Sekaten: Harmoni Budaya, Ekonomi, dan Religi

Sekaten atau apapun ekspresi yang kita gunakan untuk menunjukkan cinta kita kepada Rasulullah semoga menjadi sebab kita memperoleh syafaat.

Acara pengajian di pelataran Masjid Gede Kauman Yogyakarta pada 26 Januari 2012 malam yang lalu mengemas tema “Harmoni Budaya, Ekonomi, dan Religi”. Kegiatan itu diselenggarakan untuk ikut mangayubagyo menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sejak zaman dahulu di Keraton-Keraton di Jawa selalu diperingati dengan penyelenggaraan “Sekaten”. Menurut beberapa keterangan sejarah maupun para ahli yang mempelajari soal-soal kebudayaan, asal kata “Sekaten” bermula dari kata “syahadatain”, namun pada lidah orang-orang Jawa, kata tersebut lama-kelamaan melebur dan meluluh menjadi “Sekaten”. Mungkin agak sama kasusnya dengan yang terjadi di kampung-kampung padusunan yang mengucap kata Alhamdulillah menjadi “kandulilah”, Bismillah menjadi “Semĕlah”, Allahumma shalli ‘alaa sayyidina wa ‘alaa ‘aliy Muhammad menjadi “Holomo saingolo saidino wo ngolo ngali mukamad”. Saya tahu bahwa anda juga pasti setuju kalau hal ini bukan pemelintiran kata tapi lebih kepada sifat yang natural dari karakteristik dan cara pengungkapan bahasa yang dilakukan oleh manusia-manuisa Jawa terutama oleh mbah-mbah kita pada masa lalu.

Pengajian malam itu menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng untuk memberi pemaknaan terhadap momentum perayaan Sekaten. “Sudah pasti telah sejak lama pengajian seperti ini diselenggarakan pada acara Sekaten. Hal ini merupakan sebuah penegasan bahwa sebenarnya Sekaten itu bentuk ajur-ajer (kemenyatuan/persenyawaan dsb) antara budaya, ekonomi, dan agama”, demikian Cak Nun mengawali uraiannya. Beberapa saat setelah naik panggung, Cak Nun langsung berusaha membuat pemetaan dan mengidentifikasi beberapa persoalan penting yang sedang kita hadapi saat ini di antaranya yaitu bagaimana membangun dan memahami pola hubungan antara ketiga hal yang menjadi muatan penting pada mekanisme kehidupan dalam masyarakat. Ketiga hal itu adalah budaya, agama, dan ekonomi. Kemudian pada skala yang lebih luas Beliau mengajak hadirin untuk menemukan relasi/koneksitas antara negara dan budaya, negara dan ekonomi, atau antara negara, budaya, dan ekonomi.

Peristiwa Sekaten menjadi contoh yang relevan dan kontekstual untuk menguraikan persoalan itu, terlebih lagi peristiwa Sekaten ini diselenggarakan di Yogyakarta yang hingga kini sedang menghadapi polemik mengenai status keistimewaan dengan pemerintah pusat.

“Kalau ngomong mengenai Indonesia, maka kita tidak akan bisa kalau belum tahu apa yang telah dilakukan oleh Alm. Sri Sultan Hamengkubuwobo IX. Beliau telah memberi begitu banyak kontribusi terhadap proses tegak dan berdirinya Republik Indonesia. Tidak hanya kontribusi pemikiran namun juga kontribusi dalam hal-hal yang berkaitan dengan fisik yang menyangkut penyediaan sarana dan prasarana serta alat-alat kelengkapan untuk berdirinya sebuah pemerintahan negara. Maka Indonesia itu sesungguhnya berhutang pada Yogyakarta”, demikian urai Cak Nun.

Melalui beberapa penyimakan terhadap berbagai kenyataan sosial, politik maupun budaya yang ada, Cak Nun berpendapat bahwa Yogyakarta itu lebih siap untuk menciptakan miniaturnya Indonesia. Kemudian Beliau menjelaskan bahwa (seharusnya) berdirinya NKRI itu disangga oleh 5 pilar, yaitu :

  1. Rakyat
  2. Tentara
  3. Kaum intelektual dan para ahli/para winasis
  4. Keraton, dan
  5. Para agamawan serta spiritualis

Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, tentara sebagai pelindung dan penjaga kedaulatan rakyat, para winasis atau kaum intelektual dan para ahli serta kaum terpelajar sebagai think thank-nya negara sebab orang-orang ini yang semestinya menduduki tempat-tempat dan posisi-posisi di bidang politik dan pemerintahan, lalu Keraton sebagai pusat penyokong lestarinya budaya dan para agamawan atau kaum spiritualis yang diperlukan untuk penjaga gawang nilai-nilai moral manusia/rakyat.

“Nah, selama ini Indonesia tidak menghitung unsur yang keempat. Indonesia tidak mengambil sikap sebagaimana yang dilakukan oleh Spanyol, Inggris, Belanda, Brunei, dan beberapa negara lainnya yang mendirikan negara dengan transformasi dari akar kebudayaan mereka melalui kebijaksanaan yang terdapat pada keraton”, demikian lanjut Cak Nun.

Selanjutnya Cak Nun mengambil contoh tata ruang keraton untuk menjelaskan hal tersebut. Penataan ruang yang dilakukan oleh keraton pada masa lalu itu sesungguhnya merupakan sebuah konsep yang mencakup dimensi sosial, budaya, dan politik, yaitu melalui analogi pasar — keraton — masjid.

“Coba anda perhatikan tata letak antara ketiga tempat itu berikut jarak antara ketiganya. Keraton itu simbol pemerintah, pasar sebagai simbol ekonomi, dan masjid mewakili dimensi religiusitas. (Dalam kesempatan lain, Cak Nun juga menyertakan posisi penjara di antara ketiga tempat tersebut). Ketiga tempat itu dibangun dan ditata sedemikian rupa untuk menciptakan keseimbangan berdasarkan kesadarannya terhadap kasunyatan alam manusia di hadapan harmoni semesta. Keraton menghadap ke utara itu simetris dengan dengan struktur galaksi, itulah sebabnya kemudian keraton Jawa mengenal konsep Hamengkubuwono. Tapi sejauh ini kita meremehkan wisdom dan teknologi mbah-mbah kita itu karena menganggapnya sebagai hal yang tidak ilmiah dan irrasional, padahal hal-hal tersebut kini sedang dipelajari secara intensif oleh orang-orang Amerika dan Eropa.”, sambung Cak Nun.

Kebiasaan yang selama ini berlangsung ditengah-tengah kehidupan berbangsa kita dalam setiap aspek kehidupan adalah kecenderungan menabrak-nabrakkan, men-tidak-kan, dan seringkali mempersalahsangkai pihak lain dengan penilaian yang grusa-grusu dan sepihak. Bisa kita ambil contoh misalnya terhadap adanya NU, Muhammadiyah, Syi’ah maupun Sunni. Sikap yang harus dikedepankan adalah dengan terus-menerus melakukan tabayyun terhadap seluruh fenomena keragaman itu. “NU dan Muhammadiyah lahir dengan niat baik ingin ndandani (memperbaiki) Indonesia, begitu juga dengan Sunni dan Syi’ah, maka mari kita ndandani Indonesia dengan terlebih dahulu ndandani cara berpikir dan sikap kita”, imbuh Cak Nun.

Setelah mencermati berbagai macam faktor tersebut, Cak Nun kemudian meneruskan bahwa dari pemahaman terhadap budaya tersebut, nantinya kita akan tahu bahwa kita sebenarnya sangat mampu untuk “mangku buwono” (mengelola alam) karena orang Jawa itu punya kemampuan yang luar biasa untuk “ngingu uripe” (menghidupi/kan hidupnya) yang ditopang dari tingkat kearifannya yang luar biasa.

Melebar ke soal penyelenggaraan Sekaten, Cak Nun menambahkan bahwa kebiasaan ini merupakan salah satu bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah. “Kita adalah masyarakat satu-satunya yang mempunyai cara paling luar biasa untuk mengungkapkan cinta kita kepada Rasulullah, yakni dengan memperingati hari kelahirannya selama sebulan penuh”, jelas Cak Nun selanjutnya. “Sekaten atau apapun ekspresi yang kita gunakan untuk menunjukkan cinta kita kepada Rasulullah semoga menjadi sebab kita memperoleh syafa’at Beliau”, kata Cak Nun. ” Syafa’at itu hak tawar atau daya negosiasi yang dimiliki Rasulullah sebagai kekasihnya Allah”, lanjut beliau.

Pada momentum peringatan Sekaten di Yogyakarta tahun ini, Cak Nun juga menyinggung berbagai pemberitaan yang menyangkut peristiwa tahun 2012 yang ramai dibicarakan orang. Dalam pandangan Cak Nun, meskipun semua orang membuat simulasi pemikiran dan ramalan mengenai tahun 2012 tapi yang pasti Allah bebas membuat keputusan. “Tapi bulan tepenting adalah bulan Maret, maka mulai malam ini kondisikan dan buatlah hati dan fikiran serta perilaku kamu sekalian dipenuhi oleh segala yang baik dan menghindari keburukan. Ini bulan “wingit”, bulan penting karena semua perhatian ilmu tradisional, modern, Nostradamus, Maya-Inka, China, Jawa dan lain-lainnya, semua berkisar tentang 2012,” terang Cak Nun. “Maka semoga keikhlasan dan ke-suwung-an hati anda semua membuat Allah menambah segala kebaikan dalam hidup anda sehingga anda bisa menemukan kebahagiaan ditempat-tempat yang selama ini tidak kita sangka ada kebaikan di situ. “Semoga dengan semakin baik kita kepada Gusti Allah, akan semakin tinggi kebaikan yang kita dapatkan”, pungkasnya.

(CN lalu mengajak hadirin untuk melantunkan “Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashiir” yang diiringi oleh KiaiKanjeng).

Sesi selanjutnya Cak Nun meminta para tamu dari “lingkar dalam” Keraton Yogyakarta dan beberapa tamu lain agar naik ke panggung. Malam itu yang hadir diantaranya adalah Gusti Prabu, mantan petinggi salah satu partai yang saat ini sedang menyunggi mahkota kekuasaan, Gusti Joyo, Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Kejari Yogyakarta serta beberapa kepala dinas dan instansi pemerintah kota Yogyakarta. Seperti biasanya Cak Nun dan KiaiKanjeng selalu memanfatkan momentum seperti ini sebagai forum komunikasi sosial. Kesempatan itu dipergunakan oleh Cak Nun untuk memfasilitasi para pemimpin politik, pemimpin sosial, orang-orang winasis dari lintas disiplin ilmu dan orang-orang yang mempunyai kapasitas penting terhadap proses gerak dinamika yang berlangsung dalam masyarakat untuk saling berkomunikasi secara langsung.

Malam itu Gusti Prabu mendapat giliran pertama untuk berbicara. Mantan petinggi partai yang sedang berkuasa di Indonesia ini bercerita sedikit mengenai kronologi menjelang kemerdekaan RI pada waktu lampau. Beliau bercerita bahwa pada masa itu ketika Soekarno berteriak “Indonesia merdeka…!”, kemudian Belanda bertanya, “memangnya wilayahmu yang kau anggap sebagai Indonesia itu mana?” Atas pertanyaan Belanda tersebut Soekarno kebingungan juga karena pada masa itu memang belum ada kepastian yuridis atau setidaknya konsensus politik yang menjadi patokan menyangkut batas-batas politis, geografis, ekonomi maupun budaya yang masuk ke dalam bagian Republik Indonesia. Di kemudian hari, Ingkang Sinuwun Hamengkubuwono IX lah yang pertama kali mengakui (mengikhlaskan, pen.) bahwa Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Pada kesempatan malam itu Gusti Prabu juga menyampaikan rasa kekecewaannya yang mendalam kepada pemerintah yang sedang berkuasa sekarang sebab telah bertindak lebih kejam melebihi tindakan dan sikap VOC pada jaman dulu. “VOC saja melalui perjanjian Giyanti mengakui kedaulatan dan keistimewaan Yogyakarta tapi pemerintah yang sekarang ini malah akan menghapusnya,” kata Gusti Prabu. Karena sikap pemerintah yang demikian itulah Beliau memilih untuk keluar dari keanggotaannya sebagai salah satu anggota partai yang berkuasa sekarang di Indonesia. Lebih lanjut bahkan Beliau menandaskan telah “mentalak 7” partai itu. Gusti Prabu juga mengaku masih memiliki bukti rekaman pernyataan/pidato seorang yang kini menjadi ‘orang penting’ di Indonesia ketika masa kampanye dahulu.

Menanggapi seluruh paparan yang disampaikan oleh Gusti Prabu, Cak Nun kemudian menandaskan bahwa kelemahan reformasi adalah menghasilkan sikap negatif terhadap semua bidang kehidupan, yaitu men-tidak-kan yang sudah ada tapi berdasarkan karepe dhewe-dhewe ( kemauannya sendiri-sendiri). Reformasi yang telah terjadi di Indonesia ini menurut Cak Nun adalah reformasi yang terjadi tanpa sopir, tanpa kapten dan tanpa pemimpin. Inilah yang kemudian membuat begitu banyak hal jadi compang-camping dan mencapai titik kesemrawutan yang luar biasa.

Selanjutnya giliran Gusti Joyo mendapat kesempatan berbicara menyambung Gusti Prabu diawal tadi. Gusti Joyo menegaskan kepada semua orang yang hadir malam itu bahwa prinsip peggabungan antara Kasultanan dan Pakualaman adalah bukan untuk kepentingan diri sendiri tapi untuk mengangkat harkat dan martabat seluruh rakyat Jogjakarta. Menyambung soal pilihan penggabungan itu, Gusti Joyo kemudian menguraikan “pesan-pesan” simbolik dalam sistem tata kelola dan prinsip arsitektural masjid yang dibangun oleh keraton.

Menurut Gusti Joyo, berdasarkan apa yang bisa kita pelajari dari bangunan masjid di keraton, kita akan memahami bahwa masjid Jawa itu tetap menghadap ke timur tetapi arah sholatnya tetap menghadap kiblat. Gusti Joyo menambahkan bahwa masjid adalah perangkat manusia untuk menyongsong matahari kehidupan. Secara artikulatif, Gusti Joyo menghitung bahwa fungsi dan peran masjid itu secara umum ada 4, yaitu: sarana ibadah, syiar/dakwah, sarana pendidikan, dan kemashlahatan umat. Pandangan atau prinsip tersebut sejalan dengan konsep mrajupat dalam khasanah kejawaan. Dalam bahasa yang sederhana, mrajupat adalah mensinergikan 4 faktor/4 anasir/4 unsur dan sebagainya untuk hanya ditujukan pada satu fokus pencapaian. Relevansinya dengan hal itu, menurut Gusti Joyo, 4 fungsi masjid tersebut harus dilakukan dan diupayakan dalam kerangka menuju pengabdian yang hakiki kepada Tuhan.

Mrajupat bagi orang Jawa dilakukan semata-mata agar seseorang mampu mencapai derajat sebagai insan kamil, yaitu mereka yang mempunyai “senjata” tapi tidak untuk membunuh melainkan untuk mengendalikan nafsu. Kalau seseorang sudah sanggup mencapai derajat insal kamil, ia dengan demikian layak untuk disebut sebagai wong linuwih, yakni orang yang kemanapun ia pergi, kemanapun ia singgah dan dimanapun ia berada, ia akan selalu memancarkan kebaikan, manfaat, dan keindahan untuk banyak orang (mukmin?).

Merespons paparan Gusti Joyo, Cak Nun menambahkan bahwa beda arsitek modern dan arsitek tradisi adalah arsitek modern “ora gocekan arah” (tidak sadar ruang/koordinat titik pijak, pen.) sehingga arsitek modern pencapaiannya rendah dan hanya ketoke apik (kelihatannya saja bagus). Kalau arsitek tradisi, ia mengandung konsep tentang teosofi, filosofi, dan kosmologi sekaligus. Anda bisa mendata satu persatu dari sekian banyak keadaan untuk menemukan kebenaran tentang hal ini. Di samping bangunan masjid di keraton, rumah joglo, tata letak pasar, pola ruang rumah dan sebagainya. “Maka dari itu kita harus belajar kembali kepada teosofi, filosifi dan kosmologi tradisi”, demikian jelas Cak Nun.

Mengenai sedulur papat limo pancer, Cak Nun memperjelas konsep tersebut melalui cara pandang yang lain. Menurut Beliau, kita harus memperjelas hubungan kita dengan pihak-pihak di dalam diri kita maupun yang di luar diri kita terlebih dahulu. Dalam skala mikro Cak Nun mencontohkan melalui terminologi kakang kawah, adi ari-ari, pusar dan air ketuban. Pemahaman terhadap genuisitas dan kosmologi sedulur papat limo pancer akan membuat kita sadar dan terang melihat diri sendiri. “Kalau kita tidak tahu ini (sedulur papat limo pancer), kita seperti hidup di awang-uwung yang tidak punya kesadaran apa-apa terhadap hidup kita. Konsep ini kalau dalam Islam namanya konsep 4 malaikat, yaitu : segala yang batin atau menyangkut ilmu itulah yang dinamakan kakang kawah — Jibriliyah, kemudian yang berkaitan dengan maintenance/pemeliharaan itu adi ari-ari — Mikailiyah, sementara itu pusarlah yang berperan sebagai pusar — israfiliyah, dan yang kemudian adalah air ketuban — Izro’iliyah“, ujar Cak Nun menandaskan.

Selain kedua tokoh dari keluarga Keraton Yogyakarta itu, ikut berbicara pula pada malam itu Pak Haryadi yang sekaligus Walikota Kota Yogyakarta dan Kejari Jogjakarta. Pak Walikota menandaskan urgensitas pelaksanaan Sekaten dalam kaitannya dengan aspek kehidupan lain dalam kehidupan masyrakat kota Yogyakarta. Acara budaya seperti Sekaten inu menurut Pak Walikota seharusnya tidak berhenti pada kegiatan budaya saja tapi bagaimana kegiatan budaya ini memberi nilai lebih pada bidang lain seperti bidang ekonomi dan bidang politik yang keterlaluan.

Sedangkan Kejari Yogyakarta mengajak para hadirin mencermati teks pembukaan UUD ’45 untuk mengetahui bahwa sejatinya apa yang dilakukan Presiden Soekarno ketika itu baru sampai “di depan pintu gerbang kemerdekaan”. Jadi kita belum memasukinya, bukan? Pak Kejari lalu nitip kepada Cak Nun, agar kegiatan ini diselenggarakan lebih besar lagi sehingga Cak Nun bisa mengajak sebanyak-banyak orang di tempat kita untuk lebih keras bekerja dan lebih keras bekerja melakukan hal-hal yang baik.

Cak Nun menyambung kemudian dengan pertanyaan: “Kapan Indonesia berdiri? Kapan? 17 Agustus 1945?”, ulang Cak Nun. Menurut pandangan Cak Nun tanggal 17 Agustus 2011 itu secara esensial adalah baru hari perceraian bagi orang Jepang. Nah, hari perceraian dengan Jepang dengan begitu tidak otomatis sama dengan mendirikan rumah tangga. “lho… lalu kapan kita medeka?”

Pada bagian akhir acara malam itu, Cak Nun menjelaskan bahwa ide mengenai harmoni budaya, tradisi, dan religi sudah trep dengan ide awal penyelenggaraan Sekaten. Hanya saja permasalahannya adalah bahwa orang modern menganggap aktivitas ekonomi itu tidak ada hubungannya dengan aktivitas agama maupun aktivitas budaya. Untuk lebih memperjelas hal ini Cak Nun kemudian memaparkan tentang Islam Mekah (ibadah mahdhoh) dan Islam Madinah (ibadah muamalah) yaitu bahwa ternyata seluruh term yang terkandung dalam tatacara beragama adalah sekaligus merupakan aktivitas yang integrated, agama tidak hanya berkutat pada seremonial yang beku namun juga merupakan sebuah gerak yang dinamis yang saling berhubungan satu dengan yang lain.

Menjelang tengah malam acara bersama CNKK itu dipuncaki dengan tembang Tombo Ati, dan selanjutnya ditutup dengan lagu Kemesraan yang dinyanyikan bersama-sama oleh semua yang hadir.