Catatan Maiyahan Re-Legi September 2013

Maiyahan Re-Legi: Apakah memang Barat unggul dalam pengukuran empiris dan Jawa detil dalam mengikutsertakan variabel-variabel tak kasat mata?

Maiyahan Relegi yang bulan ini jatuh pada tanggal 3 September 2013 mengangkat topik Membaca Realitas dari Cara Pandang Jawa dan Barat sebagai fokus obrolan. Seperti biasa, sebelum masuk ke diskusi yang lebih dalam Relegi diawali dengan tilawah.

Cara kita memandang memang sangat berpengaruh dengan gambaran yang kita tangkap. Jumlah jamaah haji dan umroh Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, misalnya. Apakah ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran beragama yang didukung dengan kemampuan ekonomi yang memadai, atau haji dan umroh dijadikan sekadar alat ukur atas berada atau tidaknya seseorang, atau bahkan ia hanya merupakan porsi untuk ‘buang sial’ setelah panen lewat korupsi dan transaksi proyek-proyek haram?

Bagaimana kedudukan Jawa dan Barat dalam memandang peristiwa itu — dan juga peristiwa-peristiwa lainnya? Apakah memang Barat unggul dalam pengukuran empiris dan Jawa detil dalam mengikutsertakan variabel-variabel tak kasat mata? Untuk membahas tema ini telah hadir sebagai narasumber Mr. Geoff, Kang Saridin, Mas Yudi, Mas Viky, Mbak Vivi, dan Mas Kris.

Mr. Geoff adalah sahabat lama Cak Fuad yang pertama kali datang dari Australia ke Indonesia sekitar 15 tahun yang lalu. Beliau pernah bekerja sama dengan Cak Fuad menulis sebuah buku yang dicetak secara terbatas yang ketika itu langsung diserahkan ke Hatta Rajasa dan jaksa agung Australia dan kemudian sampai ke tangan Perdana Menteri Australia.

Mr. Geoff yang sehari-hari berkonsentrasi di dunia sastra sangat mengharapkan hubungan Indonesia dengan Australia dapat terjembatani dengan baik. Sejauh ini masih banyak warga Australia yang tidak tahu bahwa Bali yang sering mereka jadikan destinasi liburan merupakan bagian dari Indonesia.

Kang Saridin, seorang dalang, dalam diskusi kali ini menyoroti ilmu titen sebagai warisan dari leluhur yang paling tidak sudah ada sejak tahun 500 Sebelum Masehi. Titen (titi lan telaten) berangkat dari kebiasaan menuliskan setiap fenomena yang ditemui dari hari ke hari. Nenek moyang kita yang dulu berumur panjang biasa menandai kelahiran anaknya, cucunya, canggahnya.

Kemudian nenek moyang kita juga menyusun sistem penanggalan yang berbeda dari yang sekarang kita kenal. Nama-nama harinya diambil dari benda-benda di alam. Misalnya untuk menamai hari pertama mereka menggunakan kata Radhite yang maknanya matahari, sebab di dalam gugus tata surya hanya ada satu matahari. Hari kedua Soma, artinya rembulan. Selain putaran 7 harian nenek moyang kita juga mengenal siklus 5 harian yang kita kenal sebagai pasaran. Sistem penanggalan inilah yang kemudian dijadikan dasar dalam niteni.

Bekal ilmu inilah yang digunakan dalam penyusunan Jangka Jayabaya sehingga dia masih relevan untuk diterapkan di masa sekarang. Tapi kemudian untuk kepentingan penjajah, penemuan ini disebut sebagai klenik, mistik, syirik, dan tidak ilmiah.

Narasumber berikutnya, Mas Yudi, bercerita tentang aplikasi penanggalan pawukon yang diciptakannya. Aplikasi ini disusun selama tiga tahun. Di dalamnya lengkap termuat siklus pasaran, 7 harian, 6 harian, sampai 1 harian (ekawara).

Dari organisasi Malang Corruption Watch yang sehari-hari memantau korupsi di berbagai daerah, Mas Viky dan Mbak Vivi berbagi pengalaman dalam metode riset yang mereka lakukan. MCW berangkat dari keyakinan bahwa untuk membawa manfaat kita tidak perlu menunggu sampai menjadi ‘seseorang’; lakukan apa-apa yang bermanfaat yang bisa kita lakukan sekarang.

MCW melakukan riset dan survei dalam penyelenggaraan pelayanan publik pada kota-kota di Jawa Timur. MCW menguji apakah masyarakat sudah cukup memahami Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 yang memuat hak-hak mereka dalam memperoleh pelayanan publik mulai dari pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Juga apakah penyedia layanan publik sudah melaksanakannya dengan benar.

Riset lain yang juga dilakukan MCW adalah perihal pemetaan korupsi di Jawa Timur pada tiap akhir tahun. Hasilnya diberitahukan kepada daerah yang peringkat korupsinya tertinggi dengan harapan tidak akan terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya.

Yang terakhir dilakukan adalah riset mengenai Pilgub : bagaimana pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan cagub dan visi-misinya. Dari 250 responden, 77% tidak memahami dengan baik. Melalui riset-riset ini MCW berusaha mengubah kebiasaan buruk yang sudah terlanjur dianggap lumrah. Dalam melakukan riset-riset itu, MCW tak bisa lepas dari metodologi Barat karena Baratlah yang menyediakan alat-alat ukurnya.

Narasumber berikutnya adalah seorang dokter. Mas Kris membandingkan kondisi di Prancis dengan Indonesia. Prancis sangat teratur karena di sana sistemnya sudah tertata sedemikian rupa sehingga tak ada celah untuk tidak teratur. Sementara di Indonesia, morat-marit sudah jadi keadaan sehari-hari.

Keadilan dapat ditempuh melalui undang-undang atau melalui anjuran moral. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang pertama merupakan produk dari metode ilmiah di mana dasarnya adalah kita berprasangka buruk kepada orang lain. Yang kedua merupakan produk prasangka baik terhadap manusia.

Pernah suatu kali Mas Kris bermasalah dengan UU Kedokteran perihal pembatasan tempat praktik dan tugas dokter, di mana dokter praktik diwajibkan untuk pasang nama. Ini bertentangan dengan filosofi bahwa dokter tidak boleh promosi. Ketika Mas Kris sambat ke Cak Nun, Beliau mengatakan bahwa undang-undang itu munculnya kalau ada masalah. Ketika orang sudah tidak bisa lagi dianjurkan dan dari sana muncul banyak masalah, baru bikin aturan. Harus ada naskah akademik dalam menyusun undang-undang.

Uap merupakan realitas bagi anak SMP, tapi bagi anak SD yang riil adalah air dan es yang memiliki kepastian bentuk dan sifat. Kepastian ini sifatnya terbatas dan hanya berlaku untuk pembelajaran memahami yang tidak pasti. Inilah yang menjadi dasar metodologi ilmiah : empiris, sistematis, dan logis. Metodologi ilmiah sifatnya sempit tapi memiliki kepastian yang tinggi. Metodologi Barat dan Jawa bukanlah soal mana yang lebih unggul, tapi dunia pendidikan kita sudah di-setting untuk hanya mengenali yang kasat mata.

“Yang dipersoalkan oleh agama adalah soal keyakinan,” ujar Cak Fuad menanggapi soal hari baik dan weton, “Prinsipnya adalah tauhid, bahwa segala sesuatu itu Allah yang menentukan — baik atau buruk, bahagia atau menderita. Tapi ini bukan berarti kita tidak boleh niteni. Tiap orang boleh membaca isyarat-isyarat, asalkan semuanya dikembalikan ke Allah.”

“Rasulullah pernah ditanya mengenai hari-hari itu. Di Al-Qur’an ada wa ma yuhlikana ila dahr. Yang menyebabkan begini atau begitu bukanlah waktu, melainkan Allah. Meski ikut hitungan, tapi harus dengan keyakinan bahwa Allah lah yang menentukan. Saya kira bukan syirik kalau seperti ini.”

“Misalkan saya mengambil untuk diri saya sendiri penanda berupa angka 7. Ini bukan karena angka 7 mempunyai daya magis tertentu, tapi cuma untuk niteni saja. Saya lahir tanggal 7, bulan 7, punya rumah nomor 77. Allah memberi kalau sudah cukupan, batasnya saya 7. Jangan buru-buru katakan ini syirik, tapi pelajari dulu apakah memang ada latar belakangnya, pengalaman-pengalamannya, sembari kita tanamkan keyakinan bahwa Allah yang menentukan.”

Setelah uraian dari Cak Fuad, jamaah berdoa bersama sebagai penutup Relegi kali ini.