Wayahe Tandurane Ijo Royo-Royo

Pertemuan simpul-simpul pengurus Jamaah Maiyah (JM) se Jawa dan Bali berlangsung di Kadipiro Yogyakarta tanggal 6-7 Januari 2012 yang lalu nampaknya memunculkan secercah harapan baru. Di hadapan Cak Nun, Cak Toto, Cak Dil, Sabrang, Cak Fauzi, Pak Mustofa, dll, simpul-simpul JM baru bermunculan, mulai dari Temanggung, Purworejo, Purbalingga, Magelang, Tulungagung, Panggul, Sidoarjo, bahkan sampai Bali dsb. Ini adalah satu berkah tersendiri. Ibaratnya Indonesia kini seluruhnya sudah ditumbuhi alang-alang, tumbuhnya JM bagaikan tumbuhnya tananam padi yang ijo royo-royo. Ini hanya sekadar simbol keberkahan Allah SWT saja.

Yang menarik, tumbuhnya mereka merupakan satu kesadaran baru, ghirah gerakan Islam yang tidak sekadar berlandaskan satu gejala ikut-ikutan (eskapisme) saja, apalagi bernuansa bisnis, namun tumbuh dari hati yang paling dalam, yakni sebuah kerinduan akan tumbuhnya persaudaraan dan cinta kasih kepada Allah dan Rasulullah. Ini tentu saja berbeda dengan menjamurnya ustadz-ustadz dadakan di berbagai media massa atau maraknya lembaga-kembaga “kursus” sholat kusyu’ atau pelatihan ESQ yang beromzet “dagang” miliaran rupiah. Simpul Jamaah Maiyah tersebut seluruhnya “dibiayai” oleh Allah dan 100% sahamnya milikNya.

Di antara mereka bahkan dengan bangga menyebut JM sebagai MTU atau Majelis Tanpa Ustadz. Ini bisa saja hanya sebuah sindiran atas maraknya ustadz-ustadz komersial, namun boleh jadi pula mereka sudah memahami apa itu sebenarnya sifat JM. Dalam JM tidak ada aktor tunggal, semuanya duduk melingkar, sederajad, tidak ada ustadz, namun semuanya tunduk dan berendah hati di hadapan Allah SWT dan Rasulullah guna menjalin persaudaraan. Di JM semuanya boleh ikut, ada yang Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, Dharmogandul, Gatoloco, bahkan yang dianggap kafir sekalipun. Tidak ada pejabat atau rakyat, tidak ada yang kaya atau yang miskin. Tidak ada ustadz dan tidak ada umat. Semuanya sama sederajad. Kalaupun ada yang berbicara atau sebagai narasumber, itu sifatnya hanya fasilitator untuk berdiskusi, sembari memberi pancingan-pancingan segar agar ditanggapi bersama. Yang jelas mereka tidak mengaku memiliki umat, karena itu berarti akan “mengkudeta” Rasulullah. Kita semua adalah umat Muhammad dan bukan umat dari aktor yang lainnya.

Dengan cara ini, JM tahan duduk 7-8 jam nonstop. Ada energi yang menguatkan mereka, dan bermuara kepada tujuan untuk: membesarkan hati (nggedekke ati), membesarkan dan menabur cinta, membesarkan tekad untuk memperbaiki diri, syukur memperbaiki bangsa negara sampai alam semesta ini. Ini bukan tujuan yang muluk-muluk. Allah SWT saja sudah tegas mengatakan di Ad Dzariat 56, dan menjadikan manusia sebagai khalifah yang memanajemen alam semesta ini. Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin, dan karenanya 96,5% Quran berisi resep-resep untuk memanajemen alam, yang berupa ajaran-ajaran muamallah.

Hanya mereka yang sudah mampu mentransformasikan materi menjadi energi/cahaya saja yang sanggup melakukan hal seperti ini. Mereka menjadi kuat dan tahan duduk semalaman suntuk, tahan naik motor ratusan kilometer, naik bus ratusan kilometer “hanya” untuk menabur cinta. Ini adalah perlawanan “Badar”. Dalam sejarah Perang Badar, tercatat jumlah pasukan Islam hanya sepertiga pasukan musuh (sekitar 313 orang), itupun hanya “pasukan-pasukan-an” karena mereka tidak pernah latihan perang (pokoke mung sak anane wong lanang), mereka harus berjalan ratusan kilometer dari Madinah ke Lembah Badar, dst, toh mampu mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat. Padahal yang mereka lawan adalah pasukan gabungan dari Syria, Makkah, Madinah dan merupakan “sekutu” dari Abu Lahab, dan jumlahnya pun jauh lebih besar, yakni lebih dari 1.000 pasukan terlatih dengan senjata lengkap dan lebih “modern”.

Tapi apa yang terjadi? Pasukan Badar menang. Siapakah yang memenangkan mereka? Tentu saja 100% saham kemenangan datang dari Allah SWT. Mengapa mereka (di)menang(kan) padahal secara logika akan kalah total? Jawabnya adalah Allah “dibayar” oleh pasukan Badar dengan sikap istiqomah serta selalu berpihak pada orang-orang lemah. Para JM mesti memahami peristiwa Badar ini sebagai titik untuk membesarkan hati. Perlawanan Badar adalah perlawanan istiqomah dan benar-benar khusyu’ karena ditujukan untuk orang-orang yang (di)lemah(kan). Jadi jelas rumusnya (dan ini mesti dicatat oleh para JM): dua kunci “kemenangan” tadi adalah: istiqomah dan berilmu matang untuk menolong mereka yang (di)lemah(kan).

Abu Lahab dan Perang Uhud Masa Kini

Kini JM juga dihadapkan dominasi Abu Lahab masa kini, ada Yahudi dan sekutunya yang melahirkan kisruh politik dan korupsi di negeri ini. Dari perdebatan di pansus Century misalnya, rakyat bisa menilai seberapajauh kejujuran para pejabat dalam menjawab pertanyaan para anggota pansus. Seberapajauh sandiwara tengah dimainkan diantara mereka (bahkan dengan pansus), seberapa besar kapitalisme global menentukan merahhitamnya wajah negeri?, dst.

Para JM juga tidak haram melakukan sebuah kritik sosial yang akan dihubungkan dengan situasi ideal tertentu. Kekecewaan rakyat atas mafia hukum, tidak tuntasnya kasus korupsi, sembako mahal, ketidakadilan hukum, dst, melahirkan kritik sosial yang meluas seperti saat ini. Kritik sosial kepada penguasa pada umumnya diukur berdasarkan atas high standards of performance atau kinerja para penguasa. Harus diakui tingkat komunikasi penguasa kepada rakyat selama ini kurang harmonis dengan ditunjukkan oleh mimik yang cemberut dan hanya berisi keluhan dan kemarahan serta berbagai janji yang belum ditepati Dengan kata lain pada dasarnya kritik sosial juga sekaligus sebagai kontrol sosial.

Kontrol sosial ini diharapkan meningkatkan etos para pejabat untuk melayani rakyat 100%. Dalam teori Mannheim (1893-1943), etos adalah hasil dari mekanisme psikologis yang membantu manusia dalam memberi arah kepada perilakunya, yang menjelaskan kepada manusia seberapajauh ia telah bertindak benar atau bertindak salah.

Etos yang berdasarkan intuisi belaka tidak dijamin akan mampu membuat individu secara obyektif telah melakukan tindakan berdasarkan hati nuraninya atau tidak. Karenanya, kasus seperti Century dan “century yang lain” akan “mbulet” terus, akan sulit kalau hanya ditentukan secara hukum belaka tanpa kesadaran moral dan etos para pelakunya untuk berbuat jujur dan mengatakan hal yang sebenarnya.

Sialnya negeri ini terus berkutat kepada kepentingan yang saling berbenturan (atau istilah Hamza Alavi sebagai adanya kendala struktural), hingga setiap individu pejabat saling melindungi dan di sisi lain ada yang saling membunuh. Karenanya dapat dipahami jika tokoh-tokoh beraliran “kiri” seperti Karl Marx misalnya tidak percaya kepada negara. Sudah lama Karl Marx tidak percaya bahwa negara merupakan penubuhan kepentingan seluruh rakyat untuk mengatasi kepentingan golongan tertentu. Marx yakin selama masih ada kelas-kelas dalam negara maka dominasi penguasa dan pengusaha akan mencekik rakyat.

Akibatnya ketidakadilan selalu muncul. Karenanya tidak mengherankan jika dalam demo tema-tema yang diusung tetap mengkritik politik dominasi, misalnya dengan poster “ganyang neolib” atau “pecat pejabat neolib” dan sebagainya. Gerakan seperti ini sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala sebelum kedatangan kolonial Belanda. Di Jawa rakyat yang tidak puas kepada sang raja, akan protes dengan cara berjemur di alun-alun atau “pepe”. Apalagi ketika eksploitasi kolonial Belanda berjalan pasti, protes makin keras.

Akibat Revolusi Industri, pemerintah kolonial sangat bernafsu untuk mengekspor hasil bumi dari negeri jajahannya, dan karenanya ketidakadilan muncul. Pada abad XIX gerakan mileniarisme atau Ratu Adil merebak di berbagai tempat di Pulau Jawa, seperti gerakan Cimareme (1907), Entong Gendut (1916) dan sebelumnya pemberontakan petani di Banten, gerakan Baron Skeber, dan sebagainya.

Jayabaya sudah lama mewanti-wanti: “Jika jamannya nanti, tidak akan ada lagi pertentangan, ketidakadilan dan penderitaan, rakyat akan bebas dari pembayaran pajak yang memberatkan dan wajib menjalankan kerja bakti. Tak akan ada lagi penyakit dan pencuri; sandang pangan akan melimpah; setiap orang memiliki rumah, orang akan hidup aman tenteram dan damai” (Sartono Kartodirdjo, Ratu Adil,1984).

Para JM mesti menjaga moralitas. Jangan sampai teriakannya justru berbunyi: “mengapa saya yang bukan (penguasa) maling itu? Mengapa saya mengatakan ini kepada para JM? Sederhana saja, banyak kaum muda yang semula gigih berteriak lantang soal korupsi, namun ketika masuk ke lingkaran kekuasaan, hati nurani mereka dijual murah dan tanpa malu-malu lagi mereka sering muncul di televisi seolah sebagai “bodyguard” kekuasaan yang sangat loyal.

Para JM mesti istiqomah dan diikuti oleh pemikiran bersih dan strategis dan karenanya mereka juga harus rajin berdiskusi dan membahas berbagai isu aktual maupun mengkaji hasil-hasil studi yang ilmiah guna mendasari kritik, pemikiran dan gerakan mereka. Tujuannya agar pemikiran dan garis perjuangannya terarah dan tidak asal bunyi. Jamaah Maiyah mesti paham, dalam Perang Uhud, kegagalan terjadi karena pasukan Islam yang telah menang justru rebutan pampasan perang.

Istiqomah Energi yang Dahsyat

Dari sejarah inilah, energi yang dahsyat yang harus dirawat JM adalah sikap istiqomah, yang intinya akan tetap disiplin dan konsisten menjalankan sebuah nilai kebaikan, tanpa harus berhitung kapan akan tercapai. Nilai atau sikap yang kelihatannya sederhana ini justru merupakan rahasia kekuatannya. Meski adapula bebeeapa simpul JM baru yang tanpa “ideologi” terkait latar belakang tumbuhnya mereka–misalnya masih bingung soal nama yang cocok, bentuk dan ucapan wirid yang pakem, belum jelas apa yang akan dilakukan, dan seterusnya–namun tetap menarik menghitung kekuatan energi mereka.

Banyak organisasi ghirah yang katanya Islam yang besar, justru terkungkung dalam kerangkeng AD/ART yang beku, dan hingga kini malahan tidak memiliki kemampuan untuk memetakan persoalan bangsa ini. Kalau peta saja tidak punya, bagaimana akan sampai ke tujuan dengan selamat? Mereka juga banyak dibonsai untuk kendaraan politik, proyek bisnis, sering berteriak “bright” meski tidak “right”.

Jamaah Maiyah justru hanya berbekal nilai sederhana namun penting. Kelebihan mereka adalah terus istiqomah, yang diharapkan akan berdampak terhadap peningkatan kualitas diri dan keluarganya (dandan-dandan awake dewe luwih disik–memperbaiki dirinya terlebih dahulu). Insya Allah jika diri pribadi sudah bersih, dampaknya adalah perbaikan di tingkat RT, RW, dusun, kelurahan, bangsa ini, sampai akhirnya menuju kebaikan alam semesta ini. Bukankah untuk menyapu lantai yang kotor diperlukan sapu yang bersih? Untuk memperbaiki bangsa dan alam ini harus bersih terlebih dahulu diri pribadinya ?

Karena tumbuhnya simpul-simpul JM tersebut ada yang masih bagai tanpa “ideologi” yang jelas, maka pertemuan di Kadipiro ini menjadi penting, sebagai sebuah upaya menyusun “metodologi” ilmu matang untuk memulai perlawanan Badar. Sebuah upaya untuk memulai sesuatu yang kelihatannya kecil, namun sesungguhnya ini merupakan satu prasyarat agar setiap pertemuan JM menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pertemuan Kadipiro juga hendak mencoba “memanajemen” setiap penampilan JM, mulai dari manajemen acara, reportase dan dokumentasi, sampai ke masalah yang sering dilupakan orang yakni menggarap seni. Bagi JM, seni merupakan alat yang bertujuan untuk menumbuhkan keindahan hati yang berdampak untuk menguatkan hati dan menggerakkan perasaan agar rasa cintanya kepada Allah dan rasulNya, terus terjalin.

Demikian pula, dokumentasi atau reportase, sering hanya dianggap masalah sepele, karena hanya dianggap soal catat mencatat atau sekadar foto di panggung. Orang lupa bahwa jika dokumentasi dan catatan reportase digarap serius, akan menjadi satu rangkaian catatan sejarah yang sangat penting bagi anak cucu kelak. Banyak ulama besar seperti Kiai Kholil dari Bangkalan, KH Hasyim Ashari, Ahmad Dahlan, dst, tidak begitu dikenal garis pemikirannya secara tuntas, hanya karena perjuangan beliau-beliau ini tidak tercatat dan terpetakan secara baik dan rapi. Wajar jika masyarakat atau umat hanya mengenalnya secara dangkal.

Diharapkan adanya dokumentasi yang akurat dan rapi akan membawa kepada satu “kesadaran sejarah”, baik untuk dijadikan bahan renungan, sumber ilmu pengetahuan, maupun bahan kajian dan diskusi, dst. Jika itu dilakukan, tentu akan bermuara kepada satu pemahaman nilai-nilai Islam yang utuh, yang dekat dengan Islam-nya Rasulullah. Dalam JM, dokumentasi atau reprortase harus dilakukan oleh mereka yang sudah berbekal rasa cinta kepada dunia kepenulisan, serta memiliki kecerdasan dan kepekaan, untuk mencatat kronologis serta mengambil angle-angle sudut pandang pemikiran yang penting untuk dijadikan dokumen yang sarat nilai dan ilmu pengetahuan. Dokumentasi juga tidak melulu mencatat dan memotret apa yang terhadi di atas panggung, namun juga di luar panggung juga penting, seperti yang bersifat human interest yang merupakan “dampak” dari pertemuan JM.

Hasil dokumentasi ini harus dimanajemen yang jelas, disimpan yang rapi, baik yang berupa soft copy atau hard copy, yang nantinya dikelompokkan sesuai jenis dan sifat dokumennya. Ini harus dilakukan oleh otoritas yang jelas tanggung jawabnya. Jika setiap simpul JM memiliki basis data ini, maka akan dapat di-share dengan simpul yang lain, terjalin dalam satu sistem informasi yang baik. Alangkah mahalnya nilainya jika ini dapat dilakukan di seluruh simpul JM di seluruh Indonesia. Diharapkan basis data ini akan menjadi “parangjujugan (Jawa)” atau tempat yang paling dicari bagi siapa saja yang ingin belajar nilai-nilai maiyah, nilai-nilai Islamnya Rasulullah. Dokumentasi tidak hanya mencatat yang pakem-pakem saja, namun dari angle-angle yang menarik. Misalnya tidak hanya bicara masalah dogma, ayat-ayat yang beku, namun juga bicara soal nilai- nilai kehidupan Islami, peta permasalahan bangsa dan negara di tengah-tengah simpul dunia (kapitalusme), peta kekuatan bangsa ini, dst.

Sesuai dengan asal katanya, ma’a, maiyah berarti kebersamaan, bukan kebersamaan yang hanya secara fisik belaka, namun bersama menyatu dalam hati kita. Jadi kalau kita bicara maiyah, tidak saja hanya bersama antara kita (apapun agamanya, sukunya, kelas sosialnya, dst), namun juga bersama dengan Allah sang pencipta dan Rasulullah SAW. Dimana pun kita berada, jika kita bermaiyah berarti kita bersama Allah dan Rasulullah SAW untuk melakukan perlawanan Badar dengan ilmu yang matang terhadap sesuatu yang menjauhi Allah dan Rasulullah.

Mengapa di Kadipiro juga dilokakaryakan masalah kesenian? Bukankah bagi sebagian kelompok, seni (terutama musik) di-bid’ah-kan, bahkan diharamkan? Orang tidak paham bahwa seni, misalnya musik itu hanya soal urusan bunyi, dan seni dalam arti luas hanya soal estetika atau keindahan? Bagi JM, seni justru “diwajibkan”, sejauh semuanya dimuarakan bagi rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah. Artinya seni hanya akan mengantarkan saja kepadaNya, dan bukan esensinya. Tentu saja, kalau engkau mencari kebenaran, janganlah dengan keindahan atau seni, melainkan dengan ilmu. Artinya semuanya ada porsinya masing-masing.

Anak-anak JM perlu menguasai seni karena ini alat atau metoda dan bukan tujuannya. Gamelan, gitar, piano, keyboard, biola, seruling, kendang, ecek-ecek, dst, kita bunyikan untuk meneruskan rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah dan bukan kepada penari tayub atau penari striptease. Manusia dimandati Allah untuk melakukan apa saja di dunia ini, asal jangan melakukan apa yang dilarang Allah. Tentu musik juga harus dimainkan empan papan, dan bukan untuk dicampuradukkan dengan ibadah mahdoh, misalnya adzan diiringi harpa atau siter agar terlihat syahdu misalnya.

Singkat kata, pertemuan Kadipiro merupakan satu langkah awal untuk menyambut “tanduran” yang sudah mulai bertunas ini, mulai kelihatan daunnya yang ijo royo-royo, tanaman yang akan menjadi “santapan” atau “makanan” rohani kita. Karenanya, tumbuhnya tanduran atau tanaman baru tersebut harus dimanajemen dengan baik, didangir, dipupuk, disiram, dicabuti rumput-rumput yang mengganggu di sekitarnya, dst. Tujuannya agar tanaman ini tumbuh subur.

Kita tunggu lanjutan dari pertemuan Kadipiro ini.