Titik Nadir Demokrasi

Yang sedang kita lalui sekarang ini adalah hari-hari yang sedang sangat rawan-rawannya bagi kehidupan hati nurani, akal sehat dan kemanusiaan. Hari-hari penghancur logika, penjungkir-balik rasionalitas dan peremuk kejujuran. Hari-hari di mana pengetahuan dan ilmu manusia diselubungi oleh kegelapan, atau sekurang-kurangnya keremangan. Hari-hari di mana manusia, kelompok-kelompok masyarakat, lembaga dan birokrasi sejarah, bukan saja tidak memiliki akurasi, kejernihan dan kejujuaran dalam menatap hal-hal di dalam kegelapan – tapi lebih dari itu bahkan tidak semakin bisa mereka pilahkan beda antara cahaya dan kegelapan.

Inilah hari-hari di mana kebanyakan manusia bukan hanya kehilangan alamat kemanusiaannya, alamat rohaninya, alamat moralnya, lebih dari itu juga kehilangan alamat sosialnya, alamat politik, ekonomi dan kebudayaannya. Inilah hari-hari di mana standar-standar pengetahuan bersifat terlalu cair, di mana pilar-pilar ilmu dan pandangan kabur pada dirinya sendiri, di mana kepastian hukum bersifat terlalu gampang dilunakkan dan diubah bentuk maupun substansinya sehingga juga sangat gampang kehilangan kepastiannya.

Inilah hari-hari di mana makhluk kekal yang bernama rakyat tidak dipandang sebagai Ibu dari siapapun, melainkan lebih diperlakukan sebagai anak-anak kecil, yang sangat banyak di antara mereka diperhatikan hanya sebagai anak tiri yang hampir selalu dianggap potensial untuk bodoh dan bersalah. Inilah hari-hari di mana makhluk yang bernama politik tidak lagi mengenali dirinya sebagai anak dari kedaulatan rakyat. Di mana para pelakunya melakukan perjalanan sejarah yang berpangkal tidak di kepentingan rakyat dan berujung juga tidak di kesejahteraan rakyat, tanpa kondisi itu disadari oleh subyek-subyeknya.

Para pelaku kedhaliman merasa tidak enak terhadap perasaannya sendiri, sehingga mereka berusaha menutup-nutupinya bungkus kemuliaan dan label keluruhan – sampai pada akhirnya mereka kehilangan obyektivitas dan benar-benar percaya bahwa yang mereka lakukan memang bukan kedhaliman. Para pekerja kediktatoran bisa meminta bantuan kepada para pekerja ilmu untuk meyakinkan diri mereka bahwa itu bukan kediktatoran. Para penerap monopoli, oligopoly, subyektivisme kekuasaan dan hedonism keduniaan, bisa dengan gampang membeli ‘parfum-parfum’ untuk mengubah kebusukan menjadi seakan-akan berbau harum, sampai akhirnya mereka yakin bahwa yang terpancar dari diri mereka adalah aroma-aroma harum.

Orang-orang yang paling tidak eling dengan mantap menganjurkan agar orang lain eling. Orang-orang merasa menjalankan etos waspada, padahal yang diwaspadainya adalah geliat dan kemungkinan gerak dari musuh-musuh yang mereka ciptakan sendiri: kewaspadaan bukan lagi kehati-hatian berperilaku di hadapan mata pandang Tuhan, moralitas dan nurani kemanusiaan. Adapun — siapakah yang sesungguhnya gila, edan dan sinting di zaman serba kabur dan rabun ini– tatkala hampir setiap ‘aku’ dan ‘kami’ telah sedemikian yakin bahwa ‘dia’, ‘kalian’ dan ‘mereka’ yang edan? Sedangkan para ‘dia’, para ‘kamu’, para ‘kalian’ dan ‘mereka’ adalah ‘aku’ dan ‘kami’ juga bagi diri mereka sendiri?

Inilah hari-hari di mana kejahatan memproduk kebodohan. Di mana kebodohan, yang bekerja sama dengan suatu jenis kepandaian tertentu, mendorong terciptanya kejahatan. Di mana kebodohan berdialektika dengan kejahatan untuk memproses lahir dan berkembangnya destruksi-destruksi sistemik dan structural atas bumi, nilai-nilai dan manusia.

Inilah hari-hari sarat penyakit. Hari-hari penuh penyakit di dalam diri manusia. Penyakit dalam kalbu, yang meruak pikiran, kita suburkan, bahkan kita agung-agungkan, sehingga Tuhan membengkak menjadi gumpalan-gumpalan besar – karena memang demikian sifat dan kesukaanNya.

Penyakit-penyakit dengan omset ekonomi politik yang tinggi, dengan mobolitas total di hampir seluruh wilayah penjaringan kekuasaan, dengan penekanan-penekanan konstan agar institusi-institusi informasi dan komunikasi menjadi kepanjangan tangan dari kedholiman, serta kemudian dengan peraihan sejumlah kambing-hitam yang periodik, juga dengan sejumlah sesaji zaman yang bukan hanya dilabuh melainkan juga dicacah-cacah secara kolektif dalam atmosfir hukum rimba kebudayaan.

Jalanan zaman yang sedang kita lewati sekarang ini adalah jalanan yang sedang licin-licinya, namun berserakan batu-batu terjal di sana-sini. Di tempat-tempat tertentu yang semula tidak licin, hari-hari ini ia ditaburi cairan-cairan penggelincir. Jalanan ini menggelincirkan manusia ke berbagai arah, di mana sebagian itu dirancang, direkayasa, dengan tingkat kecanggihan strategis dan taktis yang gelap di mata para pakar namun seluruh dunia tak meragukannya.

Jalanan ini licin tidak hanya bagi siapapun saja yang mendambakan dan mempertahankan tegaknya akal sehat, bagi kejujuran, bagi murninya nurani dan teguhnya prinsip-prinsip nilai: ia juga licin bagi para penguasanya. Para pelaku ketidakjujuran tergelincir untuk sedemikian khusyuk meyakini bahwa yang mereka lakukan adalah kejujuran. Orang-orang yang menghancurkan bangunan moral di dalam diri mereka sendiri, tergelincir untuk percaya bahwa yang mereka kerjakan adalah kemuliaan dan budi luhur. Orang-orang mengangkat penipu menjadi pahlawan, orang-orang yang menguburkan para pecinta kebenartan di kubur busuk, atau sekurangnya melemparinya dengan batu-batu kutukan, yang kemudian disusul oleh ribuan penguntuk lainnya yang mengutuk tanpa kegelisahan untuk bertanya apakah merteka benar-benar memahami apa yang mereka lakukan atau tidak. Orang-orang mem-blow up kilatan emas semu dan mentakhayulkannya habis-habisan dalam pesta hedonism sejati hanya karena ia terbungkus oleh kekumuhan dan kebersahajaan.

Inilah hari-hari dimana kekuasaan mustahil untuk dilawan, juga oleh para penyusun dan pelakunya sendiri. Inilah hari-hari di mana raksasa-raksasa ‘Cakil’ didoakan oleh berjuta orang agar bersegera menusuk perutnya sendiri dan memuntahkan ususnya keluar. Inilah hari-hari di mana Suyudana bukan hanya mengaku Yudhistira, melainkan yakin sepenuhnya bahwa ia memang Yudhistira. Inilah hari-hari di mana para ‘Dursasana’ menatap wajah mereka sendiri di cermin dan yang tampak adalah Bima. Inilah hari-hari di mana ‘Aswatama’ yang pengecut mendandani dirinya dengan kostum Arya Setyaki dan membusungkan dadanya karena percaya bahwa mereka sesungguhnya gagah perkasa. Inilah hari-hari di mana ‘Karna-Karna’ kecil menginterpretasikan tradisi penjilatan sebagai perwujudan hutang budi dan keabsahan nasionalisme. Inilah hari-hari di mana ‘Semar’ direformasikan dan direfungsionalisasikan dalam peran-peran yang membuat roh Semar sendiri terpingsan-pingsan karena kebinggungan.

Inilah hari-hari di mana manusia meletakkan dunia, capital, modal dan segala sumber daya di tangan kanan, sementara Tuhan, para Nabi dan Agama digenggam di tangan kiri. Tangan kanan itu mengendalikan dan menjadi pelaku pergerakan-pergerakan utama dalam sejarah, menjadi pusat Negara dan pembangunan — kemudian hanya pada saat-saat terpojok dan terancam saja genggaman tangan kiri dibuka, untuk kemudian Tuhan didayagunakan simbiol-simbolNya untuk menyelematkan diri.

Inilah hari-hari di mana manusia membangun kekuasaan dan kekayaan untuk menindas orang lain, untuk kemudian menindas kemanusiaannya sendiri. Karena kemanusiaan tidak hanya beremanyam pada rakyat, pada wong cilik, pada bawahan-bawahan, melainkan juga bertempat tinggal di badan siapapun saja meskipun ia menduduki singgasana-singgasana sejarah yang tinggi dan mewah.

Inilah hari-hari di mana konteks yang mempolarisasikan antara ‘yang berkuasa’ dengan ‘yang dikuasai’ sesungguihnya bersifat multi-dimensi, sehingga pandangan yang memiliki emphasis perhatian terhadap ‘pemerintah dan rakyat’ atau ‘militer dan sipil’ harus memperbaharui dirinya dan memperluas cakrawalanya. Karena di dalam tatanan struktur sosial dengan sistem kekuasaan politik yang sangat bersifat kulturistik: keterkuasaan atau ketertindasan tidak terletak opposisional selama ini — sebagaimana yang menjadi isyu pokok setiap pemikiran opposisional selama ini — hanya pada makhluk sejarah yang bernama rakyat, wong cilik, petani atau kaum buruh; melainkan bisa juga berlaku pada seorang prajurit, petugas kepolisian, karyawan sebuah kantor pemerintah, atau bahkanpun seorang Mayor Jendral.

Jadi inilah hari-hari di mana manusia terbumerangi oleh bangunan dan sistem-sistem kekuasaan yang ia ciptakan sendiri. Jikapun seseorang atau sekelompok orang mendiami dan menggenggam pusat kekuasaan itu sama sekali tidak menjamin bahwa ia atau mereka berkuasa atas sistem yang mereka rekayasa sendiri tersebut. Inilah yang Allah sendiri selalu memperingatkan. Manusia menganiaya dirinya sendiri.

Atau bahkan antara ‘yang berkuasa’ dengan ‘yang dikuasai’ bisa terdapat pada sekaligus wilayah ‘kaum penindas’ maupun daerah ‘kaum tertindas’. Lebih dari itu, peta keterkuasaan dan ketertindasan sudah tidak hanya beralamatkan pada geopolitik atau geoekonomi, melainkan juga yang lebih intrinsic: geopsikologi. Di dalam ruang kemanusiaan setiap orang terdapat potensi Negara, potensi militer, potensi keberkuasaan; sekaligus potensi rakyat kecil, potensi sipil, potensi ketertindasan. Sebaliknya di dalam kosmos Negara, kemanusiaan yang tertekan tidak hanya kemanusiaannya wong cilik, tapi mungkin juga kemanusiaannya seorang Jendral, seorang Bupati, dan lain sebagainya.

Inilah hari-hari kesunyian manusia dalam Negara. Manusia terasing di dalam rumah sejarahnya sendiri. Manusia menciptakan penjara-penjara politik yang pengap, penjara-penjara ekonomi yang menyesakkan dan mencambuki punggung, serta penjara-penjara kebudayaan yang wajahnya gemerlap namun membuat lubuk nuraninya lenyap ke ruang-ruang hampa. Manusia menciptakan penjara-penjara sampai akhirnya rekayasa-rekayasa untuk mempertahankan eksistensi penjara-penjara itu menjelma menjadi penjara tersendiri yang lebih dahsyat kungkungannya.

Sebagian manusia mengasingkan saudara-saudaranya sampai mereka sendiri terasing dan kesepian, serta tidak kunjung bisa menjamin bahwa jika ia melepaskan diri dari kesepian itu keadaan akan lebih baik bagi diri mereka. Manusia terasing dari produk-produk peradabannya sendiri, karena di dalam bangunan itu kemanusiaan tidak dinomersatukan, juga kemanusiaan yang terkandung di dalam diri para penguasa itu sendiri. Roda politik menggerakkan kereta sejarah ke cakrawala yang sesungguhnya tidak dikenal oleh gagasan dan filosofi awal tatkjala ilmu politik dilahirkan. Roda ekonomi dan teknologi menggulirkan zaman ke benua-benua peradaban yang di setiap ujungnya membuat rohani manusia-manusia pelakunya mereka kecele.

Sementara kebudayaan hanya sanggup menyediakan panggung-panggung joget bagi perasaan-perasaan picisan, bagi napsu-napsu permukaan yang tidak pernah mempertanyakan dirinya, serta bagi upaya-upaya katarsis kecil-kecilan dan temporal, atau kamuflase dan eskapisme yang penuh berisi omong kosong yang dibangga-banggakan. Kebudayaan kontemporer memasang gedung-gedung, panggung-panggung dan layar-layar pertunjukan serta arena ajojing yang watak dan temanya satu belaka: yakni proses pendangkalan kemanusiaan.

Inilah hari-hari di mana titik nadir demokrasi telah dicapai dengan amat sukses, sehingga budaya otoritarianisme semakin tidak bisa dikontrol, tidak saja oleh lembaga-lembaga kebenaran dan moral, tapi juga bahkan tidak terkontrol oleh diri para penguasa itu sendiri. Inilah hari-hari di mana terdapat kerjasama sejarah yang otomatik antara mereka yang berkuasa dengan mereka yang tidak berkuasa untuk – sampai batas tertentu – bersama-sama mentradisikan kepatuhan terhadap system kedhaliman yang diciptakan oleh semua pihak secara dialektis.

Inilah hari-hari di mana kita bisa dengan gambling menyaksikan terputus dan terbuntunya tugas kebenaran dunia ilmu dan kaum intelektual dari realitas kekuasaan Negara. Sehingga kenyataan-kenyataan runtuhnya akal sehat politik dan kebudayaan bukan saja semakin tidak bisa diantisipasi, melainkan terkadang malah dikukuhkan oleh lembaga-lembaga ilmu. Karena para pekerja kebenaran ilmu, para pengembara pengetahuan, beserta institusinya, sudah terlalu lama tidak berkeberatan untuk bertempat tinggal di propinsi sejarah yang tidak memiliki otonomi nilai dan independensi politik.

Inilah hari-hari di mana Agama semakin terasing dari para pelakunya. Di mana agama tidak disikapi rendah hati oleh para pelakunya, melainkan dijadikan alat untuk tidak dewasa dan pemarah. Di mana Agama tidak dijadikan samudera ilmu, melainkan dijadikan jimat-jimat beku yang disimpan, dielus-elus, namun tidak diperkenalkan kepada hakekat realitas dan tidak diterjemahkan ke dalam syariat sosial sebagaimana Agama itu sendiri menuntunnya. Di mana Agama tidak dijadikan sumur kearifan dan kolam kedamaian, melainkan dipandei menjadi pisau tajam untuk mengiris-iris ulu hati dan harga diri sebagian hamba Allah.

Inilah hari-hari di mana Agama tidak digali akurasi moral dan power (akhlaq dan sulthan)nya demi mengontrol dan membimbing perilaku kekuasaan, sehingga nilai-nilai Agama justru banyak tersisakan sisi simboliknya belaka yang dipresentasikan justru pada fungsi legalisasi dan legitimasinya terhadap perilaku kekuasaan belaka.

Inilah hari-hari semakin tidak berdayanya kaum seniman dan pekerja kebudayaan terhadap proses dekulturasi budaya kekuasaan, sehingga mereka sendiri mengalami stress kekaburan diri, degradasi integritas sosial serta hanya terpukau pada khayal-khayal subyektif. Inilah hari-hari ini di mana kantong-kantong kreativitas dan kemerdekaan mencipta tidak memiliki geografi konkret, dan hanya terdapat di kandungan hati dan mentalitas masing-masing seniman dan pekerja kebudayaan.

Inilah hari-hari di mana dua sayap tugas kaum seniman dan pejalan kebudayaan tiba pada titik mutu terendahnya. Pertama tugas kreativitas kesenian yang semakin tidak mengenali seberapa luas cakrawalanya, seberapa tingkat eksplorasi tematik dan fungsi sosial yang semestinya bisa dijangkau. Kedua tugas para seniman sebagai warga suatu system Negara, untuk mengamankan propinsi kreativitasnya serta wilayah kemerdekaan seluruh rakyat yang menjadi Ibu kebudayaannya — melaui jaringan perjuangan hukum dan politik — dan bukan hanya melalui himbauan serta tradisi mengemis kemerdekaan.

Inilah hari-hari semakin tidak jernihnya mata pandang lembaga-lembaga informasi dan komunikasi. Para kuli tinta tidak sempat merenung dan harus berlari cepat dalam keasyikan budaya oplag yang tidak cukup sempat mengontrol diri dengan (karena semakin tipisnya) tradisi kejernian ilmiah, serta oleh skala prioritas moral dalam politik keredaksiannya. Para jurnalis tidak punya waktu, stamina mental dan kelapangan jiwa untuk selalu mempersegar kembali standar-standar persepsinya terhadap realitas hidup, terhadap ukuran-ukuran kualitas makhluk manusia, terhadap skala moral dan kebenaran nilai-nilai.

Inilah hari-hari di mana jaringan para pelaku budaya tanding, di mana network kekuatan-kekuatan opposisional dalam sejarah, di mana segmen-segmen gerakan demokratisasi tidak kunjung sanggup menyembuhkan penyakit atau mengurangi kelemahan di dalam diri mereka sendiri. Di mana bukan saja tak kunjung tercapai jaringan kerjasama yang kondusif dan komplementer simbiose mutualistic) untuk memproses perbaikan-perbaikan sejarah, melainkan terkadang malah melarihkan langkah-langkah yang counter-productive. Di mana skala prioritas perjuangan tak kunjung disepakati, di mana psikologisme dan egoism antar kelompok tak kunjung bisa disirnakan, serta di mana langkah-langkah strategis dan taktis tak kunjung dititik-temukan. Di mana ‘pasukan’ demokratisasi masih banyak dipenuhi oleh ideological inter prejudice, oleh lack of trust serta oleh terpuruknya jaringan itu pada masalah-masalah yang sesungguhnya tidak prinsipal.

Inilah hari-hari di mana Allah menganugerahimu kesunyian. Di mana Allah mengujimu dengan hal-hal yang — karena belum tersentuh sungguh-sungguh oleh tangan kejuanganmu — terasa sebagai duka dan kepiluan. Inilah hari-hari di mana kegelapan mengepung demi memberimu ilham tentang cahaya. Di mana keedanan memuncak untuk menawarkan kepadamu kewarasan. Di mana kebuntuan-kebuntuan menabrakmu dan mengundangmu untuk menjebolnya.

Yogyakarta, 21 april April 1995, 10.30 WIB
Pidato Kebudayaan Emha Ainun Nadjib, 21 April 1995, Benteng Vredeburg Yogyakarta