Maiyah Internasional?

Pengalaman pergi ke Madinah dan Mekah bagi saya makin mempertebal keimanan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bagaimana tidak, begitu sampai di Madinah, banyak orang yang merasa kerepotan memasuki Raudhah, saya justru diijinkan Allah memasuki tempat suci itu dengan mudahnya. Kalau yang lain barangkali harus berebut mengeluarkan tenaga yang luar biasa banyak, maka saya hanya “ngatut” saja dan pasrah, namun justru karena itu, saya malah didorong begitu saja, dan “gol” masuk ke Raudhah yang suci itu.

Kalau jamaah lainnya baru lima menit diusir askar Arab yang “galak” itu, entah mengapa saya hampir satu jam tidak disuruh keluar! Malahan ada seorang jamaah dari Turkey yang tidak saya kenal, mempersilakan saya sholat sampai delapan rekaat dan ia yang menjaga saya! Ia begitu “setia” meminta orang yang akan mengganggu sholat saya dengan cara tangannya dibentangkan menghalangi orang yang akan menabrak saya. Saya sih maunya hanya sebentar dan tidak ingin egois, namun si Turkey ini terus bilang “sholat…sholat….!”. Maka saya bagai kerbau yang dicucuk hidungnya manut-manut saja. Setelah selesai sholat tentu saja saya berdoa, dan salah satu doa saya adalah kalau boleh, mbok malamnya diijinkan bermimpi ketemu Rasulullah SAW. Malam harinya ternyata Allah SWT mengijinkan saya bertemu Muhammad, namun bukan Muhammad SAW (Rasulullah), namun bermimpi ketemu Muhammad Ainun Nadjib alias Cak Nun! Saya pun tetap mengucap Alhamdulillah.

Demikian pula ketika saya pertama kali masuk Kota Mekah dan Masjidil Haram, maka hal pertama yang saya lakukan adalah sholat di depan Ka’bah, dan kalau boleh juga diijinkan mencium Hajar Aswad. Untuk urusan mencium ini sudah saya ceritakan dalam tulisan khusus di website ini. Sama halnya di Raudhah, ketika sholat di depan Ka’bah, saya juga tetap nekad, mengulangi doa yakni kalau boleh mbok diijinkan bermimpi ketemu Rasulullah SAW. Namun seperti doa di Raudhah, saya juga belum diijinkan ketemu Rasulullah Muhammad SAW, namun sebagai gantinya — lagi-lagi –saya baru diijinkan ketemu Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) lagi! Namun pertemuan yang kedua dengan Cak Nun ini sedikit ditambahi “bumbu” oleh Allah SWT, yakni tidak sekedar bertemu, namun saya melihat dengan jelas Cak Nun sedang menggelar Maiyah-an di pelataran Ka’bah!

Maiyah Internasional

Paginya saya merenungkan mimpi tersebut. Memang mestinya, ibadah haji itu ya dimanfaatkan sebagai satu pertemuan “Maiyah Internasional”. Ayo tunjukkan agama di muka bumi ini yang sanggup mengundang jamaahnya dari seluruh penjuru dunia dalam sebuah ritual akbar yang maha kolosal, tanpa diembel-embeli sekat-sekat status sosial, suku bangsa, etnik, budaya, dst, selain agama Islam?

Lihat saja, para calon haji berduyun-duyun dari seluruh muka bumi, tanpa digerakkan oleh satu peraturan negara, partai, atau dipaksa oleh kekuatan manusia, namun mereka berkumpul hanya karena Allah SWT saja! Ritual haji sungguh luar biasa. Ka’bah dikitari (di-tawaf-i) jutaan orang secara bergantian tanpa berhenti sedetik pun sepanjang massa! Demikian pula gerak “gelombang” orang sholat secara berjamaah, juga bagaikan sebuah teater maha agung yang hanya dapat “di-sutradara-i” oleh Allah SWT saja! Hanya Allah saja yang mampu membuat “skenario” ini,  dan hanya Allah saja yang sanggup “mempertontonkan” teater maha agung ini dalam satu “kostum” yang sama, yakni dua lembar kain putih (ihram) serta “dialog-dialog” adegan yang maha sakral. Para calon haji seakan hendak ditunjukkan bahwa kalian itu tidak ada apa-apanya. Meskipun kamu presiden, raja, menteri, pejabat tinggi, bahkan kekayaanmu segunung emas, namun manusia tidak ada artinya tanpa pertolongan Allah. Dengan pakaian serba putih, Allah nampaknya ingin mengajarkan bahwa semuanya sederajad, dan kelak jika mati, hanya dua lembar kain putih itu yang dikenakan.

Demikian dahsyatnya gerak kolosal ritual agung ini, maka tidak mengherankan jika pada jaman penjajahan, Pemerintah Belanda pernah melarang orang Indonesia naik haji, atau setidaknya mempersulitnya. Bukan apa-apa, karena biasanya sepulang dari haji orang ini akan membahayakan kekuasaan kolonial (baca: Harry J. Benda dalam The Crescent and the Rising Sun, 1958). Kala itu, ibadah haji sekaligus juga dimanfaatkan oleh sebagian pejuang pergerakan kemerdekaan untuk bersilaturahmi dengan umat Islam lainnya di seluruh dunia. Gerakan Pan Islamisme nampaknya juga lahir dari berbagai pertemuan haji seperti ini. Karenanya tak mengherankan jika ketika pertama kali negeri ini diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945, maka negara-negara Islam lah yang pertama kali mengakui kita.

Ibadah haji bagaikan “Kongres Internasional”, yang sangat bermanfaat bagi pencerahan bangsa. Ibadah haji merupakan ajang yang sangat strategis untuk bertukar pengalaman, menjalin silaturahmi internasional, yang di ujungnya menelorkan berbagai kerjasama internasional yang sangat bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Namun apa yang terjadi saat ini? Apakah ibadah haji bisa berdampak terhadap kerjasama internasional yang lebih dahsyat lagi? Dalam pengamatan sekilas saya, nampaknya hal itu sulit terulangi. Ibadah haji saat ini sudah dikotori oleh banyak kepentingan. Jaman dahulu, nenek moyang kita, untuk pergi haji memerlukan waktu lebih dari setahun, karena untuk perjalanannya saja harus naik kapal laut. Tentu saja hanya orang yang sudah sanggup secara mental spiritual saja yang bisa berhaji.

Namun sekarang, terkait kemajuan kesejahteraan, hampir tiap orang dapat naik haji jika mau. Bahkan para koruptor pun sehabis merampok uang negara, langsung umroh atau ber-Haji Plus. Ibadah haji sudah menjadi komoditas ekonomi politik. Banyak Kelompok Bimbingan Haji yang memanfaatkan untuk memperkaya diri, baik dengan cara “memperumit” kurikulum manasik haji, maupun dengan cara menyebar brosur ala MLM. Dalam “kurikulum” tersebut ibadah haji diperumit agar calon haji “takut” jika tidak ikut bimbingan haji khusus itu. Dalam “kurikulum” itu ada berbagai “mata pelajaran” seperti: senam haji, senam di pesawat, jalan sehat, konsultasi psikologis, konsultasi medis, menghafal doa, dst. Tentu saja dengan makin rumit kurikulumnya, maka makin mahal biayanya. Padahal sampai di tanah suci, ibadah haji itu sangat mudah!

Haji Sabar

Demikian pula, penyelenggaraan haji juga sudah dimonopoli, itupun dengan pelayanan yang jelek. Dari sisi mental saja misalnya, para jamaah calon haji sudah “digojlog” oleh penyelanggara ibadah haji pada hari pertama mereka ketika menginjakkan kaki di embarkasi masing-masing, karena sebagian besar tas paspor para jamaah putus atau rusak talinya.

Dapat kita bayangkan betapa mangkelnya hati, karena tas kecil ini sangat penting artinya bagi mereka karena fungsinya untuk menyimpan dan membawa dokumen paspor, buku kesehatan dan lain-lain, kemana pun mereka pergi selama di tanah suci. Mereka tentu akan menemui kesulitan jika tali itu putus ketika berdesak-desakan di tanah suci, karena bisa saja berbagai dokumen penting itu akan hilang. Anehnya, di embarkasi, ternyata sudah siap orang yang “ikhlas beramal” (maaf mirip slogan departemen tertentu) yang menyediakan jasa perbaikan tali tas paspor! Tumbu ketemu tutup kata orang Jawa. Mereka nampaknya tanggap ing sasmita bahwa tali tas akan putus begitu sampai di embarkasi. Ini baru orang Indonesia namanya.

Di tanah suci gojlogan terus berlangsung, mulai dari bus yang tidak nyaman karena sudah tua usianya dan AC nya ngadat, sampai fasilitas toilet di Arofah dan Mina yang jumlahnya hanya beberapa puluh buah saja, padahal untuk melayani puluhan ribu jamaah. Sehingga agar tidak stress, jamaah harus pandai mengatur irama minum air atau makan. Tujuannya agar tidak sering kencing, apalagi kebelet buang hajat besar. Bukan apa-apa, hanya untuk sekadar kencing, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk antre! Toilet yang ada ternyata tidak dibedakan antara yang mau mandi, buang air besar, atau hanya sekadar kencing.

Derita itu belum berakhir, manakala di Arofah dan Mina antre makan tiba. Saya juga heran, kenapa tidak disediakan nasi box saja biar cepat dan efisien? Yang terjadi, jamaah disuruh antre kemudian ada pelayan yang mengambilkan nasi dan lauk, dan jamaah menengadahkan piring mirip tahanan. Bila setiap kelompok terbang ada sekitar 350-an orang jamaah, maka pengantre terakhir dan pengantre pertama berbeda waktu sekitar 1,5 jam sampai 2 jam! Sialnya, barisan terakhir sering kehabisan nasi atau lauk!

Bagaimana mungkin penyelenggara haji yang sudah berpengalaman puluhan tahun tidak dapat menghitung jumlah jamaah dan persediaan makanan, dan bagaimana mungkin masih mengandalkan cara bodoh ini berkali-kali setiap musim haji tiba?

Untuk mentolerir kebodohan itu maka diciptakanlah mitos “sabar”. “Bapak ibu calon haji harus sabar, karena kita sedang beribadah”, demikian berkali-kali himbauan tim pembimbing. Himbauan ini sama saja ada orang mengobrak-abrik rumah kita, lantas orang ini bilang bahwa si empunya rumah sebaiknya sabar saja dengan cara diam sampai rusak rumahnya.

Yang jelas, untuk penyediaan makanan jamaah saja misalnya, ini adalah soal bisnis besar. Jika setiap jamaah dijatah 20 ribu rupiah sekali makan, maka jika dikalikan 220-an ribu jamaah haji, maka jumlah itu akan fantantis, dan karenanya orang bisa saja suudzon tentang keterbukaan tender catering ini. Belum lagi soal pakaian seragam, jaket, tas koper, dan berbagai ”iuran” lainnya.

Konsep sabar mestinya terkait dengan takdir atau sesuatu yang sudah kita usahakan maksimal, namun akhirnya hasilnya nihil. Konsep sabar tidak dapat diterapkan dalam konteks kebodohan atau kesengajaan untuk membuat orang lain rugi. Dengan kata lain, justru yang merusak suasana ibadah haji adalah penyelenggara, karena para jamaah harus sering mengumpat karena tidak tahan atas pelayanan ini.

Karenanya ”wajar” saja mengapa Indonesia yang hampir 96% penduduknya memeluk Islam, dan bahkan 100% pejabatnya pernah pergi haji, ternyata juga tetap menjadi negeri paling korup di dunia, dan sebaliknya Swedia dan negara-negara Skandinavia lainnya — meski tidak beragama Islam — namun dicap sebagai negara paling bersih di dunia. Padahal Islam mengajarkan kedisiplinan, kejujuran, kasih sayang, moral, akhlak, dan sebagainya, namun sayang tidak dapat diamalkan oleh umatnya. Kalau baru tingkatan akhlak saja belum sampai, bagaimana kita mau sampai kepada tingkatan taqwa?

Demikian pula ketika seorang pejabat negara yang ketika berhaji melontar jumroh — misalnya. Ia mestinya juga sadar bahwa ia tidak sekedar melempar tugu sebagai benda yang mati, namun harus sadar bahwa ia sedang melempari syetan. Karenanya ketika kembali ke tanah air dan ke kantornya, ia juga tetap harus melempari syetan yang mengajaknya korupsi. Artinya  harus mampu menolak segala kebatilan dan kejahatan yang menjauhkan dirinya dari Allah dan Rasulullah.

Orang beragama yang sudah sampai kepada Allah, pasti akan menggerakkan seluruh ibadah ”mahdoh-nya” untuk menuju kesadaran sejati mengabdi kepada Allah. Setelah haji misalnya, ia akan menyiapkan segala indranya untuk Allah. Melalui Rasulullah, Allah telah bersabda: ”Ketika AKU mencintai seorang hamba, Aku Tuhan adalah telinganya sehingga dia mendengar dengan AKU, aku adalah matanya sehingga ketika melihat dengan AKU, dan aku adalah lidahnya sehingga dia berbicara dengan AKU, dan AKU adalah tangannya sehingga dia mengambil dengan AKU”.

The New World of Islam?

Karenanya, mestinya ibadah haji adalah sarana untuk menuju ere the new world of Islam. Betapa hebat dan kuatnya negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam jika mereka bersatu dan berjamaah dalam lapangan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Barat boleh jadi akan “ngeper” jika hal itu terjadi. Sudah lama Fazlurrahman juga bilang bahwa kekuatan “politik” haji luar biasa (baca bukunya Magnum Opus-nya Islam, 1984).

Harapan ini dapat terjadi jika  ibadah haji juga dimaknai sebagai sarana Maiyah Internasional sebagaimana mimpi saya di atas. Amin.