Puasa, Pause?

Orang ber puasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain, bukan minta dihormati.

Ayat-ayat dari juz kelima belas Al-Quran Al-Kariim mengawal Kenduri Cinta bulan Agustus, disambung dengan lantunan shalawat dari para jamaah. Sebagai awalan, Mas Oman mengawal uraian dari teman-teman KC mengenai tema yang diangkat pada kesempatan kali ini, yakni “Puasa, Pause?” yang merupakan hasil dari obrolan di Reboan dua pekan sebelumnya.

“Mengapa kami memakai tanda tanya?” tanya Mas Adi, “Karena memang banyak pertanyaan dalam judul tersebut. Seperti kita pahami bersama, puasa merupakan kewajiban dari umat Muslim (atau kalau dari ayatnya, adalah bagi orang-orang beriman) supaya bisa disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. Kalau ditelaah lagi, puasa itu bagaimana? Banyak ustadz yang mengarahkan bahwa puasa merupakan upaya menahan nafsu-nafsu yang mengarah pada kemudharatan. Menurut saya puasa bukan menahan. Kalau menahan, puasa merupakan jeda saja, lalu setelah itu setelah pause-nya diangkat, menjadi play lagi. Artinya apa? Tak ada perubahan. Ini perlu tafsir yang lebih luas sebenarnya. Saya tidak 100% setuju bahwa puasa merupakan manahan diri. Harusnya puasa itu merupakan bagian dari Play. Dengan demikian kita benar-benar menjadi bertakwa. Kalau kita idiomnya memutar kaset, apa yang mesti kita lakukan agar puasa menjadi play? Menurut saya, ganti kasetnya. Itulah mengapa kita harus mengganti kaset supaya kita play terus. Kalau tafsir saya ya semoga selama puasa ini kaset kita berganti”.

Mas Ian menambahkan, “Peta berangkatnya sebenarnya ada diskusi panjang, mengapa puasa itu jatuh pada bulan Ramadhan? Ternyata Ramadhan merupakan bulan yang panas. Kalau kita teruskan play, akan ada banyak masalah. Oleh karena itu harus ada pause. Contohnya peristiwa Karballa dan Perang Badar yang sama-sama terjadi pada bulan Ramadhan. Kedua, pause datang dari diskusi mengenai saat imsak. Kita tidak peduli terhadap ini. Imsak adalah pause, yang kita diberi kesempatan untuk mem-pause selama sekitar 10 menit. Semua kegiatan ada pause-nya. Bukan cuma puasa saja yang merupakan pause. Dalam puasa, kita harus bisa menyerang dan sekaligus bertahan. Kita tidak peduli dengan sahur, padahal kalau mau benar-benar berpuasa, justru pada sahurnya. Begitu pula negeri ini, tak pernah melakukan persiapan yang cukup.”

Mas Rusdi kemudian menambahi uraian dari Mas Ian dan Mas Adi.

“Kalau sudah puasa ya diem semua. Tak ada yang perlu ngomong tentang hal ini. Hikmah-hikmah tentang puasa pasti sudah banyak sekali Anda dengarkan dari masjid-masjid dan dari manapun. Ketika kita melakukan gunjingan terhadap manusia (ghibah). Kok setiap hari kita ngomongin Allah mulu? Berarti kan kita ghibah sama Allah. Ini yang menjadi pertanyaan. Sekarang berkeliaran banyak sufi-sufi yang berjualan, setelah ulama dan ustadz tidak laku. Padahal peristiwa sufistik merupakan  sublimasi dari puasa sendiri, sementara sekarang ini malah jadi barang dagangan saja. Dan ini sangat murahan. Kita setiap hari melakukan puasa hanya menahan dari lapar dan haus, tapi nilai-nilainya kita suka bablas. Ada yang namanya berbagi, memberi, cinta-kasih. Apakah haram memperjualbelikan? Bukan, tapi kan tidak etis. Tadi wartawan dari Detikcom menanyakan forum apakah KC ini? Ya saya jawab ini merupakan forum agama, karena politik dan budaya kan juga tidak lepas dari agama.”

Ketika jamaah dipersilahkan untuk merespon, Mas Ali dari Surabaya yang sudah tinggal di Jakarta selama 7 tahun menyampaikan bahwa ketika kita puasa, yang dia rasakan adalah lebih dari sekadar menahan makan dan minum. Ketika semakin dewasa, dia mulai memahami bahwa puasa merupakan kendali diri.

“Masa iya udah gede puasanya masih hanya digoda oleh makanan dan minuman? Mbok sama yang lain yang lebih besar daripada itu. Entah itu ghibah, stimulus seksual, atau yang lain. Ketika berpuasa kita merasakan penyatuan jiwa, lepas dari materi kita sendiri. Puasa yang dewasa adalah puasa yang memahami antimateri kita sendiri. Kita memahami jiwa kita sendiri.”

Mas Rusdi memungkasi prolog dengan mengatakan, “Ajaran Rasulullah yang sangat mendasar untuk berpuasa adalah: ‘Makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang’. Kalau kita mengaku sebagai pengikut setia Beliau, terapkan ajaran itu dalam posisi apapun. Misalnya ketika berkuasa, ketika nonton tivi. Terapkan dalam kegiatan apapun sehari-hari. Itu yang perlu kita lakoni. Puasa anak kita dengan puasa kita harus ada pembeda yang berarti.”

Kelompok underground yang menamai dirinya sebagai Es Coret tampil membawakan sebuah lagu berjudul “Kita Bersaudara”, yang dibuat pada tahun 2006 ketika ada pergolakan di dalam komunitas. Lagu kedua menyanyikan puisi CN yang berjudul “Padhang Mbulan” yang diawali dan ditutup masing-masing dengan satu bait lagu “Stairway to Heaven”. Kemudian mereka kembali menyanyikan syair CN yang berjudul “Di Atas Reruntuhan”.

Sebelum masuk ke sesi diskusi bersama Syekh Nursamad, Pak Tjuk, Cak Dil, dan Pak Iswan,  Cak Nun memberikan awalan, “Saya harap semua bisa menggiring seluruh aspirasi menuju satu muara. Saya mulai dari apa yang diungkapkan oleh Pak Nursamad. Karena ini puasa, pertama Anda harus melapaskan gagasan dari Ramadhan. Puasa tidak hanya menyangkut tidak makan dan tidak minum saja. Puasa berkaitan dengan seluruh mekanisme kehidupan, menyangkut seluruh kenikmatan dan penderitaan di dalamnya. Anda kan sudah hafal bahwa ayat yang dikutip para ustadz ketika sudah masuk bulan Ramadhan adalah ayat ke-a83 dari Surah Al-Baqarah yang berbunyi: Yaa ayyuhalladzina amanu kutibu ‘alaikumushshiyaamu kama kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.

Kutiba memiliki arti ‘dituliskan’ yang kemudian oleh para ulama fiqh dikontekstualisasikan menjadi ‘diwajibkan’. As-siyaam memiliki padanan kata yakni shaum, seperti yang terjadi pada kata qaum yang padanan katanya adalah qiyam. Qiyam artinya berdiri, sementara qaum adalah orang yang berkumpul bersama-sama untuk bersepakat mendirikan sesuatu.

Manusia-manusia yang berkumpul sangat mungkin melahirkan variasi selain qaum, yakni bisa menjadi ummat, masyarakat, maupun rakyat. Ummat terjadi ketika orang-orang berkumpul karena ada alasan historis. Mereka berkumpul karena ada seperibuan nilai. Nilai itu bisa berupa iman, filosofi, kebudayaan, adat, dan apapun juga. Mereka berada in the same motherhood. Jadi dimungkinkan lahirnya ummat Harley Davidson, yang masing-masing anggotanya berkumpul karena sama-sama memiliki ibu nilai berupa kebanggaan memiliki HD.

Masyarakat adalah orang yang berkumpul karena menyepakati untuk mengerjakan suatu kesepakatan di mana suatu pekerjaan akan diserikatkan. Masyarakat memiliki makna yang lebih padat atau jasadi daripada ummat. Kalau rakyat berasal dari rayah, yaitu orang-orang yang berkumpul karena sama-sama memiliki kedaulatan atas suatu wilayah dan urusan. Maka dipersyaratkan ada MoU yang kemudian diresmikan dalam konstitusi berupa negara. Rakyat adalah orang yang berkumpul dalam suatu perjanjian yang disebut negara di mana yang pegang kedaulatan adalah mereka. Rakyat tidak sama dengan masyarakat. Masyarakat bisa segmentatif, tapi kalau rakyat bersifat utuh.

Qaum adalah orang yang berkumpul karena suatu ciri. Cirinya boleh budaya, boleh gen, boleh apapun saja. Tapi kalau qiyam adalah orang yang berkumpul untuk menegakkan kekauman mereka. Lalu bagaimana dengan shaum dan shiyam?

“Terserah Anda apakah Ramadhan ini Anda pakai untuk shaum atau shiyam. Kalau untuk shaum, yang penting Anda mendapatkan nilai-nilai puasa secara universal, tapi kalau Ramadhan Anda pakai untuk pergerakan shiyam, maka Anda menyepakati ada satu prinsip-prinsip nilai yang akan Anda tegakkan bersama-sama. Kalau bahasa Jawa memilih menggunakan shiyam dalam penyebutan puasa.”

“Kembali ke puasa. Malam hari ini, Ramadhan ini Anda desain untuk menjadi nilai kebangkitan atau yang penting Anda mendapatkan hikmah universal? Terserah Anda akan menghimpun diri sebagai ummat manusia atau bangsa Indonesia atau ummat Islam atau sebagai orang Jakarta, atau sebagai apapun. Itu pilihan Anda masing-masing. Tapi malam hari ini Anda harus punya pilihan mau shiyam atau shaum. Minimal kita dapat shaum, syukur-syukur dapat shiyam.”

Poin kedua, kama kutiba ‘alalladziina min qablikum. Puasa merupakan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islamnya Muhammad datang. Islam-Islam yang ada sebelumnya merupakan Islam yang belum lengkap. Allah menyebarkan ratusan ribu Nabi dan dua puluh lima rasul kemudian dijadikan dalam satu tabung besar bernama Muhammad. Di dalam Muhammad ada Ayub, ada Adam, ada Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Khidir, Isa, Yesus, Buddha dan siapa saja. Yang kita sebut Muhammad bin Abdullah ini adalah salah satu episode Muhammad yang berlangsung selama 63 tahun. Sedangkan alam semesta ini berlangsung selama beratus-ratus juta tahun dan Muhammad sudah ada sejak sebelum jagad raya diciptakan.

“Maka benar kalau Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabbiul Awwal, tapi kalau maulidu Muhammad itu sudah tidak bisa kita hitung. Nur ciptaan Allah yang pertama itu dibikin sebelum Dia menciptakan apapun. Karena Dia bahagia terhadap ciptaan-Nya yang berupa nur ini, diberikannyalah gelar Muhammad”.

“Nah, Muhammad ini besok-besok dicicil dalam Adam, Idris, Ayub, sampai Musa, Ibrahim, dan seterusnya kemudian diaplikasikan secara biologis menjadi Muhammad putra Abdullah cucu Abdul Mutholib. Jadi pemahaman mengenai Muhammad jangan berhenti pada Islam melalui fiqh yang dikenal dan diperkenalkan oleh para ulama. Kalau selama ini ada maulidun Nabi, kita Maiyah akan bikin maulidunnur”.

“Poin ketiga adalah la’alakum tattaqun. Laalakum selama ini menurut Pak Nursamad diterjemahkan sebagai ‘dengan berpuasa mudah-mudahan engkau menjadi bertaqwa. Sementara Beliau cenderung menerjemahkan bukan seperti itu. Allah memerintahkan hamba-Nya berpuasa dengan asumsi bahwa mereka sudah bertakwa. Kan kemarin sudah shalat, sudah zakat? Masa untuk bertakwa mesti menunggu Ramadhan?”

La’lakum selama ini tidak membikin Indonesia mengalami kemajuan apapun selama berpuluh-puluh Ramadhan karena salah dalam penerjemahannya. Efeknya adalah anggapan bahwa setelah Ramadhan kita boleh tidak bertakwa lagi karena akan ada Ramadhan-Ramadhan di depan untuk membuat kita bertakwa.

Laalakum bukan berarti ‘supaya’. Kemudian, Sampeyan ini masuk Ramadhan rumangsane durung puasa? Anda kan sudah selalu puasa? Yang terus-menerus berbuka adalah parpol, dirjen, menteri-menteri, ketua partai. Anda kan tidak. Saya pada Ramadhan lalu bertanya pada jamaah, semua orang mengaku telah bergembira masuk Ramadhan. Ngaku kamu yang jujur apakah seneng atau nggak disuruh berpuasa? Asline mangkel to, cuma nggak berani ngelawan? Aslinya kan nggak suka to? Kalau ada pengumuman dari Allah yang membebaskan kita dari keharusan berpuasa, pasti seneng to?”

“Lho, tapi bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau kamu bahagia masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya. Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya.”

“Waktu Umar bin Khatab mencium Hajar Aswad kan Beliau juga ngomong gitu, ‘Kalau tidak karena Rasulullah menciummu, tidak akan aku menciummu. Tapi karena Rasulullah yang aku cintai dan aku imani menciummu, maka aku menciummu. Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu’.”

“Terus ada kiai-kiai yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa?  Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja”.

“Jadi, sekarang kalau Anda proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, Indonesia puasa sejak kapan? Orba, Orla, Reformasi? Reformasi ini lebih banyak buka atau puasanya? Atau  buka banget untuk level ini, puasa banget untuk level itu. Tolong diihitung semuanya. Anda dengan Ramadhan kesekian ini, akan ke mana? Maka kita butuh pause sebentar untuk tafakkur.”

“Kalau kita lebarkan dikit, Anda harus mengenali dirimu. Dalam rukun Islam, Anda orang dengan tipologi yang mana? Apakah syahadat, shalat, puasa, zakat, atau haji? Kecenderungan irama hidupmu, improvisasimu, ketahanan mental dan staminamu, itu berbeda-beda. Kalau kamu manusia puasa berlaku dengan budaya shalat, tidak kuat. Kamu harus menemukan dirimu. Kalau saya ini memang katuranggannya dari sana adalah manusia puasa. Saya tak perlu Ramadhan untuk belajar berpuasa. Anda harus menemukan puasamu sendiri.”

Manusia syahadat membutuhkan manusia shalat, zakat, puasa, haji. Mereka semua berfungsi. Di setiap kantor ada yang bagian syahadat thok, ada bagian sholat yang memelihara secara rutin dan istiqomah, ada bagian puasa yang mengontrol dengan menciptakan perundingan-perundingan, ada bagian zakat yang berinisiatif atas social contribution, ada bagian haji yang memastikan bahwa kelompok tersebut harus memiliki puncak-puncak prestasi. Lima jenis manusia ada di dalam setiap komunitas.

“Kalau mau bikin kabinet, hitung dengan lima tadi. Kalau Anda memakai itu saja, Tuhan sudah senang dan akan menolong kabinetmu. Tapi kalau kabinetmu disusun berdasarkan tawar-menawar antarkelompok dan keuangan, maka kamu tidak akan ditolong sampai kapanpun. Apalagi kamu presiden yang tidak punya otoritas. Kamu hanya punya sepuluh persen dari otoritasmu. Yang tiga puluh persen ada pada istrimu, yang enam puluh persen sisanya ada pada ibu mertuamu. Itulah power sharing.”

“Memang bakatnya bangsa Indonesia itu puasa. Karena nggak tercapai hari raya yang sejati, maka ya yang penting mudik. Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah. setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman; pulang yang lebih jauh adalah ke sejarah yang lebih jauh, dan pulang yang paling sejati adalah kepada Allah. Mudik adalah kesadaran untuk tauhid.”

Cak Nun kemudian meminta jamaah untuk memproyeksikan puasa ke 2014; apakah pada tahun itu yang terjadi adalah Idul Fitri ataukah perpanjangan puasa. Apa teorinya, apa parameternya, apa syarat-rukunnya supaya kita tidak memperpanjang puasa?

“Menurut tafsir Pak Nursamad, mungkin kita tak mampu berbuat apa-apa karena salah dalam memahami la’alakum-nya. Kita pikir kita akan bertakwa setelah puasa Ramadhan. Ternyata syarat berpuasa Ramadhan adalah takwa. Kalau kita masuk Ramadhan tanpa bekal takwa, tak akan kita dapatkan Idul Fitri. Saya lihat petani-petani yang diasuh Cak Dil dan Pak Tjuk ini sudah mulai punya konsep untuk menyongsong hari raya pertanian Indonesia.”

Kalau tujuan utama dalam Islam selalu baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Bangsa kita untuk mencapai Robbun ghofur butuh berapa langkah lagi? Untuk mencapai baldatun thoyyibatun berapa lama lagi?

Tahap kita ini menuju sejahtera dulu. Padahal kalau sejahtera sudah ada, nanti muncul : apakah sejahtera ditempuh dengan baik atau tidak. Baldatun: sejahtera yang ditempuh setelah melalui ujian kebenaran. Tahap kita ini menuju sejahtera. Sejahtera saja belum, apalagi adil dalam kesejahteraan. Padahal kalau sejahtera tercapai, belum dipersoalkan apakah sejahteranya didapatkan dengan benar atau tidak.

Baldatun thoyyibatun mensyaratkan kesejahteraan ditempuh dan dicapai di dalam ujian kebenaran. Kalau hanya negara sejahtera, gemah ripah loh jinawi, belum tentu thoyyibah. Baldatun thoyyibatun adalah ketika ekonomi diuji oleh akhlaq, oleh moral, oleh nilai-nilai dasar. Itupun belum cukup kalau belum wa Robbun ghofur. Benar seperti apapun masih terbuka untuk kekhilafan-kekhilafan, maka dimungkinkan adanya amandemen pada undang-undang yang sudah disepakati bersama. Puncak kebenaran kita adalah al Haqqu mirrobbika fa laataqunanna minal mumtarin.

“Ada berita, saya mohon doa, ada kemungkinan tanggal 20-25 Merapi akan menyembur ke arah utara dan agak barat sedikit, tapi asapnya bergerak ke arah selatan atau tergantung pada arah angin pada saat itu. Sudah tiga kali Merapi batal meletus, yaitu bulan April, Mei, dan Juni. Bulan Juli alhamdulillah lewat tapi kemarin ada gempa sedikit. Ini semua sedang kita khalifahi bersama-sama, karena Allah punya pemerintahan. Yang selama ini kita kenal hanyalah birokrat-birokrat Allah di wilayah yudikatif, dari Roqib-Atid, Munkar-Nakir, Malik-Ridwan dan seterusnya. Namun malaikat-malaikat di wilayah legislatif mempertimbangkan apakah Jakarta baiknya ditenggelamkan atau tidak, apakah Pulau Jawa jadi dibelah atau tidak. Ini yang kita sebut sebagai rekonsiliasi leluhur.”

“Juga ada wilayah-wilayah eksekutif. Siapa saja mereka? Dari manusia, auliya, kemudian penjaga-penjaga. Misalnya, Allah memasang penjaga wilayah Banten yang lahir 30 tahun sekali, memasang penjaga Jawa Tengah bagian selatan, memasang penjaga dari Ternate sampai Aceh. Allah memasang birokrat-birokratnya dari yang kasat mata sampai yang tidak aksat mata, dari yang berwilayah ruh sampai yang berwilayah gelombang, sulthon, dan jasad. Semua ada tataran birokrasinya dan itu kalau bisa kita cari dan kita pelajari supaya seluruh gejala alam ini bisa berada dalam genggaman kekhalifahan kita semua, sebab kita diamanati untuk mengelola gunung, angin, lautan, dan seluruh alam semesta di wilayah bumi ini. Tapi kita tetap harus berunding dengan birokrat-birokrat dalam wilayah yang lebih luas, misalnya dalam wilayah tata surya.”

“Kita mohon doa kepada Anda semua karena tiga kali kemarin teman-teman jamaah Maiyah di berbagai tempat dan Gunung Merapi sudah mau mengadakan kesepakatan dan kompromi dengan kita. Kita diajari oleh Rasulullah bahwa ketika pasukan panah di Uhud itu tidak taat kemudian diserbu oleh musuh sampai Rasulullah terluka pipi dan lengannya lantas dibawa naik ke Goa Uhud itu Rasulullah mengatakan ‘Al Uhudu jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhu’, Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya. Berarti gunung memiliki kesadaran sampai tingkat tertentu. Maka orang-orang di lereng Merapi juga harus meyakini bahwa ‘Al Merapi jabalun yuhibbuna wa nuhibbuhu’. Orang di sekitar Merapi tidak boleh hatinya berkata bahwa Merapi akan meletus. Yang ada adalah Merapi akan membagi kesejahteraan atau Merapi akan gadhah damel.

“Nanti kalau terjadi apa-apa di Indonesia, Jogja dan daerah Jawa Tengah yang akan menjadi titik keseimbangan dari gonjang-ganjingnya seluruh Indonesia. Kita pelajari siapa saja yang punya watak seperti Jogja. Tidak terlalu keras tapi juga tidak lembek, tidak menjajah tapi juga tidak mudah diapusi. Tidak berarti bahwa orang Jogja itu penting. Yang terpenting adalah kalau Anda memiliki watak seperti itu, berarti Anda adalah penyeimbang situasi di Indonesia. Jadi, Anda memiliki Jogja di dalam diri Anda.”

“Sama seperti Dajjal yang tidak bisa memasuki Mekkah dan Madinah karena dijaga oleh malaikat. Selama empat belas abad ummat Islam percaya bahwa hanya kota Mekkah dan madinah yang tidak bisa dimasuki Dajjal. Apakah bisa dia masuk Jakarta? Kalau Anda membangun Mekkah dan Madinah dalam hidupmu, bisakah Dajjal memasukimu? Tidak! Malaikat menjagamu. Engkau berpikir secara Madinah dan berhati Mekkah.”

Syekh Nursamad Kamba melanjutkan uraian Cak Nun, “Cukup jelas tadi penjelasan dari Cak Nun. Yang menjadi keistimewaan dari Universitas Maiyah ini karena simbol-simbol dan aturan agama bisa diterjemahkan secara budaya. Agama memang diturunkan untuk membentuk karakter manusia, untuk bisa dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama diturunkan bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk membentuk manusia.”

La’alakum tattaqun bukan berarti ‘supaya kamu bertakwa’, karena kalau kita kaji bahasa Arab, kata ‘supaya’ menggunakan kata lam al ghayyah. Kalau la’ala merupakan alat untuk mengajak dan mengharapkan sesuatu.

Nabi bersabda bahwa setiap hari Beliau harus mendapatkan manfaat. Kalau tidak ada peningkatan kualitas diri, berarti hari telah berlalu tanpa berkah. Konsep dalam Islam merupakan konsep yang harus selalu naik kelas, maka ada konsep mi’’raj. Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sembahyang adalah mi’raj orang beriman. Mi’raj sendiri artinya pendakian. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar. Begitu pula dengan puasa. Itulah yang menyebabkan kenapa la’alakum tattaqun mestinya kita pahami sebagai sesuatu yang mengantar manusia untuk berpuasa supaya bisa naik kelas.

Sebelas bulan sebelum Ramadhan adalah persiapan untuk memuncaki sampai pada Ramadhan. Kalau seperti ini, asumsinya sudah bertakwa. Hanya orang yang bertakwa yang bisa berpuasa dengan benar. Maka dalam puasa Allah sendiri mengatakan, ‘Puasa itu untukKu, dan hanya Aku yang memberikan balasan’.

Puasa Ramadhan merupakan puncak, karena kalau kita tidak berpuasa sebelumnya, kita tidak mampu berpuasa pada Ramadhan. Ada puasa Senin-Kamis, ada puasa enam hari di bulan Syawal, yang merupakan latihan untuk bisa selalu naik kelas.

‘Islam itu sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran,” lanjut Syekh Nursamad, “Ini semua harus kita kembangkan untuk peningkatan kualitas diri kita. Bahwa umat Islam harus mencitrakan diri sebagai syahadat, sholat, dan seterusnya sebagaimana disebutkan Cak Nun tadi itu karena ajaran agama untuk membentuk akhlaq dan moralitas. Di dalam Islam, inspirasi apapun sepanjang itu dapat mendukung moralitas kita, sesuatu itu mubah menurut hukum fiqh-nya. Halal itu mestinya nggak dilabel karena sesuatu itu boleh kecuali yang dilarang. Yang diberi label itu mestinya yang dilarang.”

“Bulan puasa ini sesungguhnya memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun. Maka ada Idul Fitri, perayaan atas kesucian. Orang yang bertaqwa dan memuncaki dengan Ramadhan barulah kembali kepada kesucian. Mengubah diri menjadi manusia yang diinginkan Allah melalui puasa membutuhkan paling tidak satu tahun untuk bisa naik kelas. Tahun 2013 nanti, puasanya jangan seperti puasa yang sekarang lagi. Harus mengalami peningkatan. Konsumsi bulan puasa tahun depan harus lebih kecil daripada yang kita lakukan tahun ini.”

Cak Nun kemudian menambahkan bahwa terminologi yang tepat untuk menggambarkan Maiyah adalah sungai, bukan danau. Yang hadir dalam Maiyah mengalir seperti sungai. Dalam Maiyah, yang kita lakukan adalah menghilangkan kebencian terhadap apapun saja kemudian mempelajari Muhammad secara lebih luas dan lebih luas lagi. Muhammad kita pahami bukan terbatas pada Muhammad putra Abdullah, melainkan juga sebagai Nur Muhammad. Sesuai dengan rumusan Mas Sabrang, Nur memiliki dimensi ruang sementara Cinta memiliki dimensi waktu.

Merujuk pada teori Padhangmbulan Cak Fuad, komposisi seluruh rukun Islam di dalam Alquran hanya 3,5%. Selebihnya merupakan tuntunan untuk ibadah-ibadah di luar ibadah mahdloh itu, termasuk sepakbola, parpol, dan sebagainya. Manusia Muhammad lahir ketika ia mampu menjadikan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajinya sebagai satu kesatuan utuh. Ilmu ini telah sejak lama disampaikan Cak Nun melalui puisi Beliau yang berjudul ‘Muhammadkan Hamba’, yang sebaiknya ditanggapi bukan sebagai hukum atau fiqh melainkan sebagai ilmu.

Keseluruhan entitas Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husayn diharmonisasikan di dalam satu diri Muhammad. Pernah pula dibahas Cak Nun sebelumnya bahwa Abu Bakar merupakan manusia kultural yang menemukan Tuhan melalui jalan menyapa orang dan bersilaturahmi, Umar merupakan manusia radikal yang membutuhkan benturan-benturan, Utsman merupakan manusia timbangan, dan Ali merupakan manusia yang mengedepankan inspirasi. Ali tidak membutuhkan proses-proses seperti yang dibutuhkan tiga sahabat lainnya. Ia menemukan Allah kapan saja. Semuanya itu ada di dalam diri Muhammad.

Ada teori lain yang bisa digunakan. Kalau Mekkah saja yang kita terapkan, kita belum Muhammad. Kita belum bercocok tanam, belum berdagang dengan baik, belum bergaul dengan keragaman-keragaman, belum rahmatan lil ‘alamin seperti di Madinah. Madinah merupakan 96,5%-nya Muhammad.

“Kalau Aceh menamai dirinya sebagai serambi Mekkah, Indonesia butuh tempat lain yang menggelari dirinya sebagai serambi Madinah. Sultan Jogja saya tawari untuk melantik kota itu menjadi serambi Madinah, tapi ya nggak terlaksana sampai hari ini.”

Islam yang hidup saat ini, yang dipahami orang non-Islam atas Islam adalah Islam Mekkah, bukan Islam Madinah. Mereka mengenal Islam yang membedakan, bukan Islam yang menemukan kesamaan. Madinah adalah ijazah sosial dari penerapan Islam.

Oleh karena itu yang dilakukan Muhammad pertama kali di Madinah adalah menyebar uang Beliau untuk UKM-UKM di Madinah sehingga pengusaha-pengusaha kecil dari berbagai golongan dididik untuk hidup bersama. Ada Muslim, Yahudi, Nasrani, bahkan atheis. Di situlah baru Muhammad melengkapkan Islam. Islam Madinah inilah yang menjadi PR kita.

“Terapkan Islam dalam bertani, misalnya. Dunia ini bukan untuk kita buang. Dunia ini kita pegang, kita sayang, kita taklukkan menjadi kebaikan. Itu yang namanya Muhammad. Sekarang kan adanya manusia parsial, tapi juga nggak parsial benar-benar.  Golkar tidak benar-benar Golkar. PKS yang tidak benar-benar PKS. Kalau benar-benar PKS milih pemimpinnya yang sesuai dengan ideologi PKS. Ketidakjelasan seperti ini yang membuat kita tak pernah naik kelas.”

“Menurut aspirasi politik yang mendasar dalam pemahaman Anda, Orla itu baik atau buruk? Orba itu baik atau buruk? Kalau misalnya Reformasi itu buruk, apakah lantas yang dilawannya (Orba) menjadi baik? Alhaqqu tidak jelas pada Anda. Bagaimana kebenaran politik di Indonesia? Kemudian kamu terpukau dengan orang-orang baru, euphoria, dan memilih pemimpin hanya karena style-nya. Kamu nggak punya kejelasan terhadap kebenaran.”

“Anda pikir JK itu siapa? Di jaman Soeharto siapa JK? Berani dia lawan Soeharto pada masa itu? Ketika itu saya pidato menantang Soeharto di Makassar, di mana itu JK? Lari dia dari tempat itu. Kamu ini gumunan, mudah ditipu. Waktu itu siapa yang melawan Soeharto? Kapan hari rayanya kalau begini?”

“Mari di Maiyah kita mencari keutuhan kemanusiaan kita masing-masing. Tidak usah dengan skala Muhammad yang besar, tapi engkau sendiri lengkap. Seluruh potensi yang ada dalam dirimu kamu hidupkan, kamu dinamiskan, kamu cari harmoni padanya, dan kamu menjadi manusia yang utuh sebagai dirimu sendiri. Kamu menang pada dirimu sendiri dan kamu berkuasa atas dirimu sendiri. Kamu tidak perlu juara apa-apa, cukup juara atas dirimu sendiri. Itulah orang Maiyah. Dan tak perlu menjadi juara di Indonesia karena tema kita adalah ada Maiyah di dalam Maiyah, ada Indonesia di dalam Maiyah, dan ada Maiyah di Indonesia, yang harus dihitung semuanya.”

Mas Iswan yang baru pulang dari studinya di Kanada, mengaku bahwa melalui buku, ceramah, lagu, puisi dari Cak Nun dia merasa ‘dirusak’ dalam arti yang positif.

“Cara berpikir saya menjadi kacau lagi. Seharusnya jamaah Maiyah sangat bersyukur punya pemandu diskusi yang sangat persisten. Misalkan saya kasih contoh: saya tidak pernah berpikir ada konsep di luar negara hukum. Cak Nun membalikkan keadaan dengan mengatakan bahwa yang seharusnya dibuat adalah negara akhlaq.”

“Waktu saya mendarat sejak Maret dari Kanada, saya mendapat kuliah 3 SKS dari seorang sopir taksi. Berceritalah dia tentang apa saja. Dia bercerita bahwa ada tokoh politik yang dia kagumi sejak kemunculannya sampai dia pilih pada 2009. Akan tetapi kemudian ada satu peristiwa yang diliput media massa secara besar-besaran yang menganggp tokoh itu tidak akan lagi punya harapan. Pesan dari cerita sopir taksi itu adalah sedemikian dahsyat peran media massa di Indonesia.”

The role of mass media sangat luar biasa. Media tidak steril dari kepentingan, padahal fungsi awalnya adalah untuk mengabarkan kebenaran yang bermanfaat bagi publik.

“Yang mengagumkan dari bangsa Indonesia adalah daya tahannya. Di Amerika ada krissi karena subprime mortgage, di Eropa juga ada krisis. Mereka kekuatannya tidak sebesar kita. Sementara bangsa ini merupakan bangsa cengengesan yang mampu melewati krisis-krisis apapun. Barat pernah memprediksi Indonesia akan mengalami perpecahan kekuasaan akibat krisis moneter 98, tapi ternyata terbukti salah.”

Mas Iswan kemudian bercerita bahwa di Kanada untuk bisa menyewa apartemen harus memiliki kartu kredit. Setiap orang didorong untuk mempunyai credit history. Dan alam di sanapun mengkondisikan manusianya untuk bersifat mandiri, yang kemudian menjurus pada individual.

Mas Ian L. Betts manyambung uraian Mas Iswan, “Yang pertama, peran Indonesia dalam ekonomi global adalah melalui manufacturing-based activity. Kemungkinan Yunani, yang mengalami krisis sangat parah, disuruh keluar dari Euro. Economic analyst di Eropa mengatakan bahwa krisis di Eropa dan Inggris sangat parah, karena basis mereka adalah utang. Mungkin, kita harus mengakui bahwa bukan hanya orang Muslim yang puasa. Yunani, Portugal, Spanyol, dan Inggris pun juga harus puasa. Di belakang Olympics yang demikian mewah ada krisis sangat mendalam.”

“Negara-negara tersebut di dalam keadaan kaget. Mereka tidak tahu bagaimana harus menghadapi krisis. IMF dan WB sudah mengakui bahwa mereka tidak punya kemampuan untuk mengontrol pasar secara global. Pasar sudah menjadi sangat liar. Pada krisis Eropa tahun 97-98, IMF dan WB memprediksikan bahwa melalui development funding negara-negara itu bisa menguasai perekonomian masing-masing. Sekarang, pasar dan prinsip ekonomi dasar sudah berada di luar kuasa mereka. Setiap enam bulan ada ombak krisis di setiap negara Eropa. Negara-negara maju terpaksa berpuasa, baik itu dengan ikhlas ataupun tidak.”

“Pertumbuhan ekonomi yang mestinya menjadi penilaian untuk setiap negara, tidak lagi terjadi di negara-negara maupun di China. Meskipun invenstment-nya sangat tinggi, China tidak mengalami pertumbuhan yang hebat. Sedangkan Indonesia? Di tengah dampak krisis antar-instansi, politik, dan media, ekonomi Indonesia masih mengalami pertumbuhan.”

“Apapun menjadi obyek konsumsi di Indonesia. Lalu kapan Indonesia mengalami pause? Dunia internasional menunggu kapan saatnya. IMF terus menunggu. Perekonomian Indonesia maju terus, sementara pasar global terpaksa tahu bagaimana rasa puasa.”

Uraian dari Mas Ian Betts dilanjut dengan cerita dari Pak Tjuk, seorang penggiat pertanian dan kedaulatan pangan yang bersama Cak Dil masih terus mengasuh petani-petani beserta sawah-sawahnya.

“Tahun 2000-an yang lalu, kita ketemu sama Cak Nun. Begitu tahu bahwa saya orang pertanian, Beliau mengatakan bahwa petani merupakan sayidul qaumi al falah. Kurang lebihnya petani merupakan kaum yang mulia. Petani adalah sesepuh. Ibarat keris kalau tanpa sepuhan, hilang kedigdayannya. Saya renungkan betul kata-kata dari Cak Nun itu. Apakah benar kita bisa menjadi mulia melalui pertanian?”

“Petani kita secara berpuluh-puluh tahun buka terus-terusan. Apapun dimakan. Kebetulan karena suasana internasionalnya juga seperti yang tadi sudah dijelaskan. Tahun ’60-an mau tidak mau kita didorong untuk ikut cekokan-cekokan dari pemerintah. Petani diarahkan untuk menggunakan ini dan itu. Kalau dalam bahasa saya, premis pertama pemerintah adalah supaya maju harus dipaksa. Setelah dipaksa lalu merasa terpaksa, baru dia menjadi terbiasa. Berpuluh-puluh tahun kita mengalami  itu, sehingga petani kita sudah terbiasa dipaksa.”

Sejak itu petani kita mulai putus dengan alamnya sendiri. Pertanian menjadi industri yang mekanis. Kalau menggunakan ini, hasilnya pasti begini. Padahal dalam kenyatannya sama sekali tidak seperti itu. Dalam pertanian itu 99,999% bukan kita yang menentukan hasilnya. Tidak ada yang menjamin kalau kita menanam sesuatu pasti akan tumbuh buahnya.

“Sehubungan dengan Islam Mekkah tadi, kalau kita melakukan selamatan di sawah, kita dikatakan syirik. Benar-benar putus hubungan petani dengan alamnya. Beras itu sebenarnya sangat mahal harganya. Satu kilogram beras butuh air antara 500 sampai 2000 liter. Bayangkan kalau petani harus beli air, harus beli sinar matahari. Nggak cukup uang kita untuk beli makanan”.

“Saya setelah mendapat kata-kata ‘petani merupakan kaum yang mulia’ tadi mencoba membuat kaum petani menjadi benar-benar mulia, kaum petani yang menegakkan nilai-nilai pertanian yang kita punya. Kita merupakan negara paling kaya di bidang makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan, bakteri dan mikroorganisme lain. Ada bakteri yang bisa menyerap Nitrogen dari udara. Kalau kita bisa menernakkan bakteri itu, petani nggak butuh pupuk. Tapi petani kita sudah diputus dengan alam sehingga biota-biotan tanah sudah semakin kurus. Saya bersama teman-temen termasuk Cak Dil, mengingatkan bahwa petani merupakan kaum mulia, dan mestinya manusia paling merdeka. Tahun 70-an, presiden Amerika mengatakan, ‘Control oil, you will control the nation. Control food, you will control the people’. Kalau kamu mengendalikan minyak, kamu mengendalikan bangsa itu. Kalau kamu mengendalikan makanan, kamu mengendalikan orang-orang di dalam bangsa itu.”

Jika air yang menjadi kebutuhan pokok dalam pertanian itu pada suatu saat dikontrol oleh perorangan atau institusi tertentu, harganya akan menjadi sangat mahal. Kita sudah dikontrol oleh kekuatan lain.

Dengan asumsi bahwa air, sinar matahari, dan benih didapatkan secara gratis dari alam, plus adanya permainan harga sehingga selepas panen harga tidak lagi turun, mestinya para petani kita mengalami Idul Fitri.

Kalau kita bisa menernakkan biota-biota tanah, pasir di Kulonprogo pun bisa ditanami. Tipologi pertanian dalam ilmu sekarang tidak mengenal pasir, tapi nyatanya tanah pasir di Kulonprogo banyak sekali menghasilkan produk-produk pertanian.

“Kemarin saya mendapat kabar dari Bandung bahwa satu butir padi kalau ditanam menjadi sekitar 7 ons.  Tidak ada ekonomi yang bisa berkembang 2000 kali lipat dalam waku tiga bulan kecuali dalam pertanian. Kita lupa banyak hal yang sebenarnya tidak kita bayar.

“Saya ingin petani kita kembali untuk kesejahteraan mereka. Ayo kita sama-sama menjadi kaum, melakukan sesuatu secara bersama-sama untuk pada waktunya berbuka bersama, ber-Idul Fitri bersama.”

“Kemarin saya dan Cak Dil diundang ke Lasem, agak jauh dari Rembang. Yang dikerjakan sederhana. Bersepuluh membuat koperasi dengan modal dua juta rupiah. Kemarin mereka menginformasikan perkembangan koperasi itu sudah menjadi 400 M. Sudah ada lima belasan mobil dinas. Yuk bersama-sama kita pause dikit dari apa yang kita anggap itu benar dan baik padahal tidak. Lalu kita buat dengan Maiyah bersama-sama, untuk menjadi lebih baik. Mungkin tidak perlu banyak-banyak, tapi itulah yang akan menjadi embrio untuk ke depannya.”

Cak Dil yang jam 4 sore baru saja turun dari sawah di Tangerang, literally, menyapa jamaah, “Kalau Pak Tjuk bicara makro, saya akan bicara mikro. Saya betul-betul pelaku yang bersama-sama petani. Saya sama sekali bukan insinyur pertanian.”

“Di Karawang ada sawah sekitar 20 hektar yang tidak mengalami panen karena banyak penyakitnya. Sejak kira-kira setahun lalu, saya memproklamirkan diri untuk turun ke sawah. Dan alhamdulillah banyak teman-teman yang ikut dengan gembira kembali ke sawah meskipun saya tidak begitu optimis. Petani kita bekerja dengan etos hasil, bukan etos kerja. Bukan etos nandur tapi etos panen.”

“Yang terjadi ya seperti sekarang. Petani di Serang dan Tangerang paling sekitar 3 ton atau 4 ton, padahal seharusnya bisa menghasilkan 12 ton. Saya mencoba mempelajari sekian banyak masalah. Petani merupakan korban dari manajemen sandal. Mereka dikelola seperti sandal-sandal di depan masjid, dibiarkan awut-awutan, kalau ada yang baik, dipilih untuk dipakai. Rakyat kita dikelola seperti itu.”

“Saya menemukan kegembiraan-kegembiraan, sedikit demi sedikit. Di Tangerang, contohnya. Awalnya mereka menertawakan saya yang menanam bukan pada umur 22 hari, melainkan ketika umurnya masih 7 hari. Tapi sekarang mereka mulai bergembira menikmati hasilnya. Padahal baru satu bulan dan belum panen, tapi sudah terlihat hasilnya.”

“Tepatnya, yang di Bandung adalah dari 1 butir menjadi 2800 butir dalam waktu empat bulan. Ada juga yang 1 butir menjadi 4000 butir. Untuk memenuhi kebutuhan makannya dalam satu tahun, satu orang cukup menanam 77 butir padi. Seribu butir padi bobotnya yang bagus sekitar 30 gram.”

“Begitu luar biasannya Allah menunjukkan keajaiban, tapi tak ada yang bersyukur. Petani-petani ngakunya panennya jelek, tapi kalau bagus tak ada yang cerita. Petani selalu mengeluh. Dulu ketika mulai menanam di Bogor bersama Pak Tjuk, saya katakan bahwa dulu Sunan Kalijaga tiap menanam dari pinggir sawah sambil bershalawat. Saya coba mendalam dari lapis ke lapis. Ada yang sangat mendasar. Khususnya para ahli, mereka terlalu sombong merasa bahwa merekalah yang berhasil.”

“Termasuk saya kritik juga Pak Tjuk yang tadi berpikir eksploitatif terhadap mikroba. Mikroba pun kita perlakukan sebagai unsur yang kita perlukan untuk kesuksesan kita. Paradigma bertani sesungguhnya melayani bertemuanya benih dengan biota tanah. Dilayani interaksinya, disediakan tempat sebaik-baiknya. Yang harus kita siapkan adalah tempat-tempat untuk memungkinkan terjadinya perjodohan itu. Mikroba bukan karyawan kita. Bahwa kita panen itu hadiah dari Allah, bukan keberhasilan kita mengeksploitasi benih.”

“Satu tanaman menciptakan ruang kehidupan sedemikian luasnya. Satu pohon itu ada berapa ribu daun? Semuanya adalah ruang kehidupan. Selama 30 atau 40 tahun terakhir, para ahli memutus komunikasi antara tumbuhan dengan biota tanah sehingga mereka mati, dorman, atau pergi. Yang harus dilakukan adalah mengembalikan itu semua. Mari kita sediakan ruang sebaik-baiknya agar terjadi interaksi, sintesa antara makhluk-makhluk Allah.”

“Yang saya heran, di Bumiayu  para penyuluh nggak paham sama sekali. Mereka tidak bisa menerima cara tanam saya yang di bawah umur 10 hari. Padahal bisa dilihat bahwa mulai umur 7, rambut akar mulai keluar, umur 12 cabang pertama muncul. Cara meletakkannya pun harus dengan hati-hati, dengan kasih sayang.”

“Petani kita itu  perampok, tidak mengembalikan jerami ke tanah tapi justru membakarnya. Kedua, perlakuan terhadap benih. Orang menabur benih sampai umur 25 atau bahkan 30 hari, diiket, dilempar ke sana ke mari. Dengan diikat pun mereka akan sakit. maka tidak heran jika dua minggu kemudian banyak tumbuhan itu akan layu. Alhamdulillah saya tidak pernah layu sedikitpun menanam pada umur 7 hari. Pada umur itu makanan masih terbawa di dalam benih. Sangat wajar kalau hasil panennya rendah.”

“Saya hanya mencoba menyebarkan kegembiraan, atau setidaknya saya bergembira. Cara menebarkan kegembiraan salah satunya adalah : untuk bulan depan saya usulkan, sudah dengan persetujuan Pak Tjuk, Kenduri Cinta berkenduri dengan beras dari saya. Hasil panen di Bogor lebih-lebih kalau mau dipakai untuk kita semua.”

“Saya orang yang putus asa kepada Indonesia. Saya putus asa kepada mass media sejak tahun 76. Pikiran saya terhadap negara dan institusi : jangan ngriwuki (ngerepotin). Selama ini ke mana-mana kami bukan sama sekali dalam rangka melaksanakan proyek dari mana-mana, melainkan interaksi antarindividu yang bergembira.”

“Hari ini yang namanya pilkada sudah sama dengan infotainment,” Pak Ramdansyah Bakir dari Panwaslu membuka uraian Beliau, “Industri politik hari ini butuh supplydemand. Masyarakat butuh gosip. Kedua, keterbatasan dalam framing. Sebuah fakta belum tentu sebuah kebenaran.”

Pak Ramdansyah sedikit bercerita mengenai proses Pemilukada di Jakarta yang pada putaran kedua sempat menimbulkan keributan karena ada seorang tokoh yang membacakan di dalam masjid Surah Ali Imran ayat 28 dan mengartikannya sebagai kalimat ‘Janganlah memilih Nonmuslim menjadi gubernur Jakarta’.

Cerita Pak Ramdansyah ditutupnya dengan membacakan dua puisi dari buku Watingpung hasil karyanya.

Cak Nun segera menyambung, “Saya kira orang Maiyah terlalu sempit untuk mengurung dirinya antara Foke atau Jokowi. Kita mengurusi sesuatu yang lebih luas dan lebih panjang. Apa yang disampaikan oleh Pak Ramdansyah akan kita elaborasi, kita tarik garis menjadi ilmu ketika pemilihan kedua maupun sesudahnya. Saya hanya ingin mengingatkan, ayat yang dikutip itu tadi, pokoknya jangan mengambil wali yang bukan mukmin. Wali adalah mereka yang kamu mandati untuk mengurus urusan. Ini mohon oleh teman-teman Maiyah dijadikan pembelajaran.”

“Yang pertama, ada mukmin, ada muslim, ada nas. Ini Anda memakai pemahaman kualitatif atau kuantitatif? Bahwa orang yang gugup, yang takut kalah dalam pemilihan kemudian menggunakan ayat tersebut untuk kepentingan praktis, monggo saja. Tapi kita tidak akan berada di situ. Kita akan mempelajari.”

“Alquran itu bukan kitab untuk ummat Islam saja, melainkan untuk semua umat manusia. Rasul Muhammad merupakan rasul untuk semua umat manusia. Itu bedanya Beliau dengan rasul-rasul sebelumnya. Maka retorika dan balaghah atau komunikasi dalam Quran harus sangat kita waspadai secara kualitatif. Misalnya perintah untuk puasa, Yaa ayyuhalladzina amanu bukan merupakan perintah untuk umat Islam saja. Yahudi dan Nasrani adalah saudara seiman kita. Bedanya adalah dengan manusia yang tidak mengacu pada Tuhan. Siapapun saja yang mempertimbangkan hidupnya dengan meletakkan Tuhan sebagai pertimbangan utama, dialah orang yang beriman. Terserah mau Yahudi, Kristiani, Protestan. Mereka monotheis, percaya pada Tuhan yang Satu. Saya tidak akan menuduh Anda secara kuantitatif. Bahkan orang-orang Jawa yang menganut aliran-aliran kepercayaan, mereka monotheis meskipun prosedur pencarian keimanan mereka melalui jalan mencari sendiri.”

“Di dalam Alquran tidak ada ayat Ya ayyuhalladzina aslamu. Jadi kewajiban puasa untuk seluruh umat manusia. Perkara mereka tidak merasa, Tuhan tidak masalah dengan semua itu. Tuhan tidak tergantung sama kita, meskipun Dia rendah hati dengan manjadi Asy-Syakur. Kita yang butuh Tuhan karena kita ingin selamat dalam menjadi apa yang dimaksudkan Tuhan pada penciptaannya.”

“Jokowi mukmin atau tidak? Bukan mulutmu yang menjadikan Allah cinta padamu, melainkan ketulusan hatimu. Kok bertengkar mengenai mukmin? Semua mukmin kok. Allah Mahakaya kok manusia memiskinkan diri. Di dalam kekayaan itu tumbuh pohon yang bernama kegembiraan. Akarnya bernama keikhlasan.”

“Ya ayyuhannas, di situ belum ada konteks mengaitkan dengan Tuhan. Di dalam Maiyah ada konsep : naas, ketika jamak menjadi insan. Kemudian ada ‘abdun, di mana dia melihat dirinya sebagai hamba Allah. Ketiga ada khalifatun, yakni ketika ia melihat dirinya sebagia mandatarisnya Allah yang mengurusi urusan-urusan. Jadi, saya kira Panwaslu ketawa-ketawa aja.”

“Di dalam Alquran, ayat hukum hanya 3,5%, selebihnya merupakan ayat diskusi dan komunikasi. Misalnya ada 3 perda tentang poligami. Pertama, tidak boleh! Kedua, silahkan berpoligami tapi tanggung sendiri. Asal bisa adil, silahkan. Ketiga, sama sekali tidak boleh. Haram, karena Allah mengatakan sendiri, ‘Sesungguhnya kamu wahai laki-laki tidak akan mungkin berbuat adil walaupun engkau sangat menginginkannya’. Allah telah berkata.”

“Cak Fuad telah  mengkonfirmasi bahwa teman seiman adalah semua, teman Kristen, teman Yahudi. Mungkin ada sedikit kritik tentang Trinitas, tapi saya tidak melihat umat Nasrani di Indonesia trinitas-trinitas amat.”

“Kita terjemahkan Tuhan sebagai pemarah di Indonesia, padahal kita marah itu kan karena kita memiliki kepentingan dan kepentingan itu terlukai oleh pihak lain. Sementara Tuhan tidak punya kepentingan apapun. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia marah, itu adalah kemesraan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya.”

Konsep Tuhan yang pemarah menimbulkan adanya anggapan bahwa orang berpuasa harus dihormati. Tapi tidak dengan Maiyah, yang berani mengatakan bahwa orang berpuasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain. Justru kita yang menghormati.

“Poin berikutnya adalah: kalau orang intelijen punya 4 level cara memandang sesuatu. Ibarat wartawan, Anda tidak akan memberitakan yang Anda sudah tahu dan publik juga sudah tahu. Ini level pertama. Level kedua yang harus Anda cari untuk Anda beritakan, yakni yang publik belum tahu, tapi Anda tahu. Level ketiga, publik sudah tahu tapi Anda belum tahu; maka turunlah Anda ke lapangan untuk mencari tahu. Maiyah adalah supra-intelijen. Yang kita cari dan kita lahirkan di setiap Maiyah adalah yang publik belum tahu dan kita juga belum tahu, yang baru kita tahu setelah ber-Maiyah.”

“Seperti yang Cak Dil katakan, pendidikan, kebudayaan, politik, agama, menyediakan ruang untuk perjodohan antara mikroba dan benih. Di dalam diri kita juga terdapat tanah yang luas, sungai yang panjang, dan lautan yang tidak terbatas. Di situ kita ciptakan ruang-ruang untuk perjodohan-perjodohan. Karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan nafsu untuk menjodoh-jodohkan Diri-Nya.”

“Masa Tuhan bikin Alquran hanya untuk orang Islam? Hanya untuk MUI, NU, atau Muhammadiyah? Alquran untukmu semua, bahkan untuk pohon-pohon, daun-daun, dan semuanya. Bahkan gunung-gunung pun bisa berbicara andai saja kau bisa menangkap bahasanya.”

“Saya gembira hari ini mendengar ungkapan-ungkapan Cak Dil. Saya ngomong masalah sosial karena dia nggak mau aja. Sebenarnya ahlinya dia. Silaturahminya ke seluruh pelosok Indonesia tidak pernah habis. Dia tidak pernah sakit dengan tubuh sekurus itu. Dari Jombang mau ke Jogja saja sempat mampir ke Jember. Energi silaturahminya luar biasa, ilmu sosialnya tidak tertandingi. Saya sempat gemes menyuruh dia menulis, tapi tak pernah berhasil karena sejak tahun ’76 dia sudah putus asa sama media massa, sementara saya membutuhkan 30 tahun kemudian untuk putus asa. Saya sangat gembira malam ini karena InsyaAllah KC malam ini bukan hanya yang terbaik tapi juga penuh berkah. Soal Jokowi dan Foke kan soal kecil. Kita asuh saja mereka, tidak ada masalah. Indonesia itu panjang, tidak bisa terjajah.”

“Jangan terlalu meregulasi hidupmu. Kamu itu ahsani taqwim. Kamu itu masterpiece-nya Tuhan. Kamu tidak perlu motivasi-motivasi.”

“Saya kira manusia Indonesia akan mengagetkan manusia dunia pada waktunya. Karena dulu, mulai generasi ke-4 dari Nabi Adam ada Anwar dan Anwas. Anwas menurunkan Yahudi, Arab, dan Eropa. Anwar lahir dari campuran manusia, malaikat, dan iblis. Dari Anwar inilah lahir orang-orang Jawa. Anda itu begitu mudah menggabungkan iblis dan malaikat menjadi pengantin. Maka bukan hal aneh jika tiba-tiba menjadi Muslim semua kalau Ramadhan, bukan aneh jika kita mampu menipu orang di depan Ka’bah, dan seterusnya.”

“Mudah-mudahan bulan depan Cak Dil betul-betul nasinya kita makan. Saya kagum. Dia adik saya nomer dua, jadi dia anak keenam. Kami sama-sama tidak sekolah, dan itulah yang menyebabkan hari ini kami bisa bertemu di sini.”

Jam setengah tiga dini hari, Cak Nun mempersilahkan Mas Beben dan kawan-kawan untuk naik ke panggung. Bersama istrinya, Inna Kamarie, Mas Beben membawakan lagu Summer Time lalu disambung dengan Fly Me To The Moon. Setelah itu, mereka berkolaborasi dengan Letto membawakan lagu Ruang Rindu dan Permintaan Hati. Kemudian atas permintaan langsung dari Cak Nun, Mas Sabrang dan Mbak Inna Kamarie menyanyikan lagu Love of My Life.

Pada malam itu juga, CN secara resmi mengundang Mas Beben ‘n Friends untuk anytime datang ke acara-acara Maiyahan di Jogja maupun di Surabaya.

Mas Sabrang sedikit bercerita mengenai Letto yang selama dua puluh hari menggelar roadshow di sekolah-sekolah di Jakarta dalam program Musik Edukasi.

Tiga puluh menit lepas dari pukul tiga, Cak Nun mengajak jamaah untuk secara khusyuk bershalawat. Syekh Nursamad kemudian memimpin doa bersama. Selepas itu, panggung berubah menjadi tempat makan sahur bersama.