Manusia Menuju Cahaya

Tulisan ini bukan ikut-ikutan sok “latah” atas kehadiran film Cahaya di Atas Cahaya, namun hanya letupan hati yang tak tertahankan. Tulisan ini saya buat persis sehabis sholat Maghrib, dan sambil “mohon ijin” kepada Allah SWT saya langsung mengetik tanpa terlebih dahulu dzikir seperti biasanya. Bukan apa-apa hanya karena setelah jam 19.00 nanti ada acara untuk mengunjungi tetangga kiri kanan, dan jam 20.00 sudah dinanti Liverpool vs Manchester United. Padahal di sisi lain saya sudah tidak tahan untuk menumpahkan rasa haru pada peristiwa tadi sore.

Sedikit cerita, sore tadi sebelum tulisan ini dibuat ada pelajaran dari Allah kepada saya. Di tengah hiruk pikuknya kota besar dengan lalu lalang kendaraan, asap knalpot yang pekat, serta panas terik menyengat, tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian — maaf — agak lusuh mengejar dan menyapa saya dengan sangat ramah: ”Pak Saratri ya?” Saya tentu saja tertegun karena merasa tidak kenal lelaki ini. Kalau mantan mahasiswa kok seperti berpakaian juru parkir yang berwarna orange itu. Namun  kalau juru parkir kok wajahnya beraura cahaya kebahagiaan, sangat ramah, dan cukup ganteng.

Setelah saya berpikir agak lama, dia baru menjawab pikiran saya: “Saya Jamaah Maiyah pak”. Saya tertegun kaget dan merasa berdosa. Alangkah sombongnya saya, atau setidaknya malasnya saya untuk mengenal satu persatu para jamaah. Bukankah dalam Islam konsep berjamaah itu tidak hanya diwujudkan dalam sholat saja, namun juga dalam kehidupan keseharian?

Selama ini kita hanya sholat bareng dan bukan berjamaah,  karena sehabis sholat kita tidak pernah bekerjasama dalam lapangan ekonomi, politik, dan budaya. Bandingkan dengan etnis China di negeri ini yang demikian suntuk berjamaah dalam arti sesungguhnya, setidaknya di lapangan ekonomi, meski sebagian besar mereka tidak pernah sholat berjamaah seperti kita.

Kembali kepada lelaki juru parkir yang bercahaya tadi, saya lantas membandingkan dengan ketika saya berjumpa dengan mantan mahasiswa yang kini menjadi kontraktor sukses di Jakarta yang ketika bertemu saya menyapa dengan agak “sombong” (setidaknya dalam persepsi saya). Sambil meminggirkan Toyota Camry terbarunya, ia juga melirik mobil tua saya, dan katanya : “Wah Pak Saratri masih tetap sederhana ya (untuk menghaluskan kata tidak kaya)”. Jawab saya singkat: ”O ya mas, masih seperti dulu”. Tentu saja sambil bathin saya bilang, sederhana ndasmu itu, memang mobil tua ini yang aku punya. Lalu ia dengan bangganya menceritakan kesuksesannya di Jakarta. Sebagai seorang dosen ya saya tetap bahagia mendengar mantan anak asuh saya ini “sukses”.

Bagi saya ada bedanya antara pertemuan dengan Jamaah Maiyah yang lugu sederhana tadi dan mahasiswa saya yang sukses ini. Pertemuan dengan jamaah Maiyah yang juru parkir ini membikin hati ini tergetar dan membuat saya KO karena merasa kalah kualitas beragama saya. Bagaimana mungkin dengan bekerja keras sebagai seorang juru parkir, toh malamnya masih rajin mendatangi pengajian, bahkan di jamaah Maiyah ia bisa sampai pagi, sementara untuk makan anak isteri esok harinya saja tidak tentu.

Sementara saya yang sampai mati digaji oleh negara sering tidak pernah bersyukur, sering menggerutu, dan selalu mencari alasan jika diajak mendatangi pengajian dan kebaikan lainnya. Saya malu dan iri kepada si juru parkir tadi yang selalu riang gembira, dan meski saya bukan ahli mencandra orang, namun saya melihat aura cahaya terang di wajahnya.

Ada satu konsep “Ekonomi Barokah” kata Cak Nun, yakni suatu konsep dimana Allah terlibat secara aktif-partisipatoris dan berfungsi langsung sejak awal. Allah ternyata tidak hanya “duduk” pasif menunggu hamba-hambaNya berdoa, sehingga ada dialektika horizontal-vertikal sehingga mekanismenya siklikal. Allah adalah penanam saham utama dan 100% dalam setiap usaha ekonomi manusia. Seluruh aset di bumi, langit, alat produksi di badan dan otak kita, serta apa saja yang merupakan faktor didalam ekonomi adalah milikNya.

Saya iseng-iseng sering memperhatikan beberapa jamaah Maiyah yang sangat setia mendatangi acara ini, dan tadi baru saja mendapat bukti lagi dari mas juru parkir. Rata-rata mereka yang mendatangi acara Maiyah-an adalah orang-orang yang sangat setia kepada Allah dan Rasulullah. Sebelumnya saya sempat GR, bahwa kehadiran mereka jangan-jangan karena kehebatan ilmu dan omongan saya, Pak Ilyas, Om Budi dan Habib Anis. Namun ternyata dugaan ini keliru. Kehadiran mereka di arena Maiyah-an adalah salah satu bentuk kesetiaan terhadap persaudaraan dan kesadaran kealamsemestaan lainnya.

Saya baru sadar bahwa arena pengajian Maiyah itu memiliki aura yang luar biasa berkat banjir doa, wirid, dzikir, dan ketulusan ratusan jamaah. Bagaimana mungkin kalau bukan aura pengajian ini yang bersinar kalau ada seorang ibu yang sangat “heroik” membawa bayinya dari tempat yang jauh, naik motor, dan tetap setia menanti pengajian berakhir sampai jam tiga dini hari, meski untuk itu ia juga sambil membaringkan dan menunggui anaknya di karpet yang dingin ? Tentu ibu ini tidak sekadar mendengarkan omongan kami, Pak Ilyas, Om Budi, Habib Anis, tapi jelas berkat aura pengajian ini. Bayangkan kalau kita masuk masjid tua yang dibangun para wali atau ulama sholeh, pasti ada sesuatu yang sangat menggetarkan kalbu dan jiwa.

Para ustadz, narasumber atau apapun namanya di pengajian Maiyah-an, hanyalah pengantar, karena sesungguhnya mereka yang datang di acara ini adalah untuk mengekspresikan cita segitiga : Allah, Rasulullah dan kita. Cinta segitiga ini — kata Cak Nun — memunculkan ketentraman dan keikhlasan dalam bekerja. Bayangkan bila orientasi kerja dan berbagai aktivitas kita hanya sekedar berdimensi duniawi, maka kita hanya memperoleh dunia. Namun bila semua itu kita orientasikan dalam kecintaan kita kepada Rasulullah dan dalam rangka kepatuhan dan ketundukan kita kepada Allah, maka kita akan mendapat dua: kenikmatan duniawi dan ukhrowi.

Ada banyak orang meng-ekspresi-kan kecintaannya kepada Rasulullah SAW, misalnya ketika dalam keadaan bahaya, kita disunnahkan untuk membaca sholawati. Bukankankah  dengan sholawat maknanya justru kita mendoakan Nabi? Mengapa dalam keadaan demikian kita tidak berdoa untuk diri sendiri saja? Begitulah cinta memantul.

Karenanya saya berani bertaruh bahwa para jamaah ini adalah manusia-manusia cahaya, setidaknya berniat tulus menuju cahaya Allah. Mengapa ? Sederhana saja, mereka adalah orang yang jujur. Maiyah-an berbeda dengan pengajian pada umumnya yang isinya selalu mengunggulkan dan membenarkan 100 % kelompoknya dan menuding kelompok lain sesat dan kafir.

Kata-kata: itu bid’ah, itu haram, itu neraka, dan seterusnya hampir selalu terdengar pada pengajian pada umumnya. Kata-kata seperti “kita” dan “mereka”, “kelompok kita” dan “bukan kelompok kita”, terus membahana. Akibatnya ruang pengajian hanyalah tempat pengadilan dan tempat untuk menabung kebencian.

Berbeda  jika kita hadir di Maiyah-an, disini barulah saya sadar, bahwa pengajian ini lain dari yang lain. Yang hadir adalah orang-orang yang merasa kotor sehingga sangat mendambakan cahaya. Orang Maiyah sangat kagum dengan  kelompok lain yang merasa bersih dan benar itu, dan karenanya di pengajian ini tidak berani — misalnya — menuding kelompok lain salah. Orang Maiyah sangat cinta dan kagum dengan kelompok seperti NU, Muhammadiyah, Sunni, Syiah, LDII, FPI, HTI, bahkan Islam KTP. Mereka dapat dijadikan cermin, sehingga yang ada pada orang Maiyah adalah kesibukan yang luar biasa untuk membersihkan dirinya sendiri sehingga tidak sempat berpikir terhadap kekotoran orang lain.

Meski barangkali sebagian ada yang baca ”turutan” atau ”Buku Iqro” saja tidak jejeg, tapi ketulusan dan kejujuran inilah yang membuat para Malaikat bisa memahami. Bahkan kalau ada jamaah misuh-misuh, Malaikat juga tetap tersenyum dan ikut memohonkan doa kepada Allah karena pisuhan ini muncul karena mereka juga berada dalam himpitan ketidakadilan dan kezaliman.

Karenanya pula saya jadi paham bila rata-rata para jamaah Maiyah adalah orang-orang yang saya jamin jujur dan tulus seratus persen. Mereka adalah para pencari cahaya yang selalu melangkah menuju Allah. Kita berasal dari Allah dan akan kembali “menjadi” Allah saja (innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun). Para jamaah sangat paham bahwa hakekatnya mereka itu tiada, kemudian diadakan oleh Allah, lalu akan kembali tiada.

Kehadiran di arena pengajian ini hanya untuk mencari Allah saja, karena hanya Dia yang sesungguhnya ada. Yang lain sesungguhnya tidak ada. Ketulusan, keseriusannya mengaji hanya untuk mencapai keabadian. Sebuah langkah awal agar kelak bisa “menyatu” denganNya. Di pengajian Maiyah para jamaah dikondisikan untuk selalu menyadari ketiadaan itu, dan karenanya mereka tidak sempat berpikir, apalagi bertindak mengkafirkan yang lain, seolah-olah hanya dirinyalah yang sudah ”berpengalaman di akherat”.

Karenanya saya sangat paham jika para jamaah ini sebagaimana direpresentasikan si juru parkir tadi, wajahnya selalu bercahaya dan Malaikat selalu menjaga ketulusan, kebersihan dan keseriusan menghadapi hidup. Inilah yang menyebabkan saya selalu mendapat energi baru setiap kali ”berurusan” dengan mereka. Meski saya sering berbicara di hadapan mereka, namun sesungguhnya sayalah yang sering diajari oleh manusia-manusia cahaya itu.