Agama, Kapitalisme, dan Klaim Kebenaran

Memang benar, perbedaan (tafsir) ke(agama)an — yang lazim disebut mazhab atau aliran — sesungguhnya sunatullah dan membawa berkah. Namun jika yang terjadi adalah “imperialisme” kebenaran dan berujung kepada kebencian bahkan kekerasan hingga kematian bagi kelompok lain, maka ini adalah musibah atau tragedi kemanusiaan. Kita sering mendengar orang/kelompok yang dengan gagah berani berkata sedang membela Islam, padahal yang terjadi adalah membela kepentingannya. Sederhana saja, Islam sudah dijaga Allah SWT sehingga tidak perlu dibela. Islam ya tetap Islam, meski manusia menyikapinya dengan berbagai cara bahkan kebencian. Jangankan kini kita sudah jauh dari Rasulullah Muhammad SAW, sedangkan ketika Rasulullah baru saja wafat dan tanah kuburnya masih segar, perebutan dan perseteruan di antara para sahabat pun langsung menyala.

Sebagai orang awam saya hanya dapat berprasangka baik, bahwa Allah menurunkan Al Qur’an dalam garis-garis besar, bahkan ada yang bersifat ghaib, justru untuk menantang manusia agar mau berpikir, dan di ujungnya dinamika hidup di dunia ini menjadi menarik. Dalam kaitan ini Allah berfirman “aku ciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya makhluk”. Meski demikian, manusia tidak boleh sombong, karena Allah juga “mengancam” bahwa makhluk yang paling baik itu boleh jadi akan kembali dalam keadaan seburuk-buruknya makhluk (asfala safilin). Siapakah mereka? Tentu orang yang terus berbuat kerusakan di muka bumi dan menghamba kepada selain Allah SWT (kekuasaan, harta, jabatan, mahluk halus, dst).

Imperialisme tafsir kebenaran dalam beragama muncul karena berbagai sebab, bisa karena urusan politis, ekonomis, maupun teologis (baca tulisan Cak Nun tentang Kafir Politis). Mereka yang merasa paling benar dan menyatakan yang di luaran sana adalah salah, sesungguhnya belum membahayakan. Keadaan akan berbahaya jika klaim kebenaran itu diwujudkan dalam suatu kebencian dan keinginan untuk memusnahkan pihak yang dianggap tidak segaris dengannya.

Mereka secara resmi mempertembokkan diri dengan aliran atau golongan lain di dalam masyarakat (Muslimin), dan hanya terpeleset menjadi padatan kelompok atau organisasi aliran. Mereka yang berperan dalam padatan seperti ini jelas belum mampu mempertahankan dirinya pada peran kwalitatif, peran substansial, peran essensial, peran “glepung”, “serbuk” atau “pohon pionir”, demikian istilah Cak Nun.

Sebaliknya maiyah berada pada setiap golongan, memperjuangkan kedekatan antar golongan, mengupayakan titik temu dan harmoni secara dinamis di antara aliran-aliran, bahkan bercita-cita merekatkan, mempersatukan, menyatukan, men-satu-kan kembali semua yang berserak-serak. Sebab para pelaku Maiyah menemukan prinsip bahwa “tauhid ilallah”, kemenyatuan atau kebersatuan atau kesatuan manusia dengan Allah dipersyarati oleh minimalnya keberserakan dan keterpecahan di antara manusia.

Sadar atau tidak, cara berpikir kaum yang mengklaim kebenaran tunggal ini, sebenarnya mirip apa yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat yang mengaku moderen dan terjebak dalam ego keakuan yang menjadi tukang punggung kapitalisme dunia. Paham kapitalisme sadar atau tidak, mengagungkan kepemilikan pribadi dan laba sebesar mungkin yang berujung kepada keserakahan dan memandang orang lain sebagai obyek untuk “dieksploitasi”.

Dalam dataran epistemologis, kapitalisme dan modernmisme hanya didasarkan atas fondasi rasionalisme Cartesian, yang menihilkan peran Tuhan dalam kehidupan keseharian. Epistemologi rasionalisme ini sangat memuja “keakuan” persis seperti mereka yang mengklaim bahwa tafsirnya lah yang paling benar. Dalam epistemologi rasional Cartesian, subyek “aku” selalu ditempatkan pada anak tangga yang paling atas. Persis seperti mereka yang berusaha membenci dan memusnahkan kelompok lain (karena perbedaan agama dan atau tafsir). Mereka yakin bahwa realitas itu bisa ditaklukkan melalui pendefinisian secara positif, dan karenanya ada semacam “imperialisme” epistemologi. Ketika rasionalisme-positivisme diagungkan sebagai satu-satunya cara pandang terhadap realitas, maka yang muncul adalah mistifikasi kebenaran, dan di luar itu diklaim salah.

Kembali kepada beberapa hal tentang postmodernisme yang telah saya singgung dalam dua tulisan sebelum ini, maka nampak jelas bahwa keruntuhan modernisme dengan segala variannya — yang telah mereduksi manusia ke bentuk seburuk-buruknya makhluk — terjadi karena tanpa landasan spiritual dan Tuhan. Adalah “aneh” orang yang bergelimang popularitas dan harta milyaran dollar, terpuruk bunuh diri dan “hanya” menjadi budak narkoba atau ketergantungan obat tidur. Orang Jawa bilang “dodol dawet rengeng-rengeng, numpak Mercy mbrebes mili”. Ini adalah kondisi asfala safilin yang saya sebutkan di atas.

Dalam wacana postmodernisme, sifat universal ilmu pengetahuan dan ideologi sosial, hendak didekonstruksi, dan mereka mengajukan relativisme dan pluralisme. Masyarakat kini berkembang amat cepat, demassifikasi dan heterogenitas tidak hanya melanda cara produksi, namun juga gaya hidup dan cara berpikir. Karenanya dalam wacana kaum postmo, kini tak ada lagi kebenaran tunggal, dan tidak ada lagi grand narrative yang sanggup menjelaskan atau memberi arah kompleksitas kehidupan ini.

Lalu apa yang diandalkan para pemberi tafsir keagamaan kalau dasar tafsir juga sama-sama dari ijtihad dan mengolahnya lewat rasionalitas (akal budi)? Pertanyaannya, lalu apa alasan “rasionalitas”nya jika mereka yang membenarkan tafsir kelompok/mazhab/alirannya, dan menyalahkan yang lain? Apalagi kita belum pernah sama-sama mati dan bertanya kepada Allah secara “langsung”.

Mengenai pluralisme dan relativisme yang konon diwacanakan para pemikir Barat, kita yang terbiasa berdialog di Forum Maiyahan, pasti akan senyum-senyum saja, karena Islam sudah jelas mengajarkannya. “Bagiku agamaku, bagimu agamamu”. Demikian pula Rasulullah Muhammad SAW juga sudah mempelopori Piagam Madinah, dimana semua umat (jangankan hanya berbeda aliran/mazhab) yang berbeda agama pun tidak ada masalah untuk bekerjasama di dunia ini. Konkretnya Romo bisa saja suatu saat pinjam sepeda Pak Kiai, dan Pak Kiai suatu saat pinjam jas Pak Pendeta. Namun untuk urusan ibadah mahdoh, mereka melalui jalan masing-masing. Bahkan yang lebih ekstrem — kalau dibolehkan oleh umatnya — kita yang muslim dalam keadaan terpaksa bisa saja sholat di gereja. Mengapa? Sederhana saja, bagi kaum muslim gereja hanya dianggap sebagai bangunan biasa yang dapat digunakan untuk sholat. Nah kalau antar agama saja tidak ada masalah, bagaimana dengan antar aliran?

Bagaimana mungkin saudara kita dari aliran Sunni tega membantai saudaranya yang kebetulan beraliran Syiah atau sebaliknya? Atas dasar apa mereka mengklaim yang paling benar dan mengkafirkan yang lain? Paham-paham dan cara berpikir ini jelas cara berpikir “primitif” atau “antroposentris” yang kini dikritik kaum postmo. Paham antroposentris hanya memandang bahwa manusia adalah pusat segalanya, dan memandang alam dan lainnya sebagai hal yang dapat dijadikan obyek untuk dimanipulasi. Kesadaran mereka baru sampai pada tahap ana insan (aku manusia dengan ego pribadi), dan belum ke ana Abdullah (abdi Allah) apalagi sebagai khalifah (makhluk yang diserahi untuk memanajemen alam semesta, dan tidak hanya bumi saja).

Pernyataan kaum postmo yang terkenal adalah “akal budi atau rasionalisme bukan cermin dimana kebenaran dapat memantulkan sepenuhnya”. Dalam wacana ini jelas bahwa akal budi selalu bersifat menyeleksi dan mendistorsi, sehingga apapun yang hanya berpangkal kepada rasionalisme, akan bersifat relatif. Sesuatu yang relatif tentu tidak dapat dijadikan dasar klaim kebenaran. Jika ada, ini namanya memberhalakan kebenaran atau akal. Padahal apapun yang menghamba kepada selain Allah adalah syirik, dan dijamin tidak akan masuk surga. Demikian pula mereka yang memberhalakan tafsir atau akal budinya.

Karenanya jelas bahwa mereka yang mau selamat harus “Islam”, yakni berserah diri kepada Allah SWT, setelah didahului ibadah, taqwa dan tawakal. Karenanya, Allah SWT membekali manusia (kalau mau) dengan ajaran yang “konkret” yakni Al Qur’an, yang tidak hanya berisi khabar gembira atau janji keselamatan belaka, namun juga dengan “resep-resep” untuk memanajemen dunia seisinya ini, bahkan alam semesta.

Untuk ibadah mahdoh sudah jelas hukum dan rukunnya, apalagi yang mau ditafsirkan ulang? Apakah kita nmau menafsirkan sholat subuh misalnya, agar lebih dari dua rekaat (karena masih pagi agar badan fit misalnya)? Selanjutnya, kalau urusan muamalah, mengapa ada tafsir kebenaran mutlak dan menyalahkan yang lain? Akal budi yang dianugerahkan Allah kepada kita tentu ditujukan agar manusia menjadi cerdas dan bijaksana dalam mengelola atau memanajemen alam semesta ini dan bukan digunakan untuk alat “imperialisme” atas kebenaran dan atau akal budi.

Yang jelas, tafsir-tafsir dan klaim kebenaran nampaknya tidak hanya berdimensi tunggal, teologis belaka, namun juga tumpang tindih dengan teknostruktur kapitalisme atau industri massal, yang wataknya juga eksploitatif. Orang mungkin tidak tahu bahwa ide pengusiran kelompok tertentu dari desa tertentu misalnya, bukan semata-mata alasan perbedaan tafsir atau alasan teologis, namun boleh jadi karena masalah ekonomis. Misalnya setelah terusir dari desa tersebut, kelompok ini dapat mengeksploitasi sumberdaya alam (misalnya ada sumber minyak dst).

Jelas bahwa agama atau tafsir seringkali hanya menjadi alat untuk mensejahterakan diri dan kelompoknya. Dengan kata lain, benar kata Rasulullah bahwa perbedaan yang sejati (tanpa kepentingan duniawi) sebenarnya adalah rahmad. Namun karena yang terjadai sekarang ini adalah kepentingan duniawi yang mendominasi, maka yang ada adalah “imperialisme kebenaran”.

Mereka-mereka itulah yang dalam Al Qur’an termasuk orang yang mendustakan agama (jika sebutan yatim piatu juga dapat ditafsirkan dalam segala dimensi sosial ekonomi dan politik), meski mereka menjalankan sholat dan rukun Islam lainnya.