Kebenaran dalam Sebaris Terbang

Waktu mendekati pukul 00.00 WIB, Kelompok Shalawatan Jawi di sebuah dusun Gunung Kidul baru menyelesaikan salah satu lagu shalawatan Jawa yang oleh teman-teman NM (Nahdlatul Muhammadiyin) disebut sebagai suara malaikat karena lembut dan menenteramkan hati. Saat itu “teks berupa benda” dalam mengingatkan diri hadirnya tahun baru 1 Muharam/1 Suro sudah datang, berupa nasi tumpeng sederhana yang segera dijelaskan makna simboliknya oleh Dalang Slawatan. “Teks berupa benda” ini lebih ringkas dan sederhana dibandng dengan yang dihadirkan di dusun lereng Merapi di sebuah dusun yang didatangi NM setahun sebelumnya.

Teman dari teks berupa benda dalam memperingati 1 Suro di Gunung Kidul juga berbeda dengan yang disuguhkan di lereng Merapi itu. Di Gunung Kidul, rombongan NM yang dipimpin Kiai Marjuki Kurdi mendapat kejutan. Ada gudangan daun mengkudu muda yang lezat dan menyehatkan tubuh. Ditambah dengan soto ayam, telur, sambal tempe. kerupuk. Nasinya ada dua, nasi beras biasa dan nasi ketan.

Sebagai orang yang awam dengan hal ihwal kuliner, kami segera melahap atau menyerbu semua hidangan, dan dicampur baur di piring, tanpa peduli pada nada dan irama rasa dari makanan itu. Ternyata justru lezat. Masakan warga dusun ini mirip masakan dari surga. Rombongan yang sorenya mendapat suguhan apem khas Ponjong, pisang rebus dan mangga manis, ditambah lemper harus mengakui lezatnya suguhan menjelang midnight ini.

Setelah adegan makan selesai dan beberapa teman harus menyembuhkan lidah yang kepedasan dengan makan kerupuk banyak-banyak, sebelum lantunan lagu shawatan Jawi kuno dilanjutkan, ada omong-omong sebentar.

“Pak semua alat terbang beraneka ukuran ini dibuat dari kulit apa Pak?” tanya saja ingin tahu.

“Dari kulit lembu”, jawab beberapa orang tua di ruang itu.

“Bukan dari kulit kambing Pak?” tanyaku lagi.

“Bukan. Kulit kambing tidak baik kalau dibuat sebagai penutup terbang.”

“Saya dengar kulit kambing bagus untuk dipakai penutup terbang,” kataku.

“Tidak benar Pak. Yang benar yang kulit lembu ini.”

Jawaban itu membuat saya terkejut. Sebab dalam kunjungan NM beberapa minggu sebelumnya di sebuah dusun Kulonprogo, saya dan Pak Marjuki justru menemukan kebenaran yang sebaliknya. Kami masih ingat kata Pak Mangun dan teman-temannya yang satu grup shalawat Jawi di Kulongprogo ini.

Ketika kami tanya, terbuat dari kulit apa terbang yang bagus itu. Jawab mereka serentak, “Kulit kambing Pak”.

“Saya dengar yang bagus itu kulit lembu pak”, kata saya waktu itu.

“Salah Pak. Yang benar, kulit paling bagus untuk terbang ya kulit kambing”.

Saya terhenyak menemukan dua kenyataan kebenaran yang berbeda, bahkan bertentangan ini. Sambil mengusir sisa rasa pedas di lidah dengan mengunyah pisang rebus saya berpikir, ternyata dari dua deretan terbang yang dimiliki dua dusun berbeda, dipisahkan oleh jarak puluhan kilometer, ada dua kebenaran. Kebenaran tentang kulit yang baik untuk terbang.

Saya membisiki Harianto tentang kenyataan ini. Mencoba menerka-nerka sebab musabab munculnya dua kebenaran ini. Mungkin cuasa, iklim, jenis rumput, jenis kambing, jenis lembu, ketinggian tanah dan faktor XYZ lain yang membentuk kulit lembu atau kambinglah yang membuat salah satu kulit itu benar ketika dipasang di deretan terbang untuk sebuah dusun, tetapi menjadi salah jika diterapkan di dusun lain. Begitu sebaliknya. Lahirnya madzhab kulit lembu dan mahdzab kulit kambing ini pasti disebabkan karena masing-masing pihak punya sejarah sendiri-sendiri, proses sendiri-sendiri. Dalam fakta, keduanya benar ketika diterapkan di daerah masing-masing. Untung antara pemegang madzhab kulit kambing dan madzhab kulit lembu ini belum pernah ketemu. Sebab kalau ketemu, bisa terjadi heboh, kalau masing-masing berpegang teguh pada kebenaran klaim yang dipegangnya.

Lantas apakah ada titik temu bagi dua madzhab kulit ternak ini? Ada. Tapi fokus masalah diubah dan ditingkatkan, tidak pada masalah kulit untuk terbang. Tetapi pada masalah kayu untuk membuat terbang.

“Yang bagus itu kayu nangka Pak,” saya masih ingat dulu warga Sorogeten bilang begitu.

“Kalau disini kayu paling bagus untuk membuat terbang ya kayu Nangka,” jawab warga Gunung Kidul.

Saya jadi lega. Sebab ketika maqam persoalan ditingkatkan dari kulit menjadi kayu, ada kesepakatan. Keduanya mengakui adalah benar jika memakai kayu Nangka untuk terbang akan menghasilkan terbang yang bagus

Saya jadi ingat pada pertengkaran kecil antara sesama warga kota yang tinggal berseberangan sungai. Sebuah sungai legendaris, tentu. Warga di timur sungai bilang kalau untuk mengatakan kepala ayam yang enak dimakan mereka bilang, “Sirah pitik”.

Warga di seberang barat sungai membantah, “Salah. Yang benar, endhas pitik”.

“Sirah pitik!”

“Endhas Pitik?”

“Wah sampeyan itu piye to Yu, endhas itu untuk manusia. Untuk hewan yang pas ya sirah.”

“Sampeyan yang tidak nggenah to Dik, Sirah itu untuk manusia, untuk hewan yang benar yang endhas. Di tempatku kalau bilang endhasmu, itu kasar.”

“Kalau di tempatku, bilang sirahmu itu kasar, yang halus ya endhasmu.”

Perdebatan ini tentu tidak ada habis-habisnya kalau tidak ditemukan titik temu. Betul, ketika ada orang tua melerai dengan kata kunci tertentu, mereka pun mau berdamai.

“Wah, wah sudah. Keduanya sama-sama benar. Buktinya, ketika menyebut ayam kau dan kau menyebut apa?”

“Ayam ya ayam Mbah.”

“Di tempatku ayam juga disebut ayam.”

“Makanya, hidup itu ya mencari persamaan-persamaan, jangan mencari perbedaan. Toh barangnya sama, yang beda kan hanya penyebutan atau kata-katanya. Oke, ayo wawuh! Damai!”

Teringat kisah pertengkaran madzhab sirah dan madzhab endhas lalu didamaikan oleh madzhab ayam, saya jadi tersenyum. Sebab dalam masyarakat kita perbedaan atau malahan pebedaan madzhab untuk hal-hal kecil sering terjadi. Dan selalu ada titik temu kalau maqam masalahnya dinaikkan satu dua tingkat.

NM yang naik turun gunung, bersilaturahmi dengan kelompok masyarakat yang sering ditinggalkan oleh NU maupun Muhammadiyah, sering menemukan keunikan dalam memandang masalah kehidupan ini. Kalau ini ditempelkan pada masalah agama atau dalam beragama sering dijumpai hal yang lucu seperti itu.

Banyak orang sibuk mempertahankan sikap dan pandangan atau pilihan madzhab semisal madzhab kulit lembu, kulit sapi, madzhab sirah dan madzhab endhas. Dan lupa kalau masalah itu dapat diselesaikan pada tingkat kayu atau ayam.

Yogyakarta, November 2012