Kek, Buatkan Tank

“Kek, buatkan tank, Kek,” kata cucuku merayu.

“Untuk apa?”

“Perang.”

“Perang? Dimana?”

“Di Gaza, Kek.”

Waduh, anak kecil berusia TK, gara-gara sering nonton berita teve sudah mengerti perang dan minta dibuatkan tank dari balok kreatif yang dibuat dari plastik. Biasanya dia minta dibuatkan kereta api yang panjang. Ia hafal sekali nama-nama kereta api dan jurusannya. Kereta Bengawan jurusan Jakarta – Solo. Lodhaya, Yogya Bandung, Madiun Jaya, Sri Tanjung jurusan Banyuwangi. Ia hafal nama kereta api karena sering diajak ke stasiun dan bawah jembatan layang Lempuyangan untuk melihat kereta api hilir mudik.

Lain waktu, ketika ada waktu luang, saya diminta untuk membuatkan pesawat terbang. Sebab ayah ibunya sering pergi ke lain pulau dan kadang ke luar negeri untuk tugas.

“Ini pesawat yang dinaiki Ayah pulang dari Cina, ya Kek?”

“Ya, kalau ini pesawat Kakek waktu pergi ke Makasar.”

“Buatkan juga helikopter, Kek.”

“Untuk apa?”

“Untuk lihat-lihat sawah dan laut.”

Lain waktu cucu saya minta untuk dibuatkan Ka’bah dan konvoi mobil. Dia bilang itu arak-arakan takbiran. Ia pun menggerakkan kendaraan terbuat dari balok plastik sambil mulutnya mengucapkan takbir. Sambil berbaring ia gerakkan konvoi takiran itu mengeliling lantai ruang tamu yang sempit. Suaranya yang masih murni mewarnai ruang tamu. Teve dimatikan setelah dia tadi capek nonton film kartun dan animasi.

Biasanya ruang tamu ini damai-samai saja. Imajinasi cucu saya dipenuhi dengan penjelajahan tanah air naik kereta api, pesawat, mobil.

Tiba-tiba, dia minta dibuatkan tank. Imajinasi perang pun terbentuk. Setelah tank jadi, mulailah ia menembak ke segala arah. Ke arah susunan buku di rak, ke buah-buahan di bawah televisi, kaki neneknya yang selonjor kecapekan dia tembaki pakai tank.

Saya tidak tahu, apakah ini baik atau buruk bagi pendidikan anak. Imajinasi perang, setahu saya, ketika saya kecil juga sudah ada. Bahkan hampir semua lelaki di kampung seusia ayahku adalah lelaki yang pernah perang, menjadi tentara, lasykar atau gerombolan pengacau Belanda yang pada zaman door stoot mau menjajah Indonesai dan menduduki Yogyakarta.

Ayahku dan ayah teman-teman sebayaku sering mengulang cerita-cerita heroik zaman perang itu. Kami semua menyimak dan mengagumi keberanian mereka. Lalu anak-anak pun bermain perang-perangan. Memperagakan potongan episode pertempuran yang pernah dilakoni oleh para orang tua itu. Alat perang atau senjata macam-macam. Kadang kami memainkan perang dengan serial senjata terbuat dari bambu kecil (carang), dengan peluru bunga jambu (cengkaruk) yang kalau ditembakkan terdengar letupan indah. Kadang kami memainkan perang dengan serial senjata terbuat dari batang gelagah tebu yang diberi pentil mirip ketapel. Kadang kami bersenjata ketapel bambu atau ketapel cawang ranting pohon dengan peluru batang daun ketela yang kalau sudah mulai ada yang curang dia akan mempergunakan batang sirih atau batang daun pohon Jaranan. Ada yang lebih nekad, dia memakai potongan batang Palem. Kalau sudah ada yang curang mepergunakan batang Sirih, Palem atau pohon Jaranan, ini alamat akan ada perang (dunia anak-anak) sungguhan. Tidak terjadi perkelahian antar kelompok anak-anak kampung. Sebab, menurut hukum perang anak-anak di kampung, tiga macam peluru itu dilarang keras untuk dipakai dalam bertempur melawan sesama anak-anak. Kalau melawan cicak atau tokek, atau kadal silakan. Jadi anak-anak pun mengenal hukum perang. Dulu.

Kadang kami mainkan bunyi senapan dengan mempergunakan pelepah pisang. Kadang main perang-perangan dengan saling melempar potongan pelepah itu. Kadang kami main drama-dramaan yang kadang berubah jadi jotosan sungguhan karena yang berperan jadi Belanda ngeyel tidak mau pura-pura mati, dan sebagainya.

Ternyata kenangan dan imajinasi perang kanak-kanak kami tidak mempengaruhi kesehatan mental kami setelah dewasa. Bahkan kami sepertinya mewarisi sifat ksatria dalam membela tanah air. Dengan mendengar cerita perang ayah-ayah kami dan memainkan adegan ratusan kali perang-perangan, kami jusru mendapatkan kegembiraan dan kesadaran bahwa kami adalah bagian dari tanah air Indonesia.

Memang pada zaman kegaduhan politik Orde Baru ketika itu cuma ada partai, semangat juang dan semangat perang sebagai ksatria itu sempat terreduksi menjadi semangat partisan membela partai, dan sering bentrok antar pendukung partai, apalagi yang namanya Satgas partai dia betul-betul siap perang dan siap bentrok, bahkan siap mati. Tetapi setelah Orde Baru tidak lagi memerintah, kami justru sering merasa lucu kalau ingat dulu kok sempat-sempatnya bentrok sesama anak bangsa, dan sekarang semua justru bisa ketemu ngombe wedang jahe bareng di warung angkringan.

Saya tidak tahu, apakah cucu saya dengan main tank-tank an nanti juga akan mewarisi semangat tempur dan semangat juang sebagai ksatria pembela tanah air, atau dia justru melihat permainan tank hanya sebagai permainan belaka. Setelah itu dia sibuk nonton Spongebob, Badut Tairun, Tom and Jerry dan sebagainya.

Perang Gaza usai dan ada kemungkinan meletus lagi, entah kapan, bergantung sponsornya, tank pun pergi dari layar televisi. Cucu saya tadi pagi mengubah adegan permainannya.

“Kek, buatkan gunungan. Kek, pakai pawai prajurit, pakai gajah.”

“Ada drum bandnya?”

“Ya, Kek, ada drum band Kraton. Derek dek pung derek dek pung jil pung derek dek pung, pung tiyet-tiyet,” teriaknya sambil memegang gulungan koran yang ia perlakukan sebagai terompet.

Sebagai kakek, aku tersenyum, ingat masa kecilku yang suka merengek-rengek minta dibelikan tambur kalau Sekaten.

Akhir Nopember 2012