Nabi Darurat dan Dunia yang Hamil Tua

Rencananya bulan-bulan terakhir ini “Sabdopalon Noyogenggong” akan berkeliling kota mementaskan lakon “Nabi Darurat, Rasul Ad-Hoc”. Pertanyaan kita tentu sama: apakah sudah separah inikah kehidupan dunia hingga kita butuh lagi kehadiran seorang Nabi atau Rasul? Apakah (Nur) Muhammad tidak cukup sebagai rasul terakhir untuk membawa ke arah dunia yang rahmatan lil’alamin atau juga bilhikmati wa-lmau’idlati-lhasanah? Apakah tugas beliau gagal hingga kita rusak parah seperti saat ini?

Dulu sewaktu kecil saya sering protes pada Allah SWT, mengapa hanya orang-orang itu yang langsung dipilih menjadi Nabi atau Rasul. Alangkah enaknya mereka langsung ditunjuk dan dipilih tanpa harus “pemilu” atau voting, dan selanjutnya dijamin keselamatannya dunia akhirat. Apalagi jadi Nabi Sulaiman, alangkah enaknya, karena sosok beliau ini sesuai idaman saya, yakni: kecil bahagia, muda kaya raya dan berkuasa, mati masuk surga. Sudah menjadi Nabi, jadi raja pula, isterinya cantik dan kaya raya, e-e-e mati juga dijamin surga. Wah Allah tidak adil. Kenapa bukan kita yang jadi sosok Nabi sekaligus raja itu?

Kalau Rasulullah Muhammad masih mending karena beliau lebih banyak “penderitaannya”. Meskipun dijanjikan kekayaan dan kekuasaan oleh Allah, beliau tetap hanya ingin menjadi Nabi rakyat jelata. Bajunya hanya tiga, sering hanya makan dua hari sekali, dicaci maki dan dilempari batu/kotoran oleh kaum yang belum diberi petunjuk, bahkan cucunya diizinkan Allah untuk dipenggal dan mayatnya diseret kuda puluhan kilometer jauhnya.

Namun setelah saya menginjak dewasa barulah saya sadar, bahwa mereka yang ditunjuk oleh Allah sebagai Rasul atau Nabi, ternyata bukan orang-orang instant (seperti politisi, pengusaha, dan pejabat zaman sekarang). Muhammad misalnya, sebelum jadi Rasul, ternyata beliau adalah pribadi yang santun, jujur, cerdas, pekerja keras, dan sebagainya. Buktinya kaum Quraish tetap menghormati beliau sehingga dikenal sebagai sosok Al Amin. Contoh lain sebelum diangkat menjadi Rasul, cara Muhammad dalam berdagang juga selalu jujur, misalnya dengan mengatakan: “Aku kulakan sekian riyal, silakan kamu mau beli berapa?”. Jika ternyata si pembeli terlalu tinggi membayarnya, Rasul juga mengingatkan: “Harga yang kau tawarkan terlalu mahal, dan kamu yang rugi”. Sebaliknya jika si pembeli menawar terlalu rendah, Rasul juga mengingatkan: “Kalau harga serendah ini, aku yang rugi”. Dari dialog ini sampailah ditemukan harga yang islami.

Ini artinya berdagang adalah bagian dari ibadah, dan tidak ada dikotomi, ini urusan dunia yang terpisah dari urusan akhirat. Tauhid itu juga horizontal (ba-syariah) sekaligus vertikal (ilahiyah). Sialnya orang saat ini tidak mau berendah hati hubungan antara agama dengan ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik. Kita terlalu banyak diajari oleh “kiai fiqh” yang tidak paham urusan duniawi yang sesungguhnya diajarkan dalam Al-Quran untuk memanajemeni dunia ini.

Dengan kata lain, para Nabi dan Rasul adalah orang yang sudah teruji, karena mereka melalui proses yang panjang untuk menjadi manusia pilihan Allah. Mereka adalah para manusia mulia yang sejak awal berjuang untuk nilai-nilai kemanusiaan. Muhammad dan para nabi lainnya berjuang untuk jujur, selalu rajin ber-iqra’ untuk memahami situasi sosial masyarakatnya. Kalau zaman sekarang mereka barangkali disebut sebagai peneliti ulung yang memahami situasi sosialnya secara matang, untuk digunakan dasar untuk bertindak memperbaikinya.

Para Nabi dan Rasul baru menggarap lingkungan sosialnya setelah pribadi mereka matang, setelah mereka lebih lama bersujud kepada Allah, lebih lama berpuasa, dan lebih rajin membaca lingkungan masyarakatnya, dst, dibandingkan kita semua selama ini. Muhammad dan para Rasul lainnya tidak berpangku tangan hanya menunggu perintah Allah, namun selalu menggunakan kapasitasnya secara optimal sebagai manusia yang ditugasi sebagai khalifatullah untuk melawan siapa saja yang ingkar kepada Allah.

Kalau di zaman sekarang, para Nabi dan Rasul adalah orang yang berani menentang arus “zaman edan”. Mereka sangat konsisten dan berbeda dengan kita yang ketika Pak Harto masih hidup — misalnya — kita “menyembah” beliau untuk mendapatkan tetesan kekuasaan, namun ketika beliau wafat, kita adalah sosok yang paling keras menginjak kuburnya dan bahkan mengaku sebagai sosok yang paling reformis. Para Nabi dan Rasul adalah sosok yang selalu konsisten dalam menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh kekuasaan dan materi duniawi.

Artinya para Nabi dan para Rasul berjuang lillahi ta’ala. Rasulullah Muhammad, misalnya, beliau tidak lantas menguasai bangsa Arab meski Allah telah menjamin keselamatannya. Rasulullah juga tidak lalu memanfaatkan kerasulannya untuk menjadi penguasa dan raja Arab. Bahkan ketika hasil dagang mengatarkannya menjadi seorang konglomerat, beliau tidak lantas menguasai jalur perdagangan, bahkan beliau tidak bikin perusahaan MNCs. Beliau tetap memilih untuk hidup sangat sederhana. Kalau orang miskin hidup sederhana, itu sih memang wajar karena memang kere atau karena memang terpaksa. Namun jika seseorang kaya raya dan memilih hidup sederhana, ini adalah luar biasa. Yang terjadi saat ini adalah banyak orang dengan kekayaan nyaris setara dengan kekayaan orang satu kabupaten, namun masih juga pingin jadi ketua partai, sekaligus jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, dst.

Barangkali banyak pula kaum muslimin yang tidak paham bahwa kebencian Abu Lahab dan Abu Jahal kepada keluarga Rasul bukan karena persoalan teologis belaka, namun menyangkut rasa iri mereka karena sumber air zam-zam dimiliki keluarga Rasul turun-temurun. Bagi kita, hal ini dianggap tidak masuk akal, karena “hanya” sebuah “sumur”. Namun dalam konteks kehidupan di Jazirah Arab saat itu, sumur atau sumber air adalah aset yang luar biasa berharganya karena menyangkut hajat hidup yang sangat vital.

Situasi Kini

Lalu apa hubungannya “Nabi Darurat dan Rasul Ad-Hoc” dengan situasi kini? Negeri yang gemah ripah loh jinawi seperti Indonesia ini sebenarnya bagaikan “bocoran” surga. Kita bisa tanam benih apa saja di negeri ini, bahkan jika sumberdaya alam dijaga dengan baik kemudian dipetik, maka (misalnya) tanpa teknologi pun, saya membayangkan Indonesia akan kaya raya hanya dengan menjual hasil buminya, karena jenis sumberdaya alam dan tambang apa saja ada di negeri ini. Dengan kata lain, kita memiliki segalanya, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya kebudayaan yang komplet, sehingga amat berbakat untuk memimpin dunia. Masalahnya hanyalah soal manajemen kepemimpinan belaka.

Sudah pasti, kalau kita memerlukan “Nabi Darurat”, ini sebenarnya hanyalah sebuah keprihatinan akan runtuhnya ketidaksetiaan umat beragama (khususnya Islam yang mayoritas di negeri ini). Para ulama atau kiai yang digadang-gadang menjadi benteng moral, juga sepi kehadirannya di pelataran bumi pertiwi. Amat sedikit ulama yang berdimensi fiqh sekaligus tasawuf. Demikian pula di sisi kepemimpinan nasional. Kita membutuhkan pemimpin nasional, bahkan pemimpin dunia seperti sosok Muhammad. Beliau bukan saja seorang pribadi yang jujur, santun, namun beliau juga sekaligus ahli strategi perang, ahli pemerintahan, tokoh pemersatu, ahli menggerakkan masyarakat yang plural, dst.

Karena absennya sosok seperti itulah, maka “wajar” jika kita mendengar lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”, maka yang terbayang adalah deretan para koruptor. Setiap hari media massa dengan jelas menunjukkan bahwa korupsi di tanah air telah membentang jauh mulai dari Aceh sampai Papua. Ini adalah kondisi yang sangat mengenaskan. Carut marut bangsa ini nampaknya akibat dari merajalelanya para koruptor. Mereka telah menyengsarakan dan membunuh jutaan anak bangsa.

Pilpres dan berbagai Pilkada yang digadang-gadang akan membawa kemajuan dan demokratisasi, di ujungnya hanya menghasilkan dua hal, yakni konflik antarpendukung dan korupsi besar-besaran. Sederhana saja untuk menjadi kepala daerah membutuhkan dana milyaran rupiah, maka begitu terpilih, agenda utamanya adalah mengembalikan modal. Jalan yang paling gampang adalah korupsi. Bahkan beberapa bupati lebih gila lagi, buku ajar, beasiswa, bantuan rakyat miskin, dimakan habis-habisan. Rakyat miskin dan dunia pendidikan yang seharusnya dibangun malahan dimakan habis-habisan.

Singkatnya, fenomena itu melibatkan pola kehidupan yang tindakan itu sendiri merupakan bagiannya (the pattern of life to which the act belongs). Blanshard dalam Morality and Politics menulis bahwa berkenaan dengan korupsi ada pertanyaan etikal: Jika anda tidak mau memberantas korupsi, apakah sebenarnya anda setuju terhadap korupsi? Dan jika anda setuju dengan korupsi, apakah ini tidak berarti anda setuju dengan pola hidup menyeluruh yang ada di situ korupsi merupakan bagian dan yang meliputi pula penipuan, merusak kepercayaan orang, dan sikap tidak menghormati perasaan, harapan, dan keinginan orang lain”.

Selain berkaca pada Rasulullah, menarik untuk memahami contoh dari Gunnar Myrdal bahwa keteladanan dan kemauan politik merupakan dua kunci utama suksesnya pemberantasan korupsi. Myrdal mencontohkan PM India Nehru adalah orang yang bersih namun lemah dalam memberantas korupsi. Sebaliknya PM Singapura Rajaratnam, adalah orang yang bersih sekaligus berkemauan kuat untuk memberantas korupsi (Myrdal, The Challenge of World Poverty, A World Anti-Poverty Program in Outline).

Saya lantas ingat syair Cak Nun “…Aku berpestapora bersama kerumunan manusia yang mripatnya telah tiba pada kesanggupan yang terendah dan hina, yakni melihat hanya beberapa warna yang paling sederhana, serta membaca kekerdilan beberapa angka. Akulah balkadaba, kupecah diri menjadi jutaan kadal-kadal. Menelusup di balik rerumputan, berhijab di rimbun dedaunan. Kadal-kadalku mengepung rumahmu. Menyandera tanah, air, dan pepohonanmu. Kadal-kadalku menyamar jadi berbagai jenis binatang dan manusia….”

Yang menarik dari syair tersebut adalah lanjutannya dengan penggalan: “…Tak perlu habiskan waktu memperdebatkan neo-liberalisme. Itu barang lawas, resminya sejak culturstelsel kerja paksa 1830-1870. Cuma sekarang caranya sangat canggih, halus, dan tidak kentara. Modal utamanya adalah kebodohan rakyat yang setiap zamannya dibikin lebih bodoh lagi dan lebih bodoh lagi. Sejak zaman Van der Venter datang Politik Etis, hingga foundation zaman sekarang. Uang hasil perampokan global disisihkan 1-2 % untuk biaya pura-pura menolong rakyat kecil. Negara itu papan nama, omong kosong, apalagi kalau pemerintahnya hanya menjadi makelar modal internasional, sehingga memilih pejabat-pejabatnya berdasarkan kepentingan itu….”

Pemimpin negeri dipilih dengan biaya mahal, dan dibayar dengan fasilitas mahal, maka ia harus bertindak tegas untuk melindungi yang membayarnya, yakni rakyat. Kita butuh pemimpin yang setiap saat siap “dipecat” jika tidak melindungi rakyatnya. Karena rakyat saat ini merasa tidak terlindungi dengan merajalelanya korupsi, maka pemerintah harus bertindak “revolusioner”.

Dunia saat ini dapat diibaratkan sedang “hamil tua”. Di tingkat negara, diharapkan akan “lahir bayi” lagi, dalam arti setelah para pejabat negara yang “kotor” satu persatu turun jabatan, untuk meretas menjadi pemimpin dunia, mercusuar dunia, karena kita memiliki segalanya. Sumberdaya alam yang luar biasa banyaknya, serta (sebenarnya) sumberdaya manusia yang luar biasa pula cerdasnya. Anak-anak muda kita selalu juara olimpiade sains dunia, demikian pula berbagai mahasiswa kita yang bertebaran di luar negeri selalu meraih prestasi terbaik.

“Rasul dan Nabi Darurat” sangat dibutuhkan karena kita tidak memiliki manajemen bernegara yang baik. Dalam lagu Jawa Cak Nun pernah menyebut “gundul-gundul pacul”, dan mereka diibaratkan seperti sedang “gemblelengan” (tidak serius) sehingga “wakul” atau bakul nasi yang merupakan simbol kesejahteraan, menjadi “ngglempang” atau tumpah ruah di jalanan.

Dunia sudah hamil tua, dan kini baru pada “bukaan pertama”, di mana telah terjadi sebuah awal “pembersihan” kotoran negara. Saat ini tengah terjadi “perang brubuh” atau “tiji-tibeh” (mati siji mati kabeh, mati satu mati semua). Prinsip “tiji-tibeh” sangat nampak dalam berbagai persidangan, ketika seorang pejabat di bawahnya yang terjepit, sudah berani bicara bahwa dirinya diperintah oleh atasannya.

Demikian pula dalam kasus Bank Century, antar pejabat Negara sudah saling menyerang. Kenyataan ini berbeda dengan model di masa lalu. Kalau zaman Orde baru, sesama “preman” negara begitu setia saling melindungi ketika kejahatan korupsinya terbongkar, namun pada era ini, terjadi perang brubuh sebagaimana dikatakan di atas. Lihat saja sesama “preman” yang mencuri bareng-bareng, kini saling membuka rahasia borok masing-masing. Ini adalah fenomena model “tiji-tibeh”.

Pasca-Otoriter

Dari berbagai unjuk rasa terkait berbagai persoalan negeri makin tampak jelas bahwa masyarakat saat ini sudah tidak bisa lagi “ditangani” dengan cara-cara konvensional seperti pencekokan ideologi, mitos, janji-janji, atau mantera-mantera pembangunan yang bersifat tebar pesona. Masyarakat seperti ini menurut Lucian W. Pye dalam bukunya Krisis Otoriterisme (1990) sudah sampai kepada tataran masyarakat pasca-otoriter. Masyarakat model seperti ini tengah berjalan menuju masyarakat demokratis sebagai prasyarat menjadi bangsa yang unggul maju dan sejahtera, serta prasyarat untuk menjadi pemimpin dunia.

Dalam masyarakat otoriter, model-model “poetic of power” sebagaimana dikatakan Geertz dalam “Negara Gebyar Panggung” masih dapat diterapkan. Masyarakat akan mudah percaya terhadap kekuatan “petuah” atau kata-kata “magis” dari pemerintah. Sebaliknya dalam masyarakat pasca-otoriter harus ada “mechanic of power” yang demokratis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat pasca-otoriter adalah masyarakat yang sudah bergerak dari bandul ekstrem trandisional ke bandul ekstrem modernisasi pada tingkatan tertentu. Dalam bidang politik juga demikian pula, gerak ayun dari rezim otoriter sudah mengarah ke rezim pasca-otoriter. Karenanya cara menangani rakyat juga harus disesuaikan dengan tipe ini.

Masyarakat pasca-otoriter sudah lebih pandai dan cerdas dengan kesadaran politik yang semakin meningkat. Mereka sudah sulit dibohongi dan terus menuntut performa pemerintah yang didasarkan kepada legalitas, prosedur, perhitungan atau kalkulasi rasional dan hal-hal lain yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara teknis maupun secara hukum.

Karenanya dapat dipahami jika cara-cara tebar janji kepada masyarakat, misalnya pedagang pasar, rakyat kecil, dst, meski meriah namun tampaknya hanya di permukaan saja. Tingkat “perlawanan” masyarakat (people power) pasca-otoriter lebih hebat karena mereka memiliki kecerdasan dan kesadaran poltik yang memadai. Apalagi berbagai LSM, intelektual, maupun media masa terus membantu dan memberi informasi sahih kepadanya.

Karenanya menarik untuk mengaitkan situasi saat ini dengan Zaman Kalabendhu sebagaimana ditulis dalam Negarakertagama. Dalam kitab itu Raja Kertanegara, Raja Singasari terakhir pada abad XIII, merasa hidup dalam Zaman Kaliyuga, sebuah masa terakhir kehidupan bumi dalam kosmologi Hindu. Pada jaman itu, terjadi kegoncangan tata nilai, kekalutan, kebingungan dan bencana.

Adalah R.Ng. Ronggowarsito yang menulis bait-bait dalam Serat Kalatidha: “Mangkya darajating praja. Kawuryan wus sunya-ruri. Rurah pangrehing ukara. Karana tanpa palupi….”. Singkatnya negara sedang chaos karena tanpa keteladanan. Para pejabat banyak yang hanya mengejar harta dan kedudukan hingga menimbulkan bencana dan bentrokan sebagaimana diperlihatkan dari berbagai pilkada di negeri ini.

Untuk mengatasi zaman kalabendhu seperti ini, R.Ng. Ranggawarsito meneruskan syairnya: “ratune ratu utama. Patihe patih linuwih. Pra nayaka tyas rahardja. Panakare becik-becik….” Dalam alam pikiran kosmis-magis, perspektif waktu menunjukkan struktur siklis, peredaran zaman berlingkar dan dimana pangkal dan ujung bertemu. Gagasan evolusioner ataupun pergerakan waktu yang linier asing bagi penganut Hindu, yang mengatakan ada empat siklus. Suatu kaliyuga membawa bencana alam semesta sementara kertayuga membawa kemakmuran.

Jika kaliyuga terlewati, nanti akan lahir pemimpin bangsa yang luar biasa yang tidak hanya pandai berjanji. Saat ini kondisi kaum muda, calon pemimpin dunia, berada dalam kondisi psikologis. Kaum muda tidak terlalu perfeksionisme untuk menerima janji-janji perubahan, namun mereka kini terus melanjutkan pencarian akses ke wahana kontrol sosial guna mewujudkan cita-citanya, mendorong dinamika politik sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai unjuk rasa.

Mereka berupaya meredam agar masyarakat tidak pesimis terhadap keadaan politik saat ini. Mereka yakin dalam masyarakat pasca-otoriter dibutuhkan suatu sistem politik yang mantap, yang tidak mendasarkan kepada kekuasaan, uang, dan jaringan birokrasi. Sistem politik yang mantap mestinya sudah sampai pada derajat “self propelling” tanpa harus didukung oleh kaidah-kaidah kekuasaan, karena sistem yang demokratis sudah mengalami internalisasi.

Barangkali itulah tugas “Nabi Darurat dan Rasul Ad-hoc”. Cuma masalahnya, siapakah mereka itu? Kita tunggu saja “skenario” Allah SWT. Bukankah kalau kita menghadapi batu besar di tengah jalan, akan sia-sia saja upayamu untuk mendorong sendirian? Dalam situasi seperti ini hanya Allah yang dapat menolongnya.