Ideologi, Agama, dan Involusi Religiusitas

Mestinya ada perbedaan yang signifikan antara negara yang mayoritas penduduknya tekun menjalankan syariat agama, dengan negara yang sekuler.

Tertangkapnya salah satu politisi dari parpol yang mengaku bersih oleh KPK cukup mengejutkan. Bagaimana mungkin orang yang pengetahuan dan praktek beragamanya sudah tinggi namun masih juga korupsi?

Banyak politisi yang memiliki nama  sangat “islami”, rajin umroh, rajin berkhotbah, dahinya hitam tanda lebih lama bersujud, bahkan ketika masih menjadi mahasiswa/ketika nyantri merupakan orang yang paling keras berteriak soal korupsi, namun ketika kini masuk lingkaran kekuasaan, mereka ternyata juga orang yang paling kuat menginjak amanah rakyat dan rajin mencuri dan merampok kekayaan negara. Fenomena apa ini?

Orang yang sudah beragama tapi masih juga korupsi menunjukkan bahwa sesungguhnya kekuatan utama dalam menjalankan agama yang benar adalah “akal” dan bukan “kitab suci”. Allah SWT memang menyediakan kitab suci melalui rasulNya yang dapat digunakan sebagai petunjuk, namun agar petunjuk tersebut dapat diamalkan ke jalan yang diajarkan Allah, maka manusia diwajibkan menggunakan akal. Kalau kitab suci dapat “mengislamkan” seseorang secara otomatis, maka mestinya ketika kitab suci tersebut disodorkan kepada seekor binatang, maka binatang tersebut lantas “islam”.

Namun kenyataan tersebut tidak terjadi. Dengan demikian, makin jelas bahwa akal yang menjadi “senjata” utama seseorang untuk menuju kualitas khalifah yang Islam. Kitab suci hanya menyediakan jalan dan resep, namun jika tidak ditangkap dan diolah oleh akal, maka kitab itu hanya menjadi benda mati. Karenanya Allah selalu menantang umatnya dengan kata-kata : “jika kamu sekalian mau berpikir”.

Realitas empiris dunia akan dapat didayagunakan ke jalan Allah jika manusia yang  hadir disitu menggunakan akalnya untuk merekonstruksi kesadarannya, untuk mentransendir dunia obyektif ke arah yang ideal sesuai ajaran kitab suci. Jika manusia menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci karena digerakkan oleh nafsunya, dan bukan oleh akalnya, maka tafsiran itu paling jauh hanya berhenti untuk kepentingan simbol, kekuasaan, kebanggaan, kesalehan pribadi, dst.

Ideologi dan Materi

Sebelum membicarakan soal akal dan dunia obyektif, ada baiknya kita simak teori tentang ideologi. Dalam aliran filsafat idealisme dinyatakan bahwa yang nyata itu adalah ide, sedangkan realitas empiris atau dunia di luar pikiran manusia adalah hasil konstruksi pikiran. Dari penjelasan ini nampak bahwa orang tidak tahu apakah apa yang ada di dalam pikiran manusia itu ada pula di dunia empiris? Karenanya aliran filsafat idealisme yang tidak ekstrem mengatakan bahwa kalau pun dunia empiris itu ada, namun sudah merupakan hasil rekonstruksi kesadaran manusia. Adanya dunia empiris tergantung si penafsir, demikian kira-kira penjelasan singkatnya

Oleh karena itu, menurut aliran tersebut,  ideologi jauh lebih penting dibandingkan dunia empiris. Untuk merubah dunia, kesadaran manusia lah yang menjadi titik intinya. Aliran filsafat idealisme ini berbeda dengan aliran filsafat materialisme yang mengatakan bahwa dunia materi lah yang nyata, sedangkan ide hanyalah di awang-awang. Filsafat materialisme-historisme inilah yang mengilhami Marx untuk melahirkan teori konflik kelas.

Titik tengah dari dua aliran filsafat tersebut menyatakan bahwa ide bergerak bebas dan materi bergerak mengikuti hukum alam. Karenanya perubahan sosial dan sejarah manusia mengikuti perkembangan alam materi atau karena ada ide dan campur tangan pemikiran manusia, untuk menentukan arah gerak perubahan.

Dari gambaran ringkas tersebut sekarang kita kembali kepada persoalan, apakah kitab suci atau agama secara otomoatis sanggup “mengislamkan” manusia? Tentu jawabnya tidak. Untuk menyelamatkan manusia dan alam semesta, Allah SWT nampaknya suka “berteater” dengan manusia. Karenanya Allah tidak langsung “mengislamkan” seluruh umat manusia secara otomatis lewat firmanNya di dalam kitab suci (meskipun Allah bisa), tapi manusia diberi “bahan” yang berupa kitab suci dan akal, agar berdialektika. Dengan kata lain, agar manusia bisa Islam yang sejati, maka diberilah akal pikiran. Allah sudah berfirman bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk (ahsani taqwim). Kitab suci dan agama menyediakan resep dan kemungkinan-kemungkinan, oleh karenanya, manusia dengan akalnya harus menangkapnya agar dapat diobyektifkan di dunia nyata.

Kalau “resep” di kitab suci tersebut tidak ditangkap oleh akal pikiran, maka kitab suci tersebut hanya seonggok benda mati yang berupa kertas belaka. Bagaimana agar akal dapat berpikir sesuai kehendakNya? Allah juga memberi hati kepada manusia agar bisa ikut mengendalikan akal dengan jalan mengasah radar kepekaan spiritual kita. Jalan untuk misalnya, manusia disuruh sholat, puasa, zakat dan berhaji. Dalam sholat misalnya, selalu kita ucapkan “Ya Allah tunjukkan aku ke jalan yang lurus (menegakkan)”. Ini artinya akal kita dimohonkan agar dapat digunakan untuk menuju jakan yang lurus tersebut.

Meminjam istilah dalam teori struktural-historisme yang dicelotehkan ilmuwan Brazil Cardoso, sejarah itu digerakkan oleh dua unsur, yakni kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh dunia obyektif atau kondisi struktural yang berubah mengikuti hukum-hukum obyektif yang ada di luar kesadaran manusia. Pada sisi lain ada kondisi historis yang ada pada waktu kemungkinan-kemungkinan itu diberikan, yang berupa kekuatan-kekuatan sosial yang ada yang juga berubah sepanjang sejarah.

Jadi ke arah mana kondisi obyektif itu berubah tergantung sejauhmana kesadaran manusia  digerakkan. Jadi ideologi itu merupakan semacam “mercu suar” untuk memandu ke arah mana dunia digerakkan. Ideologi ini tidak diperoleh dari dunia obyektif namun dari rekonstrukjsi kesadaran kita.

Oleh karena itu, dalam beragama, akal pikiran harus digunakan untuk menafsirkan dan merekonstruksi kesadaran ke arah mana Allah mengajarkan kita agar nanti kembali kepadaNya (ilaihi rojiun), setelah manusia hidup melalui dunia ini. Jadi apapun yang kita kerjalan di dunia ini, ujungnya harus kembali kepadaNya. Kuncinya, manusia harus dapat mendialektikkan antara: akal, hati dan nafsu (syahwat).

Agar akal dapat digunakan menafsirkan kitab suci untuk menggerakkan hidup di dunia yang menuju kepadaNya, maka kita harus selalu peka mengasah ”radar” jiwa dan batin kita, dan mampu mendialektikkan dengan hati dan nafsu. Ibadah mahdoh seperti sholat, puasa, zakat, dan haji adalah metode yang ampuh untuk mengasah ”radar” kepekaan tersebut. Kita harus rajin ber-iqra, dan rajin untuk memaksa diri kembali kepada jati dirinya, yakni manusia yang fitri.

Kalau ia sudah beragama, namun masih korup dan berbuat kebatilan, maka ia belum kembali kepada kefitrian dan belum kembali ke rumah Allah. Islam adalah agama dunia sekaligus akherat, dan ini tidak dapat dipisahkan antara tauhid vertikal dan horizontal. Tidak bisa Allah diajak kalkulasi, kita korupsi 10 ribu, jika yang 5 ribu kita sumbangkan ke masjid maka dosa kita hapus. Karena Islam adalah agama dunia-akherat, maka tidak ada keterpisahan. Dengan kata lain, yang ideal adalah menjalankan segala tugas duniawi (jadi guru, dosen, budayawan, tukang nggamel, pemusik, penyanyi, pejabat, bupati, gubernur, presiden, blantik sapi, tukang ojeg, pengamen, dst) untuk di arahkan selalu ke rumah Allah.

Kata Al Ghazali : ”Menjadi sufi itu tidak menolak dunia ini, mereka juga tidak memandang bahwa nafsu duniawi harus dimatikan. Mereka hanya ingin mendisiplinkan keinginan-keinginan yang tidak berkesesuaian dengan kehidupan agama dan perintah suara akal. Mereka tidak melemparkan semua hal itu di dunia ini, mereka juga tidak mengikutinya dengan balas dendam.

Involusi Religiusitas

Singkat kata, kehebatan menjalankan syariat agama ternyata tidak paralel dengan output sosial seseorang. Saya kira hal ini tidak hanya dialami umat muslim saja, namun juga umat beragama lainnya. Mestinya setelah selesai menjalankan ritual, maka harus terwujud dalam kehidupan keseharian. Yang terjadi saat ini adalah perumitan bentuk-bentuk syariat, atau semangat menjalankan syariat agama, namun tidak terjadi peningkatan efek sosialnya.

Karenanya saya menyebutnya dengan istilah involusi religiusitas. Istilah ini barangkali tidak tepat, namun hanya sekadar menggambarkan dengan ”idiom” saja agar mudah dipahami. Istilah involusi sebenarnya digunakan oleh Geertz dalam bidang pertanian, yang intinya adalah sebuah proses perubahan masyarakat yang mengalami kegagalan, terutama dalam membentuk pola-pola baru. Akibatnya masyarakat gagal menstabilkan diri menjadi bentuk yang definitif bahkan justru yang terjadi adalah perumitan bentuk.

Meski tidak tepat benar jika ini diterapkan dalam kehidupan beragama, namun jika melihat ciri-ciri kehidupan umat beragama saat ini, boleh jadi teori Geertz tersebut dapat digunakan. Realitas kehidupan beragama itu misalnya:

Pertama, banyak bentuk-bentuk baru syariat dengan tafsir baru pula, bahkan terlalu  bersemangat sehingga yang terjadi adalah saling klaim kebenaran dan ujungnya meng-kafir-kan yang lain hingga terjadi konflik berdarah. Semangat menggunakan simbol-simbol keagamaan, seperti baju, jubah, jilbab, tasbih di tangan, kursus sholat khusyu`, pengajian di hotel dst, namun tidak berdampak terhadap kehidupan keseharian. Bahkan banyak koruptor yang menggunakan simbol itu ketika diadili, seperti selalu memegang tasbih atau tiba-tiba berjilbab.

Kedua, semakin rumitnya interaksi sosial antar-aliran atau mazhab, bahkan terjadi pengkotak-kotakan organisasi keagamaan yang semangatnya—sadar atau tidak– adalah bersaing dalam mendapatkan ”laba” duniawi dan kekuasaan. Banyak ustadz atau kiai ”dadakan” yang justru ”membisniskan” dakwah, dsb.

Ketiga, banyak muncul agamawan yang hebat ilmu agamanya atau ilmu fiqh-nya, namun tidak memiliki pengetahuan umum yang memadai. Akibatnya, mereka tidak dapat dijadikan panutan umat. Fatwa yang muncul hanyalah fatwa yang terkait rakyat kecil (misalnya mengemis haram, Facebook haram, makanan ini haram, dst). Jarang ada fatwa bagaiamana jika anggota DPR membolos atau ngelencer ke luar negeri, atau fatwa yang terkait dengan masalaha kenegaraan yang berdampak terhadap kehidupan rakyat.

Mestinya ada perbedaan yang signifikan antara negara yang mayoritas penduduknya tekun menjalankan syariat agama, dengan negara yang ”sekuler”. Yang terjadi justru sebaliknya, yakni negara yang kelihatannya sekuler, namun dalam kesehariannya justru sangat ”Islami”, mulai dari kedidiplinan masyarakatnya, kebersihan yang terjaga, saling menolong, malu dan mengundurkan diri jika korup, sangat amanah terhadap tugasnya, semangat mengembangkan iptek (iqra` dalam bahasa Quran-nya, dst).