“Menyelingkuhi” Rasulullah Muhammad SAW

Membaca pesan singkat di BBM yang mengabarkan bahwa Cak Nun sedikit mendapat “gangguan” fisik, saya langsung bereaksi, maksud saya batin dan jiwa saya. Tentu ini bukan untuk “nyolu”, toh beliau bukan atasan saya yang ketika saya “solu” akan segera menaikkan jabatan saya misalnya. Demikian pula beliau juga bukan tetangga saya secara geografis yang ketika saya “solu” langsung menghantarkan makanan masakan keluarganya ke rumah saya. Secara fisik pun saya juga baru dekat dengan beliau beberapa bulan terakhir.

Dalam BBM saya menulis bahwa sosok seperti beliau sangatlah langka, dan saya termasuk orang yang pesimistis bahwa 100 tahun ke depan pun Indonesia tidak akan melahirkan sosok seperti beliau. Sosok hamba yang tidak takut kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah dan Rasulullah. Hamba yang tidak pernah berjarak antara ucapan dan tindakannya. Hamba yang mudah marah jika menyaksikan kebatilan. Hamba yang beretos kerja tinggi, jarang mengeluh jika sudah “tune in” menjalankan amanah Allah, menyapa dan menyayangi ciptaanNya. Hamba yang sangat teguh kepada pendirian untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Hamba yang tidak mementingkan penampilan dan tidak “patheken” jika tidak diperhitungkan atau dihargai siapapun, sebab baginya yang penting Allah tidak marah kepadanya.

Hamba yang tidak ragu lagi mengorbankan apa saja yang dimilikinya sejauh itu memang untuk memenuhi perintah Allah dan bermanfaat bagi ciptaanNya. Hamba yang sangat konsisten dan konsekuen memperjuangkan nilai-nilai dan ajaran Rasulullah Muhammad SAW di manapun, kapan pun dan tidak peduli meski (misalnya) orang-orang di sekelilingnya tidak membantunya.

Ingat Rasulullah ini saya lantas ingat SMS teman saya yang juga sama-sama “abangan” seperti saya. Dalam SMS nya ia menanyakan pertanyaan klasik yang kebetulan muncul lagi manakala di Solo ditemukan buku bergambar lelaki Agung kekasih Allah tersebut. Teman saya tersebut meng-SMS saya dan menanyakan (nampaknya dengan nada nyinyir) mengapa sosok Muhammad tidak boleh digambar? Mana dasar pelarangannya dalam Al Qur’an atau hadist? Apakah sedemikian bodoh umat Islam harus marah dan demo hanya karena melihat gambar Nabi? dan sederet pertanyaan bernada “nyinyir” lainnya.

Tentu saja teman saya ini berbeda kelasnya dengan Salman Rusdhie yang menulis Ayat-ayat Setan atau kartunis Denmark yang menggambar sosok Rasulullah di korannya. Kalau Salman Rusdhie jelas zakarnya bengkok (kata CN), sehingga kita harus memaafkannya dengan jalan menganggap dia orang gila. Namun teman saya tadi seorang sarjana dan dibesarkan di lingkungan kaum muslimin dan tahu adat istiadat bangsa ini.

Karenanya saya hanya menjawab SMS itu dengan “akal” saja. Maklum saya terbiasa dalam tradisi “ilmiah” penelitian, meski dalam hati saya juga tertawa cekikikan (eh kalau menjawab pakai dalil Al Quran saya juga tidak paham, jangankan dalilnya, untuk membaca hurufnya saja saya tertatih-tatih). Karenanya SMS tersebut saya jawab dengan agak “ilmiah”.

Saya tanya dia apa yang membuat sebuah data itu disebut valid dan reliable? Valid artinya dapat mengukur apa yang harus diukur dan reliable artinya instrumen pengukur itu dapat digunakan kepada siapa saja kapan saja dan hasilnya harus sama tanpa mengurangi validitasnya. Kalau mengukur berat badan ya harus pakai timbangan jangan pakai meteran. Ini baru namanya datanya akan valid.

Tentang “validitas” dan “reliabilitas” data tentang sosok Rasulullah, saya tanyakan kepada pengirim SMS tersebut. Pertanyaan saya, adakah “data” tentang lekuk wajah dan tubuh Rasulullah kok kamu berani-beraninya menampilkan “hasil”nya lewat lukisan? Kapan Rasulullah pernah dilukis atau difoto apalagi masuk di Facebook atau BBM? Mana lukisan itu atau foto itu? Jika jawabnya tidak ada, atas dasar apa kamu melukis wajah beliau? Dapatkah dipertanggungjawabkan bagaimana kamu menentukan besar dan bentuk hidung beliau (misalnya), lebatnya cambang, tinggi badan atau rambut beliau, keriting, lurus atau ngandan-andan (Jawa)? Lalu jika semua jawabnya tidak ada, apakah kamu layak disebut masyarakat ilmiah yang selama ini kamu agung-agungkan dan merasa menjadi garda terdepan bagi kemajuan ilmu pengetahuan di negeri ini?

Lebih menukik lagi, saya juga iseng-iseng tanya ia, jika ada seseorang tiba-tiba menampilkan di sebuah majalah atau koran yang “katanya” wajah bapakmu padahal orang itu belum pernah ketemu bapakmu, apalagi pernah melukis wajah bapakmu, dan tidak pernah punya foto/gambar yang diyakini sebagai gambar/foto bapakmu, bagaimana reaksimu? Marahkah kamu, tertawakah kamu? Apalagi jika gambar/foto itu tidak sesuai dengan realitas. Misalnya sebenarnya wajah bapakmu itu aslinya seperti Tukul, lantas foto itu dibuat agak “nyolu” dan wajah bapakmu dipermak wajahnya seperti wajah Roy Marten agar kamu senang, apakah kamu juga “ridlo” atau bangga? Atau sebaliknya sesungguhnya wajah bapak kamu seperti Roy Marten namun digambar seperti wajahnya Tukul, apakah kamu tidak marah?

Dia akhirnya terdiam mendengar rententan argumen “ilmiah” saya. Bagi saya untuk “meladeni” orang abangan yang tidak ramah terhadap Islam, tidak cocok dengan mencomot dalil, apalagi dengan kekerasan. Selain saya juga tidak menguasai dalil dan tidak berani berkelahi, cara-cara “rasional” nampaknya akan lebih mengena. Sama seperti halnya orang bertanya kepada saya apakah Tuhan itu ada ? Apakah surga dan neraka itu ada? dst.

Maka jawab saya juga dari sisi rasional saja, tidak dengan ayat-ayat atau dalil. Bagi saya ayat atau keyakinan dan iman, letaknya di hati, sehingga tidak dapat “dirasionalkan”. Maka atas pertanyaan tersebut saya juga menjawab singkat. Bagai saya meyakini surga atau neraka ada atau tidak, beragama itu perlu atau tidak, ya saya ibaratkan orang berkendara motor. Ketika saya akan pergi ke Simpang Lima misalnya dengan naik motor, maka saya pasti akan pakai helm pengaman kepala. Bagi saya, pakai helm niatnya bukan semata-mata untuk menghindari razia pak polisi, namun untuk keselamatan hidup/perjalanan saya. Bagi saya, ada razia atau tidak, yang jelas pakai helm itu menentramkan dan insyaAllah akan menyelamatkan jika saya jatuh dari motor misalnya.

Demikian pula beragama bagi saya bukan cari surga atau neraka, atau semata-mata takut dimarahi Allah, namun dengan beragama hidup saya menjadi tenteram dan segala tindakan saya terarah karena agama saya mengajarkan “resep” keselamatan hidup (hablu minannas). Perkara nanti surga atau neraka tidak ada, ya saya tidak “patheken”, karena saya sudah menjalankan kebaikan. Bagi saya beragama juga bukan untuk ke surga, namun untuk kembali kepadaNya (ilaihi rojiun). Perkara nanti Allah ngasih saya surga ya disyukuri. Lha kalau kamu sekarang tidak percaya Tuhan, tidak beragama, kalau surga dan neraka memang benar-benar ada, maka celakalah kamu karena akherat itu kekal. Kalau tidak ada, ya kamu mungkin “bejo”, namun di dunia kamu tidak terarah kelakuanmu. Atas dasar “ilmiah” ini alhamdulillah ia mulai sholat.

Kembali kepada masalah Rasulullah di atas. Saya juga tidak menyalahkan teman saya yang “abangan” tadi, wong kenyataannya, banyak umat Islam sendiri yang katanya mencintai Rasulullah, fasih membaca Al Quran dan Hadis, toh kenyataannya dalam kesehariannya sering “menyelingkuhi” beliau. Cinta kepada beliau hanyalah letupan lahiriah saja atau hanya sekadar kerisian “kultural” dan bukan berasal dari hati yang paling dalam. Misalnya saja saya pernah mendengar seorang ustadz ternama dari Jakarta yang berapi-api mengajak kepada para jamaah untuk meneladani Rasulullah secara konsekuen dan konsisten. “Rasul hidupnya sederhana, beliau hanya punya tiga baju, rumah beliau hanya type 21, sehari kenyang dua hari lapar dan perut beliau diganjal batu…bla…bla…dst”, demikian khotbahnya dengan fasihnya mengutip ayat-ayat Al Quran.

Namun begitu selesai pengajian, manajernya sudah sibuk menemui sang “penanggap” ustadz tersebut, untuk menjalankan misi dagang “dakwah” yang omzetnya miliaran rupiah. Maka sang ustadz pun pulang naik BMW, Mercy, Lexus, dan aneka kemewahan dunia lainnya. Bukan berarti naik BMW terbaru tidak boleh, namun ketika ia sudah memperdagangkan dakwahnya itu dengan konteks perhitungan ekonomi-kapitalistis, maka itu menjadi tidak etis. Lalu mana “royalti”-nya Rasulullah? Bukankah kata-kata beliau dikutipnya untuk memperkaya diri?

Demikian pula dalam keseharian, banyak kelompok yang mengaku paling Islam yang ketika berdakwah penuh dengan kekerasan. Mereka merasa sedang memperjuangkan dan membela nabi. Padahal kenyataannya, nilai-nilai yang dibawa Rasulullah tidak ia amalkan sama sekali. Rasulullah tidak pernah berdakwah dengan kekerasan, ngamuk memecahi botol minuman keras suku Quraish yang masih “kafir” kala itu atau memecahi patung-patung berhala di Ka’bah. Rasulullah dalam berdakwah penuh cinta kasih, dengan pendekatan konkret.

Di Madinah yang beliau bangun lebih awal adalah semacam koperasi, pertanian, persaudaraan, dan persatuan antara kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, Islam, “abangan”. dst dalam sebuah piagam kesepakatan (Piagam Madinah) yang sangat terkenal itu. Justru dengan pendekatan konkret itu Islam berkembang hingga ke seluruh dunia hingga saat ini.

Sebaliknya kita, tiap hari dengan gagah berani merasa sedang membela Rasulullah, namun perilaku kita bertolak belakang dengan sifat dan watak beliau. Kita adalah orang-orang yang munafik dan sering menyelingkuhi Rasulullah. Dengan kata lain, boleh jadi kita lebih hina dibanding Salman Rusdhie atau kartunis Denmark tersebut.