Surat Kepada Manusia

Allah telah berkirim surat kepada manusia.

Surat-surat itu diberikan oleh Allah kepada malaikat bernama Jibril untuk dibawanya kepada manusia bernama Muhammad. Oleh Muhammad, surat-surat itupun harus disampaikannya pula kepada sesama manusia. Sehingga Muhammad niscaya menjadi utusan Allah bagi seluruh manusia lainnya. Manusia, mahluk yang oleh Allah dijadikan sebagai khalifah-Nya bagi bumi.

Akan tetapi, telah lebih dari tiga belas abad lamanya Muhamad wafat. Begitu pula manusia-manusia yang pernah menjumpainya. Sekarang, bagaimanakah nasib surat-surat Allah yang dulu telah seluruhnya disampaikan oleh Muhammad itu?

Tidak mungkin surat-surat itu hilang walau sekedar satu huruf. Karena, adanya kehilangan, meski sesedikit apapun, dengan sendirinya membuktikan bahwa surat-surat itu pasti bukan dari Allah.

Mustahil bagi Allah untuk tertelikung. Lagi pula, bukan Allah tentunya, kalau tidak bisa memastikan surat-surat-Nya sampai ke tujuan. Begitu juga, bilamana Muhammad tidak sempurna dalam menyampaikan surat-surat itu, maka adanya kekurangan pada Muhammad hakikatnya adalah kegagalan Allah juga. Dan, bagaimana mungkin, Allah gagal? Bukankah hal itu hanya akan membantah eksistensi-Nya sendiri, Allah, Yang Diper-Tuhan bagi seru sekalian alam.

Akan tetapi, siapa orang yang kemudian terus menyampaikan surat-surat Allah setelah Muhammad wafat? Siapakah orang yang memiliki kemampuan untuk menyambung, menyuarakan, dan menerangkan surat-surat itu kepada semesta manusia?

Adakah diantara sahabat-sahabat Muhammad yang memiliki pemahaman begitu sempurna sehingga ia dapat menyerap keseluruhan surat-surat Allah, sehingga apabila Muhammad wafat, maka surat-surat Allah tidak serta-merta ikut terkubur bersama Muhammad.

Bukankah sebuah hal yang mustahil bagi pemilik surat, yang adalah Allah, terhalangi untuk memastikan ketersampaian surat-surat itu kepada tujuannya. Tidak mungkin surat-surat Allah itu dapat hilang, atau hanya tinggal sebagian saja akibat terkikis dari satu penyampai ke penyampai lain, misalnya.

Walaupun surat-surat itu telah beredar selama lebih dari satu millennium, dan menyebar ke berbagai suku bangsa yang memiliki beda-beda bahasa dan tradisi, tentunya tetap tidak soal bagi Allah dalam menjaga ketersampaiannya. Karena Allah adalah Allah. Segala kekuatan adalah dibawah kuasa-Nya. Ia Maha Mengetahui. Ia Maha Perkasa. Ia Maha Melindungi.

Sudah pasti surat-surat Allah itu akan terus ada, tetap lengkap huruf per hurufnya, berikut bunyi dan makna-makna yang dikandungnya. Pun, adanya orang-orang yang tetap menyampaikan surat-surat Allah itu, dari generasi ke generasi, sampai ke ujung esok nanti, juga merupakan suatu keniscayaan yang garansinya tidak lain adalah eksistensi Allah sendiri. Allah Yang Maha Mengasihi, Maha Menyayangi. Dan Ia tidak sekalipun merasa capek atau berat dalam memelihara seisi langit dan bumi yang tidak lain adalah ciptaan-Nya sendiri.

Syahdan, surat-surat teramat penting bagi manusia yang dibuat dan disampaikan sendiri oleh Allah kepada Jibril untuk dibawakan kepada Muhammad, tentunya sudah purna ditunjukkan, dijelaskan, dan dipraktekkan oleh Muhammad kepada sahabat-sahabatnya. Dan, sebagaimana yang diterimanya dari Muhammad, sahabat itu pun akan membacakan, menerangkan dan mempraktekkannya kepada manusia-manusia lain sebagaimana yang telah diimlakan oleh Muhammad.

Demikian seterusnya. Dari sahabat ke sahabat, dari penjaga ke penjaga, tidak ada satu pun huruf dan lafal dari surat-surat itu yang berubah bentuknya. Tidak pula ada makna-makna yang berkurang ataupun bergeser dari setiap tempat dan kedudukannya. Semenjak dikirimkan oleh Allah, keutuhan surat-surat itu tentunya senantiasa terjamin untuk ada, selamanya.

Namun, sesudah air mengalir begitu jauh dari mata airnya, tertangkapkah kesucian surat-surat itu oleh kita kini?

Adakah kesadaran kita beruntung dapat menemui sang sahabat dari sahabat-sahabat Muhammad? Sahabat, penerus yang terus membawakan surat-surat Allah, yang tidak putus tali-temali ahlak serta kecerdasannya dengan Muhammad, sumber paling jernih tempat dimana kemuliaan tak terbatas pertama kali diturunkan.

Adakah, meski seorang saja diantara sahabat itu, hidup bertatap muka dan berkeseharian dengan kita sekarang?

Jakarta, 22 Juli 2012.
Saya dedikasikan tulisan ini bagi panitia-panitia Nuzulul Qur’an.