Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer

Menghadapkan antara kenabian dan kontemporer itu seperti menghadapkan antara madu dan racun.

Jum’at malam 30 Maret 2012 lalu digelar Sarasehan Budaya di Pelataran Parkir Timur Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Acara malam itu menghadirkan Cak Nun, Pak Busyro Muqaddas serta beberapa pejabat struktural dari universitas bersangkutan. Tema yang diambil yaitu “Membentuk Kultur Kenabian dalam Masa Kontemporer”.

Acara inti dibuka oleh KiaiKanjeng dengan medley Nusantara. Ada tembang Pangkur: mingkar-mingkuring angkoro, akarono karenan mardi siwi, ada lagunya almarhum Gombloh kemudian disambung dengan stanza ke-2 dan ke-3 lagu Indonesia Raya yang sekarang jarang kita dengar itu.

“Gombloh tidak pernah berpikir tentang profesinya. Ia tidak peduli dengan hidup dan kariernya sehingga ketika dia mendapat penghasilan dari lagu-lagunya dulu, ia membelanjakannya untuk orang banyak. Suatu hari, ia membeli BH sangat banyak yang ia angkut dalam sebuah becak. Kemudian BH itu ia bagi-bagikan kepada para perempuan di obyek wisata Dolly”, urai Cak Nun mengawali acara malam itu.

Mengenai lagu kebangsaan Indonesia Raya, Cak Nun agak menyesalkan mengapa bukan stanza ke-2 dan ke-3 yang dipilih untuk sesering mungkin kita lagukan/nyanyikan padahal menurut Cak Nun, stanza ke-2 dan ke-3 itu lebih sastrawi dan lebih indah. “Coba kita perhatikan lagu Indonesia Raya yang sering dinyanyikan itu”, kata Cak Nun. “Bahwa kejadian yang sekarang sedang menimpa bangsa kita sekarang ini adalah bukti terkabulnya doa yang secara rutin kita lantunkan melalui lagu Indonesia Raya itu”, kata Cak Nun. “Makanya jangan heran kalau banyak peristiwa selalu diakhiri dengan perTUMPAHan DARAH, wong Indonesia tumpah darahku, kok terus ada syair disanalah aku berdiri, ini bagaimana? Berarti kita not real part of Indonesia, dong? “tanya Cak Nun.

Demikianlah beberapa bagian dari prakata Cak Nun mengawali pembicaraan malam itu. Lalu Cak Nun menyampaikan kepada para hadirin bahwa ide tema malam itu dicetuskan oleh Pak Bustro Muqaddas. “Profetik itu kenabian, jadi kalau ngomong profetik berarti ngomong soal nabi, kalau ngomong soal nabi artinya akan bicara mengenai Tuhan. Dari sini kita lantas akan melakukan mapping, kalau nubuwwah itu skalanya sampai dimana? Soalnya hal itu masih teramat luas”, jelas Cak Nun.

Sebagai koridor pembicaraan malam itu, Cak Nun melanjutkannya dengan memaparkan stratifikasi/maqom dari sebuah kedudukan. Ada Risalah, yang membawanya disebut Rosul, kemudian ada Nubuwwah (dari kata Nabaa’ = berita/informasi) yang dibawa oleh Nabi, lalu ada Walayah (Wali), kemudian baru Khilafah.

Cak Nun menjelaskan, “Kalau Rosul itu memiliki kekuatan hukum dari Tuhan, sehingga ada banyak Nabi tapi hanya beberapa yang diangkat sebagai Rosul. Sedangkan Nabi adalah sebuah padatan potensi yang mengaktual melalui kekuatan budaya dan informasi. Kalau wali secara etimologis berasal dari kata walayah yang artinya kedudukan yang tinggi. Kemudian, khilafah itu bermakna pergantian yang dalam tataran praktisnya dimaknai sebagai pemerintahan.

Menyambung pembicaraan ini, Cak Nun mengambil analogi dari tata ruang di keraton Yogyakarta. “Kalau Anda perhatikan, jalan yang Anda lalui, kalau berjalan dari Stasiun Tugu hingga ke Keraton Ngayogyakarta itu namanaya Jalan Margo Utomo ( Margo = jalan, Utomo = keutamaan). Urut-urutannya begini, dari Stasiun Tugu hingga Toko Terang Bulan itu namanya Malioboro. Kalau kita cermati dari ilmu bahasa, Malioboro itu gabungan dari kata “wali”, Malio itu bermakna suatu perintah/anjuran “menjadi/jadilah Wali”, sedangkan “boro” itu artinya mengembara. Pada awalnya Anda harus berlaku sebagai wali dan mengembara kemana-mana agar mampu melihat banyak peristiwa yang dari padanya Anda akan mengambil hikmah. Kemudian setelah melalui Malioboro Anda berjalan dari Toko Terang Bulan ke Kantor Pos melewati Jalan Margo Mulyo (jalan yang mulia/jalan kemuliaan), baru setelah itu Anda menuju ke alun-alun melewati Jalan Pangurahan (kurah-kurah = bersih-bersih) yaitu Anda harus melakukan thaharah dalam berbagai dimensinya: thoharoh sosial, thoharoh ntelektual, thoharoh spiritual, dan seterusnya. Anda harus membuang segala sesuatu yang telah susah-susah Anda cari tapi ternyata tidak bisa dibawa. Nah kalau sudah demikian, Anda memasuki istana itu Anda sudah tidak bersifat dunia”, demikian terang Cak Nun.

Dalam hubungannya dengan Hukum Profetik ini, Cak Nun menandaskan bahwa Hukum Profetik itu ide moral bukan ide hukum karena orang sekarang lebih percaya pada manusia daripada kepada Tuhan sehingga Hukum Profetik tidak mungkin bisa menjadi perhitungan hukum negara. Orang berani dan sangat pandai mendiskusikan/menggugat sebuah nilai kebenaran tapi tidakberani menggugat demokrasi. Manusia berani — bahkan — menggugat nabi tapi tetap tidak berani menggugat demokrasi. “Kita tidak bisa memperbaiki Indonesia dengan hukum (yang sekarang ada), sebab justru hukum itulah yang merusak dirimu,” papar Cak Nun.

Selanjutnya Cak Nun melanjutkan, “Maka jangan khawatir dengan semua kejadian yang sedang berlangsung sekarang ini karena Anda lebih besar dari itu semua. Ambil cara berfikir dialektis, misalnya, kehidupan itu cembung-cekung, kan? Saya tanya, Anda ini bagian dari Indonesia atau Indonesia bagian dari diri Anda?Iini artinya secara administratif, yang oleh konsep tentang kekuasaan, ekonomi, politik dan sebagainya Anda ini bagian dari Indonesia tapi secara substansial Indonesia adalah bagian dari diri Anda karena begitu banyak soal dari diri Anda yang tidak terkait dengan negara. Jadi tidak akan dihitung berapa banyak amalmu tapi bagaimana kesungguhan amalmu maka hukum profetik itu harus kita temukan.”

Apa yang sekarang Anda kejar-kejar ini sesungguhnya adalah sorganya dajjal, yang dimulai dari Israel — Amerika — Bank Dunia dan seterusnya. Anda sedang dikuasai dan dipaksa untuk kehilangan diri oleh sebuah sistem sedemikian rupa yang seringkali tidak kita sadari. Maka kepada para hadirin yang mayoritas para mahasiswa itu, Cak Nun berpesan agar di samping belajar hukum formal, mereka harus belajar untuk meneliti dari mana asal-usul hukum itu. Kebingungan-kebingungan kita hari ini boleh jadi dimulai ketika ideologi kapitalisme, liberalism, dan sebagaianya itu menghadirkan mitologi nilai yang membuat kita salah memahami berbagai macam persoalan.

Pada sesi selanjutnya Cak Nun mempersilakan Pak Busyro Muqoddas untuk berbicara.

“Menghadapkan antara kenabian dan kontemporer itu seperti menghadapkan antara madu dan racun”, kata Pak Busyro mengawali uraiannya. Menurut salah satu ketua KPK ini, sekarang telah terjadi proses dehumanisasi, yakni ketika manusia tidak diletakkan pada fitrahnya. Dehumanisasi manusia di Indonesia memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu mesin untuk melakukan pembangunan yang hanya berkonsentrasi pada aspek lahiriahnya saja. Pembangunan yang sedang dilakukan tidak bertujuan untuk meletakkan manusia sebagai fitrahnya. Pernyataan Pak Busyro diikuti oleh penjelasan beliau bahwa unsur yang ada pada manusia itu ada tiga: rasa, cipta dan karsa.

“Menurut informasi yang saya baca kemarin, disebutkan bahwa karya penelitian para akademisi dan mahasiswa Indonesia itu minim dan sangat rendah, masih lebih rendah dari Philipina, Brunei, atau Singapura. Tetapi berdasarkan hasil riset yang saya baca itu disebutkan bahwa Indonesia adalah negara nomer satu dalam urusan membangun mall,” kata Pak Busyro.

“Kapitalisme itu mengajari kita untuk jadi hedonis,” sambung Pak Busyro. Maka konflik BBM yang sedang terjadi ini adalah pintu awal bagi masuknya dominasi asing terhadap penguasaan dan distribusi BBM di Indonesia. Setelah mengemukakan beberapa contoh kapitalisme di Indonesia dari banyaknya produk kukum yang membuka peluang besar terhadap masuknya modal asing disebagian besar kegiatan usaha di Indonesia (bahkan kata Pak Busyro, usaha spa dan panti pijat di Jakarta juga sudah dibuat UU modal asingnya yang diteken oleh Presiden), Pak Busyro menandaskan bahwa hukum sekarang ini disusun untuk memfasilitasi asing. Inilah yang disebut kapitalistik.

Maka Pak Busyro mencetuskan ide Hukum Profetik yang menurut beliau adalah hukum yang isinya nilai-nilai kualitas akhlak, yaitu akhlak sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad. “Nomor satu kita harus membangun keutamaan akhlak, baru kemudian kualitas akhlak sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad inilah yang akan melandasi pembuatan hukum. Kesadaran profetik bisa dimulai dari aktivitas intelektual yang diiringi oleh kegiatan “bertebaran dimuka bumi” sehingga bisa menyerap banyak hal. Di samping itu kesadaran profetik juga dipersyarati oleh aktivitas kontemplasi, bukan hanya berkutat pada teks-teks saja,” lanjut pak Busyro.

Selesai Pak Busyro memaparkan gagasan-gagasannya, Cak Nun melanjutkan kembali sarasehan malam itu. “Mendengarkan semua tentang kebobrokan dan ketidakberesan Indonesia yang dipaparkan oleh Pak Busyro ini, kita jangan sampai salah perspektif dan salah kuda-kuda ataupun salah dalam cara pandang agar pikiran Anda tidak “ngenes” (menderita) semakin berat. Kalau saya menganalogikan Indonesia itu sebagai kebun perdu yang didalamnya banyak buah-buahan, maka yang kita alami dengan kebun itu mengandung 3 kemungkinan:

  • Kita menyerahkan kebun penuh buah itu kepada para monyet
  • Kita salah memilih penjaga kebun
  • Kita sendiri yang — memang — salah konsep tentang kebun sendiri.

Jadi sebenarnya salah kalau kita menyebut para koruptor itu dengan sebutan tikus sebab tikus itu kan bukan bagian dari rumah. Keberadaan tikus itu underground karena ia melakukan aktivitas pencurian, sedangkan apa yang kita lihat di Indonesia sekarang ini? Apakah yang melakukan korupsi itu bukan bagian dari “keluarga” Indonesia? Lalu kenapa Anda menyebutnya tikus? Anjing saja tidak pernah mau mengambil selain dari yang diberikan kepadanya kan? Nah, kamu sudah tidak kenal dirimu sehingga tidak kenal Tuhanmu dan akhirnya kamu tidak akan sampai pada Nubuwwah“, Cak Nun menguraikan.

Menurut Cak Nun, tidak fair menuntut rakyat Indonesia menemukan pemimpin yang baik karena memang kita tidak dididik untuk melakukan hal-hal dan mendapatkan informasi yang obyektif dan ilmiah. Jadi menurut Cak Nun, ini semua memang harus dijalani karena yang akan sampai pada pertolongan Tuhan adalah niat baik yang kita punya, bukan kepandaian kita.

Dalam soal kepemimpinan, Cak Nun menjelaskan bahwa selayaknya manusia itu mesti memahami dulu tahap demi tahap evolusi intelektual dan spiritual yang terjadi padanya agar menguasai ilmu untuk mengelola kepemimpinan di tengah-tengah masyrakat.

Terlebih dahulu seseorang harus berkapasitas sebagai Ulin Nuha, yaitu orang yang memiliki potensi kecerdasan akal yang mencegahnya untuk tidak berbuat buruk, kemudian setelah itu manusia masuk pada skala Ulil Abshar, yaitu seseorang yang mempunyai kecerdasan berupa kekuatan pandangan hati (Bashira > Abshar), lalu setelah itu masuk ke tingkat Ulil Albaab, yakni orang yang telah sampai pada kesadaran spiritual sehingga mempunyai kecerdasan yang paripurna. (Al Baab > Lubb, kecerdasan jiwa). Setelah seseorang telah melewati fase ini, ia baru punya kemungkinan untuk mengaktual menjadi Ulil Amri (pemimpin).

“Lalu tugasmu apa?,” tanya Cak Nun pada hadirin. “Bikinlah pribadimu sebagai organisme Muhammad”, ditegaskan oleh Cak Nun kemudian. “Hidup itu meneliti sebab kalau Anda meneliti Anda akan menemukan dirimu. Dari sini kita akan tahu siapa yang disebut “lebih rendah dari binatang” itu, yaitu yang punya mata tapi tidak digunakan untuk melihat, yang punya hati tapi tidak merasa, yang punya telinga tapi enggan mendengar dan yang punya jiwa tapi tidak membangunkan kesadaran. Maka dalam proses melakukan penelitian dan berpikir tersebut, ingat juga sebuah peringatan dari Allah yaitu Apa kamu pikir Aku menciptakan segala sesuatu itu sia-sia?”

Pada bagian akhir pak Busyo mengemukakan bahwa kegiatan yang selama ini dilakoni oleh Cak Nun dan kelompok Kiai Kanjeng ini bukalah sekadar misi kebudayaan tetapi merupakan misi peradaban. Pada kesempatan itu Pak Busro mendoakan agar Cak Nun diberi anugerah kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin agar tetap melakukan segala hal bagi kebaikan banyak orang.

Menjelang purna sarasehan malam itu, KiaiKanjeng melantunkan lagu Letto Sebelum Cahaya dan kemudian ditutup oleh Cak Nun dengan Sholawat dan doa bersama.