“I Have a Dream” Ber-Maiyah?

Martin Luther KingJr  adalah seorang pendeta di Gereja Baptis Montgomery, Alabama yang berjuang melawan diskriminasi rasial. Martin Luther KingJr baru bermimpi tentang persamaan hak dan HAM pada umumnya, karena — barangkali — ia kebetulan non-muslim, atau tepatnya ia umat Kristiani. Bagi umat Kristiani, manusia lahir itu sudah membawa dosa asal, dan karenanya, metode salvation atau penyelamatan, menjadi tema utamanya. Asal kau yakin dan beriman, maka darah Tuhan Yesus akan menyelamatkanmu, karena ia juru selamat.

Sebaliknya, dalam ajaran Islam, manusia itu lahir dalam keadaan sebaik-baik makhluk (ahsani taqwim), karenanya tak perlu memperjuangkan persamaan hak. Silakan kamu terlahir berkulit hitam, putih nglenyih, sawo matang, bahkan abu-abu atau lorek-lorek, tapi kamu tetap makhluk sebaik-baiknya. Karenanya, umat Islam tidak mengandalkan Rasulullah Muhammad sebagai “juru selamat” an sich, namun mengandalkan diri sendiri untuk selamat di akherat nanti.

Rasulullah tidak diijinkan oleh Allah untuk bisa memberi hidayah kepada manusia. Rasulullah hanya berhak dan mampu menyampaikan risalah, tetapi tak bisa mengubah hati manusia. Sebab kalau beliau dianugerahi kesanggupan untuk memberi hidayah, tak akan ada satu orangpun yang menjadi pengikut Iblis. Dengan kata lain, keluarga beliau, anak dan isterinya pun juga tidak bisa berkata: “Tenang saja kita berbuat dosa, toh di akherat nanti ada babe”.

Dalam Islam kita digadang-gadang menjadi diri sendiri. “Be yourself”. Mengapa, Allah telah sharing, dan memberi kita akal pikiran, serta resep dan metode untuk menjadi Islam, dan agar tidak terpeleset menjadi seburuk-buruk makhluk alias asfala safilin. Karenanya dalam Islam, jika diumpamakan, manusia sejak lahir memulai perjalanan dari titik nol berupa ahsani taqwim menuju titik akhir nanti. Dari titik nol sampai titik akhir terbentang tantangan, ujian, perjuangan, godaan, dan seribu satu peristiwa lainnya, yang bisa menyesatkanmu atau sebaliknya mengangkat derajadmu.

Kemana semuanya akan berakhir? Semuanya tergantung kamu, toh aku sudah menyediakan metoda, resep, petunjuk, dan pembawa risalahKu yakni Muhammad SAW, demikian kira-kira Allah SWT menantang manusia. Jadi kamu semua tidak bisa menggantungkan hidupmu pada “babe” saja.

Martin Luther King Jr. nampaknya hanya bisa menuntut HAM, dan dia lupa bahwa Allah juga mewajibkan kita untuk memperjuangkan WAM, wajib asasi manusia. Martin Luther King Jr mestinya juga bertanya, kenapa di negaranya yang mayoritas kristiani kok ada politik rasialis, demikian pula para presiden AS dan pejabatnya juga pengikut Yesus. Padahal di Declaration of Independence-nya AS juga tertulis: “all men are created equal; that they are endowed by their Creator with certain unalienable rights; that among these are life, liberty, and the pursuit of happiness.

Pertanyaan yang sama juga dengan Indonesia, mengapa sebagian besar rakyatnya Islam namun korupnya bukan main? Sekali lagi ini bukti bahwa para nabi dan rasul tidak bisa memberi hidayah, sama halnya para iblis juga tidak dapat menyesatkan manusia.

Dalam sejarah tercatat bahwa akibat aksinya dalam menentang diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam, King pun dipenjarakan di penjara Birmingham. Di penjara, ia menulis surat yang diberi judul, Surat dari Penjara Birmingham, Dalam suratnya, King menyatakan bahwa ia merasa dipanggil untuk menyuarakan suara kenabian terhadap ketidakadilan yang terjadi pada zamannya.

Pidatonya dengan judul “Saya Memiliki Impian” pada pawai berbarisnya ke Washington, DC (28 Agustus 1963) membuatnya semakin terkenal. Ia dipuja dengan banyak gelar terhormat. Pada 1963, ia menerima Penghargaan Nobel Perdamaian. Ia ditembak hingga meninggal dunia ketika ia melakukan aksi di Memphis pada 4 April 1968. Guncangan dari kematiannya menyebabkan banyak kerusuhan dan bentrokan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat.

Dari sejarah singkat itu, sebenarnya secara garis besar upaya ia memperjuangkan HAM di Amerika, boleh juga kita akui sebagai sebuah upaya bermaiyah, meski hanya sebesar zarrah. Namun apakah ia sudah bermaiyah, atau  baru bermimpi bermaiyah, atau bahkan bermimpi pun belum? Sulit dijawab karena ia baru diuji pada jamannya dan tidak hidup di jaman dimana negaranya kini juga mengobrak-abrik tatanan dunia. Apakah  jika ia masih hidup, berteriakkah dengan petualangan negaranya di daratan Arab, Irak, Mesir, Afghanistan, Vietnam, dan pasar dunia lainnya?

Ia memang memperjuangkan agar politik di AS tidak berujud padatan ras. Saya tidak tahu pasti, apakah yang diperjuangkannya hanya sebatas terhadap orang kulit hitam? Kalau ya, ia juga belum pantas disebut pejuang HAM, karena umat manusia bukan hanya kulit hitam. Seandainya yang didiskriminasi adalah orang kulit putih, apakah King juga memperjuangkannya?

Sayang King tidak mengenal Islam, apalagi Rasulullah. Perjuangan Rasulullah di Madinah juga dimulai dengan mempersatukan berbagai kalangan, tidak hanya warna kulit namun juga kepercayaan. Itulah isi kesepakatan dalam Piagam Madinah. Keunggulan Rasulullah adalah perjuangan dengan keteladanan. Rasulullah tidak mengenal metode boikot, atau dengan gagah berani mengobrak-abrik berhala di Ka’bah, mengobrak-abrik minuman keras dan pelacuran dengan pedang, dsb. Padahal semua itu bisa dilakukan dengan mudah karena beliau “jagoan” bermain pedang dan panglima perang yang ulung. Namun beliau memilih berjuang dengan keteladanan dan ajaran Allah.

Sebaliknya pada tahun 1963, King memimpin demonstrasi pemboikotan bus di Birmingham. Meski pemboikotan itu dilakukannya tanpa menggunakan kekerasan sebagaimana prinsip-prinsip Mahatma Gandhi, tapi itu tetap bukan peejuangan strategis, karena mengingkari persamaan yang ia perjuangkan. Bandingkan Rasulullah, beliau justru mengasihi orang yang menyakiti beliau. Kita bisa baca tentang kisah wanita Yahudi yang  tua dan buta yang sangat membenci beliau dengan cara mengatakannya “Muhammad gila”.

Apa yang tanggapan Rasulullah? Justru wanita tua itu beliau suapi setiap pagi sampai beliau wafat. Kisah ini menunjukkan betapa beda benar dengan gaya boikot King. Demikian pula ketika Rasulullah dilempari batu, beliau juga tidak membalas, namun justru mendoakan. Ini jelas menunjukkan betapa hebatnya beliau dengan pendekatan “humanisme”nya.

Sampai usia 40 tahun Rasulullah tidak mengenal Al Qu’ran secara fisik, tapi beliau tetap dihormati kaum Quraish dan Bangsa Arab pada waktu itu, bahkan mendapat julukan Al Amin. Jelas bahwa akhlak beliau bukan karena ”taken for granted” dari Allah, namun beliau perjuangkan dengan serius, dan Allah menuntunnya. Rasulullah tidak pernah mengkritik apalagi mengecam orang yang tidak sepaham dengan beliau, namun diteladaninya. Sebaliknya King mengritik orang-orang yang tidak setuju terhadap pemboikotan Bus di Birmingham. Baginya, mereka adalah orang-orang yang tidak peka dan tidak dapat melakukan analisis terhadap penyebab utama dari pemboikotan itu. Menurut King, mereka terbuai dalam keadaan yang terjadi dan tidak mampu mendobrak dominasi kekuasaan orang-orang kulit putih.

Dalam perjuangannya, Rasulullah mengajak umatnya mencerdasi kehidupan, mengarifi pengalaman, menjernihi kenyataan, menyetiai jalan dan mengakurasi tujuan  agar umatnya mengistiqamahi akad dan cintanya di jalan Allah. Karenanya Rasulullah juga tidak gumunan atau kagetan melihat keadaan bangsa dan umatnya saat itu. Kalau King hanya melihat diskriminasi ras antara kulit hitam dan putih, Rasulullah melebih Alvin Toffler “meramal” bahwa nanti ada 73 golongan yang terpecah belah. Rasulullah juga mengajarkan kepada umatnya agar tidak kaget dan gumun,  karena yang penting harus ber-Maiyah, memperjuangkan kedekatan secara dinamis di antara aliran-aliran dan antar golongan, syukur mempersatukan, menyatukan, men-satu-kan. Ajaran Rasulullah yang penting adalah bagaimana menemukan prinsip bahwa “tauhid ilallah”, dipersyarati oleh golongan atau aliran tersebut.

Karenanya, mestinya King tidak perlu terlalu ekstrem memperjuangkan kebaikan dengan cara pemboikotan. Dalam Maiyah ada rumus: baik-buruk, indah-jelek, benar-salah. Boleh jadi perjuangan King benar, namun dengan cara boikot bisa jadi tidak indah. Apalagi kaum kulit hitam malahan menganjurkan agar King lebih ganas lagi. Untuk beberapa tahun, King membuat kesuksesan besar, tetapi secara berangsur-angsur orang-orang kulit hitam muda menjauhinya karena mereka tidak dapat menerima antikekerasannya. Sebaliknya, King tidak pernah berhenti dan meluaskan programnya.

Kalau King mengutip Yesus: “Yesus menegaskan dari kayu salib sebuah hukum yang lebih tinggi. Ia tahu bahwa filsafat kuno — mata ganti mata — akan membuat semua orang buta. Ia tidak berupaya mengatasi kejahatan dengan kejahatan. Ia mengatasi kejahatan dengan kebaikan. Meskipun disalibkan karena kebencian, Ia menanggapinya dengan kasih yang agresif.”

Sebaliknya Rasulullah menegaskan adanya “jalan tengah”. Ungkapan ini  jauh melebihi para pakar manajemen manapun. Metode jalan tengah beliau ditunjukkan oleh sabdanya yang terkenal yakni: “sebaik-baiknya perkara yang sedang-sedang saja”. Beliau berada diantara super lembutnya Isa AS dan super kerasnya Musa AS. Kalau pipi kanan ditampar malahan dikasih pipi kiri, jangan-jangan nanti kita malahan punya dua dosa sekaligus. Dosa pertama karena tidak mendidik yang menampar, atau menambah dosa si penampar dan dosa kedua membiarkan badan kita disakiti orang. Tapi terlalu keras seperti Musa AS juga tidak baik

Pada gerakan protes tersebut, Martin Luther King Jr. Juga menampilkan impiannya. Katanya: “Saya mempunyai impian bahwa keempat anak saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari warna kulit mereka tetapi dari kandungan karakternya…. Dengan iman ini kami dapat mengubah suara-suara tidak harmonis di negeri kita menjadi simponi persaudaraan yang indah. Dengan keyakinan ini kita dapat bekerja sama, berdoa bersama dengan kesadaran bahwa kita akan bebas pada suatu hari kelak.”

Impian King sudah ada di ajaran Islam bahwa manusia itu tidak dinilai dari apa-apanya kecuali taqwanya. Perjuangan dan tantangan King tidak seberat sekarang sebagaimana dihadapi umat Islam yang diguyur racun, epidemi kebodohan berpikir, kedangkalan mata pandang, kekerdilan mental, kesempitan jiwa, mata kuda materialism, yang secara keseluruhan melahirkan watak-watak primitivisme dan ketidak-beradaban, serta dajjal baru yang dipandegani negaranya si King?

Kalau sekarang King masih hidup, apakah ia juga ikut mengutuk, apalagi memperjuangkan untuk melawan penjajahan model baru dan ulah dajjal  tersebut? Apalagi King juga bagian dari negara yang kini ikut memperburuk situasi dunia khususnya Islam.

Kalau tidak, jangan sebut ia tokoh besar, apalagi mendapat Nobel, karena yang pantas mendapatkannya hanyalah para salikul Maiyah. Sedangkan King, bermimpi bermaiyah saja — barangkali — belum sampai. Kecuali jika ia mau jadi Gus Martin hehehe (pinjam istilah CN).