain dengan sungguh-sungguh dengan hatinya, maka sampailah atmosfernya di relung hati penonton,” ujar salah satu penikmat jazz yang semalam. Inna Kamarie sendiri mengatakan, “Saya menemukan ketulusan yang luar biasa bersama teman-teman KiaiKanjeng.”

Dari sudut musikalitas kekuatan KiaiKanjeng terasa pada pola permainannya yang penuh energi, sementara keunikannya terletak pada bunyi yang ditimbulkan dan penggarapan setiap musiknya, yang selalu disertai sentuhan-sentuhan etnik, terutama sekali dapat dirasakan pada nomor-nomor yang asli KiaiKanjeng. Itulah sebabnya, saat membawakan Gundul Pancul, penonton memberikan apresiasi yang paling tinggi. Dalam bahasa Yoyok Basis KiaiKanjeng, “KiaiKanjeng memainkan musik jazz secara Indonesia wabil khusus ala KiaiKanjeng. Kita memberikan nuansa lain dengan nuansa-nuansa lokal yang diramu menjadi jazz ala KiaiKanjeng.”

Satu jam penuh Inna Kamarie dan KiaiKanjeng berkolaborasi menyuguhkan keindahan, kejutan, dan pencapaian jazzy di hadapan para pecinta musik jazz. Usai penampilan mereka, Beben Jazz sebagai salah satu pemrakarsa dan tokoh jazz Indonesia berkomentar, “Luar biasa. Ini sangat memberi warna jazz Indonesia.” Sementara itu, Cak Nun dalam bahasa yang lebih spritualis membubuhkan apa yang dirasakannnya, “Penampilan KiaiKanjeng dan Inna mengerikan, mencengkeram, magis, khusyu — bukan KiaiKanjeng dan Inna saja yang mendekap para hadirin dan menggetarkan jiwa mereka: ada magnet Sulaiman, cahaya Yusuf dan lolongan Daud….”