Logika Kepada Sang Pencipta

Antara ciptaan (mahluk) dan pencipta (khalik), terdapat dua logika di dalamnya yang bisa memelesetkan banyak orang ketika berusaha mempergunakannya.

Logika pertama, bahwa Allah adalah pencipta. Maka segala yang bukan Allah adalah ciptaannya. Sepintas premis ini terlihat tepat.

Akan tetapi, berangkat dari premis logika semacam ini, telah muncul berabad-abad lampau perdebatan berkenaan dengan “keberadaan” Al Qur’an. Dan, sejak kemunculannya, perdebatan tersebut terus menempel secara berkepanjangan diantara pergantian raja-raja, dan kerap berujung pada penangkapan-penangkapan, pembunuhan-pembunuhan, pembakaran buku-buku serta pemusnahan perpustakaan-perpustakaan.

Di masa lalu (mungkin juga sampai esok hari) sebagian orang tidak bisa lari dari keyakinan bahwa Al Quran adalah mahluk, karena jelas ia bukanlah Pencipta, bukan Khalik, bukan Allah. Sedangkan sebagian orang lagi, yang tidak bersedia menyebut Al Quran adalah mahluk, memiliki argumen bahwa itu adalah kalam Allah, meski juga tidak mungkin untuk serta-merta mengatakan bahwa kalau bukan mahluk berarti Al-Quran itu adalah Allah, atau setidaknya merupakan bagian dari zat Allah.

Dari sinilah mulai terasa adanya wilayah licin dalam ber-logika, atau sesungguhnya lebih tepat jika disebut sebagai ber-silogisme.

Al Quran, yang dimaksudkan sebagai bukan mahluk oleh sebagian orang, diterangkan sifat keberadaannya sebagai kalam Allah. Dalam hal ini eksistensi Al Quran bisa dianalogikan seperti manusia dengan suara atau ucapannya. Oleh karena itu, siapapun dipersilahkan untuk mendefinisikan, suara manusia itu merupakan bagian dari manusia atau bukan. Atau, secara ekstrim, silahkan mempertanyakan suara manusia itu, adakah ia dikatakan sebagai manusia?

Namun, belum lagi tersepakati jawaban bagi “kemakhlukan” Al Quran, kehadiran logika tersebut membawa pula efek samping yang menggiring nalar kepada wilayah yang semakin menggelincirkan. Logika, kemudian menggoda nalar siapapun untuk secara imajinatif melakukan penggambaran fisiologis terhadap keberadaan sebuah wujud atau zat. Sesudah itupun, secara alamiah logika tersebut juga akan menyeret nalar ke dalam upaya penghadiran struktur — seperti pada tubuh manusia misalnya — dan membayangkan (nirmana) maupun mendefinisikan citra Allah, Khalik.

Apakah Allah memiliki susunan (struktur) pada zatNya? Bila Allah menyampaikan kalam-Nya, terdapatkah organ pada zat Allah, seperti halnya mulut untuk berkata-kata bagi manusia?

Selanjutnya, hal kedua dalam logika yang juga menggelincirkan dalam membahas Pencipta dan yang diciptakan, atau khalik dan mahluk, justru muncul dari adanya dikotomi yang mengawali pembahasan itu sendiri. Sebagaimana adanya si miskin karena ada yang kaya, adanya terang karena ada yang bernama gelap, adanya besar karena ada yang disebut kecil, maka apakah ada-Nya yang dikatakan sebagai Pencipta dikarenakan adanya yang diciptakan?

Bukankah dengan demikian Pencipta juga hanya bisa disebut sebagai Pencipta karena di saat yang bersamaan harus ada apa yang sebut sebagai ciptaan? Sebab, ketika tiadanya si miskin, maka tidak akan pernah muncul istilah kaya. Dan, tidak juga dapat disebut sebagai semua orang adalah kaya. Karena adanya si miskin mutlak dibutuhkan untuk menunjukkan perihal adanya si kaya. Demikian pula bagi adanya besar dan kecil, gelap dan terang, atau sebagainya.

Alhasil, dengan mengikuti logika tadi, beranikah untuk dikatakan bahwa sebelum adanya ciptaan tidak pula ada Pencipta. Sebelum adanya mahluk maka Khalik tidak ada. Sebelum adanya langit serta bumi berikut segala isinya, maka belum (tidak) ada yang bernama Allah?

Juga, beranikah untuk dikatakan secara lebih jauh, bahwa Tuhan ada dikarenakan ada penyembah bagi-Nya. Tuhan ada sebab ada yang menuhankan-Nya. Sehingga, dengan tiadanya penyembah, niscaya meniadakan pula ada-Nya Yang Disembah. Maka, Tuhan pun akan mati bersama kematian para penyembah-Nya?

Atau, dalam hal ini, apakah logika akan melarikan diri ke dalam sebuah asumsi yang tambah menggelincirkan lagi: maka yang disebut Allah adalah meliputi (termasuk) segala ciptaan-Nya. Dan, oleh karena itu muncul premis: wahdatul wujud, manunggaling kawula lan Gusti, semuanya tidak ada dan yang ada hanyalah Allah. Allah tidak ada dan yang ada adalah Aku, Kau, Kita, Semua: pantheism.

Padahal, bukankah sebelum Allah menciptakan segala sesuatu baik yang di langit maupun di bumi, Ia telah tetap dalam keberadaan-Nya. Bukankah sebelum Allah ber-kun fayakun, tidak ada apa yang disebut sebagai ciptaan. Bukankah, Pencipta harus lebih dulu ada, karena Ialah faktor tunggal yang akan menciptakan segala ciptaan-Nya.

Allah ada sebelum semuanya ada (diadakan). Allah pun tetap ada setelah semuanya tiada (yaumul akhir). Baqa. Kekal. Selama-lamanya. Tanpa Awalan dan Tanpa Kesudahan.

Allah juga tidak akan berkurang, apalagi hilang status-Nya sebagai Allah, walaupun semua yang di langit maupun di bumi tidak sujud (ber-Tuhan) kepada-Nya. Demikian pula bila segala ciptaan-Nya mengingkari kemampuan-Nya dalam menciptakan, bukankah dengan munculnya (existence) yang diciptakan itu berikut kepastian pada berlangsungnya kemusnahan (mortally) niscaya masih saja menunjukkan bahwa memang ada Sang Pencipta, The Immortal.

Syahdan, karena datangnya logika inikah, yang dalam salah satu kasus telah mengambil Khalik dan mahluk ke dalam sebuah dikotomi, timbul pertentangan antar ulama yang berujung pada baku hantam dan saling bunuh. Logika, yang diidentifikasi sebagai buah pena Aristoteles dan telah diimpor dari Bizantium ke Dunia Islam oleh Yahya ibn Khalid al-Barmaki, menteri masa Khalifah Harun al-Rashid, merupakan biang atas kekacauan dan ketegangan theologis antar ulama-ulama Islam beratus-ratus tahun lamanya. Ataukah, masing-masing diantara kita saja yang ternyata memang belum benar dalam ber-logika, dalam mempergunakan silogisme sebagaimana mestinya. Wallahu’alam.