Seabad Hamengkubuwono IX

Jumeneng Ratu itu tidak melihat sesuatu secara hitam-putih, itulah yang dilakukan Hamengkubuwono IX secara besar-besaran pada masa lalu.

Peringatan seabad Hamengkubuwono IX beberapa hari yang lalu (12 April 2012) menyiratkan pesan bahwa masyarakat sedang benar-benar merindukan sosok seorang pemimpin yang serius memegang tanggung jawab yang diembannya. Kalau membicarakan kedudukan raja, kebanyakan orang sekarang akan dengan sangat mudah menghubungkannya dengan feodalisme. Tetapi jika kita sedikit saja melacak sejarah hidup Hamengkubuwono IX maka kita akan sampai pada pengertian bahwa secara substantif, Beliau bukan sekedar seorang raja, bukan berhenti pada predikat ulil amri namun Beliau juga memiliki kapasitas sebagai ulama. Sebagaimana Imam Ali pernah mengatakan “untuk melihat seseorang itu ulama atau bukan, lihatlah apa yang ditinggalkan”.

Jum’at malam itu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng ikut hadir di pagelaran Keraton Yogyakarta untuk ikut mangayubagyo peringatan seabad HB IX. Sebelumnya, sejak pagi telah tampil berbagai macam sajian seni dan budaya di pagelaran Keraton Yogyakarta. Beberapa saat setelah melewati pukul 10 malam, KiaiKanjeng mendapat giliran naik ke panggung dan langsung membawakan sajian medley lagu-lagu nusantara yang dikemas melalui aransemen musik yang memadukan nuansa diatonik-pentatonik yang memikat. Sajian musik pembuka dari Kiaikanjeng sangat efektif “menghipnotis” para pengunjung yang memenuhi halaman pagelaran Keraton Yogyakarta malam itu ke dalam sebuah kohesi dan keintiman batiniah setelah setiap hari di ceraiberaikan oleh begitu banyak problematika dan abrasi kemanusiaan.

Selesai lantunan tembang-tembang KiaiKanjeng, Cak Nun segera memulai pembicaraan. “Kalau Anda masuk Keraton, Anda harus siap untuk belajar. Nah, Siapkah Anda belajar malam ini?,” tanya Cak Nun mengawali acara. Pada kesempatan malam itu, Cak Nun terlebih dahulu mengajak seluruh hadirin untuk membaca Al-Fatihah bagi HB IX.

Perihal pertama yang disampaikan oleh Cak Nun adalah menegaskan mengenai kedudukan antara keraton dan istana negara. Membandingkan kedua hal tersebut, Cak Nun menuturkan bahwa keraton Jogja sangat berbeda dengan istana negara. “Keraton punya konsep tentang manusia, alam, dan Tuhan. Sementara istana negara tidak memiliki itu semua. Keraton mengandung ajaran nilai-nilai yang jelas konsepsinya yakni mamayu hayuning buwana (memelihara dan menjaga hidupnya/keberlangsungan alam semesta), sedangkan negara tidak,” tutur Cak Nun.

Cak Nun menandaskan bahwa tidak mungkin keraton mendirikan sesuatu atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan alam. “Bahwa kita selalu mempertimbangkan keserasian dengan alam ketika mendirikan sesuatu,” ungkap Cak Nun. Menjelaskan pernyataan ini, Cak Nun menyebutkan tata letak antara gunung Merapi — Keraton — Laut Selatan yang memang sengaja diposisikan segaris. Untuk lebih mempertegas mengenai konsepsi keraton tersebut, Cak Nun kembali menguraikan lebih lanjut dengan menelaah tahap-tahap perjalanan menuju istana, yakni dari Margoutama — Malioboro — Margomulyo — Pangurakan.

Bahwa untuk sampai ke istana terlebih dahulu harus melewati “jalan keutamaan”, yaitu sebuah jalan di mana seorang manusia harus “ngerti paugeran” (mengerti peraturan/hukum dsb), tahu pagar (batas-batas), mengerti baik-buruk dan sebagainya agar kemudian manusia meraih keutamaan. Selesai melalui Margautama, manusia masuk ke Jalan Malioboro. Seorang manusia utama saja tidak cukup, ia harus melalui Jalan Malioboro terlebih dahulu. Manusia utama harus mengambil peran sebagai seorang “wali” yang bertebaran kemanapun untuk mewakili kasih sayang Tuhan kepada banyak manusia. Kalau Jalan Malioboro telah terlewati, maka seorang manusia akan memasuki Jalan Kemuliaan/Margomulyo. “Mulia/mulyo itu kalau dalam bahasa Arab adalah Karomah. Siapapun dia yang setelah menjadi manusia utama lalu menjadi wakilnya Tuhan untuk menebarkan kasih sayang di dunia, maka kemudian manusia itu akan masuk pada level mulia (karim). Kemudian, ketika manusia hampir purna sebagai insan kamil dan masuk ke istana, justru semua yang ia peroleh, apa-apa yang melekat pada dirinya itu harus dibersihkan. “Inilah yang menyebabkan sehingga jalan dari kantor pos besar hingga ke depan pagelaran Keraton ini namanya Jalan Pangurakan,” demikian jelas Cak Nun.

Dalam kaitannya dengan peringatan seabad HB IX ini, Cak Nun merefleksikan bahwa seluruh yang ada dalam sejarah panjang eksistensi Keraton Yogyakarta menggambarkan pengetahuan Yogya tentang Sangkan Paran. “Kalau sudah Jumeneng Ratu itu sudah tidak melihat sesuatu secara hitam-putih, itulah yang dilakukan Hamengkubuwono IX secara besar-besaran pada masa lalu”. Menggaris bawahi hal ini, Cak Nun mengajak hadirin untuk mengingat apa yang telah dilakukan oleh Hamengkubuwono, baik sebagai raja maupun dalam kapasitasnya sebagai manusia. Dengan mengambil contoh dari apa yang telah dilakukan HB IX terhadap berlangsungnya pendidikan tinggi UGM di masa-masa awal berdirinnya dahulu dan keputusan Beliau untuk mau bergabung di bawah Republik Indonesia. “Maka adanya Indonesia itu karena digendong oleh Jogja. Jadi istimewanya Jogja bukan karena Indonesia, sehingga ada tidaknya Indonesia, Jogja tetap istimewa.”, urai Cak Nun menjelaskan.

Pada kesempatan malam itu, Gusti Joyo yang menyempatkan diri hadir dipersilahkan oleh Cak Nun untuk ikut berbicara. Dalam momentum mengenang seabad HB IX ini, Gusti Joyo mengingatkan kepada masyarakat Jogja pada umumnya agar senantiasa melakukan penggalian-penggalian nilai dan kepribadian yang telah dimiliki oleh Hamengkubuwono IX.

Menambahkan apa yang telah disampaikan oleh Gusti Joyo, Cak Nun mengajak hadirin untuk mengambil ilmu dari “asma” atau nama dan gelar yang disandang raja keraton Yogyakarta. Jejuluk Raja Keraton Yogyakarta adalah Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono Ngabdurrahman Sayyidin Panetep Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Perhatikan, kita ambil salah satunya saja, misalnya kata “Ngabdurrahman” (Abdurrahman). Sengaja dipilih sifat “rahman” itu karena adanya kesadaran nilai bahwa manusia itu harus mengabdi kepada orang banyak dahulu sebelum mengabdi kepada diri sendiri (Ngabdurrahiim)“, terang Cak Nun (pengetahuan tentang “rahman” dan “rahiim” diambil Cak Nun dengan menganalogi kalimat Basmalah, “Bismillahirrahmanirrahiim”).

Menyambung kemudian, Cak Nun memaparkan tentang konsep Manunggaling Kawulo Gusti yang seringkali disalahfahami. Dalam pandangan Cak Nun, konsep Manunggaling Kawulo Gusti adalah sebuah keadaan dan pilihan sikap serta kesadaran ketika di dalam hati dan jiwa seorang pemimpin berhasil menyemayamkan di dalamnya rakyat-raja-Tuhan. Seorang pemimpin tidak akan melakukan segala sesuatu yang menyakiti hati rakyat sebab kalau rakyat disakiti, Tuhan akan marah. Demikian pula bahwa seorang raja pun tidak akan sekali-kali melakukan perbuatan yang mengecewakan Tuhan, karena kalau demikian, rakyatlah yang akan bergerak.

Di penghujung acara, KiaiKanjeng dan Mbak Novia Kolopaking menyajikan tembang Bangbang Wetan. Setelah itu lalu Cak Nun mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama mendendangkan lagu Ilir-Ilir.