Emansipasi Improvisasi

Persoalan umumnya, karena improvisasi sebetulnya merupakan perpanjangan dari “imajinasi” yang setiap orang memiliki “DNA”-nya masing-masing.

Harus diakui bersama fakta ini: (agak) sulit berdikusi tentang improvisasi musik (yang tidak hanya jazz dan teknik-tekniknya). Persoalan umumnya, karena improvisasi sebetulnya merupakan perpanjangan dari “imajinasi” yang setiap orang memiliki “DNA” – nya masing-masing. Improvisasi bisa bebas sebebas-bebasnya, tetapi imajinasi harus terlatih dan terkonsep, baik yang empiris (tentang pengalaman rasa) maupun yang knowledgment (tentang teori-teori). Mungkin itulah sedikit sari-pati dari diskusi dan pentas musik “Emansipasi Improvisasi” yang diselenggarakan Art Music Today di Rumah Budaya EAN (3/06).

Menghadirkan Yasudah (Solo), Dias Agusta, dan Jay Afrisando, acara berdurasi total sekitar tiga jam ini berlangsung menarik, dengan diikuti oleh sekitar 50-an audiens dari berbagai latar, tidak hanya akademisi tapi juga banyak yang awam. Malam itu juga tampil spontan “trio darurat” yang ber-improvisasi bebas, Yasudah, Memet Chairul Slamet, dan Royke Bobby Koapaha. Makna yang bisa diambil dari tampilnya ketiga komponis dalam satu momen yang tanpa persiapan ini adalah, mempelajari bagaimana mereka harus mengambil keputusan bersama-sama, menciptakan konflik, dan menjadi wasit untuk diri masing-masing dengan bahasa, gaya, imajinasi, serta konsepsi masing-masing. Dari Yasudah muncul cluster-cluster acak dan nyanyi spontan, Royke menghasilkan gaya permainan gitar yang mengingatkan kita pada sistem deret (12 nada) dan progresif rock, dan Memet Chairul Slamet dengan alat tiupnya menciptakan nada panjang yang tinggi yang sama-sekali kontras dengan Royke dan Yasudah. Dan sudah pasti “ketegangan tekstur musikal” yang kita rasakan dari peristiwa bunyi yang dihasilkan oleh mereka ini tidak dimotivasi oleh tujuan apapun, kecuali kerinduan untuk reuni musikal sesama komponis yang sama-sama tumbuh bersama di dekade 80-an. Ini adalah momen indah yang “Rasa dan Sensasinya” tidak bisa diulangi. Untuk melihat video mereka bisa ke link: http://www.youtube.com/watch?v=0yPtW2xsW6I.

Art Music Today #5
Art Music Today #5

Apa sebetulnya yang dibahas dalam diskusi ini? Pertama adalah soal penggalian atas makna improvisasi musik menurut para narasumber. Kedua, soal bentuk dan fungsi dari improvisasi musik. Dalam jazz, improvisasi bisa menjadi “roh” atau “jantung” yang menghidupi jazz itu sendiri. Jazz tanpa improvisasi? Bisa Anda bayangkan sendiri.

Di luar jazz? Yasudah dengan gayanya yang khas dan nyentrik mencoba memotret improvisasi tidak sekadar “kebebasan” tetapi sebuah pengendalian atas ruang hidup pribadi dan sosial. Makanya konsepnya sering agak asing terdengar: “SERESTMU”, “RESTMUSIC” (tentang musik dan kesehatan), dan pada malam itu ia sharing kepada audiens tentang “SEMBAHSWARA” — “RASA BEBAS” — “GARAP 8”, tentang eksplorasi atas warna, segi, metrik, tone structure, dan seterusnya. Yang disampaikan Yasudah memang berbeda dengan yang lain, ia memaknai sendiri peristiwa bunyi tanpa terikat dengan berbagai hukum konvensional yang baku/mengikat. Kemudian, ketiga, membahas “bagaimana cara audiens menikmati improvisasi?” Ini penting sekali, karena seringkali improvisasi masih dipandang “sebelah-mata” dan tidak lebih penting daripada bentuk musik/tema lagu atau syairnya. Lalu yang terakhir adalah: apakah improvisasi musik ini hanya “bahasa teknis” atau sebuah “perilaku musikal” — artinya, kehidupan kita pun apakah tidak bisa mengelak dari improvisasi? Apakah hanya musik yang punya?

Mungkin improvisasi lebih condong ke sebuah “sikap” atas sesuatu, makanya ada kebijakan yang terjadi, panjang-pendek soal waktunya, mengatur proporsi, menentukan kapan nada ini dipakai kapan tidak, membuat retorika yang sejelas-jelasnya supaya ada hubungan yang hangat antara pendengar dan improvisasi pemusiknya, soal pemilihan materi yang saling terhubung dan berkembang pada sebuah grafik tertentu (karena ada improvisasi yang gagal dalam membangun grafik). Gampangnya, ada klimaks, yang tidak hanya diwakili oleh suara yang keras, hentakan, atau kompleksitas pengaturan elemen musik yang lain, tetapi sebuah hubungan “perasaan”/batin-rasa, dan pikiran untuk mewujudkan yang benar-benar utuh tanpa putus di tengah jalan. Ini sulit. Seperti orang berpidato tanpa teks, yang mempertemukan gestur, grammar, kalimat, intonasi, dan lain-lain. Sikap improvisasi sepertinya tidak akan bisa dipecahkan secara general selagi belum ada diskusi lebih lanjut baik seputar teknis atau yang lain, tentang — setidaknya — merekonstruksi pemahaman kita selama ini akan improvisasi dan segala piranti pendukungnya: teknik, influence/kekayaan dengar/referensi, intensitas bermusik, dan seterusnya. Tetapi setidaknya, diskusi ini menghasilkan sebuah PR untuk menjawab lagi dengan lebih jelas tentang misteri-misteri improvisasi yang belum terdeteksi. Apakah improvisasi sebuah bahasa, atau manajemen?